Pengembangan Kelas Berkarakter

Pembentukan karakter merupakan salah satu tujuan pendidikan nasional. Pasal 1 UU Sisdiknas tahun 2003 menyatakan bahwa di antara tujuan pendidikan nasional adalah mengembangkan potensi peserta didik untuk memiliki kecerdasan, kepribadian, dan akhlak mulia. Selanjutnya dalam pasal 3 disebutkan bahwa, tujuan pendidikan nasional adalah mengembangkan potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab.

Pemerintah Indonesia melalui Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan telah mencanangkan pendidikan karakter mulai dari jenjang SD sampai perguruan tinggi. Menurut Mendikbud, Muhammad Nuh, pembentukan karakter perlu dilakukan sejak usia dini. Jika karakter sudah terbentuk usia dini, maka tidak akan mudah untuk mengubah karakter seseorang (Husaini, 2010:1).

Pendidikan dalam arti yang luas adalah proses pembudayaan anak untuk dibentuk sesuai potensi belajar yang dimilikinya dengan tujuan agar menjadi anggota penuh dari masyarakat yang dapat menghayati dan mengamalkan potensinya, baik secara individu maupun bersama-sama dengan anggota lainnya. Oleh karena itu, perlu adanya upaya pengembangan pendidikan karakter yang berbasis multikultural. Pengembangan model pendidikan karakter berbasis multikultural sangat penting dilakukan mengingat akhir-akhir ini ditengarai terjadi pengikisan karakter manusia Indonesia yang Pengembangan Pembelajaran Kelas Berkarakter.

Guru Sebagai Model Karakter

Seorang guru yang akan mengembangkan karakter siswa harus menunjukkan bahwa integritas adalah hal yang paling berharga. Guru terlebih dahulu harus berperan sebagai model untuk menyatakan kebenaran, menghormati orang lain, menerima dan memenuhi tanggung jawab, bermain jujur, mengembalikan kepercayaan, dan menjalani kehidupan yang bermoral. Guru harus berperan sebagai model akan pentingnya keterlibatan dalam sebuah pencarian kebenaran yang akan berlangsung seumur hidup sehingga dapat melakukan sesuatu yang benar tidak mudah melakukan sesuatu tindakan yang salah.

Guru sebagai pendidik karakter harus mengajar murid-muridnya sebagai individu-individu yang dapat membuat keputusan berdasarkan proses dan prinsip penalaran moral. 6 kemampuan yang harus dimiliki guru yaitu:

  • Guru sebagai uswah atau teladan harus memiliki modal dan sifat-sifat tertentu seperti rajin, jujur, bijaksana dan lain sebagainya.
  • Guru harus benar-benar memahami prinsip-prinsip keteladanan. Mulailah dengan dari diri sendiri. Dengan demikian guru tidak hanya pandai bicara dan mengkritik tanpa pernah menilai dirinya sendiri.
  • Guru harus mengetahui tahapan mendidik karakter. Sekurang-kurangnya melalui tiga tahapan pembelajaran yang istilahkan dengan 3P yaitu: pemikiran, perasaan dan perbuatan. Tahapan pertama pemikiran; merupakan tahap memberikan pengetahuan tentang karakter.
  • Tahap mencintai dan membutuhkan karakter positif. Pada tahapan ini guru berusaha menyentuh hati dan jiwa siswa bukan lagi akal, rasio dan logika.. Ciptakan hubungan yang mesra, agar siswa peduli terhadap keinginan dan harapan-harapan kita serta tumbuhkan rasa sayang terhadap sesama.
  • Guru harus menyadari arti kehadirannya di tengah siswa, mengajar dengan ikhlas, memiliki kesadaran dan tanggungjawab sebagai pendidik untuk menanamkan nilai-nilai kebenaran.

