Melawan Keyakinan

ALBA News | Kamis, 23 Mei 2019. Diskusi mereka siang itu (22/05) menarik sekali. Paparan dan sanggahan saling bersahutan. Saling adu argumen. Kuat-kuatan olah akal. Meski yang sedang mereka bahas adalah sesuatu yang abstrak-suprarasional. Alias: tidak masuk akal.

Mereka adalah mahasiswa Tingkat I. Program studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar. STKIP Pacitan. Yang sedang menempuh materi perkuliahan: Epistimologi, Ontologi, dan Aksiologi Pengetahuan Mistik. Pada mata kuliah Filsafat Ilmu. Bersama saya.

Ada hal yang menarik saat diskusi itu. Saya pancing mereka dengan pertanyaan: Ada yang berani membatalkan puasa hari ini? Tidak ada satupun yang berani angkat tangan. Padahal iming-iming hadiah sudah saya siapkan. Lembaran-lembaran uang merah.

Saya berani menaruhkan lembaran-lembaran merah itu, karena berangkat dari sebuah keyakinan yang kuat. Yakni: saya tidak akan mungkin melawan keyakinan mereka.

Nyatanya betul. Keyakinannya demikian kuat. Meski semua argumen pendukungnya, bisa saya patahkan.

Bagi mereka, logika yang telah patah, tidak menjadi alasan untuk menyerah. Tetap ‘kuekueh’ dengan pendirian awal.

Andai ada satu saja diantara mereka yang bersedia membatalkan puasa. Lalu mengambil lembaran-lembaran merah itu. Wasalamlah saya. Gagal mudik di tahun ini. Menuju tanah kelahiran.

Apa penyebab mereka enggan menerima tawaran itu? Apa pula penyebab saya berani menaruhkan bekal mudik ke tanah kelahiran?

Penyebabnya adalah: keyakinan. Yang ontologi kebenarannya berada di hati. Lalu diolah oleh qolbu. Menyusuri jalan epistimologi yang berliku-liku. Dan membuahkan aksiologi yang begitu hakiki.

Logika berhenti sejenak. Ia tidak pandai menjangkau rasa-rasa itu. Tidak mampu meng-kalimatkan segala gejolak yang terjadi di dalam qolbu. Alasan ini yang membuat mereka tidak tertarik dengan sesuatu yang sebenarnya menarik.

Pesan perintah puasa langsung menghujam ke dasar hati. Tidak mampu tertampung di dasar logika. Yang paling dalam sekalipun.

Bangunan alasan keyakinan yang bermodalkan logika, cepat untuk diruntuhkan. Begitu mudah mematahkan alasan puasa karena kesehatan. Hanya dengan pertanyaan lanjutan: mengapa waktunya tidak di bulan Syawal?

Alasan-alasan logis hanya dijadikan sebagai tameng. Atau hanya sebagai data sekunder. Data primernya tetap berasal dari gejolak di dalam hati. Sebuah representasi kepercayaan yang menggebu. Sebagai wujud keimanan yang tak tergoyahkan.

Orang yang keyakinannya diusik, jika ia berani, maka akan melawan. Semakin ditekan, semakin tidak mau dikalahkan.

Jika tidak, maka akan keluar ungkapan pasrah khas orang-orang tua. Titenono yo!

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s