Metode Pembelajaran Anti Korupsi

Sebelum mengembangkan model pendidikan anti korupsi di Indonesia, ada baiknya belajar dari pengalaman negara lain dalam melaksanakan pendidikan anti korupsi. Di China, diketahui bahwa seluruh peserta didik di jenjang pendidikan dasar diberikan mata pelajaran pendidikan anti korupsi. Tujuannya adalah untuk memberikan vaksin kapada pelajar dari akibat buruk yang ditimbulkan dari korupsi. Adapun harapan jangka panjangnya adalah generasi muda China dapat melindungi diri di tengah pengaruh yang kuat dari kejahatan korupsi.

Untuk berpartisipasi dalam gerakan pemberantasan korupsi ada dua hal yang dapat dilakukan oleh sekolah/madrasah. Pertama, proses pendidikan harus menumbuhkan kepedulian tulus, membangun penalaran obyektif dan mengembangkan perspektif universal pada individu. Kedua, pendidikan harus mengarah pada penyemaian strategis, yaitu kualitas pribadi individu yang konsekuen dan kokoh dalam keterlibatan politiknya. Integritas mensyaratkan bukan hanya kedewasaan dan kemauan, tetapi keberanian individu dalam mempertahankan kejujuran dan kesederhanaan sebagai prinsip dasar keterlibatan politik (Suwignyo, 2005).

Pernyataan tersebut sejalan dengan pandangan pendidikan konstruktivistik. Penanaman nilai anti korupsi dapat melalui model-model pendidikan yang dikembangkan oleh paradigma konstruktivistik. Konstruktivistik merupakan proses pembelajaran yang menerangkan bagaimana pengetahuan disusun dalam diri seseorang. Berdasarkan faham konstruktivistik, dalam proses belajar mengajar guru tidak serta merta memindahkan pengetahuan kepada peserta didik dalam bentuk yang serba sempurna. Peserta didik harus membangun suatu pengetahuan berdasarkan pengalaman masing-masing. Untuk membantu peserta didik dalam membina konsep atau pengetahuan baru, guru harus memperkirakan struktur kognitif yang ada pada mereka. Apabila pengetahuan baru telah disesuaikan dan diserap untuk dijadikan sebagian dari pegangan kuat mereka, barulah kerangka baru tentang suatu bentuk ilmu pengetahuan dapat dibina.

Menurut paradigma konstrutivistik pembelajaran lebih mengutamakan penyelesaian masalah, mengembangkan konsep, konstruksi solusi dan algoritma ketimbang menghafal prosedur dan menggunakannya untuk memperoleh satu jawaban benar. Pembelajaran lebih dicirikan oleh aktivitas eksperimentasi, pertanyaan-pertanyaan, investigasi, hipotesis, dan model-model yang dibangkitkan oleh peserta didik sendiri. Secara umum, terdapat 5 (lima) prinsip dasar yang melandasi kelas konstruktivistik, yaitu; 1) meletakkan permasalahan yang relevan dengan kebutuhan peserta didik, 2) menyusun pembelajaran di sekitar konsep-konsep utama, 3) menghargai pandangan peserta didik, 4) materi pembelajaran menyesuaikan terhadap kebutuhan peserta didik, dan 5) menilai pembelajaran secara kontekstual.

Pendidikan anti korupsi secara umum bertujuan untuk mengenalkan cara berfikir dan nilai-nilai baru kepada peserta didik. Dengan pendidikan anti korupsi ini, pemahaman peserta didik terhadap korupsi dibangun dengan baik sehingga pada akhirnya mampu mananamkan nilai-nilai anti korupsi dalam diri anak didik.

Lebih lanjut baca Bab IX Metode Pembelajaran Anti Korupsi. Halaman 121.

Cover buku anti korupsi

Mukodi & Afid Burhanuddin. 2014. Pendidikan Anti Korupsi: Rekonstruksi Interpretatif dan Aplikatif di Sekolah. Yogyakarta: Aura Pustaka, kerjasama dengan LPPM STKIP Pacitan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s