Khutbah Idul Adha: Semata Wayang

ALBA News | Senin, 27 Juli 2020. Berikut ini naskah khutbah Idul Adha untuk tanggal 10 Dhulhijah 1441 H/31 Juli 2020. Sekiranya ada yang berlebih, dikurang. Ada yang kurang boleh di tambah. Semoga bermanfaat:

Unduh naskah lengkap di tautan ini:

Khutbah Idul Adha_2020_Semata Wayang (pdf)

Semata Wayang [1]

 اَللهُ أَكْبَرُ, اَللهُ أَكْبَرُ, اَللهُ أَكْبَرُ, اَللهُ أَكْبَرْ, اَللهُ أَكْبَرُ, اَللهُ أَكْبَرُ, اَللهُ أَكْبَرُ, اَللهُ أَكْبَرُ, اَللهُ أَكْبَرُ كَبِيْرًا وَالْحَمْدُ للهِ كَثِيْرًا وَسُبْحَانَ اللهِ بُكْرَةً وَأَصِيْلاً، لَاإِلهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ، صَدَقَ وَعْدَهُ، وَنَصَرَ عَبْدَهُ، وَأَعَزَّ جُنْدَهُ وَهَزَمَ الْأَحْزَابَ وَحْدَهُ، لاَإِلهَ إِلاَّ اللهُ وَاللهُ أَكْبَرُ، اَللهُ أَكْبَرُ وَللهِ اْلحَمْدُ

اَلْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِيْ أَمَرَنَا بِاْلاِعْتِصَامِ بِحَبْلِ اللهِ، أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ لاَ نَبِيَّ بَعْدَهُ. اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنْ تَبِعَ هُدَاهُ. أَمَّا بَعْدُ؛ فَيَا عِبَادَ اللهِ، أُوْصِيْكُمْ بِتَقْوَى اللهِ، قَالَ اللهُ تَعَالَى: يَاأَيُّهاَ الَّذِيْنَ ءَامَنُوا اتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنَّ إِلاَّ وَأَنتُمْ مُّسْلِمُوْنَ.

Jamaah Sholat Ied Rohimakumullah

Marilah kita tingkatkan ketakwaan kita kepada Allah, dengan mencermati semua perbuatan yang akan kita lakukan. Sekiranya itu perintah Allah, maka laksanakan. Jika itu larangan Allah, maka batalkan. Dengan bertakwa, insyallah kita akan menjadi manusia yang bahagia. Dunia maupun di akhirat.

Allah Akbar (3x) Walillahilham
Ma’asyiral muslimin rohimakumullah

Alhamdulillah, di pagi hari ini, Jumat Pon, 31 Juli 2020, dengan penuh semangat, kita mendatangi tempat ini. Lalu berkumpul, menata shof, dan meluruskan barisan. Ikhlas menjalankan sebuah rangkaian. Sholat Idul Adha secara bersama-sama.

Ma’asyiral muslimin rohimakumullah

Setiap bulan Dzulhijah tiba, selalu ada saja cerita. Yang tidak pernah hilang ditelan zaman. Tidak pernah bosan untuk diceritakan. Tidak pernah habis untuk diambil teladan.

Kisah itu berasal dari sebuah keluarga. Ibrahim sebagai ayah. Hajar sebagai ibu. Dan Ismail sebagai anaknya.

Seakan tak pernah habis ujian yang menimpa keluarga ini. Hingga pada puncaknya, untuk menunjukkan tingkat ketaatan kepada Allah, ia harus berbesar hati, menerima ujian, untuk menyembelih anak semata wayang. Buah cinta dirinya bersama Hajar istrinya.

Ujian demi ujian datang bertubi-tubi. Tetapi imannya tetap kokoh. Jangankan runtuh, goyah sedikitpun tidak. Niatnya semata wayang. Hanya mengharap ridho Allah, yang telah memberinya kasih sayang.

Inilah dinamika dalam berumah tangga. Suami dan istri harus sama-sama memahami. Semakin tinggi pohon, semakin kuat angin menerpa. Semakin taat menjalani perintah, semakin kuat ujian yang akan menimpa.

Ma’asyiral muslimin rohimakumullah

Menjadi pertanyaan kita semua. Siapa yang memberikan pendidikan kepada Ismail, kala usianya masih kecil. Siapa yang mengenalkan agama kepadanya, saat ayahnya tidak sedang membersamainya. Siapa yang mengajarkan dasar-dasar akidah kepadanya, hingga keimanannya kuat sejak usia belia.

Adalah Hajar ibunya. Dialah tokoh di balik layar. Sosok yang menjadikan Ismail, tumbuh menjadi pribadi yang mengesankan.

Tidak akan kisah ini sampai kepada kita, jika Hajar ibunya, kala itu putus asa. Tidak akan ada cerita kurban, jika Hajar tidak mampu menjadi teladan.

