Khafilah Khitan

ALBA News | Sabtu, 20 Juni 2020. TPA ALBA punya gawe. Tiga santrinya dikhitan. Buah kerja sama antara TPA ALBA, Khoiru Ummah dan Rumah Luka.

TPA ALBA yang menyediakan santri. Khoiru Ummah menjadi nara hubung. Rumah Luka yang menawarkan programnya. Semua gratis tanpa biaya.

Sunatnya menggunakan Metode Klamp. Tanpa ada jahitan. Tanpa verban. Nyerinya juga berkurang. Dan yang menarik lagi, bisa langsung mandi. Bisa beraktivitas seperti biasa.

Beda dengan sunat zaman dahulu. Harus berhari-hari menahan nyeri. Belum lagi ditambah bumbu-bumbu mitos. Yang tidak boleh ini. Tidak boleh itu.

TPA ALBA, Khoiru Ummah, dan Rumah Luka, telah berupaya. Mendarmakan kemampuannya. Membantu mereka yang perlu dibantu. Dengan skala prioritas.

Tapi, upaya itu tidak sebanding dengan apa yang telah dilakukan oleh orang tuanya. Yang dengan sabar membimbing. Membombong. Memberikan motivasi. Hingga akhirnya ketiganya berani.

Ketiganya adalah: Emeraldi Mahia Said, Yhoni Irfan Mazola, Muhammad Abid Fairuz.

Mulai Jumat (19/06) sore kemarin, ia sudah bisa bercerita kepada teman-temannya. Jika sunat tidak sakit. Sakitnya hanya sedikit. Seperti digigit semut.

Saat di ruang tindakan, Aldi hanya sekali mengatakan “aduuuh”. Itupun bukan karena sakit. Tapi gara-gara ia salah ambil strategi saat bermain game. Dari awal proses hingga akhir, HP memang tidak lepas dari tangannya.

Yhoni lebih serius. Tidak ada satu katapun yang keluar dari mulutnya. Maklum, ia mendapat giliran pertama yang disunat. Fokus matanya juga ada di layar HP. Jika ditanya, hanya menjawab seperlunya.

Abid mendapatkan giliran paling akhir. Karena posisi berbaringnya terbalik, ia leluasa melihat prosesnya Aldi dan Yhoni. Kepalanya ada di timur. Sementara kedua rekannya, kepalanya berada di barat. Tapi meski begitu, ia tetap fokus. Juga di layar HP-nya.

Ruangan yang sejuk menjadikan mereka nyaman. AC-nya dingin. Ruangnya bersih. Perawatnya ramah. Suara lantunan ayat Quran memenuhi hingga sudut-sudut ruangan.

Mereka menempati tempat tidur terpisah. Ada tiga tempat tidur di ruang itu. Yang berjarak tidak lebih dari satu meter antar ketiganya. Hingga mereka bisa menjalani tindakan khitan di waktu yang hampir bersamaan.

Ketiganya menyembunyikan ketegangan yang tidak akan bisa dituliskan. Maklum, ia sedang menjalani proses yang tidak akan berulang di kemudian harinya.

Saat ini, Abid, Yhoni dan Aldi sudah memegang sertifikat. Sebagai bukti jika telah disunat. Jika ada yang meragukan, tinggal tunjukkan sertifikatnya. Tidak perlu menunjukkan ‘itu’-nya.

Tidak seperti saya dulu. Yang harus menahan malu menunjukkan yang itu.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s