Kelebihan Dan Kekurangan Teori Behavioristik Dan Humanistik

Belajar adalah suatu proses mengolah informasi yang ditandai dengan perubahan pada diri peserta didik. Hasil perubahan dalam proses belajar itu ditunjukkan melalui berbagai bentuk, yaitu perubahan sikap, tingkah laku, pengetahuan, reaksi serta daya penerimaannya. Teori belajar merupakan konsep yang digunakan untuk membantu peserta didik mengembangkan kemampunanya dan juga digunakan sebagai dasar pengetahuan untuk memandu jalannya praktek pendidikan. Teori-teori ini sangat penting dalam system pembelajaran sehingga, guru hendaknya memahami dan mengantisipasi terjadinya perubahan dalam pelaksanaan teori belajar karena setiap teori memiliki kelebihan dan kekurangan.

Dalam proses pembelajaran sendiri terdapat beberapa teori yang harus dikuasai oleh seorang guru. Teori belajar tersebut diantaranya ialah teori kognitif, teori konstruktivistik, teori behavioristik, teori humanistic, teori pemrosesan informasi, teori kecerdasan ganda, dan teori kerja otak sehingga, ketika ia menyampaikan materi-materi pembelajarannya siswa lebih mudah memahami materi yang disampaikan dan siswa tidak mudah bosan karena metode pembelajarannya bervariasi. Namun guru juga harus benar-benar memperhatikan kebutuhan siswa dan menentukan teori yang sesuai agar tercipta proses pembelajaran yang efektif dan efisien.

 

TEORI BELAJAR BEHAVIORISTIK

Belajar menurut teori behavioristik merupakan proses perubahan tingkah laku sebagai akibat adanya interaksi antara stimulus dan respon. Pada teori ini siswa diberikan materi sebanyak-banyaknya agar siswa menjadi pintar. Teori belajar behavioristik adalah sebuah teori yang dicetuskan oleh Gage dan Berliner tentang perubahan tingkah laku sebagai hasil dari pengalaman. Teori ini lalu berkembang menjadi aliran psikologi belajar yang berpengaruh terhadap arah pengembangan teori dan praktik pendidikan dan pembelajaran yang dikenal sebagai aliran behavioristik. Teori behavioristik dengan model hubungan stimulus-responnya, menempatkan orang yang belajar sebagai individu yang pasif. Respon atau perilaku tertentu dengan menggunakan metode pelatihan atau pembiasaan semata. Munculnya perilaku akan semakin kuat bila diberikan penguatan dan akan menghilang bila dikenai hukuman. Belajar merupakan akibat adanya interaksi antara stimulus dan respon (Slavin, 2000:143). Menurut teori ini dalam belajar yang penting adalah input yang berupa stimulus dan output yang berupa respon. Proses antara stimulus dan respon tidak penting untuk diperhatikan karena tidak dapat diamati dan tidak dapat diukur. Yang dapat diamati adalah apa yang diberikan oleh guru (stimulus) dan apa yang diterima oleh pelajar (respon) harus dapat diamati dan diukur. Teori ini mengutamakan pengukuran, sebab pengukuran merupakan suatu hal penting untuk melihat terjadi atau tidaknya perubahan tingkah laku tersebut.

Faktor lain yang dianggap penting oleh aliran behavioristik adalah faktor penguatan (reinforcement). Bila penguatan ditambahkan (positive reinforcement) maka respon akan semakin kuat. Begitu pula bila respon dikurangi/dihilangkan (negative reinforcement) maka respon juga semakin kuat.

Beberapa prinsip dalam teori belajar behavioristik, meliputi:(1) Reinforcement and Punishment, (2) Primary and Secondary Reinforcement, (3) Schedules of Reinforcement; (4) Contingency Management, (5) Stimulus Control in Operant Learning, (6) The Elimination of Responses (Gage, Berliner, 1984).

Beberapa pandangan dan pendapat ilmuan tentang teori belajar behavioristik diantaranya ialah:

  1. Menurut Thorndike, belajar adalah proses interaksi antara stimulus dan respon. Stimulus adalah apa yang merangsang terjadinya kegiatan belajar seperti pikiran, perasaan, atau hal-hal lain yang dapat ditangkap melalui alat indera. Sedangkan respon adalah reaksi yang dimunculkan peserta didik ketika belajar, yang dapat pula berupa pikiran, perasaan, atau gerakan/tindakan. Jadi perubahan tingkah laku akibat kegiatan belajar dapat berwujud konkrit, yaitu yang dapat diamati, atau tidak konkrit yaitu yang tidak dapat diamati. Meskipun aliran behaviorisme sangat mengutamakan pengukuran, tetapi tidak dapat menjelaskan bagaimana cara mengukur tingkah laku yang tidak dapat diamati. Teori Thorndike ini disebut pula dengan teori koneksionisme (Slavin, 2000). Ada tiga hukum belajar yang utama, menurut Thorndike yakni (1) hukum efek, (2) hukum latihan dan (3) hukum kesiapan (Bell, Gredler, 1991). Ketiga hukum ini menjelaskan bagaimana hal-hal tertentu dapat memperkuat respon
  2. Menurut Watson, belajar sebagai proses interaksi antara stimulus dan respon, namun stimulus dan respon yang dimaksud harus dapat diamati (observable) dan dapat diukur. Jadi walaupun dia mengakui adanya perubahan-perubahan mental dalam diri seseorang selama proses belajar, namun dia menganggap faktor tersebut sebagai hal yang tidak perlu diperhitungkan karena tidak dapat diamati. Watson adalah seorang behavioris murni, karena kajiannya tentang belajar disejajarkan dengan ilmu-ilmu lain seperi Fisika atau Biologi yang sangat berorientasi pada pengalaman empirik semata, yaitu sejauh mana dapat diamati dan diukur.
  3. Menurut Clark Hull, juga menggunakan variabel hubungan antara stimulus dan respon untuk menjelaskan pengertian belajar. Namun dia sangat terpengaruh oleh teori evolusi Charles Darwin. Bagi Hull, seperti halnya teori evolusi, semua fungsi tingkah laku bermanfaat terutama untuk menjaga agar organisme tetap bertahan hidup. Oleh sebab itu Hull mengatakan kebutuhan biologis (drive) dan pemuasan kebutuhan biologis (drive reduction) penting dan menempati posisi sentral dalam seluruh kegiatan manusia, sehingga stimulus dalam belajarpun hampir selalu dikaitkan dengan kebutuhan biologis, walaupun respon yang akan muncul mungkin dapat berwujud macam-macam. Penguatan tingkah laku juga masuk dalam teori ini, tetapi juga dikaitkan dengan kondisi biologis (Bell, Gredler, 1991).
  4. Menurut Edwin Guthrie Azas belajar yang utama adalah hukum kontiguiti. Yaitu gabungan stimulus-stimulus yang disertai suatu gerakan, pada waktu timbul kembali cenderung akan diikuti oleh gerakan yang sama (Bell, Gredler, 1991). Guthrie juga menggunakan variabel hubungan stimulus dan respon untuk menjelaskan terjadinya proses belajar. Belajar terjadi karena gerakan terakhir yang dilakukan mengubah situasi stimulus sedangkan tidak ada respon lain yang dapat terjadi. Penguatan sekedar hanya melindungi hasil belajar yang baru agar tidak hilang dengan jalan mencegah perolehan respon yang baru. Hubungan antara stimulus dan respon bersifat sementara, oleh karena dalam kegiatan belajar peserta didik perlu sesering mungkin diberi stimulus agar hubungan stimulus dan respon bersifat lebih kuat dan menetap. Guthrie juga percaya bahwa hukuman (punishment) memegang peranan penting dalam proses belajar. Hukuman yang diberikan pada saat yang tepat akan mampu mengubah tingkah laku seseorang. Saran utama dari teori ini adalah guru harus dapat mengasosiasi stimulus respon secara tepat. Siswa harus dibimbing melakukan apa yang harus dipelajari. Dalam mengelola kelas guru tidak boleh memberikan tugas yang mungkin diabaikan oleh anak (Bell, Gredler, 1991). Namun ada beberapa alas an mengapa Skinner tidak sependapat dengan Guthrie, yaitu:
  • Pengaruh hukuman terhadap perubahan tingkah laku sangat bersifat sementara.
  • Dampak psikologis yang buruk mungkin akan terkondisi (menjadi bagian dari jiwa terhukum) bila hukuman berlangsung lama.
  • Hukuman yang mendorong si terhukum untuk mencari cara lain (meskipun salah atau buruk) agar ia terbebas dari hukuman. Dengan kata lain, hukuman dapat mendorong si terhukum untuk melakukan hal lain yang lebih buruk dari pada kesalahan yang diperbuatnya.
  1. Menurut Skinner, konsep-konsep tentang belajar lebih mengungguli konsep para tokoh sebelumnya. Ia mampu menjelaskan konsep belajar secara sederhana, namun lebih komprehensif. Menurut Skinner hubungan antara stimulus dan respon yang terjadi melalui interaksi dengan lingkungannya, yang kemudian menimbulkan perubahan tingkah laku, tidaklah sesederhana yang dikemukakan oleh tokoh tokoh sebelumnya. Menurutnya respon yang diterima seseorang tidak sesederhana itu, karena stimulus-stimulus yang diberikan akan saling berinteraksi dan interaksi antar stimulus itu akan mempengaruhi respon yang dihasilkan. Respon yang diberikan ini memiliki konsekuensi-konsekuensi. Konsekuensi-konsekuensi inilah yang nantinya mempengaruhi munculnya perilaku (Slavin, 2000). Oleh karena itu dalam memahami tingkah laku seseorang secara benar harus memahami hubungan antara stimulus yang satu dengan lainnya, serta memahami konsep yang mungkin dimunculkan dan berbagai konsekuaensi yang mungkin timbul akibat respon tersebut. Skinner juga mengmukakan bahwa dengan menggunakan perubahan-perubahan mental sebagai alat untuk menjelaskan tingkah laku hanya akan menambah rumitnya masalah. Sebab setiap alat yang digunakan perlu penjelasan lagi demikian seterusnya.

Kelebihan dan kekurangan dari teori behavioristik ialