index

Pemboikotan Menyeluruh: Meski Diboikot, tetap ‘Berotot’

Prestasi dan kesabaran Nabi Muhammad Saw. dalam mengenalkan Islam kepada bangsa Quraish membuat orang kafir merasa bingung. Mereka mulai mencari cara yang tepat untuk menghentikan pengaruh Rasulullah terhadap masyarakat Quraish pada saat itu. Hal yang membuat mereka terpukul adalah masuknya Umar bin Khatab ke dalam Islam. Ditambah dengan kegagalan mereka untuk membujuk Rasulullah untuk meninggalkan dakwahnya yang justru memperkuat posisi Islam di Makkah dan sekitarnya.

Menguatkan daya tawar Islam, memperkeras reaksi kaum kafir Quraish. Mereka mencari cara yang baru untuk menghentikan pengaruh Rasulullah. Dukungan bani Hasyim yang semakin menguat juga membuat mereka gusar. Dari sinilah boikot dimulai. Ia berpikir jika Bani Hasyim lumpuh, maka lumpuh pula kekuatan Muhammad Saw. Dan bani hasyim pun di putus hubungan dalam segala bidang. Dalam boikot ini, tidak hanya bani hasyim saja yang menjadi korban. Boikot juga terjadi kepada bani Abdul Mutholib. Tak kurang selama 3 (tiga) tahun, mereka terkekang di dalam tanah kelahirannya sendiri. Kejadian ini bermula pada bulan Muharram tahun ke-7 kenabian atau bertepatan dengan tahun 616 M.

 Bermula dari Bani Hasyim

Pilihan yang sulit bagi kaum kafir Quraish untuk menyusun strategi memusnahkan Muhammad Saw. dan ajarannya. Pasca masuknya Umar bin Khatab, memang kafir Quraish seakan-akan nampak putus asa.

Umar biasa sholat di depan Ka’bah dan mengajak muslim lainnya untuk sholat bersamanya. Terkadang ia ditemani oleh Hamzah. Ketika Umar datang, para pemuka Quraish akan menyingkir. Bila mereka tetap berdiri di situ sementara Umar bersama yang lain melalukan sholat, maka mereka merasa harga dirinya akan hancur. Namun, jika mereka mencegah dan melakukan perlawanan, tentu saja Umar tidak hanya perpangku tangan. Dan rasa putus asa itu terjadi. Pilihannya adalah boikot.

Para punggawa Quraish bertekat untuk tidak membiarkan Muhammad Saw. dan pengikutnya berkhayal bahwa dirinya telah mengalahkan mereka. Di bawah tekanan Abu Jahal, mereka memutuskan melakukan pemboikotan terhadap seluruh Bani Hasyim. Namun, hal ini tidak berlaku bagi Abu Lahab. Ia adalah bagian dari keturunan Bani Hasyim. Ia bersikeras untuk melindungi sanak keluarga mereka, baik yang percaya atau yang tidak percaya dengan Muhammad Saw.

Pemboikotan ini berlaku sampai Bani Hasyim sendiri yang melarang Muhammad Saw. atau hingga Muhammad Saw. sendiri yang menarik segala ucapannya dan pengakuannya tentang kenabiannya. Tidak kurang empat puluhan pemuka Quraish menyetujui dan beberapa diantaranya harus mengalah.

Pada proses ini, Bani Mutholib menolak untuk ikut serta dalam pemboikotan terhadap sepupu-sepupu mereka. Karena tindakan ini akhirnya Bani Mutholib ikut serta menjadi korban pemboikotan oleh kafir Quraish. Isi dari dokumen atau piagam itu kemudian dipampang di sisi Ka’bah hingga terbaca oleh semua orang.

 Kesepakatan yang Sepihak

Legalisasi pemboikotan ini berupa piagam yang ditandatangani para pemuka Quraish. Piagam yang asli ditempel di dinding Ka’bah. Sementara itu, salinannya ditempel di tempat-tempat yang strategis di kota itu. Isi dari piagam tersebut diantaranya: 1) Muhammad Saw. dan keluarganya serta para pengikutnya tidak diperbolehkan menikah dengan bangsa Quraish lainnya, baik laki-laki maupun perempuan. 2) Muhammad Saw. dan keluarganya serta pengikutnya tidak diperbolehkan mengadakan hubungan jual beli dengan kaum Quraish lainnya. 3) Muhammad Saw. dan keluarganya serta pengikutnya tidak diperbolehkan bergaul dengan kaum Quraish lainnya. 4) Kaum Quraish tidak diperkenankan membantu dan menolong Muhammad Saw. beserta keluarga dan pengikutnya. 5) Kaum Quraish tidak diperkenankan berbicara dan menengok Muhammad Saw. beserta keluarga dan pengikutnya yang sedang sakit. 6) Kaum Quraish tidak menerima permintaan damai dengan Muhammad Saw. beserta keluarga dan pengikutnya, sehingga menyerahkan Muhammad Saw. untuk dibunuh.

Persetujuan yang disetujui oleh sepihak inilah yang menjadikan Bani Hasyim dan Mutholib terkepung di lembah pegunungan dan terputus dari berbagai bentuk komunikasi dengan dunia luar. Akibatnya, kedua bani tersebut menderita kelaparan, kemiskinan, kesengsaraan yang tiada bandingnya saat itu.

Cadangan dan bahan makanan habis. Sementara orang-orang kafir Quraish memborong semua makanan yang masuk ke Mekkah. Demikian pula dengan barang-barang yang lainnya. Kalaupun ada bahan makanan yang masuk, maka hal itu dilakukan dengan cara sembunyi-sembunyi.

Kelaparan melanda. Tidak jarang terdengar suara para wanita dan anak-anak yang merintih karena kelaparan. Keadaan sangat mengenaskan. Mereka hanya bisa makan dedaunan dan kulit binatang. Begitu halnya dengan Muhammad Saw. Ia makan kulit unta yang sudah kering. Kulit unta itu direbus secara terus menerus. Oleh karena air pun tidak ada, maka kulit itu dipotong kecil-kecil kemudian dimasukkan ke dalam mulut, hingga kulit itu agak lumer karena air ludah dan bisa dikunyah dan ditelan.

Abu Thalib termasuk orang yang kena dampak boikot. Ia mulai sakit-sakitan karena gizi buruk. Namun ia selalu khawatir terhadap keselamatan Muhammad Saw. Jika semua orang sudah berbaring di tempat tidurnya, maka dia menyuruh beliau untuk tidur di atas tempat tidurnya, sehingga dia bisa tahu jika ada seseorang yang hendak menikam beliau secara sembunyi-sembunyi. Jika semua orang sudah tidur, dia menyuruh salah seorang anak, saudara atau kerabatnya untuk tidur bersama beliau, juga memerintahkan sebagian di antara mereka untuk membawa serta tempat tidurnya. Meski dengan kondisi yang demikian, Muhammad Saw. tetap keluar pada musim haji untuk menemui orang-orang dan menyerukan mereka untuk masuk ke dalam Islam.

Akhir dari Boikot

Setelah tiga tahun berjalan, pemboikotan tersebut tidak menunjukkan tanda-tanda yang sesuai dengan yang diharapkan. Justru dengan adanya boikot ini, perhatian terhadap Muhammad Saw. semakin besar. Dan perbincangan terhadap agama baru itu semakin ramai di seantero jazirah Arab.

Terlepas dari pertimbangan tersebut, beberapa orang Quraish mulai berpikir ulang tentang pemboikotan itu. Utamanya lagi bagi mereka yang memiliki ikatan atau hubungan dekat dengan para korban.

Orang pertama yang bertindak adalah Hisyam bin Amr. Hisyam berasal dari Bani Amir. Namun keluarganya memiliki hubungan pernikahan dengan Bani Hasyim. Di malam hari, ia sering membawa seekor unta yang membawa makanan, pakaian, atau barang-barang lain untuk masuk ke wilayah Abu Tholib. Caranya adalah dengan melepas ikatan unta dan kemudian punggungnya dipukul keras agar lari secepat-cepatnya melewati rumah-rumah mereka.

