Teknik Pengumpulan Data

Metode penelitian pada dasarnya merupakan cara ilmiah untuk mendapatkan data dengan tujuan dan kegunaan tertentu. Berdasarkan hal tersebut terdapat empat kata kunci yang perlu diperhatikan yaitu, cara ilmiah, data, tujuan, dan kegunaan. Cara Ilmiah berarti kegiatan penelitian itu didasarkan pada ciri – ciri keilmuan, yaitu rasional, empiris, dan sistematis. Rasional berarti kegiatan penelitian itu dilakukan dengan cara – cara yang masuk akal, sehingga terjangkau oleh penalaran manusia. Empiris berarti cara – cara yang dilakukan itu dapat diamati oleh indera manusia, sehingga orang lain dapat mengamati dan mengetahui cara –cara yang digunakan.( bedakan cara yang tidak ilmiah, misalnya mencari uang yang hilang, atau provokator, atau tahanan yang melarikan diri melalui paranormal ). Sistematis artinya, proses yang digunakan dalam penelitian itu menggunakan langkah – langkah tertentu yang bersifat logis.

 

A.    Pengertian

instrumen penelitian yaitu semua alat yang digunakan untuk mengumpulkan, memeriksa, menyelidiki suatu masalah, atau mengumpulkan, mengolah, menganalisa dan menyajikan data – data secara sistematis serta obyektif dengan tujuan memecahkan suatu persoalan atau menguji suatu hipotesis. Jadi semua alat yang bisa mendukung suatu penelitian bisa disebut instrumen penelitian. Instrumen penelitian digunakan untuk mengukur nilai variabel yang diteliti. Dengan demikian jumlah instrumen yang akan digunakan tergantung pada jumlah variabel yang diteliti. Jadi  jika variabel yang digunakan jumlahnya 3, maka instrumen yang digunakan juga 3 jumlahnya. Instrumen merupakan hal yang sangat penting di dalam kegiatan penelitian. Hal ini karena perolehan suatu informasi data relevan atau tidaknya, tergantung pada alat ukur tersebut. Oleh karena itu, alat ukur penelitian harus memiliki validitas dan reliabilitas yang memadai.

Metode pengumpulan data adalah teknik atau cara-cara yang dapat digunakan oleh peneliti untuk mengumpulkan data. Pengumpulan data merupakan salah satu tahapan sangat penting dalam penelitian. Teknik pengumpulan data yang benar akan menghasilkan data yang memiliki kreadibilitas tinggi dan sebaliknya. Oleh karena itu, tahap ini tidak boleh salah dan harus dilakukan dengan cermat sesuai prosedur dan ciri-ciri penelitian kualitatif. Sebab kesalahan atau ketidaksempurnaan dalam metode pengumpulan data akan berakibat fatal, yakni berupa data yang tidak credible, sehingga hasil penelitiannya tidak bisa dipertanggung jawabkan. Hasil penelitian demikian sangat berbahaya, lebih-lebih jika dipakai sebagai dasar pertimbangan untuk mengambil kebijakan publik.

Misalnya, jika peneliti ingin memperoleh informasi mengenai persepsi guru terhadap kurikulum yang baru, maka teknik yang dipakai ialah wawancara, bukan observasi. Sedangkan jika peneliti ingin mengetahui bagaimana guru menciptakan suasana kelas yang hidup, maka teknik yang dipakai adalah observasi. Begitu juga jika, ingin mengetahui mengenai kompetensi siswa dalam mata pelajaran tertentu, maka teknik yang dipakai adalah tes atau bisa juga dokumen berupa hasil ujian. Dengan demikian, informasi yang ingin diperoleh menentukan jenis teknik yang dipakai (materials determine a means). Itu pun masih ditambah dengan kecakapan peneliti menggunakan teknik – teknik tersebut. Bisa saja terjadi karena belum berpengalaman atau belum memiliki pengetahuan yang memadai, peneliti tidak berhasil menggali informasi yang dalam, sebagaimana karakteristik data dalam penelitian kualitatif, karena kurang cakap menggunakan teknik tersebut, walaupun teknik yang dipilih sudah tepat. Solusinya terus belajar dan membaca hasil-hasil penelitian sebelumnya yang sejenis akan sangat membantu menambah kecakapan peneliti.

Untuk mengumpulkan data dari sampel penelitian, dilakukan dengan metode tertentu sesuai dengan tujuannya. Dalam proses pengumpulan data tentu diperlukan sebuah alat atau instrumen pengumpul data.

Metode penelitian data (Sugiyono, 2002) yang umum di gunakan dalam suatu penelitian adalah :observasi, wawancara dan kuisioner.

Metode pengumpulan data antara lain :

1.      Wawancara (interview)

Menurut Prabowo (1996) wawancara adalah metode pengambilan data dengan cara menanyakan sesuatu kepada seseorang responden, caranya adalah dengan bercakap – cakap secara tatap muka. Pada penelitian ini wawancara akan dilakukan dengan menggunakan pedoman wawancara.

Menurut Patton dalam proses wawancara dengan menggunakan pedoman umum wawancara ini, interview dilengkapi pedoman wawancara yang sangat umum, serta mencantumkan isu – isu yang harus diliput tanpa menentukan urutan pertanyaan, bahkan mungkin tidak terbentuk pertanyaan yang eksplisit.

Menurut beberapa ahli, wawancara juga di definiusikan sebagai berikut :

Ø Wawancara merupakan suatu teknik pengumpulan data dengan jalan mengadakan komunikasi dengan sumber data. Komunikasi tersebut dilakukan dengan dialog (Tanya jawab) secara lisan, baik langsung maupun tidak langsung (I. Djumhur dan Muh.Surya,1985).

Ø Wawancara adalah salah satu metode untuk mendapatkan data anak atau orangtua dengan mengadakan hubungan secara langsung dengan informan/face to face relation (Bimo Walgito, 1987).

Ø Wawancara adalah alat untuk memperoleh data atau fakta atau informasi dari seorang murid secara lisan (Dewa Ktut Sukardi, 1983).

