Tantangan dan masa depan ilmuan

Tak dapat dipungkiri, ilmu memiliki kontribusi yang amat penting bagi kehidupan manusia. Rasa ingin tahu manusia yang menjadi titik-titik perjalanan manusia untuk mengembangkan ilmu pengetahuan. Hal inilah yang melatarbelakangi beragam penelitian dan hipotesa awal manusia terhadap inti dari keanekaragaman realitas. Proses berfilsafatlah yang menjadi titik awal sejarah perkembangan pemikiran manusia dimana manusia berusaha untuk mengorek, merinci dan melakukan pembuktian-pembuktian yang tak lepas dari kungkunga. Kemudian dirumuskanlah sebuah teori pengetahuan dimana pengetahuan menjadi terklasifikasi menjadi beberapa bagian.

Ilmu pengetahuan merupakan salah satu hal penting yang harus dimiliki dalam kehidupan manusia. Dengan ilmu semua keperluan dan kebutuhan manusia bisa terpenuhi secara lebih cepat dan lebih mudah. Merupakan kenyataan bahwa peradaban manusia sangat berhutang kepada ilmu. Ilmu telah banyak mengubah wajah dunia seperti hal memberantas penyakit, kelaparan, kemiskinan, dan berbagai kehidupan yang sulit lainnya. Dengan kemajuan ilmu juga manusia bisa merasakan kemudahan lainnya seperti transportasi, pemukiman, pendidikan, dan komunikasi.

Ilmu pada dasarnya ditujukan untuk kemaslahatan manusia. Dalam hal ini, ilmu dapat dimanfaatkan sebagai sarana atau alat dalam meningkatkan taraf hidup manusia dengan memperhatikan kodrat manusia, martabat, dan kelestarian manusia.

Kemudian timbul pertanyaan: apakah ilmu selalu berkah dan penyelamat bagi manusia? Pengembangan ilmu terus dilakukan, akan tetapi disisi lain. Manusia seakan belum puas terhadap rasa keingintahuannya yang seolah tak berujung dan menjebak manusia ke bagian kebebasan tanpa batas. Oleh sebab itulah dibutuhkan adanya pelurusan terhadap ilmu pengetahuan. Dalam penggunaan ilmu pengetahuan diperlukan adanya nilai-nilai moral.

Filsafat adalah ilmu yang menyelidiki segala sesuatu dengan mendalam mengenai ketuhanan, alam manusia, dan manusia sehingga dapat menghasilkan pengetahuan tentang bagaimana hakikatnya sejauh yang dapat dicapai akal manusia setelah mencapai pengetahuan.

Filsafat dan Ilmu adalah dua hal yang saling terikat satu sama lain, baik secara subtansial maupun historis. Karena, ilmu lahir tidak lepas dari peran filsafat, begitu pun sebaliknya, peranan ilmu dapat memperkuat keberadaan filsafat.

Keberadaan filsafat secara historis, mampu merubah pola pikir bangsa yunani dan umat manusia yang awalnya berpandangan mitosentris menjadi logosentris. Yang awalnya berpandangan bahwa semua yang terjadi di alam jagad raya ini adalah kehendak dewa, kini justru dirubah menjadi pola rasio yang memang terjadi secara teoritis dan sistemik.

 

Pola pikir yang berubah pesat dari pola mitosentris menjadi logosentris ini, tidak berdampak kecil bagi kelangsungan hidup manusia. Alam yang tadinya ditakuti karena kepercayaan dan ketakutan kepada dewa sangat tinggi, kini dapat didekati bahkan dieksploitasi. Perubahan itu dapat kita jumpai pada temuan-temua hokum alam dan teori-teori ilmiah, yang hari ini banyak dipelajari dan menjadi acuan akademik. Semua gejala yang terjadi, baik alam jagad raya ini (makrokosmos) maupun gejala yang terjadi pada alam kemanusiaan, dapat kita analisa melalui berbagai macam disiplin ilmu. Untuk mengkaji alam jagad raya ini, dapat kita lakukan dan kita temukan dengan pendekatan astrologi, fisikia, kimia, dll. Sedangkan alam kemanusiaan dapat kita jumpai dengan pendekatan sosiologi, biologi, psychology, dll. Ilmu-ilmu tersebut kemudian terspesialisasikan, dan dipersempit, sehingga bersifat aplikatif dan sangat dapat dirasakan manfaatnya.