Hajar tampil secara prima. Membentuk karakter Ismail, hingga pantas menjadi pemeran utama cerita. Hajar mampu berperan sebagai ibu. Ia tahu apa yang menjadi kewajiban seorang ibu. Yakni, menanamkan dasar-dasar akidah kepada anak. Dari mulai di dalam kandungan, hingga ia tumbuh sempurna menjadi manusia. Niat Hajar semata wayang. Hanya mengharap ridho Allah, yang telah memberinya kasih sayang.

Demikian besar peran seorang ibu dalam mendidik anak. Hingga Rasulullah Saw. berpesan kepada kita, untuk memberi hormat, tiga kali lipat di atas bapak.

عَنْ أَبِيْ هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ جَاءَ رَجُلٌ إِلَى رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ :يَا رَسُوْلَ اللهِ، مَنْ أَحَقُّ النَّاسِ بِحُسْنِ صَحَابَتِي؟ قَالَ أُمُّكَ، قَالَ ثُمَّ مَنْ؟ قَالَ أُمُّكَ، قَالَ ثُمَّ مَنْ؟ قَالَ أُمُّكَ، قَالَ ثُمَّ مَنْ، قَالَ أَبُوْكَ

Dari Abu Hurairah, ia berkata, “Seseorang datang kepada Rasulullah Saw. dan berkata, ‘Wahai Rasulullah, kepada siapakah aku harus berbakti pertama kali?’ Rasul menjawab: ‘Ibumu!’ Dan orang tersebut kembali bertanya, ‘Kemudian siapa lagi?’ Rasul menjawab, ‘Ibumu!’ Orang tersebut bertanya kembali, ‘Kemudian siapa lagi?’ Rasul menjawab, ‘Ibumu.’ Orang tersebut bertanya kembali, ‘Kemudian siapa lagi,’ Rasul menjawab, ‘Kemudian ayahmu.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Ma’asyiral muslimin rohimakumullah

Ujian demi ujian, mampu dilalui oleh keluarga ini. Sebelum datang perintah menyembelih anak, Ibrahim sudah terlebih dahulu diuji. Diuji dengan lamanya ia tidak memiliki buah hati.

Rindu akan hadirnya buat hati, ia pendam lama bersama istrinya, Sarah. Sarah adalah istri pertama, sebelum kehadiran Hajar di tengah keluarganya. Dari rahim Sarah-lah, lahir bayi laki-laki yang kelak dikenal dengan nama Ishaq.

Bagaimana bisa, dari istri yang berbeda, tapi kedua anaknya bisa mendapatkan kepercayaan yang sama seperti dirinya. Baik Ismail maupun Ishaq, sama-sama dipercaya oleh Allah, menjadi seorang penyeru, Rasul utusan-Nya.

Ibrahim tampil sebagai kepala keluarga. Ibadahnya menjadi teladan. Akhlaknya menjadi rujukan. Tekatnya menjadi panutan. Bagi anak dan istrinya.

Sholat menjadi hal utama yang diteladankan kepada anaknya. Ia mohonkan kepada Allah melalui doa, agar anak keturunannya mampu menegakkan sholat.

Oleh Allah, doanya itu diabadikan dalam Surat Ibrahim ayat 40.

رَبِّ اجْعَلْنِي مُقِيمَ الصَّلَاةِ وَمِنْ ذُرِّيَّتِي ۚ رَبَّنَا وَتَقَبَّلْ دُعَاءِ

Ya Tuhanku, jadikanlah aku dan anak cucuku orang-orang yang tetap mendirikan shalat, ya Tuhan kami, perkenankanlah doaku.

Ia pesankan kepada anak-anaknya, untuk menjadi pribadi yang mampu berserah diri. Ia ajak anaknya untuk tawakal. Menyandarkan semuanya kepada Allah. Baik dalam kesukaran maupun kemudahan.

Allah abadikan keinginan Ibrahim di dalam Surat Al Baqarah ayat 128, agar bisa menjadi teladan bagi kita semua.

رَبَّنَا وَاجْعَلْنَا مُسْلِمَيْنِ لَكَ وَمِنْ ذُرِّيَّتِنَا أُمَّةً مُسْلِمَةً لَكَ

Ya Tuhan kami, jadikanlah kami berdua orang yang tunduk patuh kepada Engkau dan (jadikanlah) di antara anak cucu kami umat yang tunduk patuh kepada Engkau

Ma’asyiral muslimin rohimakumullah

Tidak mudah menjadi orang tua di zaman seperti ini. Apalagi berhadapan dengan pandemi. Kala pasar sudah terbuka lebar. Objek wisata mulai dibuka. Riuh pusat perbelanjaan tidak menjadi persoalan. Tapi, di sekolah tidak.

Anak-anak kita belum dibolehkan untuk masuk ke sekolah. Jadwal masuknya terus mundur tanpa ada kejelasan. Padahal, ini hampir memasuki bulan kelima, mereka belajar di rumah saja. Pembelajaran daring, menjadikan ruh pendidikan menjadi semakin kering.

Maka, inilah kesempatan kita menjadi orang tua yang sepenuhnya. Berperan sebagai Ibrahim dan Hajar, di kala membesarkan Ismail, dalam kondisi yang serba keterbatasan.