Ada berbagai tujuan yang dapat dicapai dalam wawancara yaitu :

a)      Menciptakan hubungan baik diantara dua pihak yang terlibat (subyek wawancara dan pewawancara). Pertemuan itu harus bebas dari segala kecemasan dan ketakutan sehingga memungkinkan subyek wawancara menyatakan sikap dan perasaan dengan bebas, tanpa mekanisme pertahanan diri yang kadang – kadang menghambat pernyataannya.

b)      Meredakan ketegangan yang terdapat dalam subyek wawancara. Oleh karena subyek wawancara pada umumnya membawa berbagai ketegangan emosi ke dalam pertemuan dalam wawancara itu, maka kedua belah pihak harus berusaha meredakan ketegangan di dalam dirinya.

c)      Menyediakan informasi yang dibutuhkan dalam wawancara, kedua belah pihak akan mendapat kesempatan untuk memperoleh informasi yang dibutuhkannya.

d)      Mendorong kearah pemahaman diri pada pihak subyek wawancara. Hampir semua subyek wawancara menginginkan pemahaman diri yang lebih baik, dan pada dasarnya memiliki kesanggupan dan bakat yang seringkali tidak dapat berkembang dengan sempurna.

e)      Mendorong ke arah penyusunan kegiatan yang konstruktif pada subyek wawancara.

 

Pedoman wawancara digunakan untuk mengingatkan interviewer mengenai aspek – aspek apa yang harus dibahas, juga menjadi daftar pengecek (check list) apakah aspek – aspek relevan tersebut telah dibahas atau ditanyakan. Dengan pedoman demikian interviwer harus memikirkan bagaimana pertanyaan tersebut akan dijabarkan secara kongkrit dalam kalimat Tanya, sekaligus menyesuaikan pertanyaan dengan konteks actual saat wawancara berlangsung (Patton dalam poerwandari, 1998). Secara garis besar ada dua macam pedoman wawancara, yaitu:

1)      Pedoman wawasan tidak terstruktur adalah pedoman wawancara yang hanya memuat garis besar yang akan ditanyakan. Tentu saja kreativitas pewawancara sangat diperlukan, bahkan hasil wawancara dengan jenis pedoman ini lebih banyak tergantung dari pewawancara. Pewawancaralah sebagai pengemudi jawaban responden. Jenis interviu ini cocok untuk penilaian khusus. Wawancara terstruktur digunakan sebagai teknik pengumpulan data, bila peneliti atau pengumpul data telah mengetahui dengan pasti tentang informasi apa yang akan diperoleh. Oleh karena itu dalam melakukan wawancara, pengumpul data telah menyiapkan instrumen penelitian berupa pertanyaan-pertanyaan tertulis yang alternatif jawabannya pun telah disiapkan. Dengan wawancara terstruktur ini setiap responden diberi pertanyaan yang sama, dan pengumpul data mencatatnya. Dengan wawancara terstruktur ini pula, pengumpulan data daoat menggunakan beberapa pewawancara sebagai pengumpul data. Supaya setiap pewawancara mempunyai ketrampilan yang sama, maka diperlukan training kepada calon pewawancara.

Dalam melakukan wawancara, selain harus membawa instrumen sebagai pedoman untuk wawancara, maka pengumpul data juga dapat menggunakan alat bantu seperti tape recorder, gambar, brosur dan material lain yang dapat membantu pelaksanaan wawancara menjadi lancar.peneliti bidang pembangunan misalnya, bila akan melakukan penelitian untuk mengetahui respon masyarakat terhadap berbagai jenis pembangunan yang telah dilakukan. Misalnya pembangunan gedung sekolah, bendungan untuk pengairan sawah-sawah, pembangunan pembangkit tenaga listrik dan lain-lain.

 

2)      Pedoman wawancara terstruktur adalah pedoman wawancara yang disusun secara terperinci sehingga menyerupai check-list. Pewawancara tinggal membubuhkan tanda (check) pada nomor yang sesuai. Wawancara tidak terstruktur atau terbuka, sering digunakan dalam penelitian pendahuluan atau malahan untuk penelitian yang lebih mendalam tentang responden. Pada penelitian pendahuluan, peneliti berusaha mendapatkan informasi awal tentang berbagai isu atau permasalahan yang ada pada obyek sehingga peneliti dapat menentukan secara permasalahan atau variabel apa yang diteliti. Untuk mendapatkan gambaran permasalahan yang lebih lengkap, maka peneliti perlu melakukan wawancara lepada pihak-pihak yang mewakili berbagai tingkatang yang ada dalam obyek, misalnya akan melakukan penelitian tentang iklim kerja perusahaan, maka dapat dilakukan wawancara dengan pekerja tingkat bawah, supervisor dan manajemen.

Wawancara baik yang dilakukan dengan face to face maupun yang menggunakan pesawat telepon, akan selalu terjadi kontak pribadi, oleh karena itu pewawancara perlu memahami situasi dan kondisi sehingga dapat memilih waktu yang tepat kapan dan di mana harus melakukan wawancara.pada saat responden sedang sibuk bekerja, sedang mempunyai masalah berat, sedang mulai istirahat, sedang tidak sehat, atau sedang marah, maka harus hati-hati dalam melakukan wawancara. Kalau dipaksakan wawancara dalam kondisi seperti itu, maka akan menghasilkan data yang tidak valid dan akurat.

3)      Pedoman wawancara yang banyak digunakan adalah bentuk “semi structured”. Dalam hal ini maka mula – mula interviewer menanyakan serentetan pertanyaan yang sudah terstruktur, kemudian satu per satu diperdalam dalam mengorek keterangan lebih lanjut. Dengan demikian jawaban yang diperoleh bisa meliputi semua variabel, dengan keterangan yang lengkap dan mendalam.

Kerlinger (dalam Hasan 2000) menyebutkan 3 hal yang menjadi kekuatan metode wawancara  antara lain :

a)      Mampu mendeteksi kadar pengertian subjek terhadap pertanyaan yang diajukan. Jika mereka tidak mengerti bisa diantisipasi oleh interviewer dengan memberikan penjelasan.

b)      Fleksibel, pelaksanaanya dapat disesuaikan dengan masing-masing individu.

c)      Menjadi satu – satunya hal yang dapat dilakukan disaat tehnik lain sudah tidak dapat dilakukan.

Menurut Yin (2003) disamping kekuatan, metode wawancara juga memiliki kelemahan, yaitu :

a)        Retan terhadap bias yang ditimbulkan oleh kontruksi pertanyaan yang penyusunanya kurang baik.

b)        Retan terhadap terhadap bias yang ditimbulkan oleh respon yang kurang sesuai.

c)        Probling yang kurang baik menyebabkan hasil penelitian menjadi kurang akurat.

d)        Ada kemungkinan subjek hanya memberikan jawaban yang ingin didengar oleh interviwer.

