Teori Kerja Otak Dan Implementasi Dalam Proses Pembelajaran

Pada dasarnya pendidikan merupakan suatu usaha sadar yang dilakukan dengan proses mendidik, yakni proses dalam rangka mempengaruhi peserta didik agar mampu menyesuaikan diri sebaik mungkin dalam lingkungannya sehingga akan menimbulkan perubahan dalam dirinya. Jadi pendidikan merupakan kebutuhan pokok yang tidak bisa dipisahkan dari kehidupan manusia.

Dalam proses pendidikan, belajar merupakan salah satu bagian yang tak dapat terpisahkan. Dimana belajar merupakan suatu proses perubahan perilaku dan pola pikir yang dialami oleh seseorang. Selama proses belajar manusia pasti tak luput dari kesalahan. Untuk itu perlu adanya teori-teori belajar yang tepat yang diterapkan dalam proses pembelajaran agar tujuan pembelajaran yang diinginkan bisa tercapai dengan maksimal.

 

KONSEP DASAR

 

Selama ini kita beranggapan bahwa otak kiri adalah otak yang bersifat logika, dan otak kanan berkaitan erat dengan kreativitas. Hasil penelitian terakhir membuktikan bahwa pandangan ini salah. Otak kiri dapat menjadi otak yang kreatif. Hal ini dibukttikan dengan hasil karya Dr. Edward De Bono yang mencetuskan Lateral Thinking (Berfikir Lateral) pada tahun 1970.

Jika dilihat dari sisi pendidikan, kebanyakan sistem pendidikan di dunia lebih menjurus kepada aliran pemikiran otak kiri. Para pelajar di seluruh dunia dilatih untuk membuat keputusan dan melakukan tindakan berdasarkan logika, rasional. Ringkasnya, corak pemikiran otak kiri imaginasi menyokong logika dan rasional, sedangkan dalam gaya pemikiran otak kanan, logika dan rasional akan menyokong imaginasi. Para pelajar tidak bebas berfikir dan tidak mampu dan tidak berani melahirkan ide-ide baru apalagi ide-ide yang amat bertentangan oleh individu-individu yang berfikiran konvensional.

 

ANALISIS TEORI KERJA OTAK

 

Teori kerja otak terkait dengan kerja otak kanan dan kiri. Cara yang sangat baik untuk menghormati keunikan otak dan perbedaan individual adalah dengan mempertimbangkan gaya pembelajaran. Ada banyak gaya pembelajaran yang tersedia sekarang ini. Masing-masing memiliki poin-poin yang kuat. Semuanya memiliki perbedaan dari hal proses input, filter kognitif, pemrosesan, dan gaya respon. Seluruh pemikiran tentang gaya pembelajaran menjadi tidak relevan ketika kita mempertimbangkan tentang seberapa banyak perbedaan yang berkembang dalam otak.

Empat kategori berikut ini mencakup pandangan realistik dan global terhadap gaya pembelajaran yang dapat digunakan pada rancangan pembelajaran apapun :

  1. Konteks

Keadaan yang melingkupi pembelajaran memberikan petunjuk-petunjuk yang penting tentang apa yang akan terjadi selama pembelajaran.

  1. Input

Para pembelajar menuntut adanya sensori input untuk terjadinya pembelajaran apapun. Oleh karena kita mempunyai lima indra, maka input ini bisa berupa visual, audio, kenestetik, penciuman, dan perasa.

Pada suatu waktu seorang pembelajar mungkin lebih memilih input eksternal (yang berasal dari sumber dari luar) dan pada waktu berikutnya akan lebih memilih input internal (yang diciptakan dalam pikiran).

  1. Pemrosesan

Sebuah rangkaian tindakan atau perubahan yang sistematis menyangkut informasi, kebersamaan rangkaian tersebut membentuk pemikiran manusia. Dalam tahap ini otak yang bertugas untuk memproses informasi tersebut.

  1. Respons

Merupakan tahap dimana pembelajar menanggapi input atau rangsangan yang telah diterima dan diproses untuk dilakukannya sebuah respon atau tanggapan.

Bentuk pengolah informasi dalam diri manusia dapat di gambarkan seperti skema di bawah ini:

 

 

 

 

Menurut bagan tersebut, proses berpikir dimulai dengan pengalaman, dalam bentuk sensasi, persepsi, dan informasi. Pengalaman-pengalaman ini masuk ke dalam sistem pemikiran manusia melalui apa yang disebut dengan detektor inderawi. Yang meliputi mata, telinga, hiung, mulut dan kulit. Agar mampu menghasilkan pemikiran dari pengalaman-pengalaman tersebut, maka pengalaman-pengalaman tersebut harus dikombinasikan dalam beberapa cara khusus yang sederhana.