 

Ilmu yang terspesialisasikan baik kedalam pendekatan makrokosmos maupun mikrokosmos, kemudian dalam perkembanganya, Ilmu terbagi kedalam beberapa disiplin yang membutuhkan pendekatan, objek dan ukuran yang berbeda-beda antar disiplin ilmu yang satu dengan lainya. Sehingga, cabang ilmu semakin subur dengan segala varietasnya.

 

Ilmu yang kemudian terbagi kedalam variasinya masing-masing itu, kemudian tak dapat dipungkiri terbentuknya sekat-sekat antar disiplin ilmu lainya, sehingga muncul arogansi-arogansi antar ilmu tersebut, bahkan bukan hanya sekat dan arogansinya, akan tetapi akan terjadi pemisahan antara ilmu dengan cita luhurnya yang bertujuan untuk menyejahterakan umat manusia. Bahkan lebih bahaya lagi jika kemudian, ilmu menjadi bencana bagi kehidupan umat manusia, sehingga menimbulkan kekacauan sosial dan kekacauan alam yang belakangan juga sudah kita rasakan, seperti adanya pemanasan global dan dehumanisasi di sekitar kita. Kekacauan-kekacauan yang melanda, baik alam makrokosmos maupun mikrokosmos yang sudah terdeskripsi itulah, yang kemudian menjadi sebuah tantangan sekaligus menjadi masa depan ilmu. Karena bak 2 bilah pisau, semakin ilmu berkembang dan maju, justru semakin besar kekhawatiran yang timbul, sedangkan tidak ada otoritas manapun yang mampu membendung laju ilmu tersebut.

 

Seiring dengan perkembangan Ilmu, Kant mengatakan bahwa, apa yang dikatakan rasionalitas itu adalah masuk akal, dan ilmu yang berdasarkan rasionalitas tidak memiliki batas kecuali rasionalitasnya sendiri, sedangkan rasionalitas tak terbatas oleh apapun kecuali oleh hokum alam, bahkan tidak ada yang mengetahui sampai mana batasan hokum alam, baik batasan ruang maupun waktu. Maka Ilmu akan tetap melaju sampai mana Ilmu itu dibutuhkan.

 

2.1.      Definisi dari Ilmuwan

Dari pertumbuhan ilmu sejak zaman Yunani Kuno sampai abad modern ini tampak nyata bahwa ilmu merupakan aktivitas manusia, suatu kegiatan melakukan sesuatu yang dilaksanakan orang atau lebih tepat suatu rangkaian aktivitas yang membentuk suatu proses. Seorang yang melakukan rangkaian aktivitas yang disebut ilmu itu kini lazim dinamakan ilmuwan (scientist ).

Kata ilmuwan sekarang tentu bukanlah hal yang asing. Secara sederhana ia diberi makna ahli atau pakar. Dalam kamus Indonesia, kata ilmuwan bermakna orang yang ahli atau banyak pengetahuannya mengenai suatu ilmu, atau orang yang berkecimpung dalam ilmu pengetahuan serta orang yang bekerja dan mendalami ilmu pengetahuan dengan tekun dan sungguh-sungguh.

Ilmuwan merupakan profesi, gelar atau capaian professional yang diberikan masyarakat kepada seorang yang mengabdikan dirinya pada kegiatan penelitian ilmiah dalam rangka mendapatkan pemahaman yang lebih komprehensif tentang alam semesta, termasuk fenomena fisika, matematis dan kehidupan sosial.

Istilah ilmuwan dipakai untuk menyebut aktifitas seseorang untuk menggali permasalahan ilmuwan secara menyeluruh dan mengeluarkan gagasan dalam bentuk ilmiah sebagai bukti hasil kerja mereka kepada dunia dan juga untuk berbagi hasil penyelidikan tersebut kepada masyarakat awam, karena mereka merasa bahwa tanggung jawab itu ada dipundaknya.