 

2.      Observasi

Disamping wawancara, penelitian ini juga melakukan metode observasi. Menurut Nawawi dan Martini (1991) observasi adalah pengamatan dan pencatatan secara sistematik terhadap unsur – unsur yang tampak dalam suatu gejala dalam objek penelitian. Dalam penelitian ini observasi dibutuhkan untuk dapat memahami proses terjadinya wawancara dan hasil wawancara dapat dipahami dalam konteksnya. Observasi yang akan dilakukan adalah observasi terhadap subjek, perilaku subjek selama wawancara, interaksi subjek dengan peneliti dan hal – hal yang dianggap relevan sehingga dapat memberikan data tambahan terhadap hasil wawancara.

Menurut Patton (dalam Poerwandari 1998) tujuan observasi adalah mendeskripsikan setting yang dipelajari, aktivitas – aktivitas yang berlangsung, orang – orang yang terlibat dalam aktivitas, dan makna kejadian di lihat dari perpektif mereka yang terlihat dalam kejadian yang diamati tersebut.

Menurut Patton (dalam Poerwandari 1998) salah satu hal yang penting, namun sering dilupakan dalam observasi adalah mengamati hal yang tidak terjadi. Dengan demikian Patton menyatakan bahwa hasil observasi menjadi data penting karena :

a.       Peneliti akan mendapatkan pemahaman lebih baik tentang konteks dalam hal yang diteliti akan atau terjadi.

b.      Observasi memungkinkan peneliti untuk bersikap terbuka, berorientasi pada penemuan dari pada pembuktiaan dan mempertahankan pilihan untuk mendekati masalah secara induktif.

c.       Observasi memungkinkan peneliti melihat hal – hal yang oleh subjek penelitian sendiri kurang disadari.

d.      Observasi memungkinkan peneliti memperoleh data tentang hal – hal yang karena berbagai sebab tidak diungkapkan oleh subjek penelitian secara terbuka dalam wawancara.

e.       Observasi memungkinkan peneliti merefleksikan dan bersikap introspektif terhadap penelitian yang dilakukan. Impresi dan perasan pengamatan akan menjadi bagian dari data yang pada gilirannya dapat dimanfaatkan untuk memahami fenomena yang diteliti.

  • Macam – macam Observasi

a)      Observasi Partisipatif

Adalah peneliti mengamati apa yang dikerjakan orang, mendengarkan apa yang diucapkan dan berpartisipasi dalam aktivitas yang diteliti Klasifikasi (Sanafiah Faisal:1990).

Partisipatif dibedakan menjadi 4 yaitu partisipasi pasif, partisipasi moderat, partisipasi aktif, dan partisipasi lengkap.

Ø Partisipasi Pasif : Peneliti mengamati tapi tidak terlibat dalam kegiatan tersebut.

Ø Partisipasi Moderat : meneliti ikut observasi partisipatif pada beberapa beberapa kegiatan saja, tidak semua kegiatan.

Ø Partisipasi Aktif : Peneliti ikut melakukan apa yang dilakukan narasumber, tapi belum sepenuhnya lengkap.

Ø Partisipasi Lengkap : Peneliti terlibat sepenuhnya dalam kegiatan narasumber.

b)      Observasi Terus Terang atau Tersamar

Adalah peneliti berterus terang kepada narasumber bahwa ia sedang melakukan penelitian. Suatu saat peneliti melakukan tidak berterus terang agar dapat mengetahui informasi yang dirahasiakan narasumber.

c)      Observasi tak Berstruktur

Adalah dilakukan dengan tidak Berstruktur karena fokus penelitian belum jelas, Apabila masalah sudah jelas, maka dapat dilakukan secara berstruktur dengan menggunakan pedoman observasi.

  • Manfaat Observasi Menurut Nasution (1988) yaitu :

a.       Peneliti akan mampu memahami konteks data secara menyeluruh.

b.      Peneliti akan memperoleh pengalaman langsung.

c.       Peneliti dapat melihat hal – hal yang kurang diamati oleh orang lain.

d.      Peneliti dapat menemukan hal – hal yang tidak terungkap saat wawancara.

e.       Peneliti dapat mengungkapkan hal – hal yang ada di luar persepsi responden.

f.        Peneliti dapat memperoleh kesan – kesan pribadi terhadap obyek yang diteliti.

  • Obyek Observasi

1)      Space : Ruang dalam aspek fisiknya

2)      Actor : Orang yang terlibat dalam situasi sosial

3)      Activity : Seperangkat kegiatan yang dilakukan orang

4)      Object : Benda – benda yang terdapat di tempat itu

5)      Act : Perbuatan/Tindakan tertentu

6)      Event : Rangkaian aktivitas yang dikerjakan orang – orang

7)      Time : Urutan Kegiatan

8)      Goal : Tujuan yang ingin dicapai

9)      Feeling : Emosi yang dirasakan dan diekspresikan orang – orang

  • Tahapan Observasi

Menurut Spradley dalam Sugiyono (2006) tahapan observasi ada tiga yaitu :

1)      Observasi Deskriptif

Observasi deskriptif dilakukan peneliti pada saat memasuki situasi sosial tertentu sebagai obyek penelitian. Penelitian menghasilkan kesimpulan pertama. Peneliti melakukan analisis domain, sehingga mampu mendeskripsikan terhadap semua yang ditemui.

2)      Observasi Terfokus

Peneliti melakukan analisis taksonomi sehingga dapat menemukan fokus, peneliti selanjutnya menghasilkan kesimpulan – kesimpulan.

3)      Observasi Terseleksi

Peneliti telah menemukan karakteristik kontras – kontras atau perbedaan dan kesamaan antar kategori, serta menemukan hubungan antara satu kategori dengan kategori yang lain.

  • Keuntungan Metode Observasi

1)      Banyak gejala yang hanya dapat diselidiki dengan observasi, hasilnya lebih akurat dan sulit dibantah.

2)      Banyak objek yang hanya bersedia diambil datanya hanya dengan observasi, misalnya terlalu sibuk dan kurang waktu untuk diwawancarai.

3)      Kejadian yang serempak dapat diamati dan dicatat serempak pula dengan memperbanyak observer.

