Tantangan Pembentukan Karakter

Karakter suatu masyarakat khususnya generasi muda adalah identitas masyarakat itu sendiri, yang diekspresikan dan dipancarkan dari kebudayaan masyarakat. Manusia harus dipandang sebagai subyek yang dapat berpikir, merancang kehidupan, dan memproduksi sesuatu. Peran negara hanya sebagai fasilitator jangan lagi mendominasi sebagai kekuasaan sentral.

Mengikuti perkembangan zaman dewasa ini pentingnya pendidikan karakter sabagai upaya untuk mewujudkan manusia yang berkualitas. Namun dewasa ini masyarakat maupun sekolah cenderung sekadar memacu siswa untuk memiliki kemampuan akademik tinggi tanpa diimbangi pembentukan karakter yang kuat dan cerdas. Upaya sekolah maupun orang tua agar murid atau anaknya mencapai nilai akademis tinggi sangat kuat, tapi mengabaikan hal-hal yang non akademis.

Pada jaman sekarang perhatian anak muda hanya terpusat kepada pembangunan ekonomi dengan orientasi ke fisik. Dengan karakter demikian tak mengherankan apabila di kalangan anak muda tumbuh subur sifat-sifat materialisme, praktek korupsi, kolusi, dan nepotisme (KKN), serta berbagai jenis perilaku tidak terpuji lainnya. Karakter anak muda saat ini sudah abai dari pembangunan kemanusiaan. Sejak tahun 1974 Koentjaraningrat sebagai Bapak Antropologi Indonesia sudah mengingatkan kita jauh hari tentang pentingnya pembangunan karakter bangsa.

Di era globalisasi ini seorang individu harus mampu mengikuti perkembangan zaman. Generasi muda dapat berperan menghadapi segala macam persaingan di era globalisasi, yang semakin ketat sekarang ini. Hendak ke mana generasi muda Indonesia ini dibawa?. Sebuah pertanyaan yang harus segera dicari jawabannya. Oleh karena itu, dalam makalah ini akan membahas tentang tantangan dalam pembentukan karakter.

Banyak kasus yang lebih ekstrim lain. Mulai dari kasus tawuran pelajar dan mahasiswa, perjokian dalam penerimaan mahasiswa baru atau pegawai negeri, penyuapan, makelar kasus dan perkara, perselingkuhan, korupsi dan drama memalukan anggota DPR yang sebenarnya memiliki latar pendidikan tinggi, namun memiliki karakter perilaku yang rendah. Semua itu menggambarkan kegagalan pendidikan kita dalam membangun karakter bangsa. Bahkan bila dicermati, penolakan dan ketakutan yang berlebihan terhadap pelaksanaan ujian nasional juga merupakan cermin kegagalan pendidikan kita.

Pengertian Pendidikan Karakter

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, karakter adalah “bawaan, hati, jiwa, kepribadian, budi pekerti, perilaku, personalitas, sifat, tabiat, temperamen, watak”. Adapun berkarakter adalah berkepribadian, berperilaku, bersifat, bertabiat, dan berwatak”. Menurut Musfiroh (2008), karakter mengacu kepada serangkaian sikap (attitudes), perilaku (behaviors), motivasi (motivations), dan keterampilan (skills).

Pendidikan karakter adalah sebuah upaya yang dirancang dan dilaksanakan secara sistematis untuk membantu siswa dalam memahami nilai-nilai yang berkaitan dengan hubungan dirinya dengan Tuhannya ataupun dengan sesamanya.

Menurut Williams, Russell T. & Megawangi (2010), pendidikan karakter adalah pendidikan budi pekerti plus, yaitu yang melibatkan aspek pengetahuan (cognitive), perasaan (feeling), dan tindakan (action). Dengan demikian, pendidikan karakater dapat diartikan sebagai upaya yang dirancang secara sistematis dan berkesinambungan untuk membentuk kepribadian peserta didik agar memiliki pengetahuan, perasaan, dan tindakan yang berlandaskan pada norma-norma luhur yang berlaku di masyarakat.

Tujuan dan Fungsi pembentukan karakter

Berdasarkan pengertian diatas, pembentukan karakter memiliki beberapa tujuan dan juga fungsi, diantaranya :

  1. Tujuan
  • Membentuk bangsa yang tangguh
  • Kompetitif
  • Berakhlak mulia
  • Bermoral
  • Bertoleran
  • Bergotong royong
  • Berjiwa patriotik
  • Berkembang dinamis
  • Berorientasi ilmu pengetahuan dan teknologi yang semuanya dijiwai oleh iman dan taqwa kepada Tuhan yang Maha Esa berdasarkan Pancasila.
  1. Fungsi
  • Mengembangkan potensi dasar agar berhati baik, berpikir baik, dan berperilaku baik
  • Memperkuat dan membangun perilaku bangsa yang multikultur
  • Meningkatkan peradaban bangsa yang kompetitif dalam pergaulan dunia.

