Teknik Pengumpulan Data

Pada masa lalu, metode kualitatif dan metode kuantitatif juga sering digunakan sebagai penciri, penanda, dan pembeda antara antropologi dan sosiologi. Kesan tersebut muncul karena masing-masing disiplin ilmu tersebut terus menerus menggunakan metode secara konsisten. Antropologi sering menggunakan metode kualitatif, sedangkan sosiologi hampir selalu menggunakan metode kuantitatif. Asumsi ini didasarkan atas kenyataan bahwa antropologi ingin mendeskripsikan, menginterpretasikan, dan mengklasifikasikan masyarakat yang masih tradisonal. Hal tersebut seolah-olah menempatkan antropologi dalam posisi memiliki satu pendekatan, yaitu interpretasi atau penafsiran. Sementara itu, sosiologi sudah terlanjur dikenal sering menggunakan metode kuantitatif dan melakukan penelitian terhadap masyarakat modern yang kompleks. Ada kesan bahwa penelitian sosiologis selalu menggunakan metode kuantitatif.

Penelitian kualitatif dan kuantitatif hendaknya tidak dilawankan, melainkan dikontraskan. Kontras ini diperlukan untuk melihat keunggulan dan kelemahannya masing-masing dalam memecahkan masalah dan atau dalam pengembangan teori. Metode penelitian kualitatif dan kuantitatif masing-masing berkembang berdasarkan paradigma tertentu (yang berbeda) yang menjadi acuannya.

Jenis penelitian apa yang harus digunakan, selalu didasarkan pada masalah yang diteliti, bukan ditetapkan jenis penelitiannya dulu baru ditetapkan masalahnya. Hal ini disebabkan karena adanya kenyataan bahwa penelitian itu dilakukan karena ada masalah. Alasan pemilihan suatu metode, tentunya didasarkan pada kesesuaiannya dengan masalah penelitian, tujuan penelitian, serta prosedur penelitian yang cocok, hasil yang diharapkan, dan kondisi kelompok sasaran atau objek penelitiannya.

 

 

Penelitian

 

Penelitian dapat dipahami sebagai suatu dialog yang terjadi secara terus menerus antara dua jenis kenyataan, yaitu antara agreement reality dan experiential reality. Penelitian merupakan suatu usaha menghubungkan kenyataan empirik dengan teori, apabila teori sudah ada. Mengapa ? Karena dalam penelitian kualitatif, penelitian dilakukan bukan dalam rangka menguji teori atau hipotesis, melainkan menemukannya.

 

Teori dalampenelitian kuantitatif bersifat a priori yang disusun melalui deduktif dan logis, sedangkan teori dalam penelitian kualitatif disusun melalui dasar (grounded) ditemukan melalui induktif. Teori yang ditemukan melalui dasar itu memenuhi dua kriteria, yaitu sesuai dengan situasi empiris dan fungsi teori, yaitu : meramalkan, menerangkan, menafsirkan, dan mengaplikasikan.

 

Penelitian Kualitatif

Pendekatan penelitian kualitatif sering disebut dengan naturalistic inquiry (inkuiri alamiah). Apapun macam, cara atau corak analisis data kualitatif suatu penelitian, perbuatan awal yang senyatanya dilakukan adalah membaca fenomena. Setiap data kualitatif mempunyai karakteristiuknya sendiri. Data kualitatif berada secara tersirat di dalam sumber datanya. Sumber data kualitatif adalah catatan hasil observasi, transkrip interviu mendalam (depth interview), dan dokumen-dokumen terkait berupa tulisan ataupun gambar.

 

 

Karakteristik Penelitian Kualitatif

 

  1. Setting/latar alamiah atau wajar dengan konteks utuh (holistik).
  2. Instrumen penelitian berupa manusia (human instrument).
  3. Metode pengumpulan data observasi sebagai metode utama.
  4. Analisis data secara induktif.
  5. Proses lebih berperanan penting daripada hasil.
    1. Penelitian dibatasi oleh fokus.
    2. Desain penelitian bersifat sementara.
    3. Laporan bernada studi kasus.
    4. Interpretasi ideografik.