4)      Banyak kejadian yang dipandang kecil yang tidak dapat ditangkap oleh alat pengumpul data yang lain, yang ternyata sangat menentukan hasil penelitian.

  • Kelemahan Metode Observasi

1)        Observasi tergantung pada kemampuan pengamatan dan mengingat.

2)        Kelemahan – kelemahan observer dalam pencatatan.

3)        Banyak kejadian dan keadaan objek yang sulit diobservasi, terutama yang menyangkut kehidupan pribadi yang sangat rahasia.

4)        Oberservasi sering menjumpai observe yang bertingkah laku baik dan menyenangkan karena tahu bahwa ia sedang diobservasi.

5)        Banyak gejala yang hanya dapat diamati dalam kondisi lingkungan tertentu, sehingga dapat terjadi gangguan yang menyebabkan observasi tidak dapat dilakukan.

3.      Angket atau Kuesioner (questionnaire)

Kuesioner adalah sejumlah pertanyaan tertulis yang digunakan untuk memperoleh informasi dari responden dalam arti laporan tentang pribadinya, atau hal – hal yang diketahui (Suharsimi Arikunto, 1999:140). Kuesioner dipakai untuk menyebutkan metode maupun instrumen. Jadi dalam menggunakan metode angket atau kuesioner instrumen yang dipakai adalah angket atau kuesioner.

Angket atau kuesioner merupakan suatu teknik pengumpulan data secara tidak langsung (peneliti tidak langsung bertanya jawab dengan responden). Instrumen atau alat pengumpulan datanya juga disebut angket berisi sejumlah pertanyaan – pertanyaan yang harus dijawab atau direspon oleh responden. Responden mempunyai kebiasaan untuk memberikan jawaban atau respon sesuai dengan presepsinya. Kuesioner merupakan metode penelitian yang harus dijawab responden untuk menyatakan pandangannya terhadap suatu persoalan. Sebaiknya pertanyaan dibuat dengan bahasa sederhana yang mudah dimengerti dan kalimat-kalimat pendek dengan maksud yang jelas. Penggunaan kuesioner sebagai metode pengumpulan data terdapat beberapa keuntungan, diantaranya adalah pertanyaan yang akan diajukan pada responden dapat distandarkan, responden dapat menjawab kuesioner pada waktu luangnya, pertanyaan yang diajukan dapat dipikirkan terlebih dahulu sehingga jawabannya dapat dipercaya dibandingkan dengan jawaban secara lisan, serta pertanyaan yang diajukan akan lebih tepat dan seragam.

 

  • Prinsip penulisan angket:

Prinsip ini menyangkut beberapa faktor yaitu : isi dan tujuan pertanyaan, bahasa yang digunakan mudah, pertanyaan tertutup terbuka-negatif positif, pertanyaan tidak mendua, tidak menanyakan hal-hal yang sudah lupa, pertanyaan tidak mengarahkan, panjang pertanyaan, dan urutan pertanyaan.

a.       Isi dan tujuan pertanyaan

Yang dimaksud di sini adalah, apakah isi pertanyaan tersebut merupakan bentuk pengukuran atau bukan? Kalau berbentuk pengukuran, maka dalam membuat pertanyaan harus teliti, setiap pertanyaan harus skala pengukuran dan jumlah itemnya mencukupi untuk mengukur variabel yang diteliti.

b.      Bahasa yang digunakan

Bahasa yang digunakan dalam penelitian kuesioner (angket) harus disesuaikan dengan kemampuan berbahasa responden. Kalau sekiranya responden tidak dapat berbahasa indonesia, maka angket jangan disusun dengan bahasa indonesia. Jadi bahasa yang digunakan dalam angket harus memperhatikan jenjang pendidikan responden, keadaan sosial budaya, dan “frame of reference” dari responden.

c.       Tipe dan bentuk pertanyaan

Tipe pertanyaan dalam angket dapat terbuka atau tertutup, (kalau dalam wawancara : terstruktur dan tidak terstruktur), dan bentuknya dapat menggunakan kalimat positif atau negatif.

Pertanyaan tertutup akan membantu responden untuk menjawab dengan cepat dan juga memudahkan penenliti dalam melakukan analisis data terhadap seluruh angket yang telah terkumpul. Pertanyaan/pernyataan dalam angket perlu dibuat kalimat positif dan negatif agar responden dalam memberikan jawaban setiap pertanyaan lebih serius, dan tidak mekanistis.

d.      Pertanyaan tidak mendua

Setiap pertanyaan dalam angket jangan mendua (double-barreled) sehingga menyulitkan responden untuk memberikan jawaban.

Contoh : bagaimana pendapat anda tentang kualitas dan kecepatan pelayanan KTP? Ini adalah pertanyaan yang mendua, karena menanyakan tentang dua hal sekaligus, yaitu kualitas dan harga. Sebaiknya pertanyaan tersebut dijadikan menjadi dua yaitu : bagaimanakah kualitas pelayanan KTP? Bagaimanakah kecepatan pelayanan?

  • Macam – macam koesioner

1.      Kuesioner tertutup

Setiap pertanyaan telah disertai sejumlah pilihan jawaban. Responden hanya memilih jawaban yang paling sesuai.

2.      Kuesioner terbuka

Dimana tidak terdapat pilihan jawaban sehingga responden harus memformulasikan jawabannya sendiri.

3.      Kuesioner kombinasi terbuka dan tertutup

Dimana pertanyaan tertutup kemudian disusul dengan pertanyaan terbuka.

4.      Kuesioner semi terbuka

Pertanyaan yang jawabannya telah tersusun rapi, tetapi masih ada kemungkinan tambahan jawaban.

  • Keuntungan Metode Koesioner

1)      Dalam waktu singkat diperoleh banyak keterangan.

2)      Pengisiannya dapat dilakukan dikelas, siswa dapat menjawab sesuai dengan keadaannya tanpa dipengaruhi oleh orang lain.

3)      Bila lokasi responden jaraknya cukup jauh, metode pengumpulan data yang paling mudah adalah dengan angket.

4)      Pertanyaan – pertanyan yang sudah disiapkan adalah merupakan waktu yang efisien untuk menjangkau responden dalam jumlah banyak.

5)      Dengan angket akan memberi kesempatan mudah pada responden untuk mendiskusikan dengan temannya apabila menemui pertanyaan yang sukar dijawab.

