Keterampilan Memberikan Penguatan pada Saat Pembelajaran

Menurut Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional Nomor 20 Tahun 2003 menjelaskan bahwa “Pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang beradab dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman  dan bertakwa kepada  Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif serta menjadi warga negara yang demokratis dan bertanggung jawab. Melalui pendidikan, siswa diarahkan untuk dapat mengetahui potensinya dan melakukan sesuatu berdasarkan minat dan bakatnya yang sesuai dengan potensi diri masing-masing.

Sejalan dengan pendapat di atas, Oemar Hamalik (2011: 79), menjelaskan bahwa pendidikan merupakan suatu proses dalam rangka memepengaruhi siswa agar dapat menyesuaikan diri sebaik mungkin terhadap lingkungannya dan dengan demikian akan menimbulkan perubahan dalam dirinya yang memungkinkannya untuk dapat berfungsi dalam kehidupan masyarakat. Pengajaran bertugas mengarahkan proses ini agar sasaran dari perubahan dapat tercapai sebagaimana yang di inginkan. Dalam suatu pembelajaran, siswa yang memiliki perbuatan baik, seperti tingkah laku maupun prestasi, harus diberikan penghargaan atau pujian. Diharapkan dengan penghargaan atau pujian itu siswa akan termotivasi berusaha berbuat yang lebih baik lagi. Misalnya, guru tersenyum atau mengucapkan kata “bagus” kepada siswa yang berpakaian rapih, siswa yang dapat menyelesaikan pekerjaan rumah dengan baik dan benar. Siswa akan merasa puas dengan hasil yang telah dicapai bahkan akan berusaha berbuat yang lebih baik lagi. Dalam kegiatan belajar mengajar, pemberian penguatan sangat penting dalam meningkatkan keefektifan kegiatan pembelajaran.

Menurut pendapat Barrnawi dan Mohammad Arifin (2012: 208), penguatan adalah respon positif dalam pembelajaran yang diberikan guru terhadap perilaku peserta didik dengan tujuan mempertahankan dan meningkatkan perilaku tersebut. Keterampilan memberi penguatan mempunyai dua jenis penguatan yaitu penguatan verbal dan non verbal. Penguatan verbal dinyatakan melalui kata-kata dan kalimat, sedangkan penguatan non verbal dapat diungkapkan dengan berbagai cara seperti gerak isyarat, pendekatan, sentuhan, melalui kegiatan yang menyenangkan, penguatan berupa simbol atau benda, serta penguatan tidak penuh dan penuh.

PENGERTIAN KETERAMPILAN MEMBERIKAN PENGUATAN (REINFORCEMENT)

Menurut Wina Sanjaya (2006: 37), penguatan adalah segala bentuk respons yang merupakan bagian dari modifikasi tingkah laku guru terhadap tingkah laku siswa, yang bertujuan untuk memberikan informasi atau umpan balik bagi siswa atas perbuatan atau responsnya yang diberikan sebagai suatu dorongan atau koreksi. Melalui keterampilan penguatan (reinforcement) yang diberikan guru, maka siswa akan merasa terdorong selamanya untuk memberikan respons setiap kali muncul stimulus dari guru atau siswa akan berusaha menghindari respons yang dianggap tak bermanfaat. Dengan demikian, fungsi keterampilan penguatan (reinforcement) itu adalah untuk memeberikan ganjaran kepada siswa sehingga siswa akan berbesar hati dan meningkatkan partisipasinya dalam setiap proses pembelajaran.

Menurut Usman (2006: 80) Penguatan (reinforcement) adalah segala bentuk respons, apakah bersifat verbal ataupun non verbal, yang merupakan bagian dari modifikasi tingkah laku guru terhadap tingkah laku siswa, yang bertujuan untuk memberikan informasi atau umpan balik (feet back) bagi sipenerima (siswa) atas perbuatannya sebagai suatu tindakan dorongan ataupun koreksi. Penguatan dikatakan juga sebagai respon terhadap tingkah laku yang dapat meningkatkan kemungkinan berulangnya tingkah laku tersebut. Tindakan tersebut dimaksudkan untuk mengganjar atau membesarkan hati siswa agar nereka lebih giat berpartisipasi untuk interaksi dalam belajar mengajar.

Dalam proses belajar mengajar pemberian penguatan sebagai salah satu faktor yang dapat mempengaruhi prestasi belajar siswa sangat penting diberikan guru kepada siswanya. Pemberian penguatan yang tepat dapat meningkatkan perhatian dan motivasi belajar siswa. Perhatian siswa yang tinggi terhadap materi yang akan tercermin ketika diadakan penilaian. Nilai yang meningkat menggambarkan prestasi belajar siswa juga meningkat. Ketika hasil belajar siswa meningkat, guru sebagai fasilitator memberikan penguatan dengan berbagai cara yang dapat terus meningkatkan motivasi belajar siswa sehingga prestasi belajar semakin meningkat (Dimyati dan Sujiono, 2009: 77).

Berdasarkan definisi tersebut, dapat disimpulkan bahwa penguatan atau reinforcement merupakan salah satu bentuk penciptaan suasana belajar yang menyenangkan yang diberikan pada siswa dengan tuuan utama agar frekuensi tingkah laku positif siswa dapat meningkat.

TUJUAN PEMBERIAN PENGUATAN (REINFORCEMENT)

Penguatan mempunyai pengaruh yang berupa sikap positif terhadap proses belajar siswa. Menurut Moh. Uzer Isman (2013: 81), penguatan mempunyai pengaruh yang berupa sikap positif terhadap proses belajar dan bertujuan sebagai berikut:

  1. Meningkatkan perhatian siswa terhadap pelajaran
  2. Merangsang dan meningkatkan motivasi belajar
  3. Meningkatkan kegiatan belajar dan membina tingkah laku siswa yang produktif

Sejalan dengan pendapat diatas, menurut Marno & M. Idris (2014: 130 131), mengemukakan beberapa tujuan pemberian penguatan yaitu:

  1. Meningkatkan perhatian siswa dalam proses belajar
  2. Membangkitkan, memelihara, dan meningkatkan motivasi belajar siswa
  3. Mengatur dan mengembangkan diri anak dalam proses belajar

Menurut pendapat Buchari Alma (2009: 30) keterampilan memberikan penguatan bertujuan untuk:

  1. Meningkatkan perhatian siswa
  2. Memperlancar/memudahkan proses belajar
  3. Membangkitkan dan mempertahankan motivasi
  4. Mengontrol atau mengubah sikap suka mengganggu dan menimbulkan tingkah laku belajar yang produktif
  5. Mengembangkan dan mengatur diri sendiri dalam belajar
  6. Mengarahkan kepada cara berfikir yang baik/divergen dan inisiatif pribadi.

Dari uraian di atas, dapat disimpulkan bahwa keterampilan memberi penguatan perlu mendapat perhatian, sebab penguatan yang diberikan guru berpengaruh besar terhadap motivasi siswa untuk mempertahankan dan meningkatkan perilaku tersebut. Tujuan dari pemberian penguatan yang dilakukan guru adalah untuk meningkatkan perhatian dan motivasi siswa saat pembelajaran, mengembangkan cara berfikir peserta didik ke arah yang baik, dan mengontrol tingkah laku peserta didik  ke arah yang lebih produktif.

KOMPONEN PEMBERIAN PENGUATAN (REINFORCEMENT)

Penggunaan komponen keterampilan dalam kelas harus bersifat selektif, hati-hati disesuaikan dengan usia siswa, tingkat kemampuan, kebutuhan derta latar belakang, tujuan dan sifat tugas. Pemberian penguatan harus bermakna bagi siswa. Menurut Barnawi dan Mohammad Arifin (2012: 209-211), beberapa komponen keterampilan memberi penguatan adalah sebagai berikut:

Penguatan Verbal

Tanggapan guru yang berupa kata-kata pujian, dukungan, dan pengakuan dapat digunakan untuk memberikan penguatan atas kinerja peserta didik. Peserta didik yang telah mendapatkan penguatan akan merasa bangga dan termotivasi untuk meningkatkan kembali prestasi belajarnya. Penguatan verbal dapat dinyatakan dalam dua bentuk, yaitu melalui kata0kata dan melalui kalimat. Penguatan dalam bentuk kata-kata dapat berupa: benar, bagus, tepat, bagus sekali, ya, baik, mengagumkan, setuju, cerdas, dan lain sebagainya. Sedangkan penguatan dalam bentuk kalimat dapat berupa kalimat:

  • “Wah Pekerjaanmu baik sekali”.
  • Saya puas dengan jawabanmu”.
  • Nilaimu semakin lama makin baik”.
  • “Contoh yang kamu berikan tepat sekali”.
  • “Jawaban kamu lengkap sekali”.

 

Penguatan Nonverbal

Penguatan nonverbal dapat dilakukan dengan berbagai cara, diantaranya ialah sebagai berikut:

  • Penguatan berupa mimik dan gerakan badan (Gestur). Penguatan berupa gerak tubuh atau mimik yang memberi kesan baik kepada peserta didik. Penguatan mimik dan gerakan badan dapat berupa: senyuman, anggukan kepala, acungan jempol, tepuk tangan, dan lain sebagainya.
  • Penguatan dengan cara mendekati. Peserta didik yang didekati guru akan menimbulkan kesan diperhatikan. Contohnya, guru dapat mendekati peserta didik yang sedang mengerjakan tugas. Cara ini dapat menimbulkan kesan dukungan terhadap aktivitas sedang dikerjakan oleh peserta didik.
  • Penguatan dengan sentuhan. Sentuhan dapat dilakukan dengan cara berjabat tangan, menepuk bahu, dan mengangkat tangan peserta didik ketika menang lomba yang semuanya ditujukan untuk penghargaan penampilan, tingkah laku atau kerja siswa.

Sejalan dengan pendapat di atas, menurut Wina Sanjaya (2006: 37-36), ada dua jenis penguatan yang bisa diberikan oleh guru adalah sebagai berikiut:

  1. Penguatan Verbal. Penguatan verbal adalah penguatan yang diungkapkan dengan kata-kata, baik pujian dan penghargaan atau kata-kata koreksi. Melalui kata-kata itu siswa akan merasa puas dan terdorong untuk lebih aktif belajar. Misalnya, ketika diajukan sebuah pertanyaan kemudian siswa menjawab dengan tepat, maka guru memuji siswa tersebut dengan mengatakan: “Bagus!”, “Tepat sekali”, “Wah, hebat kamu”, dan lain sebagainya. Demikian juga ketika jawaban siswa kurang sempurna, guru berkata: “Hampir tepat…” atau “Seratusw kurang lima puluh…”. dan lain-lain.
  2. Penguatan Nonverbal. Penguatan nonverbal adalah penguatan yang diungkapkan melalui bahasa isyarat. Misalnya, melalui anggukan kepala tanda setuju, gelengan kepala tanda tidak setuju, mengernyitkan dahi, mengangkat pundak, dan lain sebagainya. Selain itu, penguatan nonverbal juga dapat dilakukan dengan memberikan tanda-tanda tertentu misalnya penguatan dengan melakukan sentuhan (contact) dengan berjabat tangan atau menepuk-nepuk pundak siswa setelah siswa memberikan respons yang bagus.

Dari uraian di atas, dapat disimpulkan bahwa komponen keterampilan memberi penguatan berupa penguatan verbal dan nonverbal. Penguatan verbal dapat diungkapkan dengan melalui kata-kata dan melalui kalimat. Penguatan nonverbal dapat dilakukan dengan gerka isyarat, pendekatan, sentuhan. Agar memberikan pengaruh yang efektif, senua bentuk penguatan harus diberikan dengan memperhatikan siapa sasarannya dan bagaimana teknik pelaksanaannya.

PRINSIP – PRINSIP PENGGUNAAN PENGUATAN (REINFORCEMENT)

Meskipun pemberian penguatan sifatnya sederhana dalam pelaksanaannya, namun dapat pula pemberian penguatan yang diberikan pada siswa enggan belajar, karena penguatan yang diberikan tidak sesuai dengan yang diketahui siswa. Dalam pemberian penguatan yang penting harus sesuai dengan tindakan yang dilakukan oleh siswa tersebut, pemberian penguatan yang berlebihan akan berakibat fatal. Untuk itu guru harus memperhatikan prinsip-prinsip dalam pemberian penguatan.

Terdapat beberapa hal yang harus diperhatikan dalam memberikan penguatan agar penguatan itu dapat meningkatkan motivasi pembelajaran sebagai berikut:

  1. Kehangatan dan keantusiasan. Saat guru memberikan penguatan, tunjukkan sikap yang hangat dan antusias, bahwa penguatan itu benar-benar diberikan sebagai balasan atas respons yang diberikan siswa.
  2. Yakinkan pada diri siswa bahwa penguatan yang diberikan guru adalah penguatan yang wajar, sehingga benar-benar bermakna untuk siswa. Hindari penguatan yang berlebihan, karena dapat mematikan motivasi siswa.
  3. Gunakan penguatan yang bervariasi. Penguatan yang sejenis dan dilakukan berulang-ulang dapat menimbulkan kebosanan sehingga tidak efektif lagi untuk membangkitkan motivasi belajar siswa. Sekali-kali gunakan penguatan dengan bahasa verbal dan dengan gerakan-gerakan.
  4. Berikan penguatan dengan segera. Penguatan perlu diberikan segera setelah muncul respons atau tingkah laku tertentu. Penguatan yang ditunda pemberiannya tidak akan efektif lagi dan kurang bermakna.

Menurut pendapat Barnawi dan Mohammad Arifin (2012: 212-213), prinsi-prinsip yang harus diperhatikan guru saat memberikan penguatan ialah sebagai berikut:

  1. Kehangatan dapat ditunjukkan melalui cara bersikap, tersenyum, melalui suara dan gerak mimik. Misalnya dengan muka atau wajah berseri disertai senyuman, suara yang riang penuh perhatian.
  2. Antusiasme merupakan stimulus untuk meningkatkan perhatian dan motivasi peserta didik. Misalnya, guru memberikan penguatan dengan suara yang lantang dan tatapan mata yang tajam kepada siswa dengan memberikan senyum yang ceria.
  3. Inti dari kebermaknaan ialah peserta didik tahu bahwa dirinya memang layak mendapat penguatan karenatingkah laku dan penampilannya sehingga penguatan tersebut dapat bermakna baginya.
  4. Menghindari penggunaan respon yang negatif. Respon negatif yang bernada hinaan, sindiran, dan ejekan harus dihindari karena dapat mematahkan semangat peserta didik. Misalnya dengan mengatakan, “Jawaban kamu salah!”.

Dari uraian di atas, prinsip-prinsip yang harus diperhatika guru dalam memberi penguatan pada proses belajar mengajar meliputi, kehangatan, antusiasme, kenbermaknaan, dan menghindari penggunaan respon yang negatif. Pemberian penguatan harus sesuai dengan tindakan yang dilakukan oleh siswa.

KESIMPULAN

Penguatan (reinforcement) adalah segala bentuk respons, apakah bersifat verbal ataupun non verbal, yang merupakan bagian dari modifikasi tingkah laku guru terhadap tingkah laku siswa, yang bertujuan untuk memberikan informasi atau umpan balik (feet back) bagi sipenerima (siswa) atas perbuatannya sebagai suatu tindakan dorongan ataupun koreksi. Penguatan dikatakan juga sebagai respon terhadap tingkah laku yang dapat meningkatkan kemungkinan berulangnya tingkah laku tersebut. Tindakan tersebut dimaksudkan untuk mengganjar atau membesarkan hati siswa agar nereka lebih giat berpartisipasi untuk interaksi dalam belajar mengajar. Keterampilan memberi penguatan perlu mendapat perhatian, sebab penguatan yang diberikan guru berpengaruh besar terhadap motivasi siswa untuk mempertahankan dan meningkatkan perilaku tersebut. Tujuan dari pemberian penguatan yang dilakukan guru adalah untuk meningkatkan perhatian dan motivasi siswa saat pembelajaran, mengembangkan cara berfikir peserta didik ke arah yang baik, dan mengontrol tingkah laku peserta didik  ke arah yang lebih produktif.

Komponen keterampilan memberi penguatan berupa penguatan verbal dan nonverbal. Penguatan verbal dapat diungkapkan dengan melalui kata-kata dan melalui kalimat. Penguatan nonverbal dapat dilakukan dengan gerka isyarat, pendekatan, sentuhan. Agar memberikan pengaruh yang efektif, senua bentuk penguatan harus diberikan dengan memperhatikan siapa sasarannya dan bagaimana teknik pelaksanaannya. Prinsip-prinsip yang harus diperhatika guru dalam memberi penguatan pada proses belajar mengajar meliputi, kehangatan, antusiasme, kenbermaknaan, dan menghindari penggunaan respon yang negatif. Pemberian penguatan harus sesuai dengan tindakan yang dilakukan oleh siswa.

DAFTAR PUSTAKA

Barnawi & Mohammad Arifin. (2012). Etika dan Profesi Kependidikan.

Yogyakarta: Ar-Ruzz

Alma Buchori. (2009). Guru Profesional Menguasai Metode dan Terampil Mengajar. Bandung: Alfabeta

Dimyati, Mudjiono. 2009. Belajar Dan Pembelajaran. Jakarta. PT. Rineka Cipta.

Moh. Uzer Usman. (2013). Menjadi Guru Profesional. Bandung: PT Remaja

Rosdakarya.

 

Marno & M. Idris. (2014). Strategi, Metode, dan Teknik Mengajar. Yogyakarta:

Ar-Ruzz Media.

 

Oemar Hamalik. (2011). Pendidikan Guru Berdasarkan Pendekatan Kompetensi.

Jakarta: Bumi Aksara

 

Sanjaya Wina. (2006). Strategi Pembelajaran Berorientasi Standar Proses Pendidikan. Jakarta: Kencana.

 

Usman, Moh. Uzer. 2006 . Menjadi Guru Profesional, Dasar Metode Teknik,

Bandung: Tarsito.

 

Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2003 Tentang Sistem

Pendidikan Nasional.

 

 

_____________

Disusun Oleh:

Meilantika Puspita Devi

Prodi PGSD STKIP PGRI Pacitan

Satu komentar pada “Keterampilan Memberikan Penguatan pada Saat Pembelajaran”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s