Ramadhan, Masa Akreditasi TPA/TPQ

ALBA News | Selasa, 14 Mei 2019. Sudah genap satu pekan, Ramadhan ini berlalu. Tapi, rasa dag dig dug di hati ini belum juga ikut berlalu.

Tiap habis sholat Tarawih, dag dig dug ini makin kuat. Makin kencang. Telinga saya mendadak seperti telinga kelinci. Tinggi menjulang. Suara dari corong-corong masjid dan mushola begitu menarik bagi saya.

Bulan ini, Taman Pendidikan Al Quran Mushola Al Barokah (TPA ALBA) Sirnoboyo Pacitan sedang masuk masa akreditasi. Pun dengan TPA/TPQ lainnya. Sebulan penuh masa visitasinya.

Tiap malam, para guru ngaji, menjadi tidak tenang. Membayangkan bagaimana kiprah santrinya di panggung ‘tadarus’. Ba’da tarawih. Melantangkan bacaan Qurannya. Melalui corong-corong TOA. Yang didengarkan banyak orang.

Baik dan buruk hasil mengajarnya, akan dilihat di bulan ini. Strategi, metode, dan teknik mengajarnya. Diam-diam akan dinilai. Oleh siapa saja. Yang telinganya tertembus suara dari corong TOA itu.

Pada akreditasi TPA/TPQ ini, asesornya banyak. Bukan cuma satu atau dua. Setiap orang bisa menjadi asesor. Bebas melabeli kualitas TPA/TPQ. Berdasarkan bacaan para santri-santrinya.

Para santri itu. Akan ‘dibatin’ oleh warga. ‘Dibatin’ tentang bacaannya. Tajwidnya. Fashohahnya. Iramanya.

Hasil dari ‘dibatin’ inilah yang akan menentukan nasib TPA ke depan. Makin dipercaya oleh orang tua santri atau tidak.

Saya sampai sulit mendefinisikan kata ‘dibatin’ ini. Bahkan hingga tulisan ini diterbitkan, belum saya temukan maknanya yang tepat dalam Bahasa Indonesia.

Intinya, ‘dibatin’ ini merupakan sebuah proses. Hasil penilaian dari sebuah kejadian. Yang alat penilainya melibatkan hati.

Logika seorang diri. Tidak sanggup untuk menilai. Harus hati yang ikut turun tangan. Karena hanya hati saja, yang bisa ‘mbatin’.

Tidak ada standar baku dari ‘dibatin’ ini. Tidak ada borang yang bisa dipelajari. Kisi-kisi soalnya tidak jelas. Pun dengan nilainya.

Di TPA/TPQ, administrasi yang baik, tidak otomatis membuat hasil bacaan santri menjadi baik. Sebaliknya, administrasi yang semrawut, tidak otomatis menjadikan hasil bacaan santri ‘mawut’.

Para asesor itu. Mereka akan menilai seberapa baik kualitas TPA/TPQ. Berdasarkan instrumen yang mereka miliki. Yang para pengelola TPA/TPQ tidak mengetahui. Bagian mana yang sedang dinilai.

Dan para guru ngaji, hanya bisa ‘mbatin’ agar tidak ‘dibatin’.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s