6)      Dengan angket responden dapat lebih leluasa menjawabnya dimana saja,

7)      kapan saja, tanpa terkesan terpaksa.

  • Kelemahan Metode Koesioner

1)      Siswa tidak dapat memberikan keterangan lebih lanjut karena jawaban terbatas pada hal – hal yang ditanyakan.

2)      Siswa dapat menjawab tidak sesuai dengan keadaan yang sebenarnya jika dia menghendaki demikian.

3)      Jawaban hanya mengungkap keadaan siswa pada saat angket di isi.

4)      Apabila penelitian membutuhkan reaksi yang sifatnya spontan dengan metode ini adalah kurang tepat.

5)      Metode ini kurang fleksibel, kejadiannya hanya terpancang pada pertanyaan yang ada.

6)      Jawaban yang diberikan oleh responden akan terpengaruh oleh keadaan global dari pertanyaan. Sangat mungkin jawaban yang sudah diberikan di atas secara spontan dapat berubah setelah melihat pertanyaan dilain nomor.

7)      Sulit bagi peneliti untuk mengetahui maksud dari apakah sudah responden sudah terjawab atau belum.

8)      Ada kemungkinan terjadi respons yang salah dari responden. Hal ini terjadi karena kurang kejelasan pertanyaan atau karena keragu – raguan responden menjawab. Hal – hal yang boleh dan tidak boleh dilakukan dalam teknik koesioner.

 

 

 

TEKNIK PENGUMPULAN DATA PENELITIAN KUANTITATIF

 

Penelitian kuantitatif adalah metode yang lebih menekankan pada aspek pengukuran secara obyektif terhadap fenomena social. Untuk dapat melakukan pengukuran, setiap fenomena social di jabarkan kedalam beberapa komponen masalah, variable dan indicator. Setiap variable yang di tentukan di ukur dengan memberikan symbol – symbol angka yang berbeda – beda sesuai dengan kategori informasi yang berkaitan dengan variable tersebut. Dengan menggunakan symbol – symbol angka tersebut, teknik perhitungan secara kuantitatif matematik dapat di lakukan sehingga dapat menghasilkan suatu kesimpulan yang berlaku umum di dalam suatu parameter. Tujuan utama dari metodologi ini ialah menjelaskan suatu masalah tetapi menghasilkan generalisasi. Generalisasi ialah suatu kenyataan kebenaran yang terjadi dalam suatu realitas tentang suatu masalah yang di perkirakan akan berlaku pada suatu populasi tertentu. Generalisasi dapat dihasilkan melalui suatu metode perkiraan atau metode estimasi yang umum berlaku didalam statistika induktif. Metode estimasi itu sendiri dilakukan berdasarkan pengukuran terhadap keadaan nyata yang lebih terbatas lingkupnya yang juga sering disebut “sample” dalam penelitian kuantitatif. Jadi, yang diukur dalam penelitian sebenarnya ialah bagian kecil dari populasi atau sering disebut “data”. Data ialah contoh nyata dari kenyataan yang dapat diprediksikan ke tingkat realitas dengan menggunakan metodologi kuantitatif tertentu. Penelitian kuantitatif mengadakan eksplorasi lebih lanjut serta menemukan fakta dan menguji teori-teori yang timbul.

 

Jenis-Jenis Teknik Pengumpulan Data pada Penelitian Kuantitatif

Terdapat beberapa teknik pengumpulan data dalam penelitian kuantitatif. Macmillan dan Sally Schumacher mengelompokkan teknik pengumpulan data kuantitatif dalam enam (6) jenis yakni tes tertulis (paper and pancil tests), wawancara (interviews), kuesioner (questionnaires), pengamatan (observations), pengukuran nonkognitif (noncognitive measures), dan penilaian alternatif (alternative assessment). Dalam penerapannya, berbagai teknik ini dapat dipadukan untuk mendapatkan data yang lebih lengkap, akurat dan konsiten.

Secara lebih rinci, berbagai teknik pengumpulan data ini dapat dilihat pada uraian berikut ini :

a)      Paper and Pencil Tests

Menurut MacMilan dan Schumacher istilah paper and pencil tests (tes tertulis) diartikan sebagai seperangkat pertanyaan yang disajikan kepada setiap subyek penelitian dalam bentuk tertulis (pada kertas atau komputer) yang menghendaki penyelesaian tugas kognitif. Tugas kognitif yang dimaksudkan dapat terfokus pada apa yang diketahui seseorang (achievement), kemampuan belajar (ability or aptitude), memilih atau seleksi (interests, attitudes, or value) atau kemampuan mengerjakan sesuatu (skills).

Saat ini terdapat banyak bentuk tes yang telah terstandar. Bentuk tes ini telah disediakan oleh ahli pengukuran dan memiliki kesamaan prosedur dalam administrasi dan pengskoran. Walaupun telah banyak bentuk tes yang telah distandarkan, kita tidak mungkin langsung mengambil salah satu bentuk tes tersebut begitu saja untuk dijadikan alat pengumpulan data pada penelitian yang akan kita lakukan. Hal ini disebabkan karena setiap penelitian bertujuan untuk mengukur sesuatu hal yang spesifik yang belum tentu sesuai dengan bentuk tes yang telah tersedia. Oleh karena itu diperlukan kemampuan agar mampu mengkonstruksi sendiri bentuk tes yang sesuai dengan tujuan penelitian yang akan dilakukan.

b)     Angket/Kuesioner

Kuesioner merupakan teknik pengumpulan data yang dilakukan dengan cara memberi seperangkat pertanyaan atau pernyataan tertulis kepada responden untuk dijawabnya (Sugiyono, 2009: 199). Sedangkan menurut Johnson & Christensen (2000: 127), kuesioner adalah sebagai kumpulan instrumen pribadi dimana setiap responden penelitian mengisinya sebagai bagian dari studi penelitian. Peneliti menggunakan kuesioner untuk mendapatkan data tentang pikiran, perasaan, sikap, keyakinan, nilai, persepsi, kepribadian dan sikap responden penelitian. Kuesioner merupakan teknik pengumpulan data yang banyak dilakukan karena dinilai relatif lebih ekonomis, mempunyai item yang sama untuk semua subyek serta menjamin kerahasiaan (anonim).