 

Metode Pengumpulan Data

  1. Pengamatan dengan berpartisipasi (Participant Observation)
  2. Wawancara Mendalam (Indepth Interview)
  3. Penyelidikan Sejarah Hidup (Life Historical Investigation)
  4. Analisis Konten (Content Analysis)

 

 

Kontras

 

Metode Kualitatif     Metode Kuantitatif      
Desain       Desain          
Umum     Spesifik, jelas, terinci  
Fleksibel     Ditentukan  secara mantap

sejak

Berkembang, tampil  dalam

proses

  awal        
  penelitian     Menjadi

pegangan

langkah

demi

          langkah        
Tujuan       Tujuan          
Memperoleh

pemahaman  makna  :

Menunjukkan hubungan

antara

  verstehen       variabel        
Mengembangkan teori   Mentest teori      
Menggambarkanrealitas

yang

Mencari generalisasi

yang

  kompleks       mempunyai nilai prediktif  
Teknik Penelitian     Teknik Penelitian      
Observasi, participant observation Eksperimen,

survey,observasi

Wawancara terbuka     berstruktur      
        Wawancara berstruktur  
Instrumen Penelitian     Instrumen Penelitian      
Human Instrument   –   Test, angket, wawancara, skala
Buku Catatan     Komputer, Kalkulator  
Recording                
Data       Data          
Deskriptif     Kuantitatif      
–   Dokumen pribadi, catatan lapangan, Hasil

pengukuran

berdasarkan

  ucapan responden, dokumen, dll   variabel yang

dioperasionalkan

          dengan menggunakan instrumen
Sampel       Sampel          
Kecil       Besar        
Tidak representatif     Representatif      
Purposif     Sedapat mungkin random  
Analisis       Analisis        
–   Terus menerus  sejak  awal

sampai

Pada taraf akhir

setelah

  akhir penelitian       pengumpulan data selesai  
Induktif     Deduktif        
–   Mencari pola, model, tema   Menggunakan statistik  
Hubungan dengan Responden   Hubungan dengan responden  
Empati, akrab     –   Berjarak,

sering

  tanpa

kontak

Kedudukan  sama, setara,

jangka

  langsung        
  lama       –   Hubungan antara peneliti – svubjek
            jangka pendek      
Usulan Desain     Usulan Desain        
Singkat     Luas dan terinci      
Sedikit literatur     Banyak literatur yang berhubungan
Pendekatan secara umum     dengan masalah      
Masalah yang diduga relevan Prosedur yang spesifik dan terinci
Tidak ada hipotesis       langkah-langkahnya    
–   Fokus penelitian sering

ditulis

Masalah

diuraikan

dan

ditujukan

  setelah ada data yang dikumpulkan   kepada fokus tertentu  
  dari lapangan     Hipotesis dirumuskan dengan jelas
            dan  ditulis  terinci  dan  lengkap
            sebelum terjun ke lapangan

 

Persoalan nyata pada era sekarang adalah bagaimana memadukan kedua pendekatan penelitian tersebut. Penelitian kualitatif dapat berfungsi sebagai suplemen dan komplemen penelitian kuantitaif, demikian pula sebaliknya. Oleh karena itu, dalam membuat rancangan penelitian, peneliti perlu menetapkan posisinya masing-masing

 

Proposal Penelitian Kualitatif

 

  1. Judul Penelitian

Bersifat umum, belum terfokus, sehingga memberi kemungkinan untuk berkembang sesuai dengan kondisi yang dihadapi di lapangan, tidak menggambarkan variabel-variabel secara eksplisit.

 

  1. Pendahuluan

 

a.  Latar Belakang Masalah

 

–          Masalah : suatu keadaan yang bersumber dari hubungan antara dua faktor atau lebih yang menghasilkan situasi yang membingungkan

 

–          Terkait dengan isu-isu yang sedang berkembang

 

–          Masalah yang belum banyak diteliti menjadi prioritas

 

–                      Perlu memperhatikan aksesibilitas, signifikansinya dengan isu-isu yang berkembang, relevansinya bagi masyarakat, seringnya diteliti, sentral tidaknya permasalahan, kesesuaiannya dengan tingkat perkembangan suatu disiplin.

