Aspek Perkembangan Peserta Didik

Perkembangan berkenaan dengan keseluruhan kepribadian individu anak, karena kepribadian individu membentuk satu kesatuan yang terintegrasi. Secara umum dapat dibedakan beberapa aspek utama kepribadian individu anak, yaitu aspek kognitif, fisik-motorik, sosio-emosional, bahasa, moral dan keagamaan. Perkembangan dari tiap aspek kepribadian tidak selalu bersama-sama atau sejajar, perkembangan sesuatu aspek mungkin mendahului atau mungkin juga mengikuti aspek lainnya. Pada awal kehidupan anak, yaitu pada saat dalam kandungan dan tahun-tahun pertama, perkembangan aspek fisik dan motorik sangat menonjol. Selama sembilan bulan dalam kandungan, ukuran fisik bayi berkembang dari seperduaratus milimeter menjadi 50 sentimeter panjangnya. Selama dua tahun pertama, bayi yang tidak berdaya pada awal kelahirannya, telah menjadi anak kecil yang dapat duduk, merangkak, berdiri, bahkan pandai berjalan dan berlari, bisa memegang dan mempermainkan berbagai benda atau alat. dalam kandungan, ukuran fisik bayi berkembang dari seperduaratus milimeter menjadi 50 sentimeter panjangnya. Selama dua tahun pertama, bayi yang tidak berdaya pada awal kelahirannya, telah menjadi anak kecil yang dapat duduk, merangkak, berdiri, bahkan pandai berjalan dan berlari, bisa memegang dan mempermainkan berbagai benda atau alat.

 

ASPEK PERKEMBANGAN KOGNITIF

Perkembangan kognitif adalah salah satu aspek perkembangan manusia yang berkaitan dengan pengertian (pengetahuan), yaitu semua proses psikologis yang berkaitan dengan bagaimana individu mempelajari dan memikirkan lingkungannya. Dalam Dictionary Of Psychology karya Drever, dijelaskan bahwa “kognisi adalah istilah umum yang mencakup segenap model pemahaman, yakni persepsi, imajinasi, penangkapan makna, penilaian dan penalaran”. Salah satu tokoh yang penting yang mengkaji dan meneliti perkembangan kognitif anak adalah Jean Piaget. Jean Piaget meneliti dan menulis subjek perkembangan kognitif ini dari tahun 1927 sampai 1980.

Piaget menyatakan bahwa cara berpikir anak bukan hanya kurang matang dibandingkan dengan orang dewasa karena  kalah pengetahuan, tetapi juga berbeda secara kualitatif. Menurut penelitiannya tahap-tahap perkembangan individu/pribadi serta perubahan umur sangat mempengaruhi kemampuan belajar individu. Jean Piaget menyebut bahwa struktur kognitif ini sebagai skemata (Schemas), yaitu kumpulan dari skema-skema. Seseorang individu dapat mengikat, memahami, dan memberikan respons terhadap stimulus disebabkan karena bekerjanya skemata ini. Skemata ini berkembang secara kronologis, sebagai hasil interaksi antara individu dengan lingkungannya. Dengan demikian seorang individu yang lebih dewasa memiliki struktur kognitif yang lebih lengkap dibandingkan ketika ia masih kecil. Piaget mengemukakan empat tahapan kognitif anak yaitu tahap sensori-motor, pra-operasional, operasional konkrit, dan operasional formal.

Kognitif perkembangannya diawali dengan perkembangan kemampuan mengamati, melihat hubungan dan memecahkan masalah sederhana. Kemudian berkembang ke arah pemahaman dan pemecahan masalah yang lebih rumit. Aspek ini berkembang pesat pada masa anak mulai masuk sekolah dasar (usia 6-7 tahun). Berkembang konstan selama masa belajar dan mencapai puncaknya pda masa sekolah menengah atas (usia 16-17 tahun). Menurut Piaget, dinamika perkembangan intelektual individu mengikuti dua proses, yaitu asimilasi dan akomodasi. Asimilasi adalah proses kognitif dimana seseorang mengintegrasikan persepsi, konsep atau pengalaman baru ke dalam struktur kognitif yang sudah ada di dalam pikirannya. Struktur kognitif yang dimaksud adalah segala pengetahuan individu yang membentuk pola-pola kognitif tertentu. Jadi struktur kognitif sesungguhnya merupakan kumpulan dari pengalaman dalam kognisi individu.

