Lukman dan Pola Syirik di Era Indusrty 4.0

Ilustrasi Era Industry 4.0

ALBA News | Rabu, 20 Februari 2019. Lukman menjadi sosok yang viral. Dan selamanya akan selalu viral. Namanya terlanjur abadi. Di seantero jagad raya. Hingga dunia purna nanti.

Lalu, siapa sebenarnya Lukman itu? Hingga Allah memasukkan namanya ke dalam Al Quran. Nabikah ia? Rasulkah ia? Ternyata bukan.

Lukman hanyalah manusia biasa. Bukan nabi. Bukan pula rasul.

Ia seorang budak belian. Berkulit hitam. Berparas pas-pasan. Hidung tidak mancung. Kulitnya hitam legam. Tetapi dia soleh. Level takwanya mencapai ambang paling tinggi. Setidaknya seperti ini yang dikisahkan dalam berbagai riwayat.

Inilah bukti bahwa Allah tidak menilai seseorang dari fisiknya. Dari tinggi status sosialnya. Dari jabatannya. Atau dari warna kulitnya. Allah menilai kemuliaan manusia berdasar takwanya.

إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ

Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling taqwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.” (QS. Al Hujurat: 13)

Sebutan Lukmanul Hakim disebabkan karena ia orang yang sangat bijak. Nama sebenarnya adalah Luqman bin Bau’raa bin Nahur bin Tareh bin Nahur. Sehari-harinya ia sebagai tukang kayu. Di daerah Habsyi. Sebuah kawasan di Afrika Timur.

Wilayah Habsyi dulunya begitu luas. Namun, semenjak imperialisme datang di kawasan ini. Habsyipun pecah. Menjadi beberapa bagian. Campur tangan bangsa asing membuat wilayah ini porak poranda. Maka lahirlah Negara Ethiopia, Eritrea, Sudan, Uganda, dan Djibauti. Di bekas wilayah Habysi.

Lukman masih berkerabat dengan Nabi Ayyub. Putra dari saudara perempuannya. Dalam riwayat yang lain, Lukman dikisahkan sebagai cicit dari Azar, ayahnya Nabi Ibrahim as.

Lukman hidup selama 1000 tahun. Kira-kira segitu usianya. Ia sezaman dengan Nabi Daud. Bahkan ia disebut sebagai salah satu gurunya Nabi Daud. Lukmanlah yang menjadi tempat Daud muda berkeluh kesah. Hingga akhirnya diangkat menjadi nabi.

Lukman menikah dan dikaruniai banyak anak. Tetapi semuanya meninggal dunia. Ketika masih kecil. Tidak ada yang sampai dewasa. Kejadian ini tidak membuat lukman menangis. Ia tidak sedih. Ia telah serahkan semuanya kepada Allah. Tuhannya.

Nasihat kepada anaknya inilah yang membuat namanya viral di seantero jagat raya. Tentunya bukan sembarang nasihat. Bukan pula nasihat yang berhenti di lisan. Nasihatnya dibarengi dengan keteladanan. Lalu diikuti dengan metode untuk mencapai. Dan diakhiri dengan strategi untuk menggapai. Inilah Lukman. Sang ahli hikmah.

Di antara nasihat Luqman kepada anaknya yang diabadikan oleh Allah adalah nasihat untuk tidak berbuat syirik.

وَإِذْ قَالَ لُقْمَانُ لِابْنِهِ وَهُوَ يَعِظُهُ يَا بُنَيَّ لَا تُشْرِكْ بِاللَّهِ ۖ إِنَّ الشِّرْكَ لَظُلْمٌ عَظِيمٌ

Dan (ingatlah) ketika Luqman berkata kepada anaknya, di waktu ia memberi pelajaran kepadanya: “Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan Allah, sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang besar”.

Syirik merupakan upaya menyamakan selain Allah dengan Allah. Yang harusnya tidak Tuhan, di-Tuhan-kan.

Syirik, di zaman jahiliyah dulu merupakan perbuatan yang benar-benar mensekutukan Allah. Secara terang-terangan, mensejajarkan Allah dengan Lata, Uzza, Manat, dan Hubal. Menganggap kelimanya memiliki kekuatan yang sama.

Masuk zaman industri 4.0 ini, aktivitas per-syirik-an sudah masuk ke ranah yang abu-abu. Tidak lagi hitam dan putih. Kemajuan disegala bidang, membuat pemaknaan terhadap syirik menjadi memudar. Bahkan syirik hanya dimaknai dengan aktivitas mempergunjingkan orang lain yang lebih mampu. Yang lebih berhasil. Hingga muncul ungkapan: “syirik tanda tak mampu”.

Syirik yang berkembang di zaman dulu termasuk dalam kategori syirik jali. Yakni, mempersekutukan Allah dengan terang-terangan. Namun, syirik yang berkembang di zaman ini berbeda. Pelakunya tidak sadar bahwa apa yang dilakukannya masuk ke dalam kategori syirik.

Inilah yang dimaksud dengan syirik khafi. Mempersekutukan Allah, tetapi tidak sadar bahwa itu bagian dari mempersekutukan-Nya.

Syirik di zaman Industri 4.0 beragam bentuk. Diantaranya:

  1. Menganggap yang menyembuhkan penyakit adalah dokter. Resep obatnya terbukti manjur. Padahal dokter hanyalah sebagai sarana. Penyembuhnya adalah Allah.
  2. Menganggap bugarnya tubuh karena pola makan yang sehat. Atau karena olahraga yang teratur. Padahal sang pemberi kesehatan adalah Allah semata.
  3. Menganggap sumber rezekinya hanya dari keahlian dan kepintarannya. Padahal hakikat pekerjaan adalah amanah dan kehendak Allah semata.
  4. Menganggap panen yang melimpah, karena dia ahli mengolah tanah. Padahal tanpa ada sentuhan Allah, tanaman tersebut tidak akan tumbuh.
  5. Menganggap larisnya dagangan karena pandai Padahal yang menggerakkan hati para pembeli adalah Allah. Jika tidak karena Allah, tidak akan mungkin para pembeli menghampiri lapak dagangannya.
  6. Menganggap pintarnya anak karena asupan gizi yang baik. Padahal yang mengasah otak menjadi tajam, adalah Allah semata.
  7. Menganggap bahwa jadinya para calon anggota legislatif karena loyalnya konstituen. Padahal semuanya karena Allah semata. Tanpa-Nya, ia tidak akan duduk sebagai anggota dewan. Mewakili para konstituennya.

Dan masih banyak lagi jenis-jenis syirik di era industry 4.0 ini. Sebuah era yang mengagung-agungkan Virtual Reality (VR) dan Artificial Intelligence (AI). Semoga Allah senantiasa menjaga diri kita. Menjauhkan kita dari pola-pola syirik jali maupun khofi.

Unduh teks lengkapnya di bawah ini:

Khutbah Jumat 2018_Lukman dan Pola Syirik di Era Industri 4.0

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s