(RE)UNI DIKALA BANJIR

Foto banjir di kawasan Desa Kayen Pacitan

ALBA News | Sabtu, 8 Desember 2018. Banjir datang lagi. Hampir seperti tahun dulu. Tanggal 27-28 November 2017. Airnya lebih sedikit. Tapi paniknya lebih banyak. Sisa trauma sepertinya belum mau hilang dari benak ini.

Peristiwa tahun lalu memang bikin pilu. Bikin mrebes mili jika diingat. Bagaimana tidak, kawasan Mushola Al Barokah terisolasi banjir setinggi tiga meter. Akibatnya, mushola tidak lagi bisa digunakan oleh santri Taman Pendidikan Al Quran Mushola Al Barokah (TPA ALBA) Winongan Sirnoboyo Pacitan Jawa Timur untuk mengaji. 

Setahun lebih sepuluh hari. Hari ini (8/12), air itu datang lagi. Tetapi tidak sampai di sini. Halaman mushola masih seperti biasanya. Hanya sampai di tempat yang berjarak sekitar 300 meter saja. Sebelah timur mushola.

Rasa gelisah, panik, waswas bercampur menjadi satu. Mengapa banjir tetap saja berulang?

Mari berkaca bersama-sama. Barangkali ada nadzar yang terlanjur terujar. Tetapi realisasinya belum kelar. Ada ‘uni’ yang belum ditepati. Hingga ia selalu mengajak reuni.

Banjir bukanlah persoalan alam semata. Bukan hanya urusan cuaca. Ada campur tangan Tuhan dibaliknya. Yang kuasa menggerakkan air kemana-mana. Allah sendiri yang mengatakan. Dalam Surat At-Tagabun Ayat 1: “Tidak ada suatu musibah pun yang menimpa seseorang kecuali dengan ijin Allah; dan barangsiapa yang beriman kepada Allah niscaya Dia akan memberi petunjuk kepada hatinya. Dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.”

Selain Allah, ada campur tangan manusia pula. Campur tangan untuk merusak. Ahli bongkar tetapi tidak ahli pasang. Ahli tebang tetapi tidak ahli tanam. Ahli membangun selokan, tetapi lupa untuk perawatan. Ahli berjanji, tetapi lupa untuk ditepati.

”Ya Allah, lekaslah surut. Kalau sudah surut, aku janji mau (….)”

Tiap banjir datang, doa ini selalu dilisankan. Tapi berlalu saja. Tidak membekas. Kecuali bekas warna coklat pada tembok.

Hari ini, banjir datang lagi. Inilah saat yang tepat untuk (kembali) berjanji. Untuk (re)uni. Untuk mengulang doa:

”Ya Allah, lekaslah surut. Kalau sudah surut, aku janji mau (….)”.

Cukuplah tahun lalu mem-PHP Allah. Tidak di tahun-tahun setelahnya. Karena, yang bernilai dari sebuah janji bukanlah kata-kata. Tapi sebuah pembuktian.

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s