Membangun Disiplin Kelas Berbasis Karakter

Dalam membangun disiplin kelas berbasis karakter dibutuhkan kerja sama guru dan peserta didik. Mereka harus saling melengkapi satu sama lain. Guru dapat membantu atau sangat berperan penting dalam jalannya disiplin kelas tersebut. Atau guru dapat memberi sanksi atau sekedar peringatan pada peserta didik yang mealnggarnya. Ada beberapa contoh disiplin dalam kelas, antara lain:

  1. Berdoa sebelum dan sesudah pelajaran.
  2. Memberikan kesempatan kepada semua peserta didik untuk melaksanakan ibadah.
  3. Larangan menyontek.
  4. Bekerja dalam kelompok yang berbeda.
  5. Membiasakan hadir tepat waktu.
  6. Membiasakan mematuhi aturan.
  7. Mengambil keputusan kelas secara bersama melalui musyawarah dan mufakat.
  8. Pemilihan kepengurusan kelas secara terbuka.
  9. kebijakan melalui musyawarah dan mufakat.
  10. Memajangkan: foto presiden dan wakil presiden, bendera negara, lambang negara.
  11. Menggunakan produk buatan dalam negeri.
  12. Pelaksanaan tugas piket secara teratur.

Interaksi Kelas Berbasis Karakter

Dalam bekerja guru cenderung mengelompokan siswa dalam interaksi yang berbeda, mereka mengelompokan sebagai “golongan siswa berkemampuan tinggi” yang mereka anggap sebagai siwa yang cerdas, patuh, tertib, rajin, rapi dan sebagainya. Interaksi kedua adalah “golongan siswa berkempuan rendah”, mereka adalah yang termasuk siswa yang mempunyai nilai rendah, bandel, pemberontak, malas, dan sebagainya. Ada beberapa contoh interaksi anak berkemampuan tinggi dan anak berkemampuan rendah:

  1. Cenderung lebih murah senyum >< Cenderung berbicara lebih keras
  2. Lebih banyak ngobrol >< Ngobrol seperlunya
  3. Akrab >< Jarang senyum
  4. Berbicara secara intelektual >< Berbicara lambat
  5. Humoris >< Instruksional
  6. Bertindak lebih matang >< Otoriter
  7. Menggunakan kosa kata yang kompleks >< Menggunakan kalimat mentah

Untuk menciptakan interaksi antara siswa dan guru dalam melakukan proses komunikasi yang harmonis sehingga tercapai suatu hasil yang diinginkan dapat dilakukan contact-hours atau jam-jam bertemu antara guru dan siswa, dimana guru dapat menanyai dan mengungkapkan keadaan siswa dan sebaliknya siswa mengajukan persoalan-persoalan dan hambatan-hambatan yang dihadapinya. Adapun interaksi pembelajaran yang dapat dilakukan sebagai berikut ;

  • Interaksi satu arah, dimana guru bertindak sebagai penyampai pesan dan siswa penerima pesan.
  • Interaksi dua arah antara siswa dan guru dimana guru memperoleh balikan dari siswa.
  • Interaksi dua arah antara guru dan siswa dimana guru mendapat balikan dari siswa selain itu saling berinteraksi atau saling belajar satu dengan yang lainnya.
  • Interaksi optimal antara guru, siswa dan antara siswa-siswa.Interaksi edukatif, guru berusaha menjadi pembimbing yang baik dengan peranan

Contoh kepedulian atau kerja sama kelas berbasis karakter.

Dalam suatu sekolah pasti ada yang dinamakan kerja sama, kerja sama satu sekolah maupun lingkup dalam kelas. Kerja sama sangat dibutuhkan dalam berjalannya interaksi antara peserta didik maupun guru. Jika semua peserta didik dapat bekerja sama dengan baik maka akan tumbuh benih kepedulian antara mereka, disamping itu kepedulian akan membentuk karakter peserta didik yang lebih bersimpati dan tanggap dengan lingkungan sekitar. Adapun contoh kerja sama dan kepedulian antara lain:

  • Mengerjakan tugas kelompok.
  • Menjenguk teman yang sakit.
  • Saling membantu jika teman kesusahan.
  • Tidak saling menjelek-jelekan teman.
  • Selalu menghargai pendapat.

 

DAFTAR PUSTAKA

  1. http://gensha98.blogspot.com/2011/09/guru-sebagai-model-dalam-pendidikan.html. Di download pada tanggal 1 Desember 2014 pukul 12.11 WIB.
  2. http://kumpulantugassaya.wordpress.com/2012/06/04/disiplin-kelas.html. Di download pada tanggal 1 Desember 2014 pukul 12.17 WIB.
  3. http://ppp.ugm.ac.id/wp-content/uploads/interaksikelas.pdf. Di download pada tanggal 1 Desember 2014 pukul 12.35 WIB.

 

__________

Disusun Oleh:

Dhini Octiaristi

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s