menurut Sugiyono (2009: 200) terdapat beberapa prinsip dalam penulisan angket yaitu:

a.       isi dan tujuan pertanyaan,

b.      bahasa yang digunakan,

c.       tipe dan bentuk pertanyaan,

d.      pertanyaan tidak mendua,

e.       tidak menanyakan yang sudah lupa,

f.        pertanyaan tidak menggiring,

g.      panjang pertanyaan,

h.      urutan pertanyaan,

i.        prinsip pengukuran dan

j.        penampilan fisik angket.

c)      Wawancara/Interview

Wawancara atau interview merupakan a data collection method in which interviewer ask interviewee questions (Johnson, 2000: 140). Pada pengertian ini dapat diketahui bahwa kegiatan wawancara melibatkan dua pihak yakni interviewer atau orang yang melaksanakan kegiatan wawancara dan juga interviewee atau pihak yang diwawancarai. Wawancara digunakan sebagai teknik pengumpulan data apabila peneliti ingin melakukan studi pendahuluan untuk menemukan permasalahan yang harus diteliti, dan juga apabila peneliti ingin mengetahui hal – hal dari responden yang lebih mendalam dan jumlah respondennya sedikit/kecil (Sugiyono, 2009: 194).

Kegiatan wawancara dapat dilakukan secara terstruktur maupun tidak terstruktur, dan dapat dilakukan melalui tatap muka (face to face) maupun dengan menggunakan telepon. Menurut Sugiyono (2009: 194-198), terdapat dua jenis wawancara yakni wawancara terstruktur dan wawancara tidak terstruktur. Pengklasifikasian Jenis – jenis wawancara menurut Patton dalam Johnson dan Christensen (2000: 105) adalah sebagai berikut:

  • Informal conversational interview

Karakteristik jenis wawancara ini adalah pertanyaan muncul dari konteks yang paling dekat dengan si responden dan ditanyakan hal – hal yang bersifat alamiah. Kelebihannya adalah dapat meningkatkan relevansi dan kepentingan dari pertanyaan, wawancara dibangun dan muncul dari observasi, wawancara dapat disesuaikan secara individu dan keadaan sekitarnya. Sedangkan kelemahannya adalah memperoleh informasi yang berbeda dari orang yang berbeda dengan pertanyaan yang berbeda; kurang sistematis dan komprehensif jika pertanyaan – pertanyaan tidak timbul secara alami sehingga mempersulit proses organisasi dan analisis  data.

  • Interview guide approach

Topik – topik dan isu yang diangkat merupakan hal yang spesifik dalam bentuk bagan. Pewawancara menentukan urutan dan susunan kalimat dalam pertanyaan yang akan diajukan. Kelebihan jenis wawancara ini adalah model bagan yang menambah komprehensif data dan membuat koleksi data lebih sistematis bagi setiap responden.

  • Standardized open-ended interview

Susunan kata yang tepat dan urutan pertanyaan ditentukan terlebih dahulu. Semua responden ditanyakan pertanyaan dasar yang sama dalam urutan yang sama. Pertanyaan – pertanyaan dirumuskan dalam bentuk open-ended yang lengkap. Kelebihan jenis wawancara ini adalah mudah membandingkan respon dari narasumber karena mereka menjawab pertanyaan yang sama, sedangkan kelemahannya adalah bersifat kurang fleksibel.

  • Close quantitative interview

Pertanyaan dan kategori jawaban telah dirumuskan terlebih dahulu. Jawaban telah tersedia dan narasumber hanya memilih salah satu jawaban tersebut. Kelebihannya adalah memudahkan dalam analisis, jawaban dapat langsung dibandingkan dan hemat waktu karena banyak pertanyaan dapat ditanyakan dalam waktu yang singkat. Kelemahannya adalah narasumber harus menyesuaikan pengalaman dan perasaan mereka dalam kategori yang disediakan oleh peneliti yang mungkin kurang relevan dan bersifat mekanistik.

Pada penelitian kuantitatif, instrumen wawancara disediakan dalam the interview protocol yaitu kumpulan data instrumen yang termasuk di dalamnya adalah items wawancara, kategori respon, instruksi dan lainnya. The interview protocol ini merupakan tulisan yang ditulis oleh peneliti dan dibaca oleh interviewer kepada responden atau ditampilkan pada layar komputer untuk wawancara melalui telepon. Interviewer juga mencatat dan merekam respon dari responden pada interview protocol tersebut.

Tujuan dari wawancara kuantitatif adalah untuk menstandarkan apa yang disajikan kepada narasumber. Standarisasi ini akan dicapai ketika apa yang dikatakan oleh semua narasumber itu sama atau hampir sama. Ide utamanya adalah bahwa peneliti kuantitatif  ingin mengungkap setiap narasumber untuk stimulus yang sama sehingga hasilnya dapat dibandingkan. Hasil wawancara kuantitatif kebanyakan merupakan data kuantitatif sehingga dapat dianalisis menggunakan prosedur statistika kuantitatif.  Hal ini disebabkan karena pertanyaan-pertanyaannya bersifat open-ended  yang tentu saja sama untuk semua responden. Wawancara pada penelitian kuantitatif kelihatannya hampir sama dengan kuesioner. Dalam kenyataannya, banyak peneliti menyebut interview protocol sebagai kuesioner.

Beberapa tips untuk merancang sebuah wawancara yang  efektif adalah :

1)      Yakinlah bahwa semua responden sudah terlatih dengan baik

2)      Kenalilah latar belakang orang yang diwawancarai sehingga akan mengetahui sedikit tentang orang tersebut.

3)      Membuat laporan dan membangun kepercayaan kepada narasumber

4)      Lebih bersifat empati dan netral terhadap apa yang disampaikan oleh narasumber

5)      Gunakan sedikit anggukan kepala dan mengatakan “um-hms” untuk menunjukkan ketertarikan terhadap apa yang disampaikan.

