Definisi/Pengertian Pendidikan Berkarakter

Dewasa ini, pendidikan yang berkarakter menjadi prioritas utama dalam dunia pendidikan sehingga menuntut kurikulum pendidikan untuk berubah demi mengedepankan pembangunan karakter anak didik bangsa. Perubahan ini didasarkan pada fakta dan pandangan masyarakat tentang menurunnya moral, etika, sikap dan sopan santun generasi muda. Pendidikan karakter tidak hanya diperlukan di sekolah saja, namun juga di rumah dan lingkungan.

Secara etimologis, kata karakter (Inggris: character) berasal dari bahasa Yunani (Greek), yaitu charassein yang berarti “to engrave” (Ryan and Bohlin, 1999: 5). Kata“to engrave” bisa diterjemahkan mengukir, melukis, memahatkan, atau menggoreskan (Echols dan Shadily, 1987: 214). Dalam Kamus Bahasa Indonesia kata “karakter”diartikan dengan tabiat, sifat-sifat kejiwaan, akhlak atau budi pekerti yang membedakan seseorang dengan yang lain, dan watak. Orang berkarakter berarti orang yang berkepribadian,berperilaku, bersifat, bertabiat, atau berwatak. Kepribadian merupakan ciri atau karakteristik atau sifat khas dari diri seseorang yang bersumber dari bentukan-bentukan yang diterima dari lingkungan, misalnya keluarga pada masa kecil, dan juga bawaan sejak lahir (Koesoema, 2007: 80). Sehingga dapat disimpulkan bahwa karakter adalah watak, sifat, akhlak, tabiat, dan budi pekerti yang dimiliki oleh setiap individu dan membedakan seorang individu dengan yang lain.

Pendidikan Karakter Menurut Thomas Lickona

     Dalam setiap pendidikan karakter, Lickona menekankan pentingnya tiga komponen karakter yang baik (components of good character) yaitu moral knowing, moral feeling, dan moral action.

  1. Moral knowing (pengetahuan tentang moral)

Terdapat enam unsur dalam komponen pertama, yaitu:

  • Moral awarness (kesadaran moral)

Menggunakan kecerdasan yang dimiliki untuk menilai suatu keadaan agar sesuai dengan nilai moral yang berlaku.

  • Knowing moral value (mengetahui nilai moral)

Mengetahui dan menerapkan berbagai nilai moral seperti menghormati, tanggung jawab, dan toleransi dalam segala situasi.

  • Perspektive taking (mengambil sudut pandang)

Kemampuan untuk mengambil sudut pandang dari orang lain, seperti merasakan apa yang orang lain rasakan, dan membayangkan apa yang orang lain mungkin berpikir dan bereaksi terhadap suatu hal.

  • Moral reasoning (penalaran moral)

Pemahaman tentang apa artinya bermoral mengapa harus bermoral.

  • Decision making (pengambilan keputusan)

Kemampuan untuk mengambil keputusan dan tindakan dalam menghadapi masalah.

  • Self-knowledge (penegtahuan tentang diri sendiri)

Kemampuan untuk mengetahui dan mengevaluasi perilaku diri sendiri.

  1. Moral feeling (perasaan tentang moral)

Terdapat enam unsur yang merupakan unsur dari emosi yang harus bisa dirasakan oleh seseorang agar dapat menjadi manusia yang berkarakter, yaitu:

  • Conscience (hati nurani)

Memiliki dua sisi, yang pertama sisi kognitifnya adalah mengetahui apa yang benar, dan yang kedua sisi perasaan emosionalnya adalah berkewajiban untuk melaksanakan yang benar.

  • Self-esteem (harga diri)

Seseorang harus memiliki ukuran yang benar tentang harga diri agar bisa menilai diri sendiri, pikiran atau mengijinkan orang lain untuk melecehkan diri sendiri.

  • Empaty (empati)

Kemampuan untuk mengenali dan memahami keadaan orang lain.

  • Loving the good (mencintai kebaikan)

Menjadi benar-benar terkait dengan segala hal yang baik.

  • Self-control (pengendalian diri)

Pengendalian diri membantu seseorang untuk berperilaku sesuai dengan etika.

  • Huminity (kerendahan hati)

Kerendahan hati membuat seseorang menjadi terbuka terhadap keterbatasan diri dan mau mengoreksi kesalahan yang telah dilakukan

  1. Moral action (perbuatan/tindakan moral)

Moral action merupakan wujud nyata dari moral knowing dan moral feeling, terdiri dari tiga aspek yaitu:

  • Competence (kompetensi)

Memiliki kemampuan untuk mengubah penilaian dan perasaan moral menjadi tindakan moral yang efektif.