Ada dua fungsi guru SD sekaitan proses asimilasi, yakni meletakkan dasar struktur kognitif yang tepat tentang sesuatu konsep pada kognisi anak dan memperkaya struktur kognitif menjadi semakin lengkap dan mendalam. Peletakkan struktur kognitif yang tepat tentang sesuatu konsep pada kognisi anak dianggap penting sebab pendidikan di SD sangat fundamental bagi pemerkayaan dan pendalaman. Sementara itu pemerkayaan dan pendalaman struktur kognitif anak diarahkan kepada perluasan wawasan kognitif mereka. Ada kalanya individu tidak dapat mengasimilasikan rangsangan atau pengalaman baru yang dihadapinya dengan struktur kognitif yang ia miliki. Ketidakmampuan ini terjadi karena rangsangan atau pengalaman baru itu sama sekali tidak cocok dengan struktur kognif yang telah ada. Dalam keadaan seperti ini, individu akan melakukan akomodasi. Ada dua kemungkinan yang dapat dilakukan individu dalam situasi ini, yakni: 1) membentuk struktur kognitif baru yang cocok dengan rangsangan atau pengalaman baru, 2) memodifikasi struktur kognitif yang ada sehingga cocok dengan rangsangan atau pengalaman baru.

Menurut Piaget, proses asimilasi dan akomodasi terus berlangsung pada diri seseorang. Dalam perkembangan kognitif, diperlukan keseimbangan antara kedua proses ini. Keseimbangan itu disebut ekuilibrium, yakni pengaturan diri secara mekanis yang perlu untuk mengatur keseimbangan proses asimilasi dan akomodasi. Piaget membagi proses perkembangan fungsi fungsi dan perilaku kognitif ke dalam empat tahapan utama yang secara kualitatif setiap tahapan memunculkan karakteristik yang berbeda-beda. Tahapan perkembangan kognitif itu adalah:

Tahap Sensorimotor (0 – kurang lebih 2 tahun).

Pada tahap ini tingkah laku anak ditentukan oleh perasaan (senses) dan aktivitas motorik. Kesan (impression) anak tentang dunia dibentuk oleh persepsi mengenai perasaannya dan oleh manipulasi dari lingkungannya. Pembentukan konsep/ide pada tahapan ini terbatas kepada objek yang bersifat permanen atau objek yang tampak dalam batas pengamatan anak. Perkembangan skema verbal dan kognitif masih sangat sedikit dan tidak terkoordinaikan.

Tahap Operasi Awal/Preoperational (2 – 6 tahun).

Pada tahapan ini anak mulai menggambarkan kejadian-kejadian dan objekobjek melalui simbol-simbol, termasuk simbol-simbol verbal bahasa. Artinya, mereka sudah mulai berpikir tentang benda-benda dengan tidak terikat pada kehadiran benda konkrit. Anak sudah menghubungkan tentang kejadian atau objek yang dihadapinya dengan skema yang sudah ada dalam ingatannya. Tetapi anak relatif masih belum dapat menerima perbedaan persepsi dengan orang lain, kemampuan yang berkembang pada saat ini masih bersifat egosentrik, sehingga cara-cara dan pengetahuan yang ia miliki itulah yang dianggapnya benar, sepertinya tidak ada alternatif cara dan pengetahuan benar yang lainnya. Anakanak pada tahapan ini juga sudah mulai memecahkan jenis-jenis masalah, tetapi hanya mengenai masalah-masalah mengenai barang-barang yang tampak/kelihatan.

Tahap Operasi Konkrit (7 – 11 tahun).

Pada tahap ini, skema kognitif anak berkembang, terutama berkenaan dengan keterampilan berpikir dan memecahkan masalah. Perkembangan keterampilan berpikirnya yaitu berkenaan dengan keterampilan menggolonggolongkan (mengklasifikasi) berdasarkan ciri dan fungsi sesuatu; mengurutkan sesuatu misalnya dari yang terkecil ke yang terbesar; membandingkan bendabenda; memahami konsep konservasi, yaitu kemampuan memahami bahwa sesuatu itu tidak berubah walaupun misalnya sesuatu itu dipindahkan tempatnya, tali yang dilingkarkan panjangnya tidak berubah walaupun ditarik menjadi memanjang, dsb., memahami identitas, yaitu kemampuan mengenal bahwa suatu objek yang bersifat fisik akan mengambil ruang dan memiliki volume tertentu, dan kemampuan membandingkan pendapat orang.

Tahap Operasi Formal (12 tahun ke atas).

