Keterampilan Membimbing Diskusi Siswa Sekolah Dasar

Pendidikan merupakan sarana penting untuk mendapatkan sumber daya manusia yang berkualitas. Pendidikan dapat diberikan melalui suatu proses belajar-mengajar atau biasa disebut proses pembelajaran. Mengajar merupakan kegiatan atau aktivitas yang dilakukan oleh guru, dosen atau instruktur dalam mengatur dan mengelola lingkungan belajar untuk mendorong aktivitas belajar siswa. Nasution (Merry Safitri, 2014) menyebutkan tiga definisi tentang mengajar. Pertama,menanamkan pengetahuan kepada anak. Kedua, mengajar adalah menyampaikan kebudayaan pada anak. Ketiga, mengajar adalah suatu aktivitas mengorganisasi atau mengatur lingkungan sebaik-baiknya dan menghubungkannya dengan anak sehingga terjadi proses belajar. Dan mengajar bukan sekedar menanamkan, menyampaikan, menghubungkan pengetahuan saja, melainkan menyangkut kegiatan membimbing dan melatih siswa untuk belajar. Oleh karena itu, seorang guru harus menguasai keterampila dasar mengajar.

Keterampilan dasar mengajar merupakan berbagai keterampilan dasar yang terkait dengan faktor teknik mengajar. Turney (Majid, 2013) mengemukakan delapan keterampilan mengajar yang sangat memengaruhi kualitas pembelajaran, yaitu (1) keterampilan bertanya, (2) keterampilan memberi penguatan, (3) keterampilan mengajar kelompok kecil dan perorangan, (4) keterampilan menjelaskan, (5) keterampilan membuka dan menutup pembelajaran, (6) keterampilan membimbing diskusi kelompok kecil, (7) keterampilan mengelola kelas, (8) keterampilan mengadakan variasi. Agar pembelajaran berjalan dengan baik, guru perlu menguasai keterampilan membimbing diskusi kelompok kecil.

Kemampuan mengembangkan keterampilan dasar mengajar dilakukan mulai dari kegiatan awal (membuka), kegiatan inti, sampai kegiatan akhir (menutup) pembelajaran. Sebagaimana Abdul Majid (2013) mengatakan bahwa hal ini menunjukkan bahwa guru/pendidik dituntut untuk memiliki pemahaman mengenai syntac presentation dan pemahaman tentang instructional events (peristiwa pembelajaran).

Abdul Majid (2013) mengemukakan bahwa diskusi kelompok adalah suatu proses yang teratur yang melibatkan sekelompok orang dalam interaksi tatap muka yang informal dengan berbagai pengalaman atau informasi, pengambilan kesimpulan atau pemecahan masalah. Selain itu, ia juga mengungkapkan bahwa diskusi kelompok merupakan strategi yang memungkinkan siswa menguasai suatu konsep atau memecahkan suatu masalah melalui suatu proses yang memberi kesempatan untuk berpikir, berinteraksi sosial, serta berlatih bersikap positif. Djamarah (Merry Safitri, 2014) mengatakan bahwa diskusi kelompok kecil merupakan suatu proses yang teratur melibatkan sekelopok individu dalam suatu interaksi tatap muka secara kooperatif untuk tujuan membagi informasi, membuat keputusan, dan memecahkan masalah.

Diskusi kelompok kecil merupakan salah satu bentuk kegiatan pembelajaran yang cukup sering digunakan. I.G.A.K Wardani (2005) menyebutkan ciri-ciri “diskusi kelompok kecil” adalah:

  1. Melibatkan 3-9 orang peserta,
  2. Berlangsung dalam interaksi tatap muka yang informal, artinya setiap anggota dapat berkomunikasi langsung dengan anggota lainnya,
  3. Mempunyai tujuan yang dicapai dengan kerjasama antar anggota, serta
  4. Berlangsung menurut proses yang sistematis.

Keterampilan membimbing diskusi kelompok kecil menurut Hasibuan dan Mulyasa (Majid, 2013) bertujuan sebagai berikut:

  1. Siswa dapat saling memberi informasi atau pengalaman dalam menjelajahi gagasan baru atau masalah yang harus dipecahkan mereka,
  2. Siswa dapat mengembangkan pengetahuan dan kemampuan untuk berpikir dan berkomunikasi,
  3. Siswa terlibat dalam perencanaan dan pengambilan keputusan.

Menurut Moch. Uzer Usman (2013) komponen-komponen keterampilan membimbing diskusi yaitu meliputi:

  1. Memusatkan perhatian siswa pada tujuan dan topik diskusi. Caranya adalah sebagai berikut: 1) Rumuskan tujuan dan topik yang akan dibahas pada awal-awal diskusi. 2) Kemukakan masalah-masalah khusus. 3) Catat perubahan atau penyimpangan diskusi dari tujuan. 4) Rangkum hasil pembicaraan dalam diskusi.
  2. Memperluas masalah atau urunan pendapat. Selama diskusi berlangsung sering terjadi penyampaian ide yang kurang jelas hingga sukar ditangkap oleh anggota kelompok, yang akhirnya menimbulkan kesalahpahaman hingga keadaan dapat menjadi tegang. Dalam hal demikian tugas guru dalam memimpin diskusi untuk memperjelasnya, yakni dengan cara: 1) Menguraikan kembali atau merangkum urunan tersebut hingga menjadi jelas. 2) Meminta komentar siswa dengan mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang membantu mereka memperjelas atau mengembangkan ide tersebut. 3) Menguraikan gagasan siswa dengan memberikan informasi tambahan atau contoh-contoh yang sesuai hingga kelompok memperoleh pengertian yang lebih jelas.
  3. Menganalisis pandangan siswa. Di dalam diskusi sering terjadi perbedaan di antara anggota kelompok. Dengan demikian guru hendaklah mampu menganalisis alasan perbedaan tersebut dengan cara sebagai berikut: 1) Meneliti apakah alasan tersebut memang mempunyai dasar yang kuat. 2) Memperjelas hal-hal yang disepakati dan yang tidak disepakati.
  4. Meningkatkan urunan siswa. Beberapa cara untuk meningkatkan urunan pikir siswa adalah: 1) Mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang menantang siswa untuk berpikir. 2) Memberikan contoh-contoh verbal atau nonverbal yang sesuai dan tepat. 3) Memberikan waktu untuk berpikir. 4) Memberikan dukungan terhadap pendapat siswa dengan penuh perhatian.
  5. Menyebarkan kesempatan berpartisipasi. Penyebaran kesempatan berparitisipasi dapat dilakukan dengan cara: 1) Mencoba memancing urunan siswa yang enggan berpartisipasi dengan mengarahkan pertanyaaan langsung secara bijaksana. Misalnya, “Bapak (Ibu) yakin bahwa Nita dapat menjawab. Coba, Nita! 2) Mencegah terjadinya pembicaraan serentak dengan memberi giliran kepada siswa yang pendiam terlebih dahulu. 3) Mencegah secara bijaksana siswa yang suka memonopoli pembicaraan. 4) Mendorong siswa untuk mengomentari urunan temannya hingga interaksi antarsiswa dapat ditingkatkan.
  6. Menutup diskusi. Keterampilan akhir yang harus dikuasai oleh guru adalah menutup diskusi. Hal ini dapat dilakukan dengan cara sebagai berikut: 1) Membuat rangkuman hasil diskusi dengan bantuan para siswa. Ini lebih efektif daripada bila rangkuman hanya dibuat sendiri oleh guru. 2) Memberi gambaran tentang tindak lanjut hasil diskusi ataupun tentang topik diskusi yang akan datang. 3) Mengajak siswa untuk menilai proses maupun hasil diskusi yang telah dicapai.

Agung Budi Kurniawan dan Saptanto Hari Wibawa (2014) mengungkapkan mengenai hal-hal yang harus dihindari dalam memimpin diskusi siswa adalah:

  1. Tidak memonitor jalannya diskusi karena sepenuhnya diserahkan kepada siswa.
  2. Hanya fokus pada siswa-siswa yang dianggap aktif sehingga yang lainnya hanya terlihat menonton diskusi.
  3. Memonopoli jalannya diskusi dari segi materi dan kegiatan.
  4. Membiarkan siswa tidak bertanya.
  5. Tidak mengoreksi pendapat atau sudut pandang siswa yang keliru.
  6. Membiarkan diskusi keluar dari topik materi utama.
  7. Tidak merangkum proses dan hasil diskusi dan tidak menyampaikan kepada siswa.
  8. Tidak menutup diskusi dengan baik.

Keterampilan membimbing diskusi kelompok kecil memiliki dua prinsip menurut Hasibuan dan Wardani (Majid, 2013):

  1. Diskusi hendaknya berlangsung dalam “iklim terbuka”. Hal ini ditandai dengan adanya keantusiasan berpartisipasi, kehangatan hubungan antar pribadi, kesediaan menerima dan mengenal lebih jauh topik diskusi, dan kesediaan menghargai pendapat orang lain. Dengan demikian, semua anggota kelompok mempunyai keinginan untuk dikenal dan dihargai, dapat merasa aman dan bebas mengemukakan pendapat.
  2. Perlu perencanaan dan persiapan yang matang, antara lain: 1) Topik yang dipilih hendaknya sesuai dengan tujuan yang akan dicapai, minat, dan kemampuan siswa. 2) Masalah hendaknya mengandung jawaban yang kompleks, bukan jawaban yang tunggal. 3) Adanya informasi pendahuluan yang berhubungan dengan topik tersebut agar para siswa memiliki latar belakang pengetahuan yang sama sehingga mampu memberikan penjelasan dan pertanyaan-pertanyaan yang dapat memotivasi siswa.

Diskusi kelompok memiliki kelebihan dan kelemahan seperti yang disebutkan oleh Soli Abimanyu, dkk (2008) adalah sebagai berikut:

Kelebihan keterampilan diskusi

  1. Siswa dapat menguasai materi pelajaran secara bersama-sama.
  2. Merangsang siswa untuk lebih kreatif menyumbangkan gagasan dan ide-ide.
  3. Melatih siswa membiasakan diri bertukar pikiran mengatasi setiap permasalahan.
  4. Melatih siswa mengemukakan pendapat dan menghargai pendapat orang lain.
  5. Menyajikan materi yang tidak bisa disajikan oleh metode lain.

Kelemahan keterampilan diskusi

  1. Sering diskusi dikuasai oleh dua atau tiga orang siswa yang pandai bicara.
  2. Pembahasan dalam diskusi cenderung meluas, sehingga hasilnya kabur.
  3. Diskusi memerlukan waktu yang cukup panjang, sehingga tidak sesuai dengan jadwal pelajaran yang ada.
  4. Dalam diskusi sering terjadi perbedaan pendapat yang bersifat emosional sehingga menimbulkan ketersinggungan antar siswa yang menyebabkan terganggunya iklim pembelejaran.
  5. Kadang-kadang guru tidak menguasai cara menyelenggarakan diskusi sehingga diskusi cenderung menjadi tanya jawab.

Mulyasa (2013) mengemukakan bahwa melalui diskusi kelompok kecil dalam pembelajaran, memungkinkan peserta didik:

  1. Berbagi informasi dan pengalaman dalam pemecahan suatu masalah.
  2. Meningkatkan pemahaman terhadap masalah yang penting dalam pembelajaran,
  3. Meningkatkan keterlibatan dalam perencanaan dan pengambilan keputusan.
  4. Mengembangkan kemampuan berpikir dan berkomunikasi.
  5. Membina kerjasama yang sehat dalam kelompok yang kohesif dan bertanggung jawab.