Dalam bentuk teori pengolahan informasi, proses mengkombinasian pengalaman disebut dengan penyatuan inderawi, dan aspek pikiran manusia yang melakukan pengkombinasian menjadi unit-unit makna yang sesuai untuk proses pengolahan lebih lanjut.

Pengalaman yang dipersatukan kemudian dikirim ke dalam ingatan jangka pendek, yang bekerja sebagai papan tulis atau media kerja yang mengolah aneka informasi agar didapatkan informasi sejati yang anda butuhkan. Ingatan jangka pendek dirujukkan sebagai aneka peristiwa berpikir singkat yang terjadi pada manusia.

Dari informasi jangka pendek tersebut dapat bersifat relatif permanen dengan adanya proses pemberian kode. Yang dimaksud dengan proses pemberian kode yaitu proses dengan adanya informasi baru diasosiasikan dengan kategori-kategori, gagasan-gagasan, atau informasi-informasi yang sudah ada sebelumnya, yang bertujuan untuk menguji kelayakan kategori, gagasan, atau informasi tersebut untuk disimpan di dalam ingatan jangka panjang. Ingatan jangka panjang seringkali membutuhkan bantuan ingatan jangka pendek untuk melakukan proses pemberian kode terhadap aneka informasi.

Sebagian kecil gagasan atau pikiran akan menyebabkan respon yang jelas yaitu tindakan atau perilaku nyata yang bisa diobservasi yang menjadi fokus dari teori-teori psikologi tertentu. Karena proses yang menyebabkan munculnya tindakan atau perilaku itu sendiri adalah sebuah proses berfikir yang disebut dengan penggerak respon.

KELEBIHAN DAN KEKURANGAN TEORI KERJA OTAK (NEUROSCIENCE)

  1. Kelebihan Neuroscience:

a)      Teori ini mendukung siswa mencapai apa yang di inginkan sesuai pada kemampuan kerja otaknya.

b)      Guru sebagai pengubah keberhasilan siswa.

c)      Siswa dapat memaksimalkan fungsi kerja otak mereka.

 

  1. Kelemahan Neuroscience:

a)      Sebagian besar pendidikan di Indonesia lebih menekankan pada aspek kognitif atau intelektualnya saja dan yang berkembang hanya otak belahan kiri.

b)      Siswa pemikirannya konvensional (fikiran yang berasaskan pendapat-pendapat lama yang telah kukuh dan diterima ramai sebelum ini)

c)      Guru kurang membantu siswa (apabila guru kurang memahami teori belajar yang berbeda pada masing-masing siswa) menemukan keinginan belajar, dan kurang mendukung siswa mencapai apa yang mereka inginkan.

 

IMPLIKASI TEORI KERJA OTAK DALAM PEMBELAJARAN

 

Teori kerja otak ini memiliki implikasi baik terhadap pengajar maupun pembelajar. Diantara implikasi tersebut yaitu:

a)      Guru di tuntut untuk memiliki kreativitas yang tinggi agar mampu menciptakan pembelajaran yang menyenangkan.

b)      Di butuhkannya variasi pada setiap pembelajaran yang dilakukan.

c)      Dengan pembelajaran yang menyenangkan siswa akan mampu menerima informasi dengan baik dan akan masuk pada memori jangka panjang.

d)     Siswa dalam mengolah informasi membutuhkan sebuah rangkaian panjang atas langkah-langkah yang harus dilakukan.

 

PENUTUP

 

  • Kesimpulan

Teori kerja otak adalah teori yang mengutamakan kinerja otak baik otak kanan ataupun otak kiri, karena keseimbangan kinerja keduanya akan berpengaruh terhadap pola pikir, kreativitas, dan kemunculan ide-ide baru. Dalam hal ini informasi yang diperoleh akan diproses melalui beberapa tahapan sehingga memunculkan tindakan atau perilaku sebagai respon.

 

  • Saran

Dalam melaksanakan belajar mengajar sebaiknya seorang guru dituntut untuk berkreasi atau memiliki strategi dalam mengajar apalagi disini guru sebagai pusat perhatian dan fasilisator inspiratif.

 

 

DAFTAR PUSTAKA

 

Seifert, Kelvin. 2012. Pedoman Pembelajaran & Intruksi Pendidikan. Jogjakarta:IRCiSoD

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s