Yang Viral Yang Virtual

ALBA News | Selasa, 20 Februari 2019. Pesantren Khoiru Ummah telah memenuhi janjinya. Perang melawan buta membaca Al Quran. Di Pacitan.

Hari ini, ia hampir menang. Setidaknya menang melawan targetnya sendiri. Yang sudah tertuang dalam renstra dan renopnya. Yang dimonumentasikan dalam milestone. Tertempel rapi di dinding kantornya. Di ujung selatan Jalan Cut Nya’ Dien.

Esok hari PR-nya masih menumpuk. Pun dengan hari lusa, tulat, dan tubin, Selesai satu PR. Muncul ide bikin soal yang baru. Begitu seterusnya. Tak pernah selesai.

Setidaknya seperti inilah sebuah yayasan. Selalu bikin ide berkegiatan. Tidak tahan jika hanya berpangku tangan.

Pola belajar membaca Al Quran dengan metode Tilawati hampir memenuhi sudut-sudut Kabupaten Pacitan. Ya, Tilawati adalah salah satu programnya. 

Sudah tak terhitung berapa guru ngaji yang telah terstandarisasi dari pesantren ini. Jika satu guru memiliki santri 20 orang saja, jumlahnya bisa berkali-kali lipat.

Belum lagi, sekolah/madin/TPQ, yang berguru padanya juga sudah banyak. Tanpa membuka big data, rasanya sulit memaparkan berapa jumlahnya secara tepat.

Sebenarnya mudah saja jika disebutkan angka. Toh jika salah tidak ada yang tahu. Jika rekayasa tidak ada yang menyangka. Yang penting penyampaiannya meyakinkan. Cas cis cus. Seperti perdebatan antara saya dengan teman saya yang lain. Beberapa hari yang lalu. Tentang komposisi resep rolade ayam. Saya menang. Karena data. Padahal saya sendiri tidak yakin dengan angka-angka itu.

Semakin banyak guru yang berguru di Pesantren Khoiru Ummah, semakin sulit mengatur ruang dan waktunya. Keberadaan pesantren yang masih virtual, menjadi penyebabnya.

Harus pinjam sana-sini. Terlalu melelahkan. Energi untuk mengajar, terkuras untuk urusan akomodasi. Pindah sana. Pindah sini. Gotong sana. Gotong sini.

Khoiru Ummah sudah selayaknya berkibar lebih tinggi. Masa menjadi startup telah cukup. Saatnya menuju unicorn. Tentu, unicorn yang nirlaba. Tidak direpotkan dengan target valuasi.

Tanahnya ada. Pasirnya ada. Batunya ada. Besinya ada. Semennya ada. Semua sudah ada. Tapi masih dipunyai orang. Masih di toko bangunan. Belum mampu terbeli.

Hanya separuh tanah saja yang sudah dipunya. Hasil wakaf dari hamba Allah yang tidak mau disebut namanya.

Kiprah Pesantren Al Quran Khoiru Ummah ini sudah terlanjur viral. Viral tapi virtual. Ada aktivitas ke-pesantren-an. Tetapi tidak punya bangunan pesantren.

Punya santri. Tapi tidak punya asrama santri.

Punya ustadz. Tapi tidak punya ruang untuk ustadz.

Punya alumni. Tetapi belum pernah sekalipun reuni.

Rasanya tidak sampai hati membiarkan pesantren ini selamanya virtual. Tidak tega menyaksikan para ustadznya mondar-mandir pindah lokasi. Membawa berbagai amunisi. Menenteng papan tulis kecil kesana kemari.

Rasanya tidak sampai hati. Membiarkan sebagian tanah wakaf yang sudah dimiliki. Hanya ditumbuhi onak dan duri.

Ingin rasanya melihat megahnya gedung dengan segera. Di tanah wakaf. Di timurnya pagar Masjid Baitusholihin. Dusun Jelok, RT 1, RW 2 Kayen Pacitan.

Ingin sekali menyaksikan rekeningnya dengan nomor 711-906-2882 di Bank Syariah Mandiri bertambah. Kiriman dari para hamba Allah pejuang pahala jariyah.

Ingin sekali menyaksikan prosesi upacara bendera di depan gedung. Yang santrinya pakai baju biru muda. Celana hitam. Ustadznya pakai baju putih. berpeci dan bercelana hitam pula.

Ingin sekali menyaksikan para santrinya duduk melingkar. Makan rolade ayam bikinan istrinya teman saya. Ibu dosen itu. Yang digoreng pakai minyak VCO. Tersaji di piring-piring. Yang sudah ada cabe rawitnya.

Ingin sekali menyaksikan wisuda santri perdana. Pakai toga warna hitam. Yang semuanya hafal 30 juz. Di akhir musim penghujan tahun 2026.

Ingin sekali. Ingin!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s