Ilmuwan memiliki beberapa ciri yang ditunjukkan oleh cara berfikir yang dianut serta dalam perilaku seorang ilmuwan. Mereka memilih bidang keilmuan sebagai profesi. Untuk itu yang bersangkutan harus tunduk dibawah wibawa ilmu. Karena ilmu merupakan alat yang paling mampu dalam mencari dan mengetahui kebenaran. Seorang ilmuwan tampaknya tidak cukup hanya memiliki daya kritis tinggi atau pun pragmatis, kejujuran, jiwa terbuka dan tekad besar dalam mencari atau menunjukkan kebenaran pada akhirnya, netral, tetapi lebih dari semua itu ialah penghayatan terhadap etika serta moral ilmu dimana manusia dan kehidupan itu harus menjadi pilihan juga sekaligus junjungan utama

2.2       Gambaran Masa Depan Perkembangan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi

 

Zaman semakin modern kemajuan ilmu dan teknologi semakin meluas dikalangan dari anak kecil hingga usia lanjut dan semula itu hanya untuk pekerjaan semata ,tetapi dengan kemajuan ilmu dan teknologi yang semakin berkembang juga mempunyai dampak negative, dengan berjalannya waktu ini banyak orang-orang yang pintar mengeluarkan ilmu pengetahuan dan ilmu itu terbentuk dari pemikiran manusia itu sendiri. Manusia itu sendiri mencoba untuk melakukan riset yang juga dapat tak mengenal batas dan dapat melakukan banyak hal yang mereka inginkan semua itu untuk memperluas pengetahuan manusia. Tetapi sebagian manusia yang mempunyai kelebihan ,mereka malah menyalah gunakan ilmu itu sendiri. Bahkan mereka tidak bisa menempatkan posisi ilmu yang mereka miliki dan bahkan juga itu banyak menimbulkan dampak negative juga. Terkadang manusia juga tidak bisa mengimbangi ilmu tersebut. Ilmu pengetahuan itu seharusnya dapat digunakan oleh manusia untuk mungkin meringankan beban manusia atau pun mngkin dapat melakukan sesuatu yang dapat menghasilkan sesuatu yang tentunya bermanfaat juga untuk kehidupannyan nanti . dari pengetahuan dan melalui manusia- manusia yang cerdas dan tanggap nantinya bisa melahirkan teknologi yang tentuya juga dapat membantu kehidupan mereka nantinya.

 

Para peneliti  masa depan telah mencoba menginventarisasi perkembangan IPTEK masa depan. Menurutnya IPTEK masa depan :

(1) perkembangan energi fisika tinggi, inovasi dan aplikasi lanjut cahaya laser,

(2) pemurnian terus – menerus pada bidang sibernetika – bidang proses kontrol sistem – sistem mekanik, biologi dan elektronik,

(3) perubahan penting dalam kualitas dan penggunaan media massa,

(4) sukses besar dalam manipulasi ringan dan restorasi lingkungan,

(5) peningkaatan pemakaian komputer,

(6) memperkenalkan super – konduktor, dan

(7) kerja sama internasional dalam perdagangan dan tukar menukar teknologi (Shane, 1973 dalam Kusuma, 1982).

 

Berbagai bidang IPTEK akan maju terus. Perlembagaan elektronika akan berkembang kearah psikoelektronika dan bio elektronik. Robot – robot akan menggantikan tenaga manusia, sehingga menju kearah pabrik tanpa buruh. Bioteknologi, geno teknologi dan ekoteknologi akan memegang peranan penting dalam masyarakat masa depan.

Dalam bidang transformasi, selama berabad – abad manusia mengadakan pejalanan dengan jalan kaki. Sekitar 6000 tahun sebelum Masehi angkutan yang paling cepat adalah unta dengan kecepatan 8 mil perjam, tahun 1600 SM dengan kereta kuda meningkat 20 mil perjam, lokomotif ditemukan tahun 1925 baru mencapai kecepatan 13 mil perjam. Sementara tahun 1938 manusia mengudara dengan kecepatan 400 mil perjam dan tahun 1960 dengan roket, kecepatan mencapai 4800 mil perjam. Dan kini astronot mengedari bumi dengan kecepatan 18.000 mil perjam atau 40. 000 km perjam (Faure, 1972 ; Toffler,, 1970).

Revolusi teknologi komunikasi membuat jarak bukan merupakan hambatan bagi manusia dalam berkomunikasi. Sejak digunakannnya burung merpati sebagai alat komunikasi dapat menerobos hambatan, jarak, lebih – lebih setelah ditemukan telpon tahun 1820. jarak sama sekali bukan masalah lagi.