 

  1.  Rumusan Masalah

 

–                      Bukan harga mati (kaku), bersifat tentatif, artinya penyempurnaan rumusan masih mungkin dilakukan sewaktu di lapangan.

 

–                      Meski rumusan masalah telah dirumuskan berdasarkan telaah pustaka dan pengalaman tertentu, bisa jadi situasi di lapangan tidak memungkinkan peneliti untuk melakukannya.

 

  1. Tujuan Penelitian

 

–          Memecahkan masalah. Sejalan dengan rumusannya.

 

  1. Pertanyaan Fokus

 

–       Fokus sebagai wahana untuk membatasi studi

 

–       Pilihan subjektif peneliti dihormati dan dihargai

 

–       Bila peneliti telah menetapkan masalah dan tujuannya, harus memegang posisi paradigmanya

 

–       Pertanyaan harus sudah difokuskan pada hal-hal yang terkait dengan masalah dan tujuannya.

 

  1. Kajian Pustaka

 

–          Kajian pustaka dan hasil penelitian terdahulu

 

–          Kerangka berfikir atau analisis yang sifatnya teoritis

 

–          Kajian ini tidak diperlukan dalam Grounded Research (model anti teori, menolak perumusan maslaah, rancangan penelitian, kajian teori yang mendikte arah penelitian, data merupakan sumber teori)

 

  1. Metode Penelitian

 

–  Penentuan Subjek Penelitian

 

Nara sumber/informan, peristiwa/aktivitas, tempat/lokasi, dokumen, arsip

Penentuan  sampel  (cuplikan)  bersifat  selektif,  tidak  mewakili  populasi,tetapi mewakili informasinya (perlu memperhatikan ciri-ciri tertentu padainforman)

 

–  Pemilihan Setting/Latar Penelitian

 

Penjajagan lapangan

 

 Setting penelitian di tempat yang dikenal baik (di tempat sendiri) tidak dianjurkan karena pengambilan jarak antara peneliti dengan yang diteliti menjadi sukar dilakukan (ada subjektivitas)

 

–  Teknik Pengumpulan Data

 

Data adalah kata-kata yang diucapkan/ditulis dan perilaku.

 

Alat pengumpul data adalah peneliti sendiri.

 

Sumber data adalah manusia (hasil pengamatan berpartisipasi dan wawancara mendalam) dan non manusia (dokumen, catatan)

 

– Analisis Data

 

Interactive Model : pengumpulan data, reduksi data, display data, kesimpulan/verifikasi.

 

Ethnographic Model : domain analysis, taxonmy analysis, componential analysis, theme analysis.

 

– Teknik untuk Mencapai Keabsahan/Kredibilitas

 

Untuk menghindari/menghilangkan unsur subjektivitas : perpanjangan keikutsertaan, ketekunan pengamatan, triangulasi, pemeriksaan sejawat melalui diskusi (peer debriefing, member check, dll).

 

Metode Pengumpulan Data Kuantitatif

1.         Pengertian

Menurut Jhonson & Christensen (2000: 126), method of collection data is technique for physically obtaining data to be analyzed in a research study.  Metode pengumpulan data  diartikan sebagai teknik untuk mendapatkan data secara fisik untuk dianalisis dalam suatu studi penelitian.

Untuk mendapatkan data yang baik maka perlu dikembangkan suatu instrumen yang baik dan sesuai dengan tujuan penelitian kita. Mertens menguraikan  beberapa langkah dalam mengembangkan instrumen yaitu:

a.        Define the objective of your instrument

b.        Identify the intended respondents and make format decisions.

c.         Review existing measures

d.        Develop an item pool.

e.         Prepare and pilot tes the prototype.

f.          Conduct an item analysis and revise the measure (2010: 363-365).

