Hari Kartini untuk Saksi

ALBA News | Senin, 22 April 2019. Ia telah melewatkan momen indah dengan istrinya, Di hari kemarin. Hari Kartini.

Saya memanggilnya, Om Sus. Masih ada kerabat dengan saya. Kerabat jauh, tapi dekat.

Tiap datang tanggal 21 April, Om Sus minta istrinya untuk ‘ongkang-ongkang’ kaki. Pekerjaan yang biasanya dilakukan oleh istrinya, ia  yang melakukan.

Di hari Kartini, ia yang akan ‘macak’. Ia bersihkan seluruh isi rumah. Dari yang di atas meja. Hingga yang di bawah meja. Dari belakang rumah, hingga depan rumah.

Di hari Kartini, ia yang akan ‘masak’. Ia masakkan yang paling spesial untuk istrinya. Ia siapkan nasinya, sayurnya, juga lauknya.

Hanya ‘manak’ saja yang ia tidak sanggup. Organ dalamnya tidak cocok. Ada tulisan: “your device is not compatible” di itunya.

Hari itu, ia janji, akan masak soto makasar untuk istrinya. Resepnya sudah ia kantongi. Resep yang ia dapatkan dari Mbah Google, sudah ia hafalkan. Ia sudah kalkulasi harganya. Ia sesuaikan dengan isi dompetnya.

Ia mulai membayangkan bagaimana harumnya tumisan bawang putih. Pun tak sabar ingin mencicip kentalnya kuah soto makasar. Sebagaimana kentalnya cintanya pada istrinya. Juga sebaliknya.

Dag dig dug

Hatinya semakin bergetar. Tak sabar memberikan kejutan untuk istrinya. Ditambah lagi, tanggal 21 April bertepatan hari Ahad. Hari libur untuk keluarganya.

Tiba di hari yang ia nanti.

Tapi,

Rencananya gagal.

Tradisi yang ia jalankan di dua tahun terakhir ini gagal ia langgengkan.

Tahun ini, momen kartininya ia rayakan di kantor kecamatan. Demi kepentingan yang lebih besar. Mengawal lembaran C1.

Ia ditugasi oleh partainya untuk menjadi saksi. Bersama teman-teman yang lainnya. Ia harus waspada. Mengelola percaya. Memupuk curiga.

Matanya, pantang untuk terpejam. Telinganya, enggan untuk tuli. Mulutnya, ogah untuk membisu.

Demi mengawal nasib ‘kartini’nya. Juga ‘kartini’ bagi istrinya. Di dapilnya. Ia sadar, kunci kemenangan ada di rekapitulasi.

Ia kirimkan gambar emotion daun waru warna hijau ke istrinya. Tepat di jam 23.58 WIB. Dua menit menjelang tanggal 22 April itu,

Disertai kalimat: “Mik, maaf belum bisa pulang. Abi masih di sini, seperti malam-malam sebelumnya”.

Istrinya sangat paham dengan kondisinya saat ini. Tapi, fisiknya sepertinya enggan untuk berkompromi.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s