Akhir – akhir ini produk telkom yang mutakhir mulai dikenalkan. Telkom high-tech yang diberi nama VSAT (very small aperture terminal) mampu mengirim dan menerima data, faks dan suara dalam sekejab beserta gambarnya. Sistem VSAT ini mampu mengatasi hambatan komunikasi akibat lalu lintas kkomunikasi yang padat (Jawa Post . 3 Mei 1995)

Sejalan dengan perkembangan komunikasi adalah perkembanan teknologi informasi. Radio ditemukan tahun 1867. tiga puluh lima tahun kemudian yakni tahun 1902 mulai dipasarkan. Sejak itu, penyampaian informasi dapat menjangkau publik yang berlipat ganda, penemuan transistor tahun 1948, kemudian diproduksi tahun 1951 mampu mengefisiensikan produksi radio, akibatnya radio diproduksi dalam jumlah yang besar dengan harga dalam jangkauan masyarakat umum.

Teknologi elektronika yang kini penggunaannya merambah dalam berbagai bidang adalah teknologi komputer. Ketelitian dan kecermatan melebihi manusia, ia dapat dipekerjakan di bidang kedokteran, dalam bidang rancang bangun dan rekayasa, bahkan dapat menggantikan guru dalam membelajarkan anak.

2.3       Tantangan–Tantangan Yang Dihadapi Oleh Ilmuwan

  1.           Pendidikan Global

 

Pendidikan Perspektif Global atau disebut juga pendidikan global artinya pendidikan yang membekali wawasan global untuk membekali siswa memasuki era globalisasi sehingga siswa mampu bertindak lokal dengan dilandasi wawasan global. Pendidikan global dengan penerapan metode pembelajaran global saat ini diadopsi oleh negara-negara maju atau negara-negara yang peringkat Human Development Index (HDI)-nya masih di atas Indonesia, namun penerapannya belum terjadi di Indonesia. Isu global pendidikan juga terkait dengan wacana integrasi ilmu pengetahuan. Disiplin ilmu agama, IPA, matematika, IPS, sastra dan disiplin ilmu lainnya tidak akan lagi berdiri sendiri, terpisah secara sporadis, namun akan menjadi suatu kesatuan ilmu yang melahirkan produk ilmu pengetahuan yang merupakan hasil integrasi dari berbagai disiplin ilmu.

 

  1.               Perubahan Global

Pada tahun tahun 1989 The Organization for Economic Cooperation and Development (OECD) menerbitkan hasil simposium yang diadakan di Paris dalam bentuk buku yang diberi judul One World or Several. Dalam buku tersebut menyebutkan tujuh masalah besar yang dihadapi manusia masa depan. Ketujuh masalah itu ialah (1) reactivasi dunia secara menyeluruh, (2) globalisasi versus regionalisasi, (3) pengembangan sumber daya menusia dan pengelolaan pemerintah, (4) development contract, (5) perlu didirikan regiun energi internasional menghadapi perubahan lingkungan yang semakin destruktif, (6) migrasi internasional, (7) memikirkan kembali nasib buruh-buruh negara agraris (Amin Rais dalam Tuhuleley,1993). Sedangkan negara-negara miskin dihadapkan dengan 3 jenis “buldoser” yang dapat melindas habis negara-negara agraris, yakni (1) revolusi bioteknologi, (2) berbagai imperative ekonomi yang merugikan petani, (3) kerusakan lingkungan yang semakin parah.

3.        Kesenjangan Kemajuan IPTEK dan Prestasi Pendidikan

Khususnya di Indonesia, menurut anwar et al (1990) tantangan yang dihadapi untuk penerapan dan pengembangan IPTEK pada PJPT II adalah (1) jumlah terbesar penduduk usia 10 tahun ke atas dan angkatan kerja yang tidak tamat SD sebesar 44,9%dari jumlah angkatan kerja sebanyak 74,6 juta, dan lulusan perguruan tinggi 1,61%, itupun lulusan eksakta ±28,9% dan sisanya lulusan ilmu sosial., (2) bagian terbesar unit usaha berskala kecil dan non formal, (3) peningkatan pengangguran terbuka angkatan kerja lulusan SLTP dan yang lebih tinggi, (4) pendidikan menengah dan tinggi relatif rendah , (5) kurangnya tenaga ristek, (6) rendahnya kesehatan relatif terhadap negara ASEAN, (7) industri manufaktur mengarah industri berat, (8) urbanisasi meningkat, (9) Pemasukan dana luar negara berkurang teknologi meluas dan mendalam (Anwar et al, 1990 dalam Iskandar, 1991).