Langkah-langkah pengembangan instrumen ini bersifat general dan dapat diimplementasikan pada beberapa jenis pengumpulan data misalnya pada pengembangan instrumen kuesioner, paper and pencil tests, wawancara dan juga observasi.

2.         Jenis-Jenis Teknik Pengumpulan Data pada Penelitian Kuantitatif

Terdapat beberapa teknik pengumpulan data dalam penelitian kuantitatif. Macmillan & Sally Schumacher mengelompokkan teknik pengumpulan data kuantitatif dalam enam (6) jenis yakni tes tertulis (paper and pancil tests), wawancara (interviews), kuesioner (questionnaires), pengamatan (observations), pengukuran nonkognitif (noncognitive measures), dan penilaian alternatif (alternative assessment). Dalam penerapannya, berbagai teknik ini dapat dipadukan untuk mendapatkan data yang lebih lengkap, akurat dan konsiten.

Secara lebih rinci, berbagai teknik pengumpulan data ini dapat dilihat pada uraian berikut ini :

 

a.        Paper and Pencil Tests

Menurut MacMilan & Schumacher istilah paper and pencil tests diartikan sebagai a standard set of questions is presented to each subject in writing (on paper or computer) that requires completion of cognitive task (2010: 250). Tes tertulis diartikan sebagai seperangkat pertanyaan yang disajikan kepada setiap subyek penelitian dalam bentuk tertulis (pada kertas atau komputer) yang menghendaki penyelesaian tugas kognitif. Tugas kognitif yang dimaksudkan dapat terfokus pada apa yang diketahui seseorang (achievement), kemampuan belajar (ability or aptitude), memilih atau seleksi (interests, attitudes, or value) atau kemampuan mengerjakan sesuatu (skills).

Saat ini terdapat banyak bentuk tes yang telah terstandar. Bentuk tes ini telah disediakan oleh ahli pengukuran dan memiliki kesamaan prosedur dalam administrasi dan pengskoran. Walaupun telah banyak bentuk tes yang telah distandarkan, kita tidak mungkin langsung mengambil salah satu bentuk tes tersebut begitu saja untuk dijadikan alat pengumpulan data pada penelitian yang akan kita lakukan. Hal ini disebabkan karena setiap penelitian bertujuan untuk mengukur sesuatu hal yang spesifik yang belum tentu sesuai dengan bentuk tes yang telah tersedia.  Oleh karena itu diperlukan kemampuan agar mampu mengkonstruksi sendiri bentuk tes yang sesuai dengan tujuan penelitian yang akan dilakukan.

Terdapat dua kriteria dalam penilaian yakni norm-referenced dan criterion referenced. Pada norm-referenced atau penilaian acuan normatif (PAN),  interpretasi datanya berdasarkan referensi kelompok. Sedangkan pada criterion-referenced atau penilaian acuan patokan (PAP), proses interpretasinya berdasarkan seperangkat kriteria yang telah ditetapkan.

b.        Angket/Kuesioner

Kuesioner merupakan teknik pengumpulan data yang dilakukan dengan cara memberi seperangkat pertanyaan atau pernyataan tertulis kepada responden untuk dijawabnya (Sugiyono, 2009: 199). Sedangkan menurut Johnson & Christensen (2000: 127), kuesioner adalah a self-report data-collection instrument that each research participant fills out as part of research study. Kuesioner diartikan sebagai kumpulan instrumen pribadi dimana setiap responden penelitian mengisinya sebagai bagian dari studi penelitian. Peneliti menggunakan kuesioner untuk mendapatkan data tentang pikiran, perasaan, sikap, keyakinan, nilai, persepsi, kepribadian dan sikap    responden penelitian. Kuesioner merupakan teknik pengumpulan data yang banyak dilakukan karena dinilai relatif lebih ekonomis, mempunyai item yang sama untuk semua subyek serta menjamin kerahasiaan (anonim).

Johnson & Christensen (2000: 129) menguraikan 14 prinsip dalam mengembangkan kuesioner yaitu :

1)        Make sure the questionnaire items match your research objectives

2)        Understand your research partisipants

3)        Use natural and familiar language.

