Teknik Mengajar pada Kelompok Kecil dan Perorangan

Pendidikan secara umum merupakan segala upaya yang direncanakan untuk mempengaruhi orang lain baik individu, kelompok, atau masyarakat sehingga mereka melakukan apa yang diharapkan oleh pelaku pendidikan (Notoatmodjo, 2012).

Pendidikan harus mampu melayani dan mengembangkan siswa sesuai dengan potensi, minat, dan bakat yang telah dimilikinya. Pendidikan sebagai upaya untuk memanusiakan manusia, memiliki makna bahwa proses pendidikan dan pembelajaran yang dilakukan harus bisa memberikan pelayanan yang optimal kepada setiap siswa baik untuk memenuhi kebutuhan bersifat kelompok maupun kebutuhan individual. Salah satu implikasi untuk mewujudkan pelayanan yang dapat memenuhi karakteristik siswa yang berbeda-beda itu adalah dengan menerapkan model mengajar secara berkelompok atau perorangan atau disebut dengan keterampilan mengajar kelompok kecil dan perorangan (Agustina, 2012).

Pendidikan dan pembelajaran di satu sisi harus dapat mengantarkan siswa dalam kebersamaan, artinya mengembangkan kehidupan sosial. Di sisi lain setiap siswa juga memiliki kebutuhan yang bersifat individual. Pendidikan dan pembelajaran yang efektif adalah yang dapat memenuhi adanya kebersamaan di samping terpenuhinya kebutuhan secara individual.

Dalam pengajaran klasikal, kebutuhan siswa secara individu belum dapat terlayani secara maksimal, guru biasanya hanya memperhatikan kebutuhan siswa pada umumnya saja. Adapun karakteristik yang bersifat individual belum dapat terlayani secara optimal. Oleh karena itu, guru secara profesional selain guru harus melayani siswa secara klasikal juga jangan mengabaikan kebutuhan siswa secara individual. Keterampilan dasar mengajar kelompok kecil dan perorangan adalah salah satu cara yang dapat dilakukan untuk memfasilitasi sistem pembelajaran yang dibutuhkan oleh siswa baik secara klasikal maupun individu. Mengajar kelompok kecil dan perorangan merupakan suatu bentuk pembelajaran yang memungkinkan guru memberikan perhatian terhadap setiap peserta didik, dan menjalin hubungan yang lebih akrab antara guru dengan peserta didik maupun antara peserta didik dengan peserta didik (Soegito, 2010).

Selain itu, keterampilan ini akan meningkatkan pemahaman guru dan siswa yang terlibat, serta pemahaman dalam mengorganisasi proses interaksi edukatif. Hubungan interpersonal, sosial, dan mengorganisasi adalah hal yang penting untuk menyukseskan mengajar kelompok kecil dan perorangan. Karena itu guru harus memiliki keterampilan melakukan hubungan antar pribadi, bila ingin mengaplikasi keterampilan mengajar kelompok kecil dan perorangan.

 

Pengertian

Pengertian keterampilan adalah kemampuan untuk menggunakan akal fikiran ide dan krativitas dalam mengerjakan, mengubah ataupun membuat sesuatu lebih bermakna sehingga menghasilkan sebuah nilai dari hasil pekerjaan tersebut. Keterampilan mengajar kelompok kecil dan perorangan adalah kemampuan guru/instruktur/widyaswara dalam mengembangkan terjadinya hubungan interpersonal yang sehat dan akrab antara guru dan siswa, maupun antara siswa dan siswa, baik dalam kelompok kecil maupun perorangan.

Menurut (Sukiman, 2008), mengajar kelompok kecil dan perorangan adalah salah satu cara yang dapat dilakukan oleh guru untuk dapat memfasilitasi sistem pembelajaran yang dibutuhkan oleh siswa baik secara klasikal maupun individu. Keterampilan mengajar kelompok kecil dapat dilakukan dengan: 1) Mengembangkan keterampilan dalam pengorganisasian dengan memberikan motivasi dan membuat variasi dalam pemberian tugas. 2) Membimbing dan memudahkan belajar, yang mencakup penguatan, proses awal, supervisi, dan interaksi pembelajaran. 3) Perencanaan penggunaan ruangan. 4) Pemberian tugas yang jelas, menantang, dan menarik.