Ketertinggalan sekolah tidak hanya terkait dengan ilmu pengetahuan yang diajarkan di sekolah-sekolah namun juga terkait dengan ketertinggalan akses infromasi seputar perkembangan saintek (sains dan teknologi). Ketertinggalan akses ini secara fundamental disebabkan oleh dua hal, pertama penguasaan operasional guru terhadap perangkat teknologi informasi, kedua karena belum semua sekolah mampu memenuhi ketersediaan perangkat teknologi informasi yang mampu memberikan akses informasi global yang memadai, semisal jaringan internet. Hal ini pun disebabkan oleh faktor fundamental lainnya yaitu kualitas SDM dan ketersediaan finansial.

Ketertinggalan kita terjadi pada aspek-aspek yang fundamental. Skill membaca tidak diragukan lagi sebagai skill yang sangat penting, dari data terlihat  bahwa budaya baca kita begitu rendah. Budaya baca terkait dengan kemauan ‘memaksa diri’ untuk membeli buku dan kemauan meluangkan waktu untuk membacanya. Begitupun  kemampuan problem solving, hal ini terkait juga dengan kemampuan riset, karena riset di dalamnya mencakup kemampuan pemecahan masalah (problem solving). Kemampuan riset yang dimiliki oleh siswa akan sangat berpengaruh pada upaya melahirkan penemuan-penemuan baru yang datang dari dunia pendidikan.

 

  1.             Perubahan Lingkungan Hidup

Masyarakat masa depan akan dihadapkan pada masalah lingkungan hidup. Beberapa perubahan lingkungan di masa depan meliputi (1) bertambahnya jumlah penduduk di bumi, (2) krisis air bersih untuk keperluan penduduk dan industri, (3) makin  luasnya tanah krisis, (4) berkurangnya luas hutan, (5) musnahnya berbagai plasma nutfah di darat dan di air karena ekosistem, (6) rusaknya berbagi ekosistem di laut akibat pengurasan hasil laut pencemaran di sungai. (7) makin luasnya padang pasir, (8) meningkatnya suhu bumi akibatefek rumah kaca. (9) makin meningkatnya hujan asam, (10) jurang ekonomi antara negara miskin dan negara maju makin lebar. (Kastama,1991)

 

  1.             Degradasi Moral

Tekanan-tekanan sosial akibat berbagai ketimpangan sosial dapat menimbulkan  tingkah laku menyimpang dalam masyarakat. Di Jepang kemajuan ekonomi akibat industrialisasi , harus di bayar mahal berupa guncangan sosial budaya. Bunuh diri di kalangan remaja menempati angka tertinggi di dunia. (Saefuddin, 1993). Demikian pula di Indonesia akibat globalisasi informasi, tata nilai dasar diterjang begitu saja oleh budaya asing, sehingga melahirkan perilaku baru dikalangan generasi muda.

 

  1.              Kesenjangan antara negara berkembang dan negara maju.

Meskipun abad ini merupakan abad sains dan teknologi, akan tetapi negara-negara berkembang keadaanya jauh di belakang negara-negara maju.    Dalam hal penguasaan sains dan teknologi, negara-negara berkembang masih mendapatkan masalah. Abdus Salam pemenang hadiah nobel dari fisika tahun 1978 yang berasal dari Pakistan mengemukakan ada 4 faktor yang menjerat negara berkembang sehingga mereka tidak dewasa dalam bidang sains untuk teknologi mutakhir, adalah : (1) banyak negara berkembang tidak mempunyai komitmen terhadap sains baik terapan apalagi yang murni, (2) tidak memiliki hasrat yang kuat untuk mengusahakan kemandirian, (3) tidak mendirikan kerangka institusional  dan legal yang cukup mendukung manajemen kegiatan bidang sains (Baiquni,1990)

Untuk dapat mengembangkan teknologi modern, diperlukan persiapan pendukungnya yakni penguasaan sains dan Bio-molekuler, biokimia dan mikrobiologi untuk mendukung bioteknolgi dan rekayasa genetik. Penguasaan dalam bidang  fisika zat mampat , fisika semi konduktor dan superkonduktor, fotonika, yang menjadi dasar pengembangan teknologi material baru dan mikro elektronika   ( Baiquni, 1990)

2.4       Peran Ilmuan Dalam Pengembangan Ilmu

Adapun peran dan fungsi ilmuwan antara lain :

  1. Sebagai intektual, seorang ilmuwan sosial dan tetap mempertahankan dialognya yang kontinyu dengan masyarakat sekitar dan suatu keterlibatan yang intensif dan sensitif.
  2. Sebagai ilmuwan, dia akan berusaha memperluas wawasan teoritis dan keterbukaannya kepada kemungkinan dan penemuan baru dalam bidang keahliannya.
  3. Sebagai teknikus, dia tetap menjaga keterampilannya memakai instrument yang tersedia dalam disiplin yang dikuasainya. Dua peran terakhir memungkinkan dia menjaga martabat ilmunya, sedangkan peran pertama mengharuskannya untuk turut menjaga martabat.