Beberapa hal yang perlu dipersiapkan guru agar diskusi kelompok kecil dapat digunakan secara efektif dalam pembelajaran adalah topik yang sesuai, pembentukan kelompok secara tepat, serta pengaturan tempat duduk yang memungkinkan semua peserta didik dapat berpartisipasi secara aktif.

SIMPULAN

Pendidikan merupakan sarana penting untuk mendapatkan sumber daya manusia yang berkualitas. Pendidikan dapat diberikan melalui kegiatan belajar-mengajar atau pembelajaran. Dalam kegiatan pembelajaran terdapat beberapa keterampilan dasar mengajar yang sangat berkaitan dengan teknik mengajar, yaitu (1) keterampilan bertanya, (2) keterampilan memberi penguatan, (3) keterampilan mengajar kelompok kecil dan perorangan, (4) keterampilan menjelaskan, (5) keterampilan membuka dan menutup pembelajaran, (6) keterampilan membimbing diskusi kelompok kecil, (7) keterampilan mengelola kelas, (8) keterampilan mengadakan variasi. Agar dapat melaksanakan kegiatan pembelajaran dengan lancar, guru perlu untuk menguasai keterampilan membimbing diskusi kelompok kecil.

Diskusi kelompok adalah suatu proses yang teratur yang melibatkan sekelompok orang dalam interaksi tatap muka yang informal dengan berbagai pengalaman atau informasi, pengambilan kesimpulan atau pemecahan masalah. Komponen-komponen yang harus dikuasai guru dalam keterampilan membimbing diskusi agar dapat berlangsung dengan baik adalah:

  1. Memusatkan perhatian siswa pada tujuan dan topik diskusi,
  2. Memperluas masalah atau urunan pendapat,
  3. Menganalisis pandangan siswa,
  4. Meningkatkan urunan siswa,
  5. Menyebarkan kesempatan berpartisipasi,
  6. Menutup diskusi.

Keterampilan membimbing diskusi memiliki dua prinsip yang harus dipenuhi dalam pelaksanaannya yaitu diskusi harus berlangsung dalam iklm terbuka, artinya semua anggota mempunyai keinginan untuk dikenal dan dihargai, dapat merasa aman dan bebas dalam mengemukakan pendapat serta memerlukan perencanaan dan persiapan yang matang. Beberapa hal yang perlu dipersiapkan guru agar diskusi kelompok kecil dapat digunakan secara efektif dalam pembelajaran adalah topik yang sesuai, pembentukan kelompok secara tepat, serta pengaturan tempat duduk yang memungkinkan semua peserta didik dapat berpartisipasi secara aktif.

DAFTAR PUSTAKA

Kurniawan, S. h. (2014). Pelatihan Pengajaran Micro Teaching. Surakarta: Oase Pustaka.

Majid, A. (2013). Strategi Pembelajaran. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.

Merry Safitri, d. (2014). Keterampilan Membimbing Diskusi Kelompok Kecil Oleh Guru Bahasa Indonesia di Kelas VII SMP Laboratorium UNDHIKSA. Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia , 2.

Mulyasa, E. (2013). Menjadi Guru Profesional: Menciptakan Pembelajaran Kreatif dan Menyenangkan. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.

Soli Abimanyu, d. (2008). Bahan Ajar Cetak Strategi Pembelajaran 3 SKS. Jakarta: Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi Departemen Pendidikan Nasional.

Usman, M. U. (2013). Menjadi Guru Profesional. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.

Wardani, I. (2005). Pemantapan Kemampuan Mengajar. Jakarta: Universitas Terbuka.

Wibawa, A. B. (2014). Pelatihan Pengajaran Micro Teaching. Surakarta: Oase Pustaka.

 

____________

Disusun Oleh: Hanggrit Juwita Kornelia

Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar

STKIP PGRI Pacitan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s