Mengajar kelompok kecil dan perorangan, terjadi dalam konteks pengajaran klasikal. Di dalam kelas, seorang guru mungkin menghadapi banyak kelompok kecil serta banyak siswa yang masing-masing diberi kesempatan belajar secara kelompok dan perorangan. Penguasaan keterampilan mengajar kelompok kecil dan perorangan memungkinkan guru/instruktur mengelola kegiatan jenis ini secara efektif dan efisien serta memainkan perannya sebagai: 1) Organisator kegiatan pembelajaran. 2) Sumber informasi bagi siswa. 3) Pendorong bagi siswa untuk belajar. 4) Penyedia materi dan kesempatan belajar bagi siswa. 5) Pendiagnosis dan pemberi bantuan kepada siswa sesuai dengan kebutuhan. 6) Peserta kegiatan yang punya hak dan kewajiban seperti peserta lainnya (Wardani, 2005).

 

Komponen

Menurut (Mulyasa, 2013), pengajaran kelompok kecil dan perorangan masing-masing memerlukan keterampilan yang berkaitan dengan penanganan siswa dan penanganan tugas. Ada 7 komponen keterampilan yang perlu dikuasai oleh guru dalam kaitan ini, yaitu sebagai berikut:

  1. Memusatkan perhatian siswa pada tujuan dan topik diskusi. Caranya adalah sebagai berikut: 1) Rumuskan tujuan dan topik yang akan dibahas pada awal diskusi. 2) Kemukakan masalah-masalah khusus. 3) Catat perubahan atau penyimpangan diskusi dari tujuan. 4) Rangkum hasil pembicaraan dalam diskusi.
  2. Memperluas masalah atau urunan pendapat. Selama diskusi berlangsung sering terjadi penyimpangan ide yang kurang jelas hingga sukar ditangkap oleh anggota kelompok, yang akhirnya menimbulkan kesalahpahaman hingga keadaan dapat menjadi tegang. Dalam hal demikian tugas guru dalam memimpin diskusi untuk memperjelasnya, yakni dengan cara: 1) Menguraikan kembali atau merangkum urunan tersebut hingga menjadi jelas. 2) Meminta komentar siswa dengan mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang membantu mereka memperjelas atau mengembangkan ide tersebut. 3) Menguraikan gagasan siswa dengan memberikan informasi tambahan atau contoh-contoh yang sesuai hingga kelompok memperoleh pengertian yang lebih jelas.
  3. Menganalisis pandangan siswa. Di dalam diskusi sering terjadi perbedaan di antara anggota kelompok. Dengan demikian guru hendaklah mampu menganalisis alasan perbedaan tersebut dengan cara sebagai berikut: 1) Meneliti apakah alasan tersebut memang mempunyai dasar yang kuat. 2) Memperjelas hal-hal yang disepakati dan yang tidak disepakati.
  4. Meningkatkan urunan siswa. Beberapa cara untuk meningkatkan urunan pikir siswa adalah: 1) Mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang menantang siswa untuk berpikir. 2) Memberikan contoh-contoh verbal dan nonverbal yang sesuai dan tepat. 3) Memberikan waktu untuk berfikir. 4) Memberikan dukungan terhadap pendapat siswa dengan penuh perhatian.
  5. Menyebarkan kesempatan berpatisipasi. Penyebaran kesempatan berpartisipasi dapat dilakukan dengan cara: 1) Mencoba memancing urunan siswa yang enggan berpartisipasi dengan mengarahkan pertanyaan langsung secara bijaksana. 2) Mencegah terjadinya pembicaraan serentak dengan memberi giliran kepada siswa yang pendiam terlebih dahulu. 3) Mencegah secara bijaksana siswa yang suka memonopoli pembicaraan. 4) Mendorong siswa untuk mengomentari urunan temannya hingga interaksi antarsiswa dapat ditingkatkan.
  6. Menutup diskusi. Keterampilan akhir yang harus dikuasai oleh guru adalah menutup diskusi. Hal ini dapat dilakukan dengan cara sebagai berikut: 1) Membuat rangkuman hasil diskusi dengan bantuan para siswa. Ini lebih efektif daripada bila rangkuman hanya dibuat sendiri oleh guru. 2) Memberi gambaran tentang tindak lanjut hasil diskusi ataupun tentang topik diskusi yang akan datang. 3) Mengajak siswa untuk menilai proses maupun hasil diskusi yang telah dicapai
  7. Hal-hal yang harus diperhatikan; 1) Mendominasi diskusi sehingga siswa tidak diberi kesempatan. 2) Membiarkan siswa tertentu memonopoli diskusi. 3) Membiarkan terjadinya penyimpangan dari tujuan diskusi dengan pembicaraan yang tidak relevan. 4) Membiarkan siswa yang enggan berpartisipasi. 5) Tidak memperjelas atau mendukung urunan pikir siswa. 6)Gagal mengakhiri diskusi secara efektif.