Tantangan pembentukan karakter

Pembentukan karakter melalui jalur pendidikan di sekolah akan menghadapi beberapa tentangan yang tidak ringan. Tantangan yang bersifat internal dan eksternal:

Ada beberapa tantangan internal, diantaranya:

  • Orientasi pendidikan yang masih mengutamakan keberhasilan pada aspek kognitif
  • Praktik pendidikan yang masih banyak mengacu filsafat rasionalisme yang memberikan peranan yang sangat penting kepada kemampuan akal budi (otak) manusia
  • Kemampuan dan karakter guru yang belum mendukung
  • Budaya dan kultur sekolah yang kurang mendukung
  • Personal pendidikan maupun perangkat lunak pendidikan (mind set, kebijakan pendidikan dan kurikulum).
  • Nilai-nilai karakter yang dikembangkan di sekolah belum terjabarkan dalam indikator yang baik. Indikator yang tidak baik tersebut menyebabkan kesulitan dalam mencapai nilai karakter yang baik sesuai yang diharapkan.
  • Sekolah belum dapat memilih nilai-nilai karakter yang sesuai dengan misinya. Umumnya sekolah menghadapi kesulitan dalam memilih nilai-nilai karakter yang cocok dan sesuai dengan visi sekolahnya. Hal ini berdampak pada gerakan membangun karakter di sekolah menjadi kurang terarah dan fokus, sehingga tidak jelas juga penilaian dan monitoringnya.
  • Pemahaman guru tentang konsep pendidikan karakter yang masih belum menyeluruh. Program pendidikan karakter belum dapat disosialisasikan pada semua guru dengan baik sehingga mereka belum dapat memahaminya.
  • Guru belum dapat memilih nilai-nilai karakter yang sesuai dengan mata pelajaran yang diampu. Dalam mata pelajaran juga terdapat nilai-nilai karakter yang harus dikembangkan oleh guru pengampu. Nilai-nilai karakter mata pelajaran belum dapat dipelajari dengan baik untuk dikembangkan dalam proses pembelajaran.
  • Guru belum memiliki kompetensi yang memadai untuk mengintregasikan nilai-nilai karakter pada mata pelajaran yang diampunya. Program sudah berjalan, tetapi pelatihan masih sangat terbatas yang diikuti guru sehingga berdampak kurang maksimalnya penanaman nilai-nilai karakter pada mata pelajaran.
  • Guru belum dapat menjadi teladan atas nilai-nilai karakter yang dipilihnya. Peran guru untuk menjadi teladan dalam mewujudkan nilai-nilai karakter secara khusus sesuai dengan nilai karakter mata pelajaran dan nilai-nilai umum di sekolah belum dapat dilaksanakan dengan baik.

Selain tantangan internal terdapat juga tantangan yang bersifat eksternal, diantaranya :

  • Pengaruh globalisasi
  • Perkembangan sosial masyarakat
  • Perubahan lingkungan sosial secara global yang mengubah tata nilai, norma suatu bangsa menjadi lebih terbuka
  • Pengaruh perkembangan teknologi informasi dan komunikasi yang telah mengubah tatanan sosial masyarakat.

Perkembangan pesat IPTEK pada era globalisasi sangat berpengaruh besar dalam membangun karakter peserta didik. Dalam hal ini tentu manusia itu sndri yang harus memiliki etika dalam bersosial media. Berikut adalah etika dalam bersosial media, diantaranya :

  • Mengucapkan kata‐kata kasar, provokatif, porno, atau SARA
  • Memposting atau membagikan status bersifat hoax
  • Terlalu sering mengumbar status yang

bersifat pribadi yang semesti menjadi rahasia (curhat/foto)

  • Tidak overacting atau overposting
  • Hati hati upload foto
  • Mengcopy‐paste gambar, artikel, atau apapun yang mungkin berhak cipta (berlisensi)
  • Tidak bertengkar
  • Tidak memperhatikan kerahasiaan informasi pribadi yang bersifat penting
  • Bila beropini, dasarkan pada fakta, bukan dugaan semata

Kesimpulan

Pendidikan karakter adalah sebuah upaya yang dirancang dan dilaksanakan secara sistematis untuk membantu siswa dalam memahami nilai-nilai yang berkaitan dengan hubungan dirinya dengan tuhannya ataupun dengan sesamanya. Menghadapi era globalisasi, karakter generasi muda harus lebih meningkatkan pembangunan budi pekerti dan sikap menghormati, dengan mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari. Kita itu harus memiliki sifat menghargai mutu, memiliki kesabaran untuk meniti usaha dari awal, adanya rasa percaya diri, memiliki sikap disiplin waktu bekerja, serta memiliki sifat mengutamakan tanggung jawab.

Secara konseptual, pendidikan karakter di sekolah tampaknya sudah cukup mapan. Namun dalam pelaksanaannya, hal itu akan mendapat tantangan yang sangat besar. Tantangan tersebut dapat berasal dari lingkungan pendidikan itu sendiri maupun dari luar. Tantangan dari dalam dapat berasal dari personal pendidikan maupun perangkat lunak pendidikan (mind set, kebijakan pendidikan dan kurikulum). Tantangan dari luar berupa perubahan lingkungan sosial secara global yang mengubah tata nilai, norma, dan budaya suatu bangsa, menjadi sangat terbuka. Perubahan itu tidak dapat dikendalikan dan dibatasi karena berkembangnya teknologi informasi.

DAFTAR PUSTAKA

Koesoema. Doni A, 2010, Pendidikan Karakter: Strategi Mendidik Anak di Zaman Global, Jakarta: Grasindo.

______________

*) SUKA TRI WAHYUNINGSIH, penulis adalah mahasiswa STKIP PGRI Pacitan Program Studi Pendidikan Bahasa Inggris kelas A. Makalah disusun guna memenuhi sebagian tugas individu pada mata kuliah Character Building tahun akademik 2014/2015 dengan dosen pengampu Afid Burhanuddin, M.Pd.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s