Taksonomi Pembelajaran

Kata taksonomi di ambil dari bahasa Yunani “tassein” yang berarti untuk mengelompokkan dan “nomos” yang berarti aturan. Taksonomi dapat diartikan sebagai pengelompokan suatu hal berdasarkan hierarki (tingkatan) tertentu. Dimana taksonomi yang lebih tinggi bersifat lebih umum dan taksonomi yang lebih rendah bersifat lebih spesifik (Wikipedia bahasa indonesia, ensiklopedia bebas).

Taksonomi juga ada dalam ilmu biologi, selain dalam ilmu biologi taksonomi juga di kenal dalam disiplin ilmu yang lain seperti : taksonomi dalam ilmu pendidikan untuk mengklasifikasikan tujuan pendidikan, taksonomi dalam caban ilmu tanah berguna dalam pemberian setiap jenis tanah yang di temukan, taksonomi dalam biologi sendiri untuk mempelajari tentang klasifikasi makhluk hidup. Taksonomi pendidikan lebih dikenal dengan “Taksonomi Bloom”, taksonomi ini pertama kali disusun oleh Benyamin S. Bloom dan kawan-kawan tahun 1956. Sejarahnya bermula pada awal 1950-an, dalam Konferensi Asosiasi Psikolog Amerika, sebagai kelanjutan kegiatan serupa tahun 1948, Bloom dan kawan-kawan mengemukakan bahwa presentase terbanyak butir soal evaluasi hasil belajar yang banyak disusun di sekolah hanya meminta siswa untuk mengutarakan hafalan mereka. Hafalan tersebut sebenarnya merupakan taraf terendah kemampuan berpikir artinya masih ada taraf lain yang lebih tinggi. Bloom, Englehart, Furst, Hill dan Krathwohl kemudian pada tahun 1956 merumuskan adaa tiga golongan domain kemampuan yaitu ranah kognitif, afektif, psikomotorik. Beberapa istilah lain yang juga menggambarkan hal sama dengan ketika domain tersebut diantaranya seperti yang di ungkapkan oleh Ki Hajar Dewantoro, yaitu : cipta, rasa, dan karsa selain itu, juga dikenal istilah : penalaran, penghayatan, pengamalan.

Hal ini sesuai dengan pendapat Bunyamin S. Bloom yaitu :

Proses belajar baik di sekolah atau pun di luar sekolah, menghasilkan tiga (3) pembentukan kemampuan yang di kenal sebagai taksonomi Bloom, yaitu kemampuan kognitif, afektif, dan psikomotorik.

  1. Kemampuan Kognitif

Ranah kognitif adalah ranah yang mencakup kegiatan mental (otak). Benyamin S. Bloom menggolongkan tingkatan pada ranah ini dari pengetahuan sederhana atau penyadaran terhadap fakta-fakta sebagai tingkatan yang paling rendah penilaiannya, yang lebih kompleks dan abstrak sebagai tingkatan yang paling tinggi.

  • Pengetahuan
  • Pemahaman
  • Penerapan
  • Analisis
  • Sintesis
  • Penilaian atau evaluasi

Dan berikut beberapa faktor yang mempengaruhi karakteristik kognitif siswa, di antaranya: persepsi, perhatian, mendengarkan, ingatan.

 

 

 

 

 

 

 

  1. Kemampuan Afektif

Taksonomi untuk daerah afektif awalnya dikembangkan leh David R. Krathwolhl dan kawan-kawan dalam buku taxonomi of educational objective: afective domain. Ranah ini berkaitan dengan sikap dan juga nilai. Beberapa ahli mengatakan jika sikap seseorang dapat diramalkan perubahannya bila seseorang mempunyai kognitif yang tinggi.

Ciri belajar afektif akan tampak di berbagai tingkah laku seperti: perhatian terhadap mata pelajaran pendidikan agama islam, Kedisiplinannya, Motivasi yang tinggi untuk tahu lebih banyak mengenai agama islam. Ranah ini dibagi menjadi lebih rinci lagi menjadi lebih rinci lagi kedalam lima jenjang yaitu reciving, responding, valuing, organization, characterization by value or value complex.

  1. Ranah Psikomotorik

Adalah ranah yang berkaitan dengan ketrampilan (skill) atau kemampuan bertindak setelah seseorang menerima pengalaman tertentu. Anita harrow mengelola taksonomi ranah psikomotor menurut derajat koordinasi yang meliputi koordinasi ketidaksengajaan dan kemampuan yang dilatihkan. Taksonomi ini dimulai dari gerak refleks yang sederhana pada tingkat rendah ke gerakan saraf otot yang lebih kompleks pada tingkatan tertinggi, gerak refleks, gerakan dasar, gerakan tanggap, kegiatan fisik, komunikasi tidak berwacana.

 

  1. Analisis kekurangan dan kelebihan taksonomi pembelajaran

Kelebihan :

a)      Mendukung dalam proses pembelajaran untuk lebih efesien.

b)      Membentuk kemampuan kognitif.

c)      Membentuk kemampuan afektif.

d)     Membentuk kemampuan psikomotorik.

e)      Landasan yang sangat berguna dalam mempreskripsikan strategi pembelajaran.

f)       Berdasarkan penelitian.

 

Kekurangan :

a)      Masih ada yang belum mengerti secara keseluruhan tentang taksonomi pembelajaran dan penerapannya yang benar dalam dunia pendidikan.

b)      Penerapannya belum sepenuhnya menyeluruh.

c)      Banyak klasifikasi pengorganisasian.

d)     Banyak kekurangan dalam penerapannya.

e)      Media pendukung yang belum sempurna.

 

 

 

_____________

Disusun Oleh:

Devi Riwut Riani

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s