Joglo Soko Gilig

ALBA News | Senin, 27 Mei 2019. Kesan modern kini tersamar. Nuansa barat, tinggal tersirat. Menyisakan dominasi wajah khas budaya Jawa.

Inilah wajah baru SDIT Ar Rahmah Pacitan. Tonjolan budaya lokal nampak makin kental. Kini, yang mewah, tak selalu berlindung di balik bangunan yang megah.

Bangunan berbentuk joglo itu, begitu menggoda mata. Letaknya persis di sisi utara Plengkung Markisa.

Gerbang selamat datang dengan rimbun daun markisa itu semakin hidup. Makin nampak alami. Meski semakin nampak mungil. Semenjak joglo itu berdiri.

Genting yang tak bertabur cat. Menambah kesan ‘tajug’ yang alami. Satu ‘tajug’ tertindih oleh ‘tajug’ lain yang lebih kecil. Menguatkan fungsi peneduh. Sekaligus menyiratkan makna. Di atas ‘tajug’ masih ada ‘tajug’. Di atas kuasa masih ada kuasa.

‘Tajug’ adalah nama jenis formasi atap. Berbentuk piramida. Atau berwujud limas persegi. Yang memiliki dasar persegi empat sama sisi dan satu puncak.

Konsep penggabungan dua ‘tajug’ inilah yang kemudian melahirkan nama joglo. Asal dari kata ‘tajug’ yang berarti: atap limas persegi. Dan ‘loro’ yang berarti: dua.

Joglo berukuran 10×10 meter ini begitu unik. Empat ‘soko guru’-nya berbentuk ‘gilig’. Melingkar. Tak bersudut.

Tingginya empat meter. Diameter ujung bawah sekitar 35 cm. Ujung atasnya 25-an sentimeter.

Empat ‘soko guru’ ini berfungsi sebagai inti bangunan. Menyangga ‘dudur’, ‘pengeret’ dan ‘iga-iga’. Yang menjulang tiga setengah meter di atasnya. Melengkapi konstruksi ‘tumpang sari’ yang bersusun empat. Sebagai ciri khas joglo ini.

Ini sebagai perlambang. Lembaga pendidikan tak akan mampu berdiri oleh satu orang. Harus mengandalkan tim yang kompak. Yang tidak berfriksi. Tidak saling sikut. Sebagaimana bentuk ‘gilig’-nya ‘soko guru’ itu. Yang mulus tak bersudut.

Keberadaan ‘soko guru’ begitu terbantu dengan adanya dua belas ‘soko pengarak’. Meski letaknya di pinggir. Lebih kecil. Mereka membantu meringankan. Hingga beban tak lagi bertumpu ke ‘soko guru’ secara kesuluruhan.

Tak hanya butuh ‘soko pengarak’. ‘Soko guru’ butuh ‘umpak’. ‘Umpak’-nya berbahan batu utuh. Yang dipahat. Berbentuk ‘gilik’. Tinggi setengah meter. Berdiameter bawah: 50 cm. Atas: 40 cm.

Keberadaan umpak inilah yang menjadi modal dasar bangunan ini tahan gempa. Tahan goncangan secara horisontal. Tidak cepat runtuh. Menindih satu sama lainnya.

Karena umpak, soko guru bisa melakukan tugasnya. Mengayun mengikuti aturan. Diam karena aturan.

Tak berlebihan jika saya menyebutnya dengan: Joglo Soko Gilig. Atau Pendopo Soko Gilig. Setidaknya untuk sementara. Sebelum ada nama resmi yang melekat di tubuhnya.

Tak ada sudut, pada tubuh soko guru.
Tidak baik saling sikut, antar para guru.

Bersambung …

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s