Pada tahap ini anak memiliki kecakapan berpikir simbolik, tidak tergantung kepada keberadaan objek secara fisik. Anak pada tahapan operasi formal mampu berpikir logis, matematis, dan abstrak. Anak bahkan mungkin dapat memahami hal-hal yang secara teortis mungkin terjadi sekalipun ia belum pernah melihat kejadiannya secara nyata.

 

ASPEK PERKEMBANGAN FISIK

Secara umum, fisik berarti bentuk (postur) atau perawakan. Jadi Pertumbuhan fisik adalah pertumbuhan struktur tubuh manusia yang terjadi sejak dalam kandungan hingga ia dewasa atau mencapai tingkat kematangan pertumbuhannya. Proses perubahannnya adalah menjadi panjang (pertumbuhan vertikal) dan menjadi tebal/lebar (pertumbuhan horizontal) dalam suatu proporsi bentuk tubuh. Pertumbuhan sebelum lahir dimulai sejak terjadinya pembuahan (fertilisasi) antara sel telur dengan sel sperma yang kemudian berkembang menjadi embrio. Pertumbuhan fisik sebelum lahir akan dilanjutkan dengan pertumbuhan fisik setelah kelahiran yang akan menyempurnakan struktur dan fungsi dari dimensi fisik peserta didik.

Ada dua hukum pertumbuhan fisik yang berlaku umum dan menyeluruh (Satoto,1993), yaitu hukum chepalocaudal dan hukum proksimodistal. Menurut hukum chepalocaudal maka pertumbuhan dimulai dari arah kepala menuju ke kaki. Bagian kepala tumbuh lebih dahulu daripada daerah-daerah lain. Kematangan pertumbuhan juga berlangsung lebih dahulu dibagian kepala, kemudian melanjutkan ke bagian-bagian lain dari tubuh. Bayi baru lahir sudah dapat menggerakkan mata atau bibir, kemudian pada masa berikutnya mampu menggerakkan lengan dan tangan dan kemudian disusul dengan kemampuan meenggerakkan tungkai dan kaki. Sebagai akibatnya bayi yang baru lahir memiliki kepala yang secara proporsi lebih besar dari bagian lain dalam masa-masa pertumbuhan berikutnya kepala secara proporsional menjadi lebih kecil. Menurut hukum proximodistal maka pertumbuhan berpusat dari daerah sumbu (proximo) kearah tepi (distal). Alat-alat yang berada didaerah sumbu misalnya jantung, alat-alat nafas dan pencernaan tumbuh lebih dahulu dan lebih pesat dibandingkan didaerah tepi, misalnya anggota gerak badan

Perkembangan fisik anak usia SD mengikuti prinsip-prinsip yang berlaku umum menyangkut: tipe perubahan, pola pertumbuhan fisik dan karakteristik perkembangan serta perbedaan individual. Perubahan dalam proporsi mencakup perubahan tinggi dan berat badan. Pada fase ini pertumbuhan fisik anak tetap berlangsung. Anak menjadi lebih tinggi, lebih berat, lebih kuat, dan lebih banyak belajar berbagai keterampilan. Perkembangan fisik pada masa ini tergolong lambat tetapi konsisten, sehingga cukup beralasan jika dikenal sebagai masa tenang.

 

ASPEK PERKEMBANGAN PSIKOMOTORIK

Perkembangan motorik sangat berkaitan erat dengan perkembangan fisik anak. Motorik merupakan perkembangan pengendalian gerakan tubuh melalui kegiatan yang terkoordinir antara susunan saraf, otot, otak, dan spinal cord. Perkembangan motorik yang sempurna sangat menopang dalam melaksanakan tugas perkembangan anak pada umumnya, terlebih lagi bagi kalangan tertentu yang menggunakan kecerdasan motorik sebagai tumpuannya, seperti olahragawan dan profesional. Psikomotorik dan motorik memiliki definisi yang berbeda. Secara umum, motorik adalah gerak sedangkan psikomotorik adalah kemampuan gerak. Dalam psikologi, kata motor diartikan sebagai istilah yang menunjukkan  pada hal, keadaan, yang melibatkan otot-otot juga gerakan-gerakannya, demikian pula kelenjar-kelenjar juga sekresinya. Motor dapat pula dipahami sebagai segala keadaan yang meningkatkan atau menghasilkan stimulasi atau rangsangan terhadap kegiatan organ-organ fisik.