2.5     Tanggung Jawab Ilmuwan

Tanggung jawab ilmuwan dalam pengembangan ilmu sekurang-kurangnya berdimensi religious atau etis dan social.Pada intinya, dimensi religious atau etis seorang ilmuwan hendaknya tidak melanggar kepatutan yang dituntut darinya berdasarkan etika umum dan etika keilmuan yang ditekuninya. Sedangkan dimensi sosial pengembangan ilmu mewajibkan ilmuwan berlaku jujur, mengakui keterbatasannya bahkan kegagalannya, mengakui temuan orang lain, menjalani prosedur ilmiah tertentu yang sudah disepakati dalam dunia keilmuan atau mengkomunikasikan hal baru dengan para sejawatnya atau kajian pustaka yang sudah ada untuk mendapatkan konfirmasi, menjelaskan hasil-hasil temuannya secara terbuka dan sebenar-benarnya sehingga dapat dimengerti orang lain sebagaimana ia juga memperoleh bahan-bahan dari orang lain guna mendukung teori-teori yang dikembangkannya. Karena tanggung jawab ilmuwan merupakan ikhtiar mulia sehingga seorang

ilmuwan tidak mudah tergoda, apalagi tergelincir untuk menyalahgunakan ilmu.

“ Ilmu Pengetahuan tanpa Agama lumpuh

Agama tanpa Ilmu Pengetahuan Buta “

2.6       Upaya-Upaya Mengantisipasi Masa Depan, Terutama Perubahan Dalam Nilai dan Sikap.

Mengantisipasi masa depan terutama dalam perubahan nilai dan sikap adalah merupakan hal yang sangat sulit dan tidak dapat dilaksanakan dalam waktu yang cepat. Mengubah orang dari yang bersifat negative menjadi sikap positif, dari yang dangkal dan emosional menjadi nersikap matang, luas dan rasional, dari sikap yang menolak perunnbahan kepada sikap yang menerima dan melaksanakan perubahan, berdasarkan pengalaman asalah sukar sekali.

Namun demikian kita tetap percaya bahwa upaya-upaya hanya dapat dilakukan melalui pendidikan di rumah tangga oleh keluarga, pendidikan di sekolah dan pendidikan di masyarakat. Ketiga pusat pendidikan ini didukung oleh kebijakan-kebijakan dari pemerintah akan mampu mempersiapkan manusia masa depan dengan segala tuntutannya.

Upaya yang dapat dilakukan oleh pendidikan dengan menganalisis materi yang ada di dalam kurikulum dan di dalam buku pelajaran. Apakah materi tersebut masih relevan sebagai pengetahuan yang dapat dilakukan, intervensi apa yang dapat diberikan agar materi dapat mendekati kenyataaan yang ada di masa depan. Sekolah dapat menyediakan sarana seperti laboratorium, perpustakaan, ruag praktek, worlshop, ruang computer, ruang gelap untuk belajar dengan media slide, OHP, dan film ilmu pengetahuan dengan catatan srana tersebut bukan hanya ada tetapi tetap fungsi. Misalnya, di sekolah ada perpustakaan tetapi buku-buku yang ada disana hanyalah buku paket, itupun sudah lama. Mengenai pengetahuan baru, penemuan baru, mengenai kejadian baru belum masuk perpustakaan.

Diperlukan suasana yang demokratis dan suasana lainnya yang konduksif untuk mengembangkan sikap dan nilai-nilai yang harus dimiliki anak untuk masa depan, maka suasana belajar-mengajar lebih menekankan pengembangan diri anak dengan memberikan kesempatan yang luas untuk mengeluarkan pendapat, untuk pembelajaran sendiri. Sekolah tetap tanggap kepada suku bangsa yang ada di kelas, dan juga berbagai kepercayaan yang ada. Guru membiasakan anak untuk memapu mencari informasi tentang apa saja yangs esuai dengan anak, informasi tentang dunia kerja, informasi tentang buku yang baik dan baru, informasi tentang kecenderungan masa depan, Jadi sekolah sebagai agent of innovation, secara terencana mengarahkan siswanya untuk mengantisipasi masa depan dengan sefala cirri dan tuntutannya.