4)        Write items that are clear, precise, and relatively short.

5)        Do not use “leading” or “loaded” questions.

6)        Avoid double-barreled questions.

7)        Avoid double negatives.

8)        Determine whether an open-ended or a closed-ended questions is needed.

9)        Use mutually exclusive and exhaustive response categories for close-ended questions.

10)    Consider the different types of response categories avalaible for close-ended questionnaire items.

11)    Use multiple items to measure abstract constructs.

12)    Reverse the wording in some of the items to prevent response sets.

13)    Develop a questionnaire that is easy for the participant to use.

14)    Always pilot test your questionnaire.

Sedangkan menurut Sugiyono (2009: 200) terdapat beberapa prinsip dalam penulisan angket yaitu : isi dan tujuan pertanyaan, bahasa yang digunakan, tipe dan bentuk pertanyaan, pertanyaan tidak mendua, tidak menanyakan yang sudah lupa, pertanyaan tidak menggiring, panjang pertanyaan, urutan pertanyaan, prinsip pengukuran dan penampilan fisik angket.

c.         Wawancara/Interview

Wawancara atau interview merupakan a data collection method in which interviewer ask interviewee questions (Johnson, 2000: 140). Pada pengertian ini dapat diketahui bahwa kegiatan wawancara melibatkan dua pihak yakni interviewer atau orang yang melaksanakan kegiatan wawancara dan juga interviewee atau pihak yang diwawancarai. Wawancara digunakan sebagai teknik pengumpulan data apabila peneliti ingin melakukan studi pendahuluan untuk menemukan permasalahan yang harus diteliti, dan juga apabila peneliti ingin mengetahui hal-hal dari responden yang lebih mendalam dan jumlah respondennya sedikit/kecil (Sugiyono, 2009: 194).

Kegiatan wawancara dapat dilakukan secara terstruktur maupun tidak terstruktur, dan dapat dilakukan melalui tatap muka (face to face) maupun dengan menggunakan telepon. Menurut Sugiyono (2009: 194-198), terdapat dua jenis wawancara yakni wawancara terstruktur dan wawancara tidak terstruktur. Pengklasifikasian Jenis-jenis wawancara menurut Patton dalam Johnson & Christensen (2000: 105) adalah sebagai berikut :

1)        Informal conversational interview

Karakteristik jenis wawancara ini adalah pertanyaan muncul dari konteks yang paling dekat dengan si responden dan ditanyakan hal-hal yang bersifat alamiah. Kelebihannya adalah dapat meningkatkan relevansi dan kepentingan dari pertanyaan, wawancara dibangun dan muncul dari observasi, wawancara dapat disesuaikan secara individu dan keadaan sekitarnya. Sedangkan kelemahannya adalah memperoleh informasi yang berbeda dari orang yang berbeda dengan pertanyaan yang berbeda; kurang sistematis dan komprehensif jika pertanyaan-pertanyaan tidak timbul secara alami sehingga mempersulit proses organisasi dan analisis  data.

2)        Interview guide approach

Topik-topik dan isu yang diangkat merupakan hal yang spesifik dalam bentuk bagan. Pewawancara menentukan urutan dan susunan kalimat dalam pertanyaan yang akan diajukan. Kelebihan jenis wawancara ini adalah model bagan yang menambah komprehensif data dan membuat koleksi data lebih sistematis bagi setiap responden.

3)        Standardized open-ended interview

Susunan kata yang tepat dan urutan pertanyaan ditentukan terlebih dahulu. Semua responden ditanyakan pertanyaan dasar yang sama dalam urutan yang sama. Pertanyaan-pertanyaan dirumuskan dalam bentuk open-ended yang lengkap. Kelebihan jenis wawancara ini adalah mudah membandingkan respon dari narasumber karena mereka menjawab pertanyaan yang sama, sedangkan kelemahannya adalah bersifat kurang fleksibel.

