Dilema Sampah

ALBA News | Kamis, 16 Mei 2019. Baru beberapa menit berlalu. Ia membuat kagum. Bentuknya menggairahkan. Warnanya menggoda mata. Masih dibutuhkan. Masih termanfaatkan.

Para santri Taman Pendidikan Al Quran Mushola Al Barokah (TPA ALBA) Winongan Sirnoboyo Pacitan Jawa Timur itu, tak sabar untuk memegangnya. Beduk Magrib yang tinggal beberapa menit, hampir tak dihiraukannya.

Tapi …

Nasibnya berubah. Hanya selang beberapa detik saja. Setelah tanda akhir buka puasa tiba.

Rupanya santri hanya mau isinya. Perjuangannya untuk melindungi isi, tak lagi dihiraukan. Padahal, ia telah rela lusuh. Demi isi agar tetap utuh.

Yang mereka kagumi itu. Statusnya telah berubah menjadi sampah. Yang berakhir di tong sampah.

Sepuluh hari terakhir ini, produksi sampah dari TPA ALBA melonjak drastis. Tiap sore, satu kantong kresek ukuran 40 x 60 sentimeter ini telah diantar oleh santri. Menuju ke tempat pembuangan sementara. Yang jaraknya sekitar 300 meter. Dari TPA ALBA.

Jika hari ini masuk Ramadhan ke-10 , itu artinya sudah ada sepuluh kantung sampah. Jika sepuluh kantung-kantung itu ditumpuk ke atas. Dengan rata-rata ketinggian satu kantung: 50 cm. Maka tingginya sudah mencapai 5 meter.

Hitung-hitungan kasar. Jika Ramadhan nanti genap 30 hari. Tinggi kantung sampah sudah bisa mencapai 15 meter. Menjulang ke atas. Bak menara penyangga corong-corong TOA mushola.

Isi dalam kantung-kantung itu, semuanya berbahan plastik. Yang sulit terurai. Ada gelas air mineral. Ada bungkus roti. Bungkus es kacang hijau. Bungkus dawet. Sedotan air mineral. Juga jenis lainnya.

Mereka ini bukan jenis plastik keluaran Indo*** atau Alfa***. Yang ramah lingkungan. Yang tubuhnya bisa hancur sendiri. Hanya karena perbedaan cuaca.

Sampah-sampah ini. Telah terbukti tangguh. Tak gentar terpapar matahari. Tidak takut basah. Berani kotor. Terbiasa dicampakkan. Mau hidup dengan medan yang apa adanya.

Saya sempat ngiri dengan beberapa teman di dunia maya. Para penggiat ecobrick itu. Yang sudah berhasil berbicara kemana-mana. Mengedukasi dimana-mana.

Ingin rasanya ustadz dan ustadzah TPA ALBA ini seperti mereka. Bisa memanfaatkan sampah-sampah ini. Unjuk keberhasilan. Lalu share foto di media sosial.

Tapi, rasa-rasanya berat. Gampang di lisan, sulit di tangan.  Mengajak 50-an santri membedakan mana ظ (dho?) dan ض (dho?) saja masih demikian sulit. Apalagi ditambah dengan memilah-milah diantara mereka.

Sampah ini, begitu membikin dilema. Biarlah menjadi rezeki para (maaf) bapak-bapak pemulung itu. Agar kami bisa lebih fokus mengurus tajwid dan fashohah.

Andai presiden negeri +62 yang terpilih, setelah tanggal 22 Mei nanti, mendirikan Kementerian Urusan Sampah. Para sampah-sampah ini, sepertinya tidak lagi menjadi dilema.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s