Tidak kalah penting adalah sikap guru yang mau mengikuti perkembangan ilmu penggetahuan, mau meningkatkan kualitas profesinya, mau mencari informasi-informasi baru di dalam bidang pendidikan pengajaran, mau memperhatikan hasil-hasil penelitian di dalam bidang pendidikan, pengajaran dan psikologi paling tidak, guru harus menjadi orang yang gemar membaca, membaca Koran, jurnal, dan majalah-majalah yang berhubungan dengan bidang spesialisasinya.

 

BAB III

KESIMPULAN

Istilah ilmuwan dipakai untuk menyebut aktifitas seseorang untuk menggali permasalahan ilmuwan secara menyeluruh dan mengeluarkan gagasan dalam bentuk ilmiah sebagai bukti hasil kerja mereka kepada dunia dan juga untuk berbagi hasil penyelidikan tersebut kepada masyarakat awam, karena mereka merasa bahwa tanggung jawab itu ada dipundaknya.

Gambaran perkembangan IPTEK di masa depan :

(1) perkembangan energi fisika tinggi, inovasi dan aplikasi lanjut cahaya laser,

(2) pemurnian terus – menerus pada bidang sibernetika – bidang proses kontrol sistem – sistem mekanik, biologi dan elektronik,

(3) perubahan penting dalam kualitas dan penggunaan media massa,

(4) sukses besar dalam manipulasi ringan dan restorasi lingkungan,

(5) peningkaatan pemakaian komputer,

(6) memperkenalkan super – konduktor, dan

(7) kerja sama internasional dalam perdagangan dan tukar menukar teknologi (Shane, 1973 dalam Kusuma, 1982).

 

Tantangan–Tantangan Yang Dihadapi Oleh Ilmuwan :

  1.           Pendidikan Global
  2.               Perubahan Global

3.        Kesenjangan Kemajuan IPTEK dan Prestasi Pendidikan

  1.             Perubahan Lingkungan Hidup
  2.             Degradasi Moral
  3.              Kesenjangan antara negara berkembang dan negara maju.

Peran Ilmuan Dalam Pengembangan Ilmu

Adapun peran dan fungsi ilmuwan antara lain :

  1. Sebagai intektual.
  2. Sebagai ilmuwan.
  3. Sebagai teknikus.

Tanggung Jawab Ilmuwan berdimensi religious atau etis dan social. Upaya-Upaya Mengantisipasi Masa Depan, Terutama Perubahan Dalam Nilai dan Sikap dapat dilakukan melalui pendidikan di rumah tangga oleh keluarga, pendidikan di sekolah dan pendidikan di masyarakat.

 

DAFTAR PUSTAKA

 

Bakhtiar, A . 2010. Filsafat Ilmu. PT. Raja Grafindo Persada. Jakarta.

Susanto, A. 2011. Filsafat Ilmu, Suatu kajian dalam dimensi Ontologis, Epistemologis, dan Aksiologis. Jakarta : Bumi Aksara

Ibrahim, M. 2009. Tanggung Jawab Ilmuwan. (online) http://id.scribd.com/doc/24070734/KAJIAN-TENTANG-ILMUWAN-YANG-MELIPUTI-CIRI-DAN-PERAN-SERTA-TANGGUNG-JAWABNYA-TERHADAP-TEMUANNY1 ( diakses tanggal 17 Juni 2014)

Winarto, J. 2011. Tugas dan  Tanggung Jawab Ilmuwan. (Online) http://ads6.kompasads.com/new/www/delivery/avw.php? (diakses tanggal 11 Desembar 2012)

Bakhtiar, A. 2009. filsafat ilmu, Rajawali Press. Jakarta.

______________

Disusun Oleh:

Dita Indrias Tutik                                    (12.88203.062/PBI/B)

Heryoanda Nurcahya Purbawani (12.88203.068/PBI/B)

Joko Mustofa                               (12.88203.074/PBI/B)

Prima Okta Setianti                      (12.88203.080/PBI/B)

Tifo Yezzelina Muslimah           (12.88203.087/PBI/B)

Yusdyana Novitasari                   (12.88203.094/PBI/B)

 

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s