4)        Close quantitative interview

Pertanyaan dan kategori jawaban telah dirumuskan terlebih dahulu. Jawaban telah tersedia dan narasumber hanya memilih salah satu jawaban tersebut. Kelebihannya adalah memudahkan dalam analisis, jawaban dapat langsung dibandingkan dan hemat waktu karena banyak pertanyaan dapat ditanyakan dalam waktu yang singkat. Kelemahannya adalah narasumber harus menyesuaikan pengalaman dan perasaan mereka dalam kategori yang disediakan oleh peneliti yang mungkin kurang relevan dan bersifat mekanistik.

Pada penelitian kuantitatif, instrumen wawancara disediakan dalam the interview protocol yaitu kumpulan data instrumen yang termasuk di dalamnya adalah items wawancara, kategori respon, instruksi dan lainnya. The interview protocol ini merupakan tulisan yang ditulis oleh peneliti dan dibaca oleh interviewer kepada responden atau ditampilkan pada layar komputer untuk wawancara melalui telepon. Interviewer juga mencatat dan merekam respon dari responden pada interview protocol tersebut.

Tujuan dari wawancara kuantitatif adalah untuk menstandarkan apa yang disajikan kepada narasumber. Standarisasi ini akan dicapai ketika apa yang dikatakan oleh semua narasumber itu sama atau hampir sama. Ide utamanya adalah bahwa peneliti kuantitatif  ingin mengungkap setiap narasumber untuk stimulus yang sama sehingga hasilnya dapat dibandingkan. Hasil wawancara kuantitatif kebanyakan merupakan data kuantitatif sehingga dapat dianalisis menggunakan prosedur statistika kuantitatif.  Hal ini disebabkan karena pertanyaan-pertanyaannya bersifat open-ended  yang tentu saja sama untuk semua responden. Wawancara pada penelitian kuantitatif kelihatannya hampir sama dengan kuesioner. Dalam kenyataannya, banyak peneliti menyebut interview protocol sebagai kuesioner.

Beberapa tips untuk merancang sebuah wawancara yang  efektif adalah :

1)        Yakinlah bahwa semua responden sudah terlatih dengan baik

2)        Kenalilah latarbelakang orang yang diwawancarai sehingga akan mengetahui sedikit tentang orang tersebut.

3)        Membuat laporan dan membangun kepercayaan kepada narasumber

4)        Lebih bersifat empati dan netral terhadap apa yang disampaikan oleh narasumber

5)        Gunakan sedikit anggukan kepala dan mengatakan “um-hms” untuk menunjukkan ketertarikan terhadap apa yang disampaikan.

6)        Bersikap lebih refleks

7)        Biarkan narasumber yang lebih banyak memberikan informasi, bukan anda.

8)        Lebih sensitif terhadap persoalan gender, umur, dan perbedaan budaya antara anda dan narasumber.

9)        Yakinlah bahwa narasumber sungguh memahami apa yang akan ditanyakan.

10)    Sediakan sedikit waktu bagi narasumber untuk menjawab pertanyaan.

11)    Mengontrol dan menjaga proses wawancara agar tetap fokus.

12)    Gunakan probes dan menindaklanjuti pertanyaan untuk mendapatkan respon yang jelas dan bermakna.

13)    Membangun sikap respek terhadap waktu/kesempatan narasumber

14)    Pada jenis wawancara tertentu, sebaiknya direkam sesi wawancara tersebut.

15)    Setelah wawancara selesai, periksalah tulisan dan rekaman anda agar lebih berkualitas dan lengkap (Johnson & Christensen, 2000: 204).

d.        Pengamatan/Observasi

Pengamatan atau observasi diartikan sebagai watching the behaviorial patterns of people in certain situations to obtain information about the phenomenon of interest (MacMillan & Schumacher, 2010: 211). Pada pengertian ini, kegiatan observasi digunakan hanya untuk mengamati pola perilaku manusia pada situasi tertentu untuk mendapatkan informasi tentang fenomena yang menarik. Sedangkan menurut Sugiyono (2009: 203), kegiatan observasi tidak terbatas pada obyek manusia, tetapi juga obyek-obyek alam yang lain. Teknik pengumpulan data dengan observasi dapat digunakan untuk penelitian yang berkenaan dengan perilaku manusia, proses kerja, gejalah-gejalah alam dan bila responden yang diamati dalam jumlah yang relatif tidak terlalu besar.