 

Prinsip Penggunaan

Yakni: 1) Variasi pengorganisasian kelas besar, kelompok, perorangan disesuaikan dengan tujuan yang hendak dicapai, kemampuan siswa, ketersediaan vasilitas, waktu, serta kemampuan guru/instruktur. 2) Tidak semua topik dapat dipelajari secara efektif dalam kelompok kecil dan perorangan. Informasi umum sebaiknya disampaikan secara klasikal. 3) Pengajaran kelompok kecil yang efektif selalu diakhiri dengan suatu kulminasi berupa rangkuman, pemantapan, kesepakatan, laporan, dan sebagainya. 4) Guru/instruktur perlu mengenal siswa secara perorangan (individual) agar dapat mengatur kondisi belajar dengan tepat. 5) Dalam kegiatan belajar perorangan, siswa dapat bekerja secara bebas dengan bahan yang telah disiapkan guru/instruktur (Wardani, 2005).

 

Peran Guru

Menurut (Usman, 2008), beberapa peran guru dalam pembelajaran kelompok kecil dan perorangan sebagai berikut:

  1. Sebagai motivator. Artinya guru memposisikan diri sebagai penggerak, yang menumbuhkan semangat dan kekuatan belajar bagi siswa.
  2. Sebagai fasilitator. Di sini guru menciptakan lingkungan belajar untuk kelancaran proses pembelajaran dan memberi kemudahan bagi siswa sebagai pelajar.
  3. Organisator pembelajaran. Guru mengelola pembelajaran sehingga dapat berjalan secara efektif dan efisien.
  4. Multi metode dan media. Guru menggunakan metode dan media yang bervareasi, tidak terpaku pada satu metode saja.
  5. Pola interaksi pembelajaran. Artinya adanya interaksi antara guru dan siswa, siswa dan siswa, serta siswa dan lingkungan.
  6. Pemanfaatan sumber pembelajaran secara luas dan bervareasi. Di sini guru merangsang siswa untuk menggunakan berbagai sumber belajar, agar siswa dapat mengembangkan bakat dan keinginannya demi mencapai hasil belajar yang lebih baik lagi.
  7. Mendiagnosis kesulitan belajar siswa. Mencermati permasalahan yang dihadapi siswa, dan dengan kelompok kecil ini siswa akan mudah dan bebas menyampaikan permasalahan atau kesulitannya, sehingga guru dapat menyimpulkan kesulitan yang dihadapi siswa dan cara mengatasinya.

 

Syarat-syarat

Menurut (Darmadi, 2010), pembelajaran akan efektif dan produktif mencapai tujuannya, apabila pembelajaran tersebut berkondisi: 1) Mempunyai iklim semangat. 2) Sangat kohensif. 3) Ada rasa tanggung jawab. 4) Ada rasa keanggotaan yang kuat pada para anggotanya.

 

Pola Penggunaan

Menurut (Chaerany, 2015), ada empat pola pengorganisasian yang bervareasi dalam melaksanakan pengajaran kelompok kecil dan perorangan, antara lain:

 

Kelas besar Kelompok kecil Kelas besar

 

Dalam pola ini kegiatan belajar mengajar di kelas dimulai dengan pertemuan klasikal (kelas besar) untuk memberikan informasi umum yang diperlukan siswa untuk mengikuti kegiatan belajar mengajar. Informasi yang diberikan kepada siswa antara lain: 1) Pokok bahasan yang akan dikerjakan. 2) Tugas-tugas yang akan dikerjakan. 3) Langkah-langkah menyelesaikan tugas. 4) Informasi lain yang diperlukan

Setelah itu, siswa diberi kesempatan untuk memilih kegiatan dengan bekerja dalam kelompok kecil atau bekerja perorangan. Setelah siswa menyelesaikan tugas-tugas yang diberikan dalam kelompok kecil atau perorangan, kegiatan belajar mengajar berikutnya adalah mengikuti pertemuan klasikal kembali untuk melaporkan tugas-tugas yang mereka kerjakan.

 

Kelas besar Kelompok kecil Kelompok kecil Kelas besar

 

Dalam pola ini, pertama siswa mengikuti penjelasan secara klasikal mengenai pokok-pokok bahasan yang akan dipelajari, tugas-tugas yang akan dikerjakan, serta langkah-langkah melaksanakan tugas tersebut. Kedua, siswa diminta untuk bekerja dalam kelompok-kelompok kecil untuk mengerjakan tugas-tugas yang diberikan oleh guru. Kemudian, siswa diminta melaporkan hasil-hasil yang diperoleh dari pengetahuan dalam kelompok kecil dalam kelas (laporan secara klasikal).