Terdapat lima prinsip perkembangan motorik ialah: perkembanagn motor merupakan fungsi dari pematangan susunan dan otot, gerakan motorik tak akan terjadi sampai anak memiliki kesiapan motor dan syaraf untuk gerakan itu, perkembangan motor secara umum mengikuti pola yang dapat diramal, hukum sefalokaudal dan hukum proksimodistal berlaku untuk perkembangan motor, dimungkinkan untuk menegakkan perkembangan motor, dan ada perbedaan individual dalam perkembangan motor

 

ASPEK PERKEMBANGAN MORAL

Pendidikan pada tingkat dasar menjadi lembaga pendidikan awal dan sebagai peletak dasar pengetahuan anak. Selain menjadikan peserta didik menjadi anak yang cerdas, pendidikan dasar juga harus dapat menghasilkan manusia yang baik, berbudi pekerti, dan berakhlaq. Salah satu pendidikan yang mengarah pada tujuan pendidikan dasar tersebut adalah pendidikan moral. Moral dapat diartikan sebagai ajaran kesusilaan. Sedangkan penggunaan kata “moralitas” berarti hal-hal yang berhubungan dengan kesusilaan (Piaget didalam Sinolungan, 1997). Dalam mempelajari perkembangan moral anak, marilah kita simak 2 teori berikut ini.

Dalam bukunya The moral judgement of the child (1923) Piaget menyatakan bahwa kesadaran moral anak mengalami perkembangan dari satu tahap yang lebih tinggi. Pertanyaan yang melatar belakangi pengamatan Piaget adalah bagaimana pikiran manusia menjadi semakin hormat pada peraturan. Ia mendekati pertanyaan itu dari dua sudut. Pertama kesadaran akan peraturan (sejauh mana peraturan dianggap sebagai pembatasan) dan kedua, pelaksanaan dari peraturan itu. Piaget mengamati anak-anak bermain kelereng, suatu permainan yang lazim dilakukan oleh anak-anak diseluruh dunia dan permainan itu jarang diajarkan secara formal oleh orang dewasa. Dengan demikian permainan itu mempunyai peraturan yang jarang atau malah tidak sama sekali ada campur tangan orang dewasa. Melalui perkembangan umur maka orientasi perkembangan itupun berkembang dari sikap heteronom (bahwasannya peraturan itu berasal dari diri orang lain) menjadi otonom (dari dalam diri sendiri). Pada tahap heteronom anak-anak menggangap bahwa peraturan yang diberlakukan dan berasal dari bukan dirinya merupakan sesuatu yang patut dipatuhi, dihormati, diikuti dan ditaati oleh pemain. Pada tahap otonom, anak-anak beranggapan bahwa perauran-peraturan merupakan hasil kesepakatan bersama antara para pemain.

Aspek moral juga sudah berkembang sejak anak masih kecil. Peranan lingkungan terutama lingkungan keluarga sangat dominan bagi perkembangan aspek ini. Pada mulanya anak melakukan perbuatan bermoral karena meniru, baru kemudian menjadi perbuatan atas prakarsa sendiri. Perbuatan prakarsa sendiripun pada mulanya dilakukan karena adanya kontrol atau pengawasan dari luar, kemudian berkembang karena kontro dari dalam atau dari dirinya sendiri. Tingkatan tertinggi dalam perkembangan moral adalah melakukan sesuatu perbuatan bermoral karena panggilan hati nurani, tanpa perintah, tanpa harapan akan sesuatu imbalan atau pujian. Secara potensial tingkatan moral ini dapat dicapai oleh individu pada akhir masa remaja, tetapi faktor-faktor dalam diri dan lingkungan individu anak sangat berpengaruh terhadap pencapaiannya.

 

ASPEK PERKEMBANGAN EMOSIONAL

Sebagai pendahuluan, marilah kita pahami apa itu arti kata emosi. Seperti dikutip dari English and English, emosi adalah “A complex feeling state accompanied by characteristic motor and glandular activities “, yaitu suatu keadaan perasaan yang kompleks yang disertai karakteristik kegiatan kelenjar dan motoris. Emosi adalah setiap keadaan pada diri seseorang dan berhubungan dengan kondisi afektifnya dengan tingkatan yang lemah maupun yang kuat. Keadaan afektif yang dimaksud adalah perasaan-perasaan tertentu yang dialami pada saat menghadapi suatu situasi tertentu, seperti rasa senang, bahagia, benci, kangen, terkejut, tidak puas, tidak senang dan sebagainya (Yusuf Syamsu, 2006). Keadaan emosi pada setiap anak berbeda, kadang ada anak yang dapat mengontrol sehingga emosinya tidak tercetus keluar dengan perubahan atau tanda-tanda fisiknya. Kaitannya dengan mengontrol emosi, Ekman dan Friesen (Hurlock, E.B, 1990) menyebutkan hal itu dengan istilah display rules, yang dibagi menjadi 3 yaitu:

  1. Masking, keadaan dimana seorang anak dapat menyembunyikan atau menutupi emosi yang dialaminya. Emosi yang ada pada dirinya tidak tercetus melalui ekspresi fisiknya. Misalnya, rasa rindu seorang anak yang ditinggal ibunya pergi beberapa hari, namun ia hanya diam saja dan berusaha tidak cengeng meskipun emosi dalam dirinya sangat bertentangan.
  2. Modulation, seorang anak tidak mampu meredam emosinya secara tuntas dengan gejala fisiknya, tetapi hanya dapat menguranginya. Misalnya seorang anak terjatuh didepan banyak orang, maka ia akan menangis namun tidak terlalu keras.
  3. Simulation, seorang anak yang tidak mengalami emosi, tetapi ia seolah-olah mengalami emosi dengan menampakkan gejala-gejala fisik. Misalnya, seorang anak bertingkah laku meronta-ronta, marah, atau menendang-nendang hanya karena meniru apa yang dia lihat di televisi.

Perkembangan aspek afektif atau perasaan emosional konstan, kecuali pada masa remaja awal (13-14 tahun) dan remaja tengah (15-16 tahun). Pada masa remaja awal ditandai oleh rasa optimisme dan keceriaan dalam hidupnya, diselingi rasa bingung menghadapi perubahan-perubahan yang terjadi dalam dirinya. Pada masa remaja tengah, rasa senang datang silih berganti dengan rasa duka, kegembiraan berganti dengan kesedihan, rasa akrab bertukar dengan kerenggangan dan permusuhan. Gejolak ini berakhir pada masa remaja akhir yaitu pada usia 18 – 21 tahun.

 

ASPEK PERKEMBANGAN SOSIAL

Syamsu Yusuf (2007) menyatakan bahwa perkembangan sosial merupakan pencapaian kematangan dalam hubungan sosial. Perkembangan sosial dapat juga diartikan sebagai proses belajar untuk menyesuaikan diri terhadap norma-norma kelompok moral dan tradisi meleburkan diri menjadi satu kesatuan dan saling berkomunikasi dan kerja sama. Pada awal manusia dilahirkan belum bersifat sosial, dalam artian belum memiliki kemampuan dalam berinteraksi dengan orang lain. Kemampuan sosial anak diperoleh dari berbagai kesempatan dan pengalaman bergaul dengan orang-orang dilingkungannya. Kebutuhan berinteraksi dengan orang lain telah dirasakan sejak anak memasuki usia 6 (enam) bulan. Disaat itu mereka telah mampu mengenal manusia lain terutama yang dekat dengan dirinya yaitu ibu atau anggota keluarga yang lain. Anak mulai mampu membedakan arti senyum, marah,tidak senang, terkejut, dan kasih sayang. Sunarto dan Hartono (1999) menambahkan bahwa hubungan sosial (sosialisasi) merupakan hubungan antar manusia yang saling membutuhkan. Hubungan sosial dimulai dari tingkat yang sederhana dan terbatas yang didasari oleh kebutuhan yang sederhana. Semakin dewasa dan bertambah umur, kebutuhan manusia menjadi semakin kompleks dan dengan demikian tingkat hubungan sosial juga berkembang amat kompleks. Dari kutipan diatas dapatlah dimengerti bahwa semakin bertambah usia anak, maka semakin kompleks perkembangan sosialnya karena anak semakin membutuhkan untuk berinteraksi dengan orang lain.

Perkembangan aspek sosial diawali pada masa kanak-kanak (usia 3-5 tahun). Anak senang bermain bersama teman sebayanya. Hubungan persebayaan ini berjalan terus dan agak pesat terjadi pada masa sekolah (usia 11-12 tahun) dan sangat pesat pada masa remaja (16-18 tahun). Perkembangan sosial pada masa kanak-kanak berlangsung melalui hubungan antar teman dalam berbagai bentuk permainan.

