Pengertian Keterampilan Membuka Pelajaran

Kemampuan guru dalam membuka dan menutup pelajaran sangat berpengaruh pada keberhasilan suatu pembelajaran. Keterampilan membuka pelajaran merupakan kegiatan yang dilakukan guru untuk menciptakan suasana agar siswa siap mental dan terpusat pada hal-hal yang akan dipelajari. Pada awal pelajaran, tidak semua siswa memiliki kesiapan mental dan tertarik untk mengkuti hal-hal yang akan dipelajari. Ketika siswa mengikuti pelajaran jam kedua, maka kondisi pikiran dan perhatian sisa kebanyakan masih pada pelajaran jam pertama. Demikian pula selama proses pembelajaran berlangsung, kesiapan mental dan perhatian belajar siswa tidak selalu tertuju pada hal-hal yang dipelajari, sehingga memengaruhi perolehan hasil belajar siswa. Karena itu, keterampilan membuka pelajaran merupakan salah satu kunci keberhasilan dari seluruh proses belajar mengajar yang akan dilalui siswa. Jika pada awal pelajaran seorang guru gagal mengondisikan mental dan menarik perhatian siswa, maka proses belajar mengajar yang dinamis tidak dapat tercapai.

 

PENGERTIAN KETERAMPILAN MEMBUKA PELAJARAN

Keterampilan membuka pelajaran merupakan upaya guru dalam memberikan pengantar/pengarahan mengenai materi yang akan dipelajari siswa sehingga siswa siap mental dan tertarik mengikutinya(Marno & Idris, 2008: 86). Kegiatan membuka pelajaran yang dilakukan oleh guru dimaksudkan agar siswa dapat memusatkan perhatian pada hal-hal yang akan dipelajari. Hal tersebut dapat dilakukan dengan cara mengemukakan tujuan yang akan dicapai, menarik perhatian siswa, memberi acuan, dan membuat kaitan antara materi pelajaran yang telah dikuasai oleh siswa dengan bahan yang akan dipelajarinya(Suwarna, 2006: 66).

 

Siswa disekolah memperoleh pembelajaran tidak hanya satu mata pelajaran, tetapi semua mata pelajaran. Satu hari siswa belajar dalam dua atau tiga mata pelajaran. Sehingga apabila guru ingin mengajarkan mata pelajaran dijam kedua atau jam ketiga, tentu membutuhkan cara khusus. Sebab siswa belum tentu memiliki kesiapan segera untuk menerima pelajaran. Karena kemungkinan pikiran siswa masih pada pelajaran yang pertama. Sehingga keterampilan guru dalam membuka pelajaran akan menentukan keberhasilan proses belajar mengajar yang dilakukan siswa. Sanjaya, 2005: 171 mengemukakan bahwa membuka pelajaran atau set induction adalah usaha yang dilakukan oleh guru dalam kegiatan pembelajaran untuk menciptakan prakondisi bagi siswa agar mental maupun perhatian terpusat pada pengelaman belajar yang disajikan sehingga akan mudah mencaai kompetensi yang diharapkan.

 

Beberapa cara yang dapat diusahakan guru dalam membuka pelajaran adalah dengan menarik perhatian siswa, memotivasi siswa, memberi acuan/struktur pelajaran dengan menunjukkan tujuan atau kompetensi dasar dan indikator hasil belajar, serta pokok persoalan yang akan dibahas, rencana kerja, pembagian waktu, mengaitkan antara topik yang sudah dikuasai dengan topik baru, atau menanggapi situasi kelas(Marno dan Idris, 2008). Jadi, dapat disimpulkan bahwa membuka pelajaran adalah kegiatan atau upaya yang dilakukan guru untuk menciptakan suatu kondisi dimana siswa siap mental, memusatkan perhatian, mengembangkan motivasi agar terpusat pada apa yang akan dipelajari. Membuka pelajaran tidak hanya dilakukan pada setiap awal pelajaran, tetapi setiap kali beralih ke hal atau topik yang baru. Misalnya, dari topik hewan herbivora ke topik hewan omnivora.

 

TUJUAN KETERAMPILAN MEMBUKA PELAJARAN

Kegiatan membuka pelajaran sebagai kegiatan awal sebuah pembelajaran memiliki tujuan yaitu:

  1. Membantu siswa mempersiapkan diri agar sejak semula sudah dapat membayangkan pelajaran yang akan dipelajarinya.
  2. Menimbulkan minat dan perhatian siswa pada apa yang akan dipelajari dalam kegiatan belajar mengajar.
  3. Membantu siswa agar mengetahui batas-batas tugas yang akan dikerjakan.
  4. Membantu siswa agar mengetahui hubungan antara pengalaman-pengalaman yang telah dikuasainya dengan hal-hal baru yang akan dipelajari atau yang belum dikenalnya(Husdarta dan Yudha, 2013: 56).

 

Kegiatan membuka pelajaran selain untuk mempersiapkan hal-hal yang bersifat teknis adminitratif, terutama harus memfokuskan pada upaya menkondisikan kesiapan baik fisik dan mental, perhatian dan motivasi siswa untuk mengikuti kegiatan inti pembelajaran. Membuka pelajaran pada umumnya dilakukan agar proses dan hasil belajar dapat dicapai secara efektif dan efisien yaitu langkah-langkah pembelajaran yang dilakukan dengan tepat sehingga akan menghasilkan suatu hasil belajar yang maksimal. Hasil belajar tersebut dapat dilihat dari tingkat penguasaan siswa terhadap apa yang telah dipelajarinya.

 

KOMPONEN KETERAMPILAN MEMBUKA PELAJARAN

Menurut Marno dan Idris, 2008: 94, komponen keterampilan membuka pelajaran meliputi dua kategori yaitu kategori yang berpengaruh pada proses asimilasi dan akomodasi ide, dan kategori yang berpengaruh pada motivasi siswa belajar. Komponen-komponen tersebut yaitu:

  1. Membangkitkan perhatian/minat siswa. Beberapa cara untuk membangkitkan perhatian dan minat siswa antara lain: 1) Variasi gaya mengajar guru.; 2) Penggunaan alat bantu mengajar; 3) Variasi dalam pola interaksi.
  2. Menimbulkan motivasi. Siswa yang memiliki motivasi belajar tinggi akan mendorong perhatian dan minatnya terkonsentrasi pada hal-hal yang harus dipelajari, sehingga dapat mencapai tujuan belajar secara maksimal. Cara untuk menimbulkan motivasi belajar pada siswa, antara lain: 1) Bersemangat dan antusias. 2) Menimbulkan rasa ingin tahu. 3) Mengemukakan ide yang tampaknya bertentangan. 4) Memerhatikan dan memanfaatkan hal-hal yang menjadi perhatian siswa.
  3. Memberi acuan atau struktur. Cara memberikan acuan atau struktur dapat dilakukan guru antara lain: 1) Mengemukakan kompetensi dasar, indikator hasil belajar, dan batas-batas tugas. 2) Memberi petunjuk atau saran tentang langkah-langkah kegiatan. 3) Mengajukan pertanyaan pengarahan.
  4. Menunjukkan kaitan. Apabila guru akan menjelaskan materi baru, maka harus dikaitkan dengan materi yang telah diketahui sebelumnya. Beberapa hal yang perlu dilakukan guru adalah: 1) Mencari batu loncatan. 2) Mengusahakan kesinambungan. 3) Membandingkan atau mempertentangkan.

