Siap Kalah (Belum) Siap Menang

ALBA News | Jumat, 5 April 2019. Pukul 16.10 WIB. Ustadzahnya kirim pesan via WA ke saya. Mengabarkan jika Labib lolos ke babak semi final. Perjuangannya di babak penyisihan ia lalui dengan baik. Hingga menempatkannya di peringkat dua.

Labib mewakili sekolahnya, SDIT Ar Rahmah di Olimpiade Tahfidz Al Quran #1 Tingkat SD/MI Negeri/Swasta se-Indonesia. Tempatnya di Ma’had Aly Makkah Islamic Boarding School Boyolali Jawa Tengah.

Materi olimpiade ini mencakup hafalan surat di juz 30. Tebak surat. Tebak ayat. Tebak kandungan surat. Dan tebak azbabul nuzulnya. Untuk tebak yang kedua terakhir ini, baru kali  ini ia ikuti.

Dua hari ia berjuang. Mengasah mental. Menguji hafalannya.

Pukul 21.10 WIB. Pesan itu masuk kembali. Labib berhasil lolos ke final. Besok pagi (6/4) akan bertanding kembali.

Pikir saya. Betapa bahagianya Labib. Setelah kalah berkali-kali. Kali ini menang. Bisa masuk final. Sebagai obat kekalahan yang terakhir di hari Sabtu (30/3) lalu.

(Baca artikel tanggal 31/3/2019 dengan judul: Makna Kalah)

Kekalahan terakhir ini cukup menyadarkannya. Sepulang dari tempat lomba, ia tidak lagi ceria. Bahkan ia batalkan keinginan liburan ke pantai seusai lomba. Sepertinya ia semakin mengerti jika ingin menang harus melalui berbagai syarat yang ketat.

Ia mulai sadar. Di atas langit masih ada langit. Seringnya kalah, membuat hatinya makin lapang. Makin mampu menerima kelebihan orang lain.

Malam ini, persoalan yang rumit muncul. Mendengar namanya masuk final. Mentalnya down. Mogok bertanding. Untuk besok pagi.

Hatinya mungkin terlalu lapang. Oleh karena seringnya kalah. Hingga tidak percaya jika dirinya memiliki potensi.

Barangkali ia tidak sadar. Jika kekalahan bertubi-tubi di berbagai pertandingan sebelumnya itu mengasah semangat juangnya.

Rupanya, yang terasah adalah mental kalahnya. Mental menangnya tidak terasah dengan baik. Sepertihalnya pisau. Hanya terasah di bagian bawahnya. Bagian atasnya tumpul. Babak yang menjadi impian banyak orang, menjadi tidak menarik baginya.

Malam ini, ustadz dan ustadzahnya sedang berjuang keras. Membujuknya. Menyingkirkan mental kalahnya. Yang terlanjur melekat erat dalam hatinya.

Berharap, esok pagi mental menangnya tumbuh. Hingga berhasil mengibarkan bendera SDIT Ar Rahmah Pacitan yang berkali-kali gagal ia kibarkan.

Duh, betapa keruhnya hati Labib malam ini. Teraduk-aduk oleh mental kalah dan mental menang.

Betapa repotnya ustadz dan ustadzahnya malam ini. Harus menyiapkan materi. Juga menjernihkan hati.

Selamat berjuang Labib. Ayah tunggu kabar baik di esok pagi.

3 tanggapan untuk “Siap Kalah (Belum) Siap Menang”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s