6)      Bersikap lebih refleks

7)      Biarkan narasumber yang lebih banyak memberikan informasi, bukan anda

8)      Lebih sensitif terhadap persoalan gender, umur, dan perbedaan budaya antara anda dan narasumber

9)      Yakinlah bahwa narasumber sungguh memahami apa yang akan ditanyakan

10)   Sediakan sedikit waktu bagi narasumber untuk menjawab   pertanyaan

11)   Mengontrol dan menjaga proses wawancara agar tetap fokus

12)  Gunakan probes dan menindak lanjuti pertanyaan untuk mendapatkan respon yang jelas dan bermakna

13)  Membangun sikap respek terhadap waktu/kesempatan narasumber

14)  Pada jenis wawancara tertentu, sebaiknya direkam sesi wawancara tersebut

15)  Setelah wawancara selesai, periksalah tulisan dan rekaman anda agar lebih berkualitas dan lengkap (Johnson & Christensen, 2000: 204)

 

d)     Pengamatan/Observasi

Pengamatan atau observasi diartikan sebagai kegiatan observasi digunakan hanya untuk mengamati pola perilaku manusia pada situasi tertentu untuk mendapatkan informasi tentang fenomena yang menarik. Sedangkan menurut Sugiyono (2009: 203), kegiatan observasi tidak terbatas pada obyek manusia, tetapi juga obyek-obyek alam yang lain. Teknik pengumpulan data dengan observasi dapat digunakan untuk penelitian yang berkenaan dengan perilaku manusia, proses kerja, gejalah-gejalah alam dan bila responden yang diamati dalam jumlah yang relatif tidak terlalu besar.

Terdapat dua jenis pengamatan yakni observasi partisipan dan observasi nonpartisipan. Pada observasi partisipan, pengamat terlibat langsung dengan kegiatan sehari-hari orang yang diamati. Sedangkan pada observasi nonpartisipan, peneliti tidak terlibat dan hanya sebagai pengamat independen. Kelemahan jenis observasi ini adalah data yang diperoleh kurang mendalam dan tidak sampai pada tingkat makna yaitu nilai-nilai dibalik perilaku yang tampak, yang terucapkan dan yang tertulis. Observasi nonpartisipan ini dibagi lagi dalam dua kategori yakni observasi terstruktur dan observasi tidak terstruktur.

Pada observasi kuantitatif berkaitan dengan standarisasi semua prosedur observasi untuk mendapatkan data penelitian yang reliabel. Standarisasi ini meliputi siapa yang diobservasi, kapan observasi dilakukan, dimana observasi dilakukan dan bagaimana kegiatan observasi berakhir. Observasi kuantitatif biasanya menghasilkan data kuantitatif seperti jumlah atau frekuensi dan persentase.

e)      Pengukuran Nonkognitif

Pengukuran nonkognititf  lebih terfokus pada emosi dan perasaan,  termasuk dalam pengukuran nonkognitif adalah sikap (attitudes), opini (opinions), nilai-nilai (values), minat (interests) dan kepribadian (personality). Walaupun para praktisi pendidikan dan psikologi telah mempelajari faktor nonkognitif, namun pengukuran untuk ciri ini sering lebih sulit dibandingkan pengukuran kognitif (McMillan dan Sally Schumacher, 2001: 194).

f)       Penilaian Alternatif

Penilaian alternatif didesain untuk menyediakan cara yang berbeda dalam menunjukkan pencapaian penampilan siswa. Terdapat berbagai jenis penilaian alternalif seperti demonstrasi, pertunjukan/pameran, penilaian berdasarkan performans dan portofolio. Dalam dunia pendidikan, portofolio digunakan untuk meningkatkan frekuensi khususnya dalam penilaian ketrampilan membaca dan menulis.

g)      Validitas dan Reliabilitas Instrumen

Untuk mendapatkan hasil penelitian yang valid dan reliabel maka diperlukan alat ukur/instrumen yang memiliki validitas dan reliabilitas yang tinggi. Instrumen disebut valid jika digunakan untuk mengukur apa yang seharusnya diukur. Sedangkan instrumen yang reliabel adalah instrumen yang jika digunakan beberapa kali untuk mengukur obyek yang sama, akan menghasilkan data yang sama. Instrumen yang valid harus mempunyai validitas eksternal dan internal. Validitas internal terjadi jika kriteria yang ada dalam instrumen secara rasional telah mencerminkan apa yang diukur. Jadi kriterianya ada dalam instrumen. Sedangkan validitas eksternal terjadi jika instrumen disusun berdasarkan fakta empiris yang ada.

dapat simpulkan bahwa dalam merancang suatu instrumen yang valid dan reliabel menjadi hal yang mutlak sehingga bisa diperoleh data penelitian yang memiliki validitas dan reliabilitas yang tinggi.

 

 

 

TEKNIK PENGUMPULAN DATA PENELITIAN KUALITATIF

Penelitian kualitatif adalah suatu pendekatan yang juga disebut pendekatan investigasi karena biasanya peneliti mengumpulkan data dengan cara bertatap muka langsung dan berinteraksi dengan orang – orang di tempat penelitian (McMillan & Schumacher, 2003). Penelitian kualitatif juga bisa dimaksudkan sebagai jenis penelitian yang temuan – temuannya tidak diperoleh melalui prosedur statistik atau bentuk hitungan lainnya (Strauss & Corbin, 2003). Sekalipun demikian, data yang dikumpulkan dari penelitian kualitatif memungkinkan untuk dianalisis melalui suatu penghitungan.

Penelitian kualitatif (Qualitative research) bertolak dari filsafat konstruktivisme yang berasumsi bahwa kenyataan itu berdimensi jamak, interaktif dan suatu pertukaran pengalaman sosial yang di interpretasikan oleh individu – individu. (Nana Syaodih, 2001: 94).

Sementara itu, menurut (Sugiono, 2009:15), metode penelitian kualitatif adalah metode penelitian yang berlandaskan pada filsafat postpositifsime, digunakan untuk meneliti pada kondisi objek yang alamiah (sebagai lawannya adalah eksperimen) dimana peneliti adalah sebagai instrument kunci, pengambilan sample sumber dan data dilakukan secara purposive dan snowbaal, teknik pengumpulan data dilakukan dengan triangulasi (gabungan) analisis data bersifat induktif/kualitatif, dan hasil penelitian kualitatif lebih menekankan pada makna daripada generalisasi.

Metode penelitian kualitatif sering disebut metode penelitian naturalistic (naturalistic research), karena penelitian dilakukan dalam kondisi yang alamiah (natural setting). Disebut juga penelitian etnografi, karena pada awalnya metode ini banyak digunakan untuk penelitian bidang antropologi budaya. Selain itu disebut sebagai metode kualitatif karena data yang terkumpul dan dianalisis lebih bersifat kualitatif.

Pada penelitian kualitatif, penelitian dilakukan pada objek yang alamiah maksudnya, objek yang berkembang apa adanya, tidak dimanipulasi oleh peneliti dan kehadiran peneliti tidak begitu mempengaruhi dinamika pada objek tersebut.