Terdapat dua jenis pengamatan yakni observasi partisipan dan observasi nonpartisipan. Pada observasi partisipan, pengamat terlibat langsung dengan kegiatan sehari-hari orang yang diamati. Sedangkan pada observasi nonpartisipan, peneliti tidak terlibat dan hanya sebagai pengamat independen. Kelemahan jenis observasi ini adalah data yang diperoleh kurang mendalam dan tidak sampai pada tingkat makna yaitu nilai-nilai dibalik perilaku yang tampak, yang terucapkan dan yang tertulis. Observasi nonpartisipan ini dibagi lagi dalam dua kategori yakni observasi terstruktur dan observasi tidak terstruktur.

Pada observasi kuantitatif berkaitan dengan standarisasi semua prosedur observasi untuk mendapatkan data penelitian yang reliabel. Standarisasi ini meliputi siapa yang diobservasi, kapan observasi dilakukan, dimana observasi dilakukan dan bagaimana kegiatan observasi berakhir. Observasi kuantitatif biasanya menghasilkan data kuantitatif seperti jumlah atau frekuensi dan persentase.

e.         Pengukuran Nonkognitif

Pengukuran nonkognititf  lebih terfokus pada emosi dan perasaan,  termasuk dalam pengukuran nonkognitif adalah sikap (attitudes), opini (opinions), nilai-nilai (values), minat (interests) dan kepribadian (personality). Walaupun para praktisi pendidikan dan psikologi telah mempelajari faktor nonkognitif, namun pengukuran untuk ciri ini sering lebih sulit dibandingkan pengukuran kognitif. Menurut McMillan dan Sally Schumacher (2001: 194), terdapat beberapa alasan yang mempengaruhi kesulitan pengukuran pada nonkognitif yaitu :

1)        Noncognitive test results may be adversely affected by response set, which is the tendency of a subject’s answer to be influenced by a general set when responding to items. Respon set is tendency to answer most questions the same way.

2)        Noncognitive items are susceptible to faking. One of the most serious types of faking is social desirability, in which subjects answer item in order to appear most normal or most socially desirable rather than responding honestly.

3)        The reliability of noncognitive test is generally lower than that cognitive tests.

4)        In most noncognitive tests, we are interested in evidence of construct validity, which is difficult to establish.

5)        Noncognitive tests do not have “right” answer like cognitive tests.

f.         Penilaian Alternatif

Penilaian alternatif didesain untuk menyediakan cara yang berbeda dalam menunjukkan pencapaian penampilan siswa. Terdapat berbagai jenis penilaian alternalif seperti demonstrasi, pertunjukan/pameran, penilaian berdasarkan performans dan portofolio. Performanced-based assesment is observation of skill, behavior, or competency. Sedangkan penilaian portofolio merupakan a purposeful, systematic collection and evaluation of student work that document progress toward meeting learning objectives. Dalam dunia pendidikan, portofolio digunakan untuk meningkatkan frekuensi khususnya dalam penilaian ketrampilan membaca dan menulis.

1.      Validitas dan Reliabilitas Instrumen

Untuk mendapatkan hasil penelitian yang valid dan reliabel maka diperlukan alat ukur/instrumen yang memiliki validitas dan reliabilitas yang tinggi. Instrumen disebut valid jika digunakan untuk mengukur apa yang seharusnya diukur. Sedangkan instrumen yang reliabel adalah instrumen yang jika digunakan beberapa kali untuk mengukur obyek yang sama, akan menghasilkan data yang sama.  Instrumen yang valid harus mempunyai validitas eksternal dan internal. Validitas internal terjadi jika kriteria yang ada dalam instrumensecara rasional telah mencerminkan apa yang diukur. Jadi kriterianya ada dalam instrumen. Sedangkan validitas eksternal terjadi jika instrumen disusun berdasarkan fakta empiris yang ada.

