Makna Kalah

ALBA News | Sabtu, 30 Maret 2019. Secara tiba-tiba, Labib membatalkan keinginannya. Rencana Ahad pagi liburan ke pantai, ia batalkan.

Bayangan bermain buih dan pasir, tiba-tiba buyar. Ini terucap beberapa menit setelah sekembalinya dari Masjid Agung Darul Falah (MADF) Pacitan. Selepas mengikuti perlombaan di cabang qiroah. Mewakili SD-nya, SDIT Ar Rahmah Pacitan.

Begitu dewasanya ia di siang itu. Tidak lagi nampak sosok Ultramen yang ‘merasuki’ dirinya. Cerianya hilang. Tidak terdengar lagi “ciya.. ciya..”. Tangannya tidak menusuk ke langit lagi. Seperti gayanya Ultramen. Khas anak-anak seusianya.

Rupanya, efek dari MADF begitu terasa. Buliran kata-kata yang diucapkan oleh dewan juri, masih melekat di hatinya. Namanya tidak ikut dipanggil untuk menerima penghargaan juara satu, dua, atau tiga.

Labib gagal membawa pulang piala yang di pajang di meja dewan juri. Ia kalah. Tidak jadi melangkah ke final. Di hari Ahad setelahnya.

Pekan Keterampilan dan Seni  Pendidikan Agama Islam tingkat SD yang diselenggarakan pada hari Sabtu tanggal 30 Maret 2019 itu, rupanya terlalu berat baginya. Masih banyak rekan yang di atasnya. Yang jauh berkualitas.

Padahal tidak kurang ia berlatih. Sudah tidak terhitung lagi berapa kali ayat 102-103 di Surat Ali Imran itu ia ulang. Cengkoknya ia tambahi. Ia kurangi. Makhorijul hurufnya ia perbaiki.

Inilah makna kalah.

Semakin sering kalah. Membuat hatinya makin lapang. Makin mampu menerima kelebihan orang lain. Mulai bisa mempolakan potensi dalam dirinya. Menguatkan motivasinya untuk berbenah. Menjadi lebih baik.

Jika di masa besarnya nanti, ia mengalami kekalahan. Semoga ia tidak lekas patah semangat. Kekalahan demi kekalahan sudah terbiasa ia alami di masa kecilnya. Proses inilah yang akan melahirkan karakter: menghargai prestasi orang lain.

Karena kalah itu, ia menjadi tahu jika kemenangan harus di tempuh dengan syarat-syarat ketat. Yang prosesnya tidak instan. Tidak seperti membalikkan telapak tangan. Dari warna gelap, menjadi terang.

Akan lebih banyak hikmah yang diambil dari setiap kekalahan. Dengan catatan, jika yang kalah sadar akan kalahnya. Memikirkan cara untuk berbenah, jauh lebih ringan dari pada mencari kambing hitam atas kekalahannya.

Labib sudah menunjukkan perjuangannya. Namun, ia kalah power. Suaranya tidak setinggi mereka yang menang. Masih canggung dengan nada-nada tinggi.

Ia kalah pula di jam terbang. Groginya masih terlihat dari getar suaranya. Hembusan nafasnya masih menunjukkan bahwa ia belum begitu nyaman dengan hawa perlombaan. Bulu matanya yang hitam, tidak mampu menyembunyikan gerak bola matanya. Ia masih sering curi-curi pandang ke dewan juri. Mental juaranya belum terbentuk dengan benar.

Namun begitu, cengkok suaranya sudah nyaman didengar. Suaranya khas dan lembut. Meski masih nampak fals di satu atau dua tempat.

Akhlak di depan juri tidak kalah. Sopannya ia jaga. Ia hormati semuanya. Sebelum dan setelah tampil.

Baju yang ia kenakan rapi. Harganya memang murah. Tapi nampak elegan kala dikenakannya.

Makhorijul hurufnya sudah benar. Pun dengan sifat dan hukumnya. Benar tidak ada cacat.

Setidaknya, Labib masih bisa berbesar hati. Kalahnya murni karena kompetensi. Bukan kalah yang disebabkan kurangnya ‘follow’, ‘subscribe’, atau selisih jumlah ‘like’.

4 tanggapan untuk “Makna Kalah”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s