  • Will (keinginan)

Keinginan dibutuhkan untuk menjaga emosi, melihat, berpikir, menempatkan tugas sebelum kesenangan, serta bertahan dari tekanan dan godaan.

  • Habit (kebiasaan)

Membiasakan hal yang baik dan menerapkannya dalam berperilaku.

 

18 Nilai Dalam Pendidikan Karakter

  1. Religius

Sikap dan perilaku yang taat terhadap agama yang di anutnya, hidup rukun dengan pemeluk agama lain, serta toleran terhadap pelaksanaan ibadah agama lain.

  1. Jujur

Selalu berusaha untuk menjadi orang yang dapat dipercaya perkataan, perbuatan/tindakan, dan pekerjaan.

  1. Toleransi

Menghargai perbedaan agama, suku, etnis, pendapat, sikap, dan tindakan orang lain yang berbeda darinya.

  1. Disiplin

Tertib dan patuh terhadap peraturan yang berlaku.

  1. Kerja keras

Berupaya sunguh-sungguh dalam menyelesaikan tugas dan mengatasi berbagai masalah yang menghadang.

  1. Kreatif

Berpikir dan melakukan hal baru untuk menghasilkan cara maupun hal yang baru.

  1. Mandiri

Tidak bergantung pada orang lain dalam menyelesaikan tugas-tuganya.

  1. Demokratis

Cara berpikir dan bertidak yang menilai orang lain memiliki hak dan kewajiban yang sama dengannya.

  1. Rasa ingin tahu

Selalu berusaha untuk mengetahui lebih dalam tentang hal yang dilihat, didengar, dan dipelajarinya.

  1. Semangat kebangsaan

Mementingkan kepentingan negaranya diatas kepentingan diri dan kelompoknya.

  1. Cinta tanah air

Menunjukkan kesetiaan, kepedulian, dan penghargaan yang tinggi terhadap bahasa, lingkungan fisik, sosial, budaya, ekonomi dan politik bangsa.

  1. Menghargai prestasi

Berusaha untuk menghasilkan sesuatu yang berguna bagi orang lain dan menghargai keberhasilan orang lain.

  1. Bersahabat/komunikatif

Rasa senang berbicara, bergaul dan bekerja sama dengan orang lain.

  1. Cinta damai

Perkataan dan tindakan yang membuat orang lain merasa senang dan aman atas kehadirannya.

  1. Gemar membaca

Selalu menyediakan waktu untuk membaca bacaan yang bermanfaat.

  1. Peduli lingkungan

Berupaya untuk menjaga alam sekitar dari kerusakan dan berusaha untuk memperbaiki kerusakan yang telah terjadi.

  1. Peduli sosial

Memberi bantuan pada orang lain yang membutuhkan.

  1. Tanggung jawab

Melaksanakan semua tugas dan kewajiban yang harus dilakukan dengan baik.

 

Alasan Diperlukannya Pendidikan Karakter Menurut Lickona

Menurut Thomas Lickona ada tujuh alasan mengapa harus ada pendidikan karakter.

  • Pendidikan karakter merupakan cara terbaik untuk menjamin anak-anak (siswa) memiliki kepribadian yang baik dalam kehidupannya;
  • Pendidikan karakter juga merupakan cara untuk meningkatkan prestasi akademik;
  • Ada sebagian siswa yang tidak dapat membentuk karakter yang kuat bagi dirinya di tempat lain;
  • Mempersiapkan siswa untuk menghormati pihak atau orang lain dan dapat hidup dalam masyarakat yang beragam;
  • Banyaknya masalah yang berkaitan dengan problem moral-sosial, seperti ketidaksopanan, ketidakjujuran, kekerasan, pelanggaran kegiatan seksual, dan etos kerja (belajar) yang rendah;
  • Merupakan persiapan terbaik untuk memiliki perilaku yang baik di tempat kerja; dan
  • Mengajarkan nilai-nilai budaya merupakan bagian dari kerja peradaban.

Daftar Pustaka

http://sumiatinor-bahasaindonesia.blogspot.com/2012/02/pendidikan-karakter-         bagi-siswa.html

http://www.journal.iaingorontalo.ac.id/index.php/au/article/view/52

http://staff.uny.ac.id/sites/default/files/lain-lain/dr-marzuki-mag/Dr.Marzuki,M.Ag.KonsepDasarPendidikanKarakter.pdf

http://belajarpsikologi.com/mengapa-perlu-adanya-pendidikan-karakter/

 

___________

Disusun Oleh:

Febryan Chistya Novianes Amanda

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s