 

ASPEK PERKEMBANGAN BAHASA

Perkembangan bahasa merupakan kemampuan khas manusia yang paling kompleks dan  mengagumkan (Semiawan;1989). Meski para ahli mengungkapkan bahwa bahasa itu kompleks, namun pada umumnya perkembangan pada individu dengan kecepatan luar biasa pada awal masa kanak-kanak. Berangkat dari hasil-hasil penelitian para ahli psikologi perkembangan, perkembangan bahasa adalah kemampuan individu dalam menguasai kosa kata, ucapan, gramatikal, dan etika pengucapannya dalam kurun waktu tertentu sesuai dengan perkembangan umur kronologisnya. Perbandingan antara umur kronologis dengan kemampuan berbahasa individu menunjukkan perkembangan bahasa individu yang bersangkutan. Pada otak manusia terdapat piranti atau alat linguistik dasar yang bersifat universal yang memungkinkan manusia memperoleh bahasa. Area aspek bahasa yang paling berpengaruh adalah Broca dan Wernick, sebuah istilah neurologi yang diambil dari nama penemu daripada area linguistic dalam otak manusia tersebut. Sedangkan kaum behavioristik memandang bahwa kemampuan berbahasa merupakan hasil belajar individu dalam interaksinya dengan lingkungan.

Aspek bahasa berkembang dimulai dengan peniruan bunyi dan suara, berlanjut dengan meraban. Pada awal masa sekolah dasar berkembang kemampuan berbahasa sosial yaitu bahasa untuk memahami perintah, ajakan serta hubungan anak dengan teman-temannya atau orang dewasa. Pada akhir masa sekolah dasar berkembang bahasa pengetahuan. Perkembangan ini sangat berhubungan erat dengan perkembangan kemampuan intelektual dan sosial. Bahasa merupakan alat untuk berpikir dan berpikir merupakan suatu proses melihat dan memahami hubungan antar hal. Bahasa juga merupakan suatu alat untuk berkomunikasi dengan orang lain, dan komunikasi berlangsung dalam suatu interaksi sosial. Dengan demikian perkembangan kemampuan berbahasa juga berhubungan erat dan saling menunjang dengan perkembangan kemampuan sosial. Perkembangan bahasa yang berjalan pesat pada awal masa sekolah dasar mencapai kesempurnaan pada akhir masa remaja.

 

IMPLIKASI TERHADAP KEGIATAN PEMBELAJARAN

Perkembangan Kognitif

Berdasarkan tahap perkembangan mental atau kognitif menurut Jean Piaget, perkembangan mental/kognitif siswa sekolah dasar berada pada perkembangan dari tahap operasi awal (the preoperational stage) ke tahap operasi konkrit (the concrete operations stage). Apabila kita menggunakan tahap perkembangan kognitif dari Bruner, tahap perkembangan tersebut di atas sebanding dengan tahap perkembangan dari akhir tahap enactive dan tahap iconic/imagery. Pada saat ini siswa sekolah dasar skema kognitifnya berkembang, terutama berkenaan dengan keterampilan berpikir dan keterampilan memecahkan masalah. Perkembangan kecakapannya yaitu berkenaan dengan keterampilan menggolong-golongkan (mengklasifikasi) berdasarkan ciri dan fungsi sesuatu; mengurutkan sesuatu misalnya dari yang terkecil ke yang terbesar; membandingkan benda-benda; memahami konsep konservasi; memahami identitas, yaitu kemampuan mengenal bahwa suatu objek yang bersifat fisik akan mengambil ruang dan memiliki volume tertentu; dan kemampuan membandingkan pendapat orang. Implikasi dari hal di atas, maka pembelajaran bagi siswa sekolah dasar hendaknya: membangkitkan rasa ingin tahu siswa, menghadapkan siswa pada gagasan-gagasan dan pandangan-pandangan baru, memungkinkan siswa melakukan eksplorasi, berpikir, dan memberikan kesempatan bagi siswa untuk berinteraksi dan berkomunikasi baik dengan sesamanya maupun dengan orang dewasa. Untuk itu, guru hendaknya memfasilitasi siswa untuk belajar/bekerja dalam kelompok kecil.

Perkembangakan Fisik

Mengacu kepada tahap perkembangan yang dikemukakan oleh Yelon dan Weinstein (1977), tahap perkembangan siswa sekolah dasar tergolong pada Masa Kanak-Kanak (Childhood). Perkembangan aspek fisik pada masa ini yaitu:

  1. Keterampilan-keterampilan badan cukup baik, otot-otot kuat, dan terkoordinasi
  2. Turut serta dalam permainan permainan kelompok
  3. Perkembangan keseimbangan lebih lanjut, kegesitan, daya tahan, kekuatan tenaga dan keterampilan khusus.