Hisyam sadar bahwa ia tidak mungkin bertindak sendiri untuk mengakhiri boikot. Ia kemudian mengajak Zuhayr bin Umayah dari Suku Makhzum. Zuhayr adalah salah seorang anak dari bibi Nabi yang bernama Atikah. Zuhayr kemudian mengajukan syarat kepada Hisyam yakni dengan memintanya untuk mencarikan orang ketiga. Dan bertemulah Hisyam dengan Muth’im bin Adi. Muthim berasal dari Bani Nawfal. Hubungan kekerabatannya adalah, cucu Nawfal adalah saudara Hasyim dan Mutholib. Muthim juga mengajukan syarat kepada Hisyam dengan mencarikan orang keempat. Bertemulah Hisyam dengan Abu Bakhtari bin Hisyam dari Suku Asad. Senada dengan rekan yang lainnya, Abu Bakhtari pun mengajukan syarat untuk mencarikan orang kelima. Hisyam  akhirnya menemui Zama’ah bin Aswad dari suku yang sama dengan Abu Bakhtari, Suku Asad. Berbeda dengan yang lainnya, Zama’ah tidak mengajukan syarat apapun. Mereka kemudian bersepakat untuk bertemu pada suatu malam di luar Hajun, disebelah atas Makkah. Di sanalah mereka merencanakan tindakan dan berjanji tidak akan membiarkan persoalan piagam itu hingga mereka berhasil melepasnya dari dinding Ka’bah.

Esok harinya, mereka bergabung dengan jamaah di masjid. Zuhayr berpakaian ikhrom sembari bertawaf di Ka’bah tujuh kali. Ia kemudian menghadap ke jamaah dan berkata, “Wahai penduduk Makkah! Apakah kita merasa enak makan dan mengenakan pakaian sementara keluarga Hasyim tersiksa tak dapat melakukan kegiatan jual beli? Demi Tuhan, aku tidak akan duduk diam sampai pemboikotan ini dihentikan”.

Seketika itu, sepupunya, Abu Jahal menyahut, “Engkau pembuat Zuhayr! Pemboikotan itu tidak boleh dihentikan”.

“Engkau lebih pembohong Jahal, kami tidak mendukung apa yang tertera di piagam bahkan semenjak piagam itu mulai ditulis”, bela Zam’ah.

“Zamah benar, kami tidak mendukung apa yang tertera di situ dan kai juga tidak memegangnya”, timpal Abu Al Bakhtari.

“Kalian berdua benar, dan siapa yang berkata tidak adalah pembohong. Kita akan menghadap Tuhan untuk menyaksikan kebenaran kami dan apa yang tertulis di piagam itu”, tambah Muthim.

Ketika Abu Jahal mulai menuduh mereka telah merencakan pembicaraan itu sepanjang malam, Muthim memotong pembicaraannya dan pergi ke Ka’bah untuk mengambil piagam itu. Ia keluar dengan kemenangan. Dan piagam yang tertulis diselembar kulit itu telah dimakan rayap, kecuali pada kalima pembuka yang bertuliskan ‘Dengan Namamu Ya Allah’.

Kondisi ini membuat mayoritas orang Quraish menyerah dengan pertanda yang tidak terduga ini. Abu Jahal beserta pengikutnya mulai sadar dan mengakhiri perdebatan. Pada saat itulah pemboikotan secara formal selesai. Kemudian sejumlah orang Quraish itu menyampaikan kabar gembira kepada Bani Hasyim dan Mutholib.

Pasca Boikot

Setelah pemboikotan dihapuskan, kehidupan kedua bani tersebut kembali normal. Mereka bebas melakukan kegiatan jual beli lagi. Mereka juga tidak ada larangan untuk menikah dengan siapapun. Untuk sementara waktu kekejaman terhadap kaum muslimin terlah berkurang. Dan berita gembira itu sampai juga ke Abyssina. Beberapa pengunggsi yang tinggal di sana bersiap untuk memulai hidup baru di Makkah. Sementara yang lainnya, misalnya Ja’far, memilih untuk tinggal dan menetap di Abyssina.[]

4 thoughts on “Pemboikotan Menyeluruh: Meski Diboikot, tetap ‘Berotot’”

  1. yaaaah.. kita beli stamina kalau kita lagi loyo ke-gym yuk!!! haaaa :p

  2. yaaaah.. kita beli stamina kalau kita lagi loyo, ke-gym yuk!!! haaaa :p

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s