Sebagaimana dikemukakan dalam penelitian kualitatif instrumennya adalah orang atau peneliti itu sendiri (humane instrument). Untuk dapat menjadi instrumen maka peneliti harus memiliki bekal teori dan wawasan yang luas, sehingga mampu bertanya, menganalisis, dan mengkonstruksi situasi sosial yang diteliti menjadi lebih jelas dan bermakna.

Dalam penelitian kualitatif, pengumpulan data dilakukan pada kondisi yang alamiah (natural setting). Sumber data primer dan teknik pengumpulan data lebih banyak pada observasi partisipan atau responden (participan observation), wawancara mendalam, angket atau kuesioner.

Berikut ini beberapa teknik pengumpulan data penelitian kualitatif:

1.         Pengumpulan data penelitian kualitatif dengan observasi atau pengamatan

Menurut Nsution (1988) observasi adalah dasar semua ilmu pengetahuan. Para ilmuwan hanya dapat bekerja berdasarkan data, yaitu fakta mengenai dunia kenyataan yan diperoleh melalui observasi. Dalam penelitian kualitatif, teknik pengumpulan data dapat dilakukan melalui observasi dilapangan, sehingga ia akan mengetahui fakta dan memahami gejala sosial yang sedang diamatinya.

Teknik observasi ini sangat bermanfaat dalam penelitian kualitatif. Dengan teknik ini, peneliti dapat menemukan suatu hal yang tidak terungkapkan oleh partisipan, sehingga peneliti memperoleh gambaran yang lebih komprehensif.

Teknik observasi ini sangat relevan digunakan dalam penelitian tindakan kelas yang mengamati kondisi interaksi pembelajaran, tingkah laku anak dan interaksi dalam kelompoknya. Kegiatan observasi atau pengamatan ini dapat dilakukan secara bebas dan terstruktur.

Dalam kegiatan observasi ini terdapat beberapa alat yang dapat digunakan sebagai penunjang observasi. Beberapa diantaranya adalah lembar pengamatan, ceklist dan catatan kejadian.

2.         Pengumpulan data penenlitian kualitatif dengan wawancara

Teknik wawancara dipakai sebagai pengumpul data jika peneliti ingin melakukan sebuah studi pendahuluan untuk menemukan masalah yang akan diteliti. Selain itu, teknik ini juga bisa dilakukan apabila peneliti ingin tahu suatu hal secara mendalam dari responden. Teknik wawancara ini didasarkan pada laporan pribadi atau setidaknya memuat pengetahuan dan keyakinan pribadi.

Dalam teknik pengumpulan penelitian kualitatif, teknik wawancara mendalam sering digabungkan dengan teknik observasi. Karena, selama pengamatan berlangsung peneliti pun melakukan wawancara dengan responden. Hasil wawancara harus segera dicatat setelah selesai melakukan wawancara. Hal ini dilakukan untuk menghindari data yang hilang karena lupa tidak dicatat.

Dalam wawancara, dibutuhkan teknik pertanyaan yang baik dan efektif. Hal ini dikarenakan teknik pertanyaan yang baik dan efektif akan membantu pengumpulan data penelitian yang akurat.

Oleh karena itulah, fox (dalam sevilla,1993) memberikan beberapa karakteristik pertanyaan yang efektif. Beberapa karakteristik tersebut adalah sebagai berikut:

1)      Bahasa yang digunakan ketika menyampaikan pertanyaan haruslah jelas dan komunikatif.

2)      Dalam pertanyaan yang kita ajukan, harus ada ketegasan isi dan periode waktu.

3)      Pertanyaan yang kita ajukan harus bertujuan tunggal.

4)      Bahasa yang digunakan ketika menyampaikan pertanyaan juga harus sempurna dan tetap memegang konsistensi tata bahasa

3.         Pengumpulan data penenlitian kualitatif dengan angket atau kuesioner

Pengumpulan data penelitian melalui angket atau kuesioner adalah sebuah teknik pengumpulan data penenlitian kualitatif yang tidak langsung. Hal ini dikarenakan penenliti tidak langsung bertanya secara lisan kepada responden, tetapi melalui secara tertulis dengan menggunakan sebuah instrumen tertentu.

Instrumen atau alat pengumpul data penelitian kualitatif dalam angket dapat berisi sejumlah pertanyaan-pertanyaan yang harus dijawab atau direspon oleh responden. Seorang responden memiliki kebebasan dan kewenangan untuk memberikan jawaban atau respon sesuai dengan presepsi atau pandangannya.

4.         Triangulasi

Dalam teknik pengumpulan data penelitian kualitatif, triangulasi diartikan sebagai teknik pengumpulan data yang menggabungkan berbagai teknik pengambilan data dan sumber data yang telah ada, baik sumber primer maupun sumber sekunder. Dengan teknik triangulasi ini, peneliti bisa menguji kredibilitas data yang didapatkannya.

 

 

KESIMPULAN

Metode penelitian pada dasarnya merupakan cara ilmiah untuk mendapatkan data dengan tujuan dan kegunaan tertentu. Berdasarkan hal tersebut terdapat empat kata kunci yang perlu diperhatikan yaitu, cara ilmiah, data, tujuan, dan kegunaan. Metode penelitian data (Sugiyono, 2002) yang umum di gunakan dalam suatu penelitian adalah :observasi, wawancara dan kuesioner.

Berdasarkan uraian tersebut dapat disimpulkan bahwa teknik pengumpulan data penelitian kualitatif yang tepat akan menghasilkan data penelitian yang tepat pula. Teknik pengumpulan data ini terdiri atas beberapa teknik, yaitu observasi, wawancara, angket dan triangulasi.

 

DAFTAR PUSTAKA

Sugiyono. 2009.Metode Penelitian Administrasi .Bandung

Drs.Sumanto.M.A,1995, Metodologi Penelitian Sosial Dan  Pendidikan , Yogyakarta

Sugiyono. (2009). Metode Penelitian Pendidikan, Pendekatan Kuantitatif, Kualitatif, dan R&D.  Bandung. Alfabeta

 

 

 

 

____________

 

Oleh: Sania Octaviani

Ditulis untuk memenuhi tugas mata kuliah metodologi penelitian dengan dosen pengampu Afid Burhanuddin, M.Pd.

 

Advertisements

One thought on “Teknik Pengumpulan Data”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s