Implikasi dari perkembangan fisik siswa seperti dijelaskan di atas, maka kegiatan fisik hendaknya betul-betul disadari pentingnya bagi siswa sekolah dasar, terutama di kelas-kelas rendah. Selain itu perlu diperhatikan, kegiatan fisik siswa akan turut membantu perkembangan kognitifnya. Ketika anak dihadapkan kepada konsep abstrak, anak perlu perlu melakukan aktivitas fisik untuk membantu mereka menghayati konsep-konsep yang belum dikenalnya itu. Sehubungan dengan itu dalam rangka pembelajarannya, siswa sekolah dasar hendaknya dihadapkan pada kegiatan kegiatan yang aktif secara fisik.

Perkembangan Moral.

Berdasarkan tahap perkembangan moral menurut Lawrence Kohlberg, perkembangan moral siswa sekolah dasar berada pada pergeseran dari akhir tahap 1 (kepatuhan dan hukuman),  tahap 2 (Instrumental Relatif) menuju  tahap 3 (Orientasi Keselarasan Interpersonal). Implikasi dari tahap perkembangan di atas, maka guru hendaknya bersamasama menciptakan aturan dan kejujuran, secara konsisten mengupayakan disiplin yang tegas dan dapat dipahami. Namun demikian, pada kelas-kelas rendah, para guru diharapkan mempertimbangkan orientasi kepatuhan dan hukuman pada diri siswa.

Perkembangan Emosional.

Perkembangan emosional siswa sekolah dasar antara lain: banyak menggunakan waktu untuk membebaskan diri dari rumah, menyamakan diri dengan teman sebayanya namun masih menerima persetujuan dari orang dewasa, mudah terharu, tetapi pemberani dan percaya pada diri sendiri. Implikasi dari perkembangan di atas, maka guru mestinya menerima kebutuhan-kebutuhan akan kebebasan anak dan menambah tanggung jawab anak. Selain itu, guru hendaknya mengembangkan keberanian dan perasaan percaya diri siswa, juga keterbukaan siswa terhadap kritik

Perkembangan Sosial.

Menurut tahap-tahap perkembangan seperti dikemukakan Yelon dan Weinstein (1977), perkembangan sosial siswa sekolah dasar yakni: berorientasi kepada kelompok tetapi kehidupan rumah masih berpengaruh, ingin bebas, memuja pahlawan, pemisahan dari jenis kelamin, dan bahwa kelompok akan mempengaruhi konsep dirinya. Implikasi dari perkembangan di atas, maka para guru hendaknya: mendorong pertemanan dengan menggunakan proyek-proyek dan permainan kelompok. Selain itu, guru hendaknya memberikan contoh model hubungan sosial yang baik

Perkembangan Bahasa.

Bahasa merupakan alatutnuk berkomunikasi dengan orang lain. Pada dasarnya bahasa sebagai alat komunikasi tidak hanya berupa bisacar, emlainkan juga dapat diwujudkan dengan tanda isyarat tangan atau anggota tubuh lainnya yang memiliki aturan sendiri.

Sangat luas sekali pengertian bahasa dala menunjukkan suatu perkembangan. Oleh akrena itu, salah satu tokoh psikologi yaitu Wundt (Baradja, 2005:179) mendasarkan teori bahasanya dengan aksioma paralel, yaitu gerakan – gerakan fisik merupakan pernyataan gerakan – gerakan psikis. Dengan demikian, terdapat hubungan yang paralel antara gejala batin dan gejala luar. Apa yang terlihat dalam raut wajah dan tingkah laku akan menuntukkan suatu kebutuhan psikologis seseorang.

Menurut Yusuf (2005:118), bahasa sangat erat kaitannya dengan perkembangan berpikir individu. Perkembangan pikiran individu tampak dalam perkembangan bahasanya, yaitu kemampuan bahasanya, yaitu kemampuan membentuk pengertian, menyusun pendapat, dan menarik kesimpulan. Yusuf pun menuturkan bahwa anak usia sekolah dasar merupakan masa berkembang pesatnya kemampuan mengenal dan menguasai perbendaharaan kata. Dengan dikuasainya keterampilan membaca dan berkomunikasi dengan orang lain, anak sudah gemar membaca atau mendengarkan cerita yang bersifat kritis (tentang petualangan, riwayat pahlawan, dan lain – lain). Pada masa ini tingkat berpikir anak sudah lebih maju. Dia banyak menanyakan soal waktu dan sebab akibat. Misalnya, kata tanya yang semula digunakan hanya “apa”, sekarang sudah diikuti dengan pertanyaan “di mana”, “mengapa”, “bagaimana”, dan sebagainya. Oleh sebab itu, pelajaran bahasa sengaja diberikan di sekolah dasar dapat menambah perbendaharaan kata peserta didik, melatih peserta didik menyusun struktur kalimat, peribahasa, kesusastraan, dan keterampilan mengarang.

