Sinar ke-12

ALBA News | Selasa, 3 Maret 2020. Kabar gembira datang dari Kuching, Malaysia. Grafik kesehatan guru saya, Ustadz Subianto Munir, semakin membaik. Benjolan yang ada di tubuhnya mulai mengecil. Dari 6 cm, kini tinggal 4 cm.

Naik turun politik di Malaysia, tidak membawa pengaruh apa-apa. Telikungan Muhyidin kepada Mahathir tidak lebih menarik. Pun berbaliknya dukungan mayoritas anggota dewan Malaysia, dari Mahathir kepada Muhyidin, tidak membuatnya tergoda. Fokusnya hanya ingin sembuh. Lalu kembali ke Pacitan.

Sudah lebih dari dua puluh dua hari ia di sana. Rekomendasi dari dokter spesialis di tanah air, sudah ia tempuh. Berbagai upaya telah ia jalani. Dari proses penyinaran, hingga kemoterapi. Di Pusat Pengobatan Timberland, Kuching, Negara Bagian Serawak, Malaysia. Ia ditangani langsung oleh dokter spesialis Onkology THT, Dr. Yu Kong Leong.

Menurut Dr. Yu, guru saya terkena Kanker Nasoparing (KN). Satu jenis kanker yang biasa tumbuh di rongga belakang hidung. Atau di belakang langit-langit rongga mulut. Ilmu kesehatan belum bisa memastikan penyebab tumbuhnya.

Tidak jelas juga kapan tumbuh di tubuh guru saya. Tiba-tiba saja sudah stadium 2+. Bahkan sudah sampai beranak. Entah siapa yang menjadi suami atau istrinya. Tiba-tiba beranak begitu saja. Dan sekali beranak, jumlah anaknya langsung tiga.

Anak itu bernama Kanker Getah Bening (KGB). Muncul menonjol di leher sebelah kiri. Menyerang sistem limfatik. Sebuah sistem sirkulasi sekunder. Fungsinya mengalirkan limfa atau getah bening ke sekujur tubuh.

Ustadz Subi mengalami dua jenis kanker sekaligus. Satu di nasoparing, satu lagi di getah bening. Saya menjadi teringat dengan apa yang pernah dialami oleh guru saya yang lain, almarhum Ustadz Arifin Ilham.

Tapi sepertinya, Ustadz Subi mempunyai jalan yang berbeda. Saya lihat fotonya, tampak lebih sumringah. Tampak jauh lebih muda. Wajahnya bersih. Jambang dan jenggotnya mulai menipis. Meski baru memasuki tahap sinar yang ke-12, dari 33 kali penyinaran yang dijadwalkan. Juga baru menjalani tiga kali kemoterapi, dari enam kali yang ditargetkan.

Efek kemo dan penyinaran memang begitu. Membuat segala jenis rambut menjadi rontok. Bikin tidak enak makan. Sulit bergerak. Sulit pula BAB. Kadang, sepekan baru bisa keluar. Tidak bisa dibayangkan bagaimana rasanya. Sudah tentu kembung dan mual-mual.

Karena itulah, berat badannya menurun. Tapi, kondisi berat badan beliau masih dalam ambang kewajaran. Semua indikator masih menunjukkan kestabilan. Bukti Allah masih memberinya cinta dan kasih. Memberikan ma’unah kepada guru saya.

Keberadaan istrinya, Umi Ririn Subiyanti, menstabilkan semuanya. Hadirnya, menjadikannya tetap enak makan. Membuat semangatnya tetap tumbuh kokoh.

Istrinya memang ahli dalam hal seperti ini. Ahli membangkitkan motivasi. Ia punya strategi yang jitu. Punya cara yang tepat. Jangankan mendengar keluh kesah suaminya, mendengarkan curhatan santri majelis taklim, curhatan konstituen, ia sudah terbiasa.

Beliau berdua itu paket yang komplit. Mampu saling melengkapi. Sudah terbiasa hidup apa adanya. Biasa perih. Biasa prihatin. Pun terbiasa makan sepiring berdua. Apalagi saat-saat mendekati tanggal-tanggal tua.

Betul kata pepatah. Cinta itu seperti jalan. Semakin nggronjal, semakin erat pegangannya.

2 tanggapan untuk “Sinar ke-12”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s