Bagaimana mungkin anak kita bisa seperti Ismail, jika kita tidak pernah mengenalkan waktu subuh kepada mereka. Bagaimana mungkin anak kita bisa memiliki sifat tawakal, jika selama hampir lima bulan ini, kita lebih banyak mengeluh. Menyalahkan sekolah. Mengkambinghitamkan guru. Padahal mereka hanyalah membantu. Kitalah yang menjadi penentu.

Hitam dan putihnya anak, terletak di tangan orang tuanya. Rasulullah Saw memberikan gambaran serupa dengan apa yang dilakukan Ibrahim dan istrinya

كُلُّ مَوْلُوْدٍ يُوْلَدُ عَلَى الْفِطْرَةِ، فَأَبَوَاهُ يُهَوِّدَانِهِ أَوْ يُمَجِّسَانِهِ أَوْ يُنَصِّرَانِهِ

Setiap anak yang lahir dilahirkan di atas fitrah. Kedua orang tuanyalah yang menjadikannya Yahudi, Majusi, atau Nasrani

Ma’asyiral muslimin rohimakumullah

Di masa inilah kesempatan kita memperbaiki keluarga. Apakah kita bisa menjadikan anak turun kita selevel dengan anak turun Ibrahim atau malah sebaliknya.

Mari kuatkan tekat. Satukan niat. Apa yang nanti kita lakukan, semata mengharap ridhonya Allah. Tidak mengharap belas pujian dari manusia.

Semua orang pasti menginginkan anak seperti Ismail. Tapi tidak banyak dari mereka yang meniru apa yang sudah dilakukan oleh Ibrahim dan istrinya. Yang telah memiliki niat semata wayang, bukan semata ayam.

بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ اْلآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ.  أَقُولُ قَوْ لِي هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِيْ وَلَكُمْ فَاسْتَغْفِرُوْهُ اِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيْمُ.

Khutbah Kedua

اَللهُ أَكْبَرُ, اَللهُ أَكْبَرُ, اَللهُ أَكْبَرُ, اَللهُ أَكْبَرْ, اَللهُ أَكْبَرُ, اَللهُ أَكْبَرُ,  اَللهُ أَكْبَرُ كَبِيْرًا وَالْحَمْدُ للهِ كَثِيْرًا وَسُبْحَانَ اللهِ بُكْرَةً وَأَصِيْلاً، لَاإِلهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ، صَدَقَ وَعْدَهُ، وَنَصَرَ عَبْدَهُ، وَأَعَزَّ جُنْدَهُ وَهَزَمَ الْأَحْزَابَ وَحْدَهُ، لاَإِلهَ إِلاَّ اللهُ وَاللهُ أَكْبَرُ، اَللهُ أَكْبَرُ وَللهِ اْلحَمْدُ

الْحَمْدُ ِللهِ حَمْدًا كَثِيْرًا كَمَا أَمَرَ. وَأَشْهَدُ أَنْ لآ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ، الْمُتَعَالِيْ عَنِ الْمُشَارَكَةِ وَالْمُشَاكَلَةِ لِسَائِرِ الْبَشَرِ. وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ النَّبِيُّ الْمُعْتَبَرُ. اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيـِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ (أَمَّا بَعْدُ)

فَيَا عِبَادَ اللهِ اِتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنَّ إِلاَّ وَأَنتُمْ مُّسْلِمُوْنَ. وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ سُبْحَانَهُ صَلَّى عَلَى نَبِيِّهِ قَدِيْمًا. إِنَّ اللهَ وَمَلاَئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّ، يَاأَيُّهاَ الَّذِيْنَ آمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا. اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، فِي الْعَالَمِيْنَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ اْلأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَاْلأَمْوَاتِ، إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدَّعَوَاتِ وَيَا قَاضِيَ الْحَاجَاتِ وَغَافِرَ الذُّنُوْبِ وَالْخَطِيْئَاتِ بِرَحْمَتِكَ يَآ أَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ.

رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلإِخْوَانِنَا الَّذِيْنَ سَبَقُوْنَا بِاْلإِيْمَانِ وَلاَ تَجْعَلْ فِيْ قُلُوْبِنَا غِلاًّ لِّلَّذِيْنَ آمَنُوْا, رَبَّنَا إِنَّكَ رَؤُوْفٌ رَّحِيْمٌ. رَبَّنَا ظَلَمْنَا أَنْفُسَنَا وَإِنْ لَّمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُوْنَنَّ مِنَ الْخَاسِرِيْنَ. رَبَّنَآ أَتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِى اْلآخِرَةِ حَسَنَةً وَّقِنَا عَذَابَ النَّارِ. وَالْحَمْدُ ِللهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ.

عِبَادَ اللهِ إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَاْلإِحْسَانِ وَإِيْتَاءِ ذِي الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْي يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. فَاذْكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوْهُ عَلَى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ

[1] Penulis adalah guru ngaji di TPA ALBA Siroboyo Pacitan
_____________

Unduh naskah lengkap di tautan ini:

Khutbah Idul Adha_2020_Semata Wayang (pdf)

Satu komentar pada “Khutbah Idul Adha: Semata Wayang”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s