Selanjutnya masih berkaitan dengan bahasa, Budiamin, dkk. (2009:111) memperkirakan sekitar 50 bahasa isyarat digunakan di seluruh dunia. Penggunaan bahasa isyarat ini diduga mempengaruhi pemrosesan informasi dan belajar.

Budiamin, dkk.(2009:117) kemudian memaparkan implikasi perkembangan bahasa pada peserta didik.

  1. Apabila kegiatan pembelajaran yang diciptakan bersifat efektif, maka perkembangan bahasa peserta didik dapat berjalan secara optimal. Sebaliknya apabila kegiatan pembelajaran berjalan kurang efektif, maka dapat diprediksi bahwa perkembangan bahasa peserta didik akan mengalami hambatan.
  2. Bahasa adalah alat komunikasi yang paling efektif dalm pergaulan sosial. Jika ingin menghasilkan pembelajaran yang efektif untuk mendapatkan hasil pendidikan yang optimal, maka sangat diperlukan bahasa yang komunikatif dan memungkinkan peserta didik yang terlibat dalam interaksi pembelajaran dapat berperan secara aktif dan produktif.
  3. Meskipun umumnya anak SD memiliki kemampuan potensial yang berbeda – beda, namun pemberian lingkungan yang kondusif bagi perkembangan bahasa sejak dini sangat diperlukan.

 

Kesimpulan

Setiap anak menjadi dewasa melalui suatu proses pertumbuhan dan perkembangan secara bertahap mengenai keadaan fisik, sosial, emosional, moral, dan mentalnya. Seraya mereka berkembang, mereka mempunyai cara-cara memahami, bereaksi, dan mempersepsi yang sesuai dengan usianya. Konsep inilah yang oleh para ahli psikologi disebut tahap perkembangan. Pada setiap tahap perkembangan terdapat seperangkat tugas perkembangan, yaitu sejumlah tugas yang harus diselesaikan oleh individu yang terdapat pada suatu tahap perkembangannya.

Ada berbagai ahli psikologi yang mendeskripsikan berbagai aspek perkembangan secara komprehensif mengenai tahap dan tugas perkembangan individu, antara lain Robert Havighurst, Yelon dan Weinstein. Tahap perkembangan aspek mental/kognitif antara lain dideskripsikan oleh Jean Piaget dan Jerome Bruner. Adapun mengenai tahap perkembangan moral individu dideskripsikan oleh Lawrence Kohlgerg.

Menurut Havighurst perkembangan siswa SD tergolong pada tahap Masa Kanak-kanak (6-12 tahun). Ini sebanding dengan tahap akhir prasekolah dan Masa Kanak-kanak sebagaimana dideskripsikan Yelon dan Weinstein. Menurut Jean Piaget perkembangan mental/kognitif siswa SD berada dari tahap operasi awal (the preoperational stage) menuju sampai ke tahap operasi konkrit (the concrete operations stage). Apabila kita menggunakan tahap perkembangan kognitif dari Bruner, tahap perkembangan tersebut sebanding dengan tahap perkembangan dari akhir tahap enactive sampai dengan tahap iconic/imagery. Adapun mengenai perkembangan moralnya, menurut Kohlberg siswa SD berada pada pergeseran dari akhir tahap 1 (kepatuhan dan hukuman), tahap 2 (Instrumental Relatif) dan menuju tahap 3 (Orientasi Keselarasan Interpersonal). Tahap dan tugas perkembangan siswa, baik berkenaan aspek fisik, sosial, emosional, moral, dan mentalnya memberikan implikasi terhadap pendidikan, yaitu berkenaan dengan peranan guru, isi kurikulum atau berbagai kompetensi yang semestinya dikembangkan pada diri siswa, maupun berkenaan dengan cara pembelajarannya.

DAFTAR PUSTAKA

Drs. Nurwidodo, M.Kes. RANCANGAN TUTORIAL (RT)Perkembangan Belajar Peserta Didik

Syaodih Ernawulan. Perkembangan Peserta Didik Sekolah Dasar

Tatang. 2010 Landasan Psikologi Pendidikan. Sy. File

___________

Disusun Oleh:

Anisa Nabilah Hidayati. Untuk memenuhi tugas mata kuliah Perkembangan Peserta Didik Program Studi Pendidikan Bahasa Inggris STKIP Pacitan

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s