 

Instrumen Penelitian Kuantitatif

 

Jika dalam penelitian kualitatif, instrumen penelitian adalah penelitinya sendiri, maka dalam penelitian kuantitatif, instrumen harus dibuat dan menjadi perangkat yang “independent” dari peneliti. Peneliti harus mampu membuat instrumen sebagus mungkin, apapun instrumen itu.

Semua instrumen (baik yang tes maupun non tes) harus memiliki dua syarat yaitu reliabel dan valid. Reliabel berarti hasil pengukuran konsisten dari waktu ke waktu. Valid berarti instrumen secara akurat mengukur objek yang harus diukur.

Reliabilitas mempunyai tiga dimensi yaitu Stabilitas, Ekivalensi, dan Konsistensi Internal (O’Sullivan & Rassel, 1995). Stabilitas mengacu pada kemampuan instrumen untuk menghasilkan data yang sama dari waktu ke waktu (dengan asumsi objek yang diukur tidak berubah).

Ekivalensi mengacu pada kemampuan dua atau lebih macam instrumen yang dibuat dua atau lebih peneliti untuk mengukur satu hal yang sama. Misalnya, dua peneliti mengukur penggunaan listrik di suatu aula. Dua peneliti ini menggunakan dua instrumen yang berbeda. Tetapi jika temuan kedua peneliti ini sama, maka instrumen mereka memilki sifat “ekivalen”.

Konsistensi internal tercapai jika semua item dalam instrumen mengukur satu hal yang sama. Jika terdapat 10 pertanyaan tentang motivasi, maka ke 10 pertanyaan itu mengukur hal yang sama (motivasi).

Instrumen yang baik juga harus valid. Ada beberapa macam validitas yaitu face validity, content validity, dan criterion valid­ity. Face validity (validitas muka) tercapai jika suatu instrumen nampaknya sudah valid (dari penglihatan sepintas lalu). Tentu saja validitas semacam ini sangat superficial. Tetapi kadang-kadang peneliti cukup memerlukan validitas jenis ini. Caranya, peneliti meminta beberapa orang membaca atau mengisi instrumen tersebut, dan meminta pendapat mereka untuk keperluan revisi.

Content validity (validitas isi) tercapai jika suatu instrumen telah mencakup seluruh hal yang perlu diukur. Jika satu tes ujian akhir telah mencakup seluruh isi mata kuliah satu semester, maka instrumen ini dianggap memiliki validitas isi. Sebagai catatan, ini jangan dikacaukan dengan “konsistensi internal” dalam bahasan tentang reliabilitas. Soal tes ujian yang hanya mencakup 50% bahan kuliah satu semester mungkin memiliki sifat konsistensi internal, tetapi instrumen ini tidak memiliki validitas isi.

Criterion validity (validitas kriteria) mengacu pada kemampuan item-item instrumen untuk mengukur hal yang sama atau memprediksi suatu hal di masa depan. Dalam hal ini kita mengenal dua macam validitas, yaitu concurrent validity dan predictive va­lidity. Concurrent validity tercapai jika suatu instrumen buatan kita misalnya, berkorelasi secara signifikan dengan instrumen lain yang mengukur hal yang sama. Jika kita mempunyai alat tes bahasa Inggris lalu kita uji cobakan kepada sejumlah siswa, dan hasilnya ternyata berkorelasi dengan nilai TOEFL mereka, maka tes kits telah memiliki concurrent validity.

Sedangkan predictive validity tercapai jika suatu instrumen mampu meramalkan apa yang terjadi di masa depan sesuai dengan hasil tes. Berikut adalah peta reliabilitas dan validitas instrumen.

Instrumen

         Realibility                                                                  Validity

 

Stability    Ekivalence   Internal                               Face          Content    Criterion

Consistency                       Validity      Validity    Validity

 

Concurrent    Predictive

Validity         Validity

___________

 

Oleh: Subroto

(Disusun untuk memenuhi tugas mata kuliah Metodologi Penelitian dosen pengampu Afid Burhanuddin, M.Pd.)

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s