Drama Firaun Vs Musa

ALBA News | Jumat, 24 Mei 2019. Berkali-kali mereka sudah mendengar kisah tentang Firaun dan Musa. Tapi, kali ini beda. Sore itu (23/09), santri Taman Pendidikan Al Quran Mushola Al Barokah (TPA ALBA) Winongan Sirnoboyo Pacitan Jawa Timur merasakan sensasi yang berbeda.

Cerita Firaun dan Musa dikisahkan dengan cara yang berbeda. Lebih heroik. Lebih menggelora. Ada sentuhan role playing-nya. Santri diajak masuk ke masa saat Firaun berkuasa.

Tiga puluh limaan santri diundi. Undian pertama untuk menentukan siapa yang berperan sebagai Nabi Musa. Tak sekedar random dan untung-untungan. Ada skenario di baliknya. Siapa yang paling bisa menjelaskan siapa Musa, dialah yang berhak memerankannya.

Jatuhlah peran itu kepada Labib (10 tahun). Mewakili teman-temannya. Menjadi Nabi Musa.

Skenario baru disiapkan. Untuk menjawab siapa yang menjadi ularnya Firuan atau Musa. Pun dengan pengikut-pengikutnya. Juga pemeran lautnya.

Semua dipilih melalui metode yang sama. Tetapi dengan teknik yang berbeda.

Jadilah mereka menjadi  enam kelompok. Kelompok pemeran Musa, pengikut Musa, ular Musa, pengikut Firaun, ular Firaun, dan Laut Merah.

Lalu siapa yang menjadi Firaun? Khusus untuk peran ini, tidak diundi. Ada kekhawatiran yang mendalam. Takut sifat-sifat Firaun merasuk dalam diri pemerannya. Dengan perlahan dan tidak sadar.

Hanya orang dewasalah yang boleh memerankannya. Orang dewasa sudah demikian ahli memerankan Firaun. Meski tanpa latihan.

Sifat mau menang sendiri. Sudah lama melekat dalam diri. Sombong dan menyepelekan orang. Tak perlu diragukan.

Mereka sudah terbiasa berprilaku bengis. Meski tersamar dengan wajah yang manis. Ahlinya angkara murka. Yang berselimut dengan citra. Tinggal peran mengaku menjadi Tuhan saja yang butuh penyesuaian di sana sini.

Drama Firaun Vs Musa ini buah kerjasama TPA ALBA dengan mahasiswa Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar. STKIP PGRI Pacitan.

Mereka adalah: Saiful Nur Hidayah, Heni Fitria, Endah Wahyu Lestari, dan Ajeng Praditya. Hanya berempat. Tapi kehadirannya, mengesankan bagi santri TPA ALBA.

Lembaga informal demikian butuh sentuhan orang-orang akademis seperti mereka. Yang masih muda. Yang unlimited trobosannya.

Sudah waktunya mengakhiri pola lembaga: yang ‘apa adanya’. Menjadi: yang ‘ada apanya’.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s