Pentingnya Mengadakan Keterampilan Variasi dalam Mengajar

Proses pembelajaran adalah merupakan suatu sistem. Dengan demikian, pencapaian standar proses untuk meningkatkan kualitas pendidikan dapat dimulai dari menganalisis setiap komponen yang dapat membentuk dan memengaruhi proses pembelajaran. Komponen yang dianggap sangat memengaruhi proses pendidikan adalah komponen guru. Meyakinkan setiap orang khususnya pada setiap guru bahwa pekerjaannya merupakan pekerjaan profesional merupakan upaya pertama yang harus dilakukam dalam rangka pencapaian satandar proses pendidikan sesuai dengan harapan. Dalam hal ini guru memerlukan ketrampilan dasar mengajar berupa adanya variasi mengajar siswa dan kemampuan merancang, mengimplementasikan berbagai strategi pembelajaran yang dianggap cocok dengan minat dan bakat serta sesuai dengan taraf perkembangan siswa. Agar siswa tidak merasa bosan, perhatiannya bertambah, dan pembelajaran yang dilaksanakan dapat tercapai. Dalam proses belajar mengajar ada variasi bila guru menunjukkan adanya perubahan dalam gaya mengajar, media yang digunakan berganti-berganti, dan ada perubahan dalam pola interaksi antara guru-siswa, siswa-guru, dan siswa-siswa. Ketrampilan mengadakan variasi dalam proses belajar mengajar meliputi beberapa aspek. Apabila ketrampilan mengadakan variasi tersebut dikombinasikan dalam penggunaannya, maka akan meningkatkan perhatian siswa, membangkitkan keinginan dan kemauan belajar.

 

PENGERTIAN

Mengadakan variasi adalah ketrampilan yang harus dikuasai guru dalam pembelajaran, untuk mengatasi kebosanan peserta didik, agar selalu antusias, tekun, dan penuh partisipan. Variasi dalam pembelajaran adalah perubahan dalam proses kegiatan yang bertujuan untuk meningkatkan motivasi belajar peserta didik, serta mengurangi kejenuhan dan kebosanan (Mulyasa:2013)

TUJUAN

Penggunaan variasi terutama ditujukan terhadap perhatian siswa, motivasi, dan belajar siswa. Tujuan mengadakan variasi menurut (Syaiful Bahri Djamarah:2013) adalah:

Meningkatkan dan Memelihara Perhatian Siswa terhadap Relevansi Proses Belajar Mengajar

Dalam proses belajar mengajar perhatian siswa terhadap materi pelajaran yang diberikan sangat dituntut. Dalam jumlah siswa yang besar biasanya ditemukan kesukaran untuk mempertahankan agar perhatian siswa tetap pada materi pelajaran yang diberikan. Misalnya faktor penjelasan guru yang kurang mengenai sasaran, situasi diluar kelas yang dirasakan siswa lebih menarik daripada materi yang diberikan guru, siswa kurang menyenangi materi pelajaran yang diberikan guru.

Jadi, perhatian adalah masalah yang tidak bisa dikesampingkan dalam konteks pencapaian tujuan pembelajaran. Karena itu guru selalu memperhatikan variasi mengajarnya, apakah sudah dapat meningkatkan dan memelihara perhatian siswa terhadap materi yang dijelaskan atau belum.

Memberikan Kesempatan Kemungkinan Berfungsinya Motivasi

Motivasi memegang peranan penting dalam belajar. Didalam diri siswa sudah ada motivasi, yaitu motivasi instrinsik. Siswa yang demikian biasanya dengan kesadarannya sendiri memperhatikan penjelasan guru. Lain halnya bagi siswa yang tidak ada motivasi di dalam dirinya, maka motivasi ekstrinsik yang merupakan dororngan dari luar dirinya mutlak diperlukan. Disini peran guru berfungsi sebagai motivasi. Yaitu sebagai alat yang mendorong manusia untuk berbuat, motivasi sebagai alat yang menentukan arah perbuatan, dan untuk menyeleksi perbuatan.

Membentuk Sikap Positif terhadap Guru dan Sekolah

Suatu kenyataan yang tidak bisa dipunkiri bahwa dikelas ada siswa dan siswi yang kurang senang terhadap seorang guru. Konsekuensinya bidan studi yang dipegang oleh guru tersebut juga tidak disenangi. Kurang senangnya siswa terhadap guru disebabkan gaya belajar mengajar yang kurang bervariasi. Misalnya, hanya menggunakan metode ceramah. Guru kurang dapat mengusai kelas dan gagal menciptakan suasana belajar yang membangkitkan kreativitas dan kegairahan belajar siswa.

Guru bijaksana adalah guru yang mampu menempatkan diri dan pandai mengambil hati siswa serta menggunakan gaya mengajar dan pendekatan yang sesuai dengan psikologis siswa. Variasi mengajarnya mempunyai relevansi dengan gaya belajar siswa.

Memberikan Kemungkinan Pilihan dan Fasilitas Belajar Individual

Sebagai seorang guru dituntut untuk mempunyai berbagai ketrampilan yang mendukung tugasnya dalam mengajar. Penguasaan metode mengajar, penguasaan bagaimana menggunakan media, dan penguasaan terhadap berbagai pendekatan dalam mengajar di kelas. Penguasaan ketiga ketramplan tersebut memudahkan bagi guru melakukan pengembangan variasi mengajar.

Fasilitas merupakan kelengkapan belajar yang harus ada di sekolah. Fungsinya berguna sebagai alat bantu pengajaran. Fungsinya sebagai alat peraga. Fasilitas dijadikan sebagai alternatif dalam menunjang sebuah pembelajaran. Jika terbatasnya fasilitas yang ada di sekolah maka cenderung lebih sedikit alternatif yang tersedia untuk melakukan pemilihan. Misalnya, kurangnya tersedianya buku bidang studi menyebabkan metode mencatat lebih dominan dan sulit bagi guru untuk melakukan pendekatn individual.

Mendorong Anak Didik untuk Belajar

Menyediakan lingkungan belajar adalah tugas guru sedangkan kewajiban belajar adalah tugas anaka didik. Lingkungan pengajaran yang kondusif adalah lingkungan yang mampu mendorong anaka didik untuk selalu belajar hingga berakhirnya kegiatan belajar mengajar. Untuk hal ini cara akurat yang mesti guru lakukan adalah mengembangkan variasi mengajar, baik dalam gaya mengajar, dalam penggunaan media dan bahan pengajaran, maupun interaksi guru dengan anak didik.

Memberikan Kesempatan bagi Perkembangan Bakat Peserta Didik terhadap berbagai hal Baru dalam Pembelajaran. (Mulyasa:2013)

Memberikan Kesempatan kepada Peserta Didik untuk Belajar sesuai dengan Tingkat Perkembangan dan Kemampuannya. (Mulyasa:2013)

 

PRINSIP PENGGUNAAN

Dalam proses belajar mengajar masalah kegiatan siswa adalah yang menjadi fokus perhatian. Itu berati tidak ada seorangpun guru yang ingin agar siswanya tidak senang dan tidak bergairah dalam belajar, maka akan menggaggu kelancaran kegiatan pengajaran.

Agar kegiatan pengajaran dapat merangsang siswa untuk aktif dan kreatif  belajar, tentu saja diperlukan lingkungan belajar yang kondusif. Salah satu upayanya adalah dengan cara memperhatikan beberapa prinsip penggunaan variasi dalam mengajar. Prinsip-prinsip penggunaan variasi mengajar itu menurut (Syaiful Bahri Djamarah:2013) adalah sebagai berikut:

  1. Variasi hendaknya digunakan dengan suatu maksud tertentu yang relevan dengan tujuan yang hendak dicapai.
  2. Menggunakan variasi secara lancar dan berkesinambungan, sehingga moment proses belajar mengajar utuh tidak rusak, perhatian anak didik dan proses belajar tidak terganggu.
  3. Penggunaan komponen variasi harus benar-benat terstrukstur dan direncanakan oleh guru. Karena itu memerlukan pengguanaan yang luwes,spontan sesuai denagn umpan balik yang diterima siswa. Biasanya bentuk umpan balik ada dua hal, yaitu: 1) Umpan balik tingkah laku yang menyangkut perhatian dan keterlibatan siswa. 2) Umpan balik informasi tentang pengetahuan dan pelajaran.

KOMPONEN KETRAMPILAN MENGADAKAN VARIASI

Menurut (Syaiful Bahri Djamarah:2013) Variasi dalam kegiatan pembelajaran dapat dikelompokkan menjadi empat bagian, yakni variasi dalam gaya mengajar, variasi media dan bahan, variasi dalam pola interaksi, dalan variasi dalam kegiatan pembelajaran. Uraian yang mendalam dari keempat komponen tersebut adalah sebagai berikut:

Variasi Gaya Mengajar

Variasi ini meliputi variasi suara, gerakan anggota badan, dan variasi perpindahan posisi guru dalam kelas. Bagi siswa, variais tersebut dilihat sebagai sesuatu yang energik, antusias, bersemangat, dan semuanya memiliki relevansi dengan hasil belajar. Perilaku guru dalam proses belajar mengajar akan menjadi dinamis dan mempertinggi komunikasi anatara guru dan anak didik, menarik perhatian anak didik, menolong penerimaan bahan pelajaran, dan memeberi stimulasi. Variasi dalam gaya mengajar ini adalah sebagai berikut:

  1. Variasi suara. Suara guru dapat bervariasi dalam berintonasi, nada, volume, dan kecepatan. Menunjukkan hal-hal yang dianggap penting, berbicara pelan dengan seorang anak didik, atau berbicara secara tajam kepada anak didik yang kurang perhatian.
  2. Penekanan (focusing). Untuk memfokuskan perhatian anak didik pada suatu aspek yang penting atau aspek kunci, guru dapat menggunakan “penekanan secara verbal”, misalnya “Perhatikan baik-baik!” Penekanan seperti itu biasanya dikombinasikan dengan gerakan anggota badan yang dapat menunjukkan dengan jari atau memberi tanda papan tulis.
  3. Pemberian waktu(pausing). Untuk menarik perhatian anak didik, dapat dilakukan dengan mengubah yang bersuara menjadi sepi, dari suatu kegiatan menjadi tanpa kegiatan atau diam, di akhir bagian pelajaran kebagian berikutnya. Bagi anak didik, pemberian waktu dipakai untuk mengorganisasi jawaban yang diajukan oleh guru agar jawabannya menjadi lengkap.
  4. Kontak Pandang. Bila guru berbicara atau berinterasi dengan anak didik, sebaiknya mengarahkan pandangannya keseluruh kelas, menatap mata setiap anak didik untuk dapat membentuk hubungan positif dan menhindari hilangnya kepribadian.
  5. Gerakan Anggota Badan (Gesturing). Variasi dalam mimik, gerakan kepala atau badan merupakan bagian yang penting dalam komunikasi. Tidak hanya untuk menarik perhatian saja, tetapi juga menolong dalam menyampaikan arti pembicaraan.
  6. Pindah Posisi. Perpindahan posisi guru dalam ruang kelas dapat membantu menarik perhatian anak didik, dapat meningkatkan kepribadian guru. Perpindahannya dari muka ke bagian belakang, dari sisi kiri ke kanan, atau antara anak didik dari belakang ke samping anak didik.

Variasi Media dan Bahan Ajaran

Tiap anak didik mempunyai kemampuan indra yang tidak sama, baik pendengaran maupun penglihatannya, dan kemampuan berbicara. Dengan variasi penggunaan media, kelemahan indra yang dimiliki tiap anak didik, misalnya guru dapat memulai dengan berbicara terlebih dahulu, kemudian menulis di papan tulis, dilanjutkan dengan melihat contoh konkret. Dengan variasi seperti itu dapat memberi stimulasi terhadap indra anak didik. Ada tiga komponen dalam variaasi penggunaan media, yaitu :

  1. Variasi media pandang. Penggunaan media pandang dapat diartikan sebagai penggunaaan alat dan bahan ajaran khusus untuk komunikasi seperti media cetak, media audio, media visual, dan media audio-visual. Penggunaan yang lebih luas dari alat-alat tersebut akan memiliki keuntungan: 1) Membantu secara konkret konsep berpikir, dan mengurangi respon yang kurang bermanfaat. 2) Memiliki secara potensial perhatian anak didik pada tingkat yang tinggi. 3) Dapat membuat hasil belajar yang riil yang akan mendorong kegiatan mandiri anak didik. 4) Mengembangkan cara berpikir berkesinambungan, seperti halnya dalam film. 5) Memberi pengalaman yang tidak mudah dicapai oleh alat lain. 6) Menambah frekuensi kerja, lebih dalam, dan variasi belajar.
  2. Variasi Media Dengar. Pada umumnya dalam proses belajar mengajar di kelas, suara guru adalah alat utama dalam komunikasi. Terdapat sejumlah media dengar lainnya yang dapat dipakai untuk itu diantaranya iaalah pembicaraan anak didik, rekaman bunyi dan suara, rekaman musik, rekaman drama, wawancara yang semua itu dapat memiliki relevansi dengan pelajaran.
  3. Variasi Media taktil. Ketrampilan menggunakan variasi media dan bahan ajar adalah penggunaan media yang memberikan kesempata anak didik untuk menyentuh dan memanipulasi benda atau bahan ajar. Dalam hal ini melibatkan anak didik dalam kegiatan penyusunan atau pembuatan model, yang hasilnya dapat disebutkan sebagai “media taktil”. Dapat dilakukan secara individu atau kelompok. Contohnya dalam bidang sejarah membuat maket desa zaman Majapahi, dan pada bisang geografi membuat model lapisan tanah.

Variasi Interaksi

Menurut (Abdul Majid:2013) Variasi pola interaksi dan kegiatan siswa. Pola interaksi guru dengan anak didik dalam kegiatan belajar-mengajar sangat beraneka ragam. Penggunaan variasi pola interkasi dimaksudkan agar tidak menimbulkan kebosanan, kejenuhan, serta untuk menghidupkan suasana kelas demi keberhasilan siswa dalam mencapai tujuan. Adapun pola interaksi (gaya interaksi) dapat digambarkan sebagai berikut (M.Uzer Usman:2013):

  1. Pola guru-murid: Komunikasi sebagai aksi (satu arah)
  2. Pola guru-murid-guru: Ada balikan (feedbacak) bagi guru, tidak ada interaksi antar siswa (komunikasi sebagai interaksi
  3. Pola guru-murid-murid: Ada balikan bagi guru, siswa saling belajar satu sama lain
  4. Pola guru-murid, murid-guru, murid-murid: Interaksi optimal antara guru dengan murid dan antara murid dengan murid (komunikasi sebagai transaksi,multiarah)
  5. Pola melingkar: Setiap siswa mendapat giliran untuk mengemukakan sambutan atau jawaban, tidak diperkenankan berbicara dua kali apabila setiap siswa belum mendapat giliran.

 

Variasi dalam kegiatan pembelajaran dapat dilakukan sebagai berikut (Mulyasa:2013):

  1. Variasi dalam penggunaan metode pembelajaran.
  2. Variasi dalam penggunaan media dan sumber belajar.
  3. Variasi dalam pemberian contoh dan ilustrasi.
  4. Variasi dalam interaksi dan kegiatan peserta didik.

Kendala yang Dialami Guru Sekolah Dasar dalam Mengadakan Variasi Pembelajaran

Kendala yang dihadapi guru dapat dilihat dari faktor-faktor yangberpengaruh terhadap pembelajaran dan komponen pembelajaran. Sanjaya dalam Putri Ayu Permana Sari: (2014:52-60) menyatakan bahwa faktor-faktor pembelajaran meliputi guru, siswa, sarana dan prasarana, dan lingkungan, sedangkan komponen pembelajaran meliputi siswa, tujuan, isi/materi, metode, media, dan evaluasi/hasil belajar.Kendala yang dihadapi terlihat ketika guru mengalami kesulitan untuk mendapatkan media yang lebih bervariasi namun masihberhubungan denganmateri yang sedang dijelaskan. Sejauh ini guru hanya menggunakan fasilitas yang ada di kelas seperti spidol, papan tulis, dan suara guru itu sendiri. Selain itu, guru juga mengalami kendala dilihat dari segi sarana dan prasarana. Dalam proses pembelajaran, masih banyak guru yang hanya melakukan tugas sebatas mentransfer ilmu tanpa tahu bagaimana mengemas pembelajaran menjadi menarik perhatian siswa, sehingga banyak ditemui siswa yang kurang memiliki motivasi untuk lebih giat belajar di sekolah.

Biarpun pembelajaran dilakukan secara klasikal, guru lebih sering menggunakan ceramah tanpa memperhatikan pemikiran lain yang dimiliki oleh siswa seperti penggunaan media (alat peraga) untuk siswa yang visual, adanya diskusi, eksperimen, demonstrasi, dan praktik untuk siswa yang kinestetik. Penggunaan model yang kurang bervariasi atau inovatif, hal itu dibuktikan dengan guru tidak mau keluar dari zona nyaman. Apabila tidak ada variasi dalam kegiatan pembelajaran maka siswa akan mengalami kebosanan dan kejenuhan karena pembelajaran yang monoton yang mengakibatkan siswa kurang antusias dan partisipatif dalam kegiatan pembelajaran. Kejenuhan ini akan berdampak buruk bagi daya tangkap siswa terhadap materi yang akan disampaikan oleh guru, karena apabila siswa sudah merasa bosan atau jenuh maka mereka tentunya tidak akan semangat dalam menyimak pelajaran dan cenderung akan mengalihkan perhatian mereka pada hal lain seperti berbicara dengan teman sebangku.

 

SIMPULAN

Ketrampilan dasar mengajar bagi guru diperlukan agar guru dapat melaksanakan perannya dalam pengelolaan proses pembelajaran, sehingga pembelajaran dapat berjalan dengan efektif dan efisien. Ketrampilan dasar juga merupakan syarat mutlak agar guru bisa mengimplementasikan berbagai strategi pembelajaran. Salah satunya yaitu variasi mengajar sangat diperlukan dalam proses belajar mengajar. Variasi mengajar sangat berperan penting dalam proses pembelajaran yang bertujuan meningkatkan dan memelihara perhatian siswa terhadap relevansi proses belajar mengajar, memberikan kesempatan kemungkinan berfungsinya motivasi, membentuk sikap positif terhadap guru dan sekolah, memberikan kemungkinan pilihan dan fasilitas belajar individual, mendorong anak didik untuk belajar, memberikan kesempatan bagi perkembangan bakat peserta didik terhadap berbagai hal baru dalam pembelajaran, dan memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk belajar sesuai dengan tingkat perkembangan dan kemampuannya. Beberapa prinsip dalam menggunakan variasi dalam mengajar dilakukan agar mendukung pelaksanaan tugas mengajar di kelas. Komponen-komponen variasi mengajar seperti variasi gaya mengajar, variasi media dan bahan ajar, variasi pola interaksi, dan variasi dalam kegiatan pembelajaran mutlak dikuasai oleh guru guna memberikan semangat belajar anak didik dalam waktu yang relatif lama dalam suatu pertemuan di kelas. Adapun kendala yang dialami guru dalam mengadakan variasi  pembelajaran anatara lain dalam penggunaan fasilitas, sarana dan prasarana, kurang memotivasi siswa, kurang memperhatikan siswa, kurang memanfaatkan model dan media.

DAFTAR PUSTAKA

Djamarah, S. B. (2013). Strategi Belajar Mengajar. Jakarta: PT.Rineka Cipta.

Majid, A. (2013). Strategi Pembelajaran. Bandung: PT.Remaja Rosdakarya.

Mulyasa. (2013). Menjadi Guru Profesional (Menciptakan Pembelajaran Kreatif dan Menyenangkan). Bandung: PT.Remaja Rosdakarya.

Permatasari, P. A. (2016, Juli 26). Kemampuan Guru Sekolah Dasar Dalam Mengadakan Variasi Pada Pembelajran Tematik Di Gugus Imam Bonjol Kecamatan Purwodadi Kabupaten Grobogan. Dipetik April 01, 2017, dari http://lib.unnes.ac.id/24063/1/1401412044.pdf.

Usman, M. (2013). Menjadi Guru Profesional. Bandung: PT.Remaja Rosdakarya.

 

____________

Disusun oleh: Yulian Dwi Saputri

Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar

STKIP PGRI Pacitan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s