 

Kelas besar Perorangan Kelompok kecil Kelas besar

 

Dalam pola ini pertemuan diawali dengan penjelasan umum mengenai materi pelajaran yang akan dipelajari, serta tugas-tugas yang akan dikerjakan siswa. Setelah mengikuti penjelasan umum, siswa langsung mengerjakan tugas-tugas yang diberikan guru secara perorangan, kemudian siswa diminta bergabung dalam kelompok kecil untuk membahas hasil yang telah diperoleh dari bekerja secara perorangan untuk didiskusikan bersama dalam kelompok kecil. Setelah itu, siswa diminta untuk melaporkan hasil yang diperoleh dalam kegiatan kelompok kecil kepada seluruh siswa dalam kelas.

 

Kelas besar Perorangan + Perorangan Kelas besar

Proses belajar mengajar dimulai dengan pemberian penjelasan umum kepada siswa mengenai materi yang akan dipelajari, serta tugas-tugas yang akan dikerjakan oleh siswa. Selain itu, siswa diminta bekerja secara perorangan untuk melaksanakan tugas yang diberikan oleh guru. Kemudian siswa diminta melaporkaannya di kelas (secara klasikal).

 

Simpulan

Keterampilan dasar mengajar kelompok kecil dan perorangan merupakan salah satu cara yang dapat dilakukan untuk dapat memfasilitasi sistem pembelajaran yang dibutuhkan oleh siswa yang baik secara klasikal maupun individu. Oleh karena itu keterampilan mengajar ini harus dilatih dan dikembangkan, sehingga para calon guru atau guru dapat memiliki banyak pilihan untuk dapat melayani siswa dalam melakukan proses pembelajaran.

Adapun komponen keterampilan mengajar kelompok kecil dan perorangan yaitu

memusatkan perhatian siswa pada tujuan dan topik diskusi, memperluas masalah atau urunan pendapat, menganalisis pandangan siswa, menyebarkan kesempatan berpatisipasi, menutup diskusi, dan hal yang perlu diperhatikan dalam mengajar kelompok kecil dan perorangan.

Peran guru dalam mengajar kelompok kecil dan perorangan yaitu sebagai motivator, sebagai fasilitator, organisator pembelajaran, multi metode dan media, pola interaksi pembelajaran,  pemanfaatan sumber pembelajaran secara luas dan bervareasi, dan mendiagnosis kesulitan belajar siswa.

Kemudian terdapat empat pola penggunaan pengajaran kelompok kecil dan kerorangan dalam kelas yaitu:

  1. Kelas besar → Kelompok kecil → Kelas besar
  2. Kelas besar → Kelompok kecil → Kelompok kecil → Kelas besar
  3. Kelas besar → Perorangan → Kelompok kecil → Kelas besar
  4. Kelas besar → Perorangan + Perorangan → Kelas besar

Maka dari itu, dapat disimpulkan bahwa keterampilan mengajar kelompok kecil dan perorangan merupakan pelayanan kebutuhan peserta didik berdasarkan individualnya, menciptakan proses belajar, dan mengajar aktif dan efektif, serta merangsang tumbuh kembangnya kemampuan optimal peserta didik.

 

DAFTAR PUSTAKA

Agustina, D. N. (2012, September 21). Mengajar Kelompok Kecil dan Perorangan. Retrieved April 05, 2017, from http://dheanurulagustina.blogspot.co.id/2012/09/pembelajaran-kelas-kecil-dan-perorangan.html

Chaerany, I. (2015, Juni 11). Keterampilan Mengajar Kelompok Kecil dan Perorangan. Retrieved April 6, 2017, from http://isnachaerany.blogspot.co.id/2015/06/keterampilan-mengajar-kelompok-kecil.html

Darmadi, H. (2010). Kemampuan Dasar Mengajar. Bandung: Alfabeta.

Mulyasa. (2013). Menjadi Guru Profesional Menciptakan Pembelajaran Kreatif dan Menyenangkan. Bandung: PT. Remaja Rosdakarya.

Notoatmodjo, S. (2012). Pendidikan dan Perilaku Kesehatan. Jakarta: PT. Rineka Cipta.

Soegito, E. (2010). Kemampuan Dasar Mengajar. Jakarta: Universitas Terbuka.

Sukiman, D. (2008). Pembelajaran Mikro. Bandung: Upi Press.

Usman, U. (2008). Menjadi Guru Profesional. Bandung: PT. Remaja Rosdakarya.

Wardani, I. (2005). Pemantapan Kemampuan Mengajar (PKM). Jakarta: Universitas Terbuka.

 

________________

Oleh: Ivena Dewan Saputri

Prodi Pendidikan Guru Sekolah Dasar

STKIP PGRI Pacitan

Satu komentar pada “Teknik Mengajar pada Kelompok Kecil dan Perorangan”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s