Ciptakan Mushola Ramah Anak, Jendela Dihias Origami

Hiasan origami menghiasi dinding dan jendela Mushola Al Barokah

ALBA News | Kamis, 18 Oktober 2018. Jika ada suara anak, cerahlah masa depan masjid itu. Ungkapan ini ada benarnya. Kondisi ini yang disadari oleh Takmir Mushola Al Barokah

Ia menempuh berbagai cara agar di Mushola senantiasa terdengar suara anak. Mulai dari menyediakan buku, papan catur, dakon, monopoli, ular tangga, hingga dispenser untuk mereka minum jika haus.

Takmir juga mulai menghias jendela dengan origami. Origami adalah seni melipat kertas yang populer pertama kali di Jepang. Berwarna warni. Beragam bentuk.

Origami ini kemudian dirangkaikan melalui seutas tali. Menjadi semacam tirai yang menutup jendela. Tujuannya agar lebih nyaman dipandang. Tidak lagi pandangan jendela kosong. Tapi ada hiasannya.

Mushola yang saban harinya digunakan oleh santri Taman Pendidikan Al Quran Mushola Al Barokah (TPA ALBA) Winongan Sirnoboyo Pacitan Jawa Timur mengaji ini, sudah layaknya PAUD. Banyak ornamen yang bergelantungan di jendelanya.

Anak adalah investasi masa depan. Hari ini mereka menjadi anak. Dua puluh tahun lagi, mereka menjadi dewasa. Perlakuan hari ini kepada mereka, menentukan masa depannya.

Karakter dasar anak adalah tidak mau diam. Cadangan energinya berlipat. Kecerdasan kinestetiknya melebihi orang dewasa. Lari ke sana kemari. Naik turun tangga. Menerobos barisan shof orang sholat. Naik di punggun ayah atau ibunya saat sujud. Inilah mereka. Dimanapun masjidnya. Teriakannya memekikkan telinga.

Jengkel pasti. Mengganggu iya. Tapi simpanlah dalam hati. Demi masa depannya. Sebagai orang dewasa, cukup untuk mengalihkan perhatian mereka. Lalu, salurkan energi positif mereka ke media lain.

Cucu Rasulullah pun demikian. Rasulullah pernah membawa Hasan dan Husain ke dalam masjid. Dalam sebuah hadis dari Abdullah bin Syaddad dari ayahnya dia berkata, “Pada suatu shalat Rasulullah keluar. Beliau membawa Hasan atau Husein, kemudian meletakkan anak itu di depan saat akan shalat kemudian bertakbir. Namun, saat sujud, beliau cukup lama. Lalu, aku mengangkat kepala dan melihat anak itu di atas punggung Rasulullah SAW.” Selesai shalat, para sahabat bertanya, “Wahai Rasulullah apa yang menyebabkan engkau sujud begitu lama, kami menyangka engka menerima wahyu.” Rasulullah SAW bersabda, “Bukan, hanya saja cucuku ini naik ke punggungku. Dan aku tidak menurunkannya dengan segera hingga dia merasa puas. (HR Ahmad, Nasai, dan Hakim).

Anak butuh wadah. Mereka belum tahu dimana tempat untuk teriak yang tepat. Belum paham ada jogging track untuk menyalurkan hobi berlarinya. Pendek kata, mereka belum bisa membedakan mana yang boleh dan mana yang tidak boleh. Seiringnya waktu berjalan, mereka akan sadar. Lalu, menggantikan generasi kita, generasi yang tidak lagi muda ini.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s