 

Perhatian siswa dapat ditimbulkan dengan memvariasi sikap dan gaya mengajar guru. Misalnya, guru memvariasi gaya mengajarnya dengan berdiri ditengah kemudian berjalan kebelakang atau ke samping, variasi penggunaan suara, intonasi, cara masuk kelas, gerak tangan, ekspresi muka, dan sebagainya yang semuanya bermakna. Ketertarikan siswa dapat ditimbulkan dengan penggunaan alat bantu mengajar seperti gambar, model, skema, surat kabar, dan sebagainya. Variasi pola interaksi perlu dikembangkan agar siswa tidak merasa bosan. Karena biasanya guru menerangkan sedangkan siswa mendengarkan. Maka perlu diadakan pola interaksi yang bervariasi, misalnya guu memberikan tugas kepada seorang siswa dan siswa lain memberikan tanggapan.

Guru hendaknya bersikap ramah, antusias, dan penuh semangat agar mendorong siswa ikut aktif dan mau terlibat. Cara yang dapat digunakan guru yaitu menceritakan suatu peristiwa aktual yang menimbulkan pertanyaan atau menunjukkan model atau gambar yang merangsang siswa untuk berpikir. Membuka pelajaran dapat diawali dengan mengungkapkan hal-hal yang sedang aktual dan relevan dengan materi yang akan dipelajari.

Guru dapat menanyakan sesuatu kepada siswa yang bertujuan mengarahkan pada topik pelajaran dan membantu siswa memerhatikan hal yang akan dijelaskan. Bahan pengait atau apersepsi diantaranya adalah hal-hal yang sudah diketahui siswa seperti pengalaman, minat, dan kebutuhan siswa. Sebelum memulai pelajaran baru, guru dapat meninjau kembali inti pelajaran yang lalu atau dapat meminta siswa untu meringkas, kemudian baru membuat kaitan dengan pelajaran baru. Cara yang dapat dilakukan adalah dengan membandingkan atau mempertentangkan antara pengetahuan lama dan pengetahuan baru. Kegiatan membuka pelajaran dapat dilakukan secara efektif dan berhasil dengan memperhatikan komponen-konponen yang berkaitan dengan karakteristik siswa.

 

PRINSIP-PRINSIP KETERAMPILAN MEMBUKA PELAJARAN

Prinsip-prinsip penerapan membuka pelajaran menurut Marno dan Idris, 2008: 2009 yaitu:

  1. Prinsip bermakna. Penerapan prinsip bermakna adalah mempunyai nilai tercapainya tujuan penggunaan keterampilan membuka pelajaran. Artinya, cara guru dalam memilih dan menerapkan komponen keterampilan membuka pelajaran mempunyai nilai yang sangat tepat bagi siswa dalam mengondisikan kesiapan dan ketertarikan siswa untuk mengikuti pelajaran.
  2. Kontinu(berkesinambungan). Antara gagasan pembukaan dengan pokok bahasan tidak terjadi garis pemisah. Oleh karena itu, gagasan pembukaan dengan pokok bahasan dari segi materi harus ada relevansinya. Pengurutan materi pokok sangat membantu kesinambungan materi pembelajaran dan terutama kesinambungan membuka pelajaran.
  3. Fleksibel(penggunaan secara luwes). Berarti penggunaan yang tidak kaku, tidak terputus-putus atau lancar. Fluency(kelancaran) dalam susunan gagasan, ide, atau cerita dapat memudahkan peserta didik dalam mengonsepsi keutuhan konsep pembuka dan dapat pula dengan mudah mengantisipasi pokok bahasan yang akan dipelajari.
  4. Antusiasme dan kehangatan dalam mengomunikasikan gagasan. Antusiasme menandai kadar motivasi yang tinggi dan hasil ini akan berpengaruh pada motivasi yang tinggi pula pada peserta didik. Dengan antusiasme guru dalam mengomunikasikan gagasan pembuka, mendorong anak untuk menilai bahwa pokok bahasan yang akan dipelajari mempunyai arti yang sangat penting. Dengan demikian, peserta didik akan tinggi perhatian dan minatnya, yang paa gilirannya akan memengaruhi tingginya aktivitas belajar.

 

Selain prinsip penerapan membuka pelajaran, ada pula prinsip-prinsip teknis dalam membuka pelajaran yaitu sebagai berikut:

  1. Singkat, padat, dan jelas.
  2. Keterampilan tidak diulang-ulang atau berbelit-belit.
  3. Menggunakan bahasa yang mudah dipahami anak.
  4. Disertai contoh atau ilustrasi seperlunya.
  5. Mengikat perhatian anak(Marno dan Idris, 2008: 92).

Mengikat perhatian anak harus sesuai dengan isi dan tujuan pembelajaran atau bermakna serta diperlukan suatu susunan bahan pelajaran yang tepat dan ada kaitan antara satu bagian dengan bagian lainnya agar jelas dan tepat. Kegiatan membuka pelajaran yang diterapkan hendaknya sesuai dengan tujuannya yaitu melakukan kegiatan yang ada kaitannya dengan materi pelajaran.

 

PELAKSANAAN MEMBUKA PELAJARAN

Kegiatan membuka pelajaran dilakukan pada setiap awal pelajaran dan setiap kali beralih ke hal atau topik yang baru. Misalnya, dari topik penjumlahan ke topik pengurangan. Sebelum menjelaskan materi pelajaran, guru harus mengkondisikan mental dan memusatkan perhatian pada hal-hal yang akan dipelajari. Misalnya, memberikan motivasi, memberi acuan/struktur, menunjukkan kaitan antara materi pelajaran sebelumnya yang sudah dipelajari dengan materi yang akan dipelajari. Pelaksanaan kegiatan membuka pelajaran dapat digambarkan sebagaimana bagan berikut(Marno & Idris, 2008: 94):

 

KESIMPULAN

Membuka pelajaran adalah kegiatan atau upaya yang dilakukan guru untuk menciptakan suatu kondisi dimana siswa siap mental, memusatkan perhatian, mengembangkan motivasi agar terpusat pada apa yang akan dipelajari. Membuka pelajaran pada umumnya dilakukan agar proses dan hasil belajar dapat dicapai secara efektif dan efisien yaitu langkah-langkah pembelajaran yang dilakukan dengan tepat sehingga akan menghasilkan suatu hasil belajar yang maksimal. Komponen-komponen keterampilan membuka pelajaran diantaranya adalah membangkitkan perhatian/minat siswa, menimbulkan motivasi, memberi acuan atau struktur, dan menunjukkan kaitan. Prinsip-prinsip penerapan membuka pelajaran yaitu prinsip bermakna, kontinu, fleksibel, antusiasme, dan kehangatan dalam mengomunikasikan gagasan. Selain prinsip penerapan, ada prinsip-prinsip teknis dalam membuka pelajaran adalah singkat, padat, jelas, keterampilan tidak diulang-ulang atau berbelit-belit, menggunakan bahasa yang mudah dipahami anak, dan disertai contoh atau ilustrasi seperlunya.

 

DAFTAR PUSTAKA

Husdarta & Yudha M. Saputra. 2013. Belajar dan Pembelajaran Pendidikan Jasmani dan Rohani. Bandung: Alfabeta.

Marno & Idris. 2008. Strategi & Metode Pengajaran. Jogjakarta: Ar-Ruzz Media.

Suwarna. 2005. Pengajaran Mikro. Jogjakarta: Tiara Wacana.

Sanjaya, Wina. 2005. Pembelajaran Dalam Implementasi Kurikulum Berbasis Kompetensi. Jakarta: Kencana

 

_____________

*) Hesty Prasetya Wulandari, penulis adalah mahasiswa STKIP PGRI Pacitan Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar kelas B. Makalah disusun guna memenuhi tugas individu pada mata kuliah Micro Teaching tahun akademik 2016/2017 dengan dosen pengampu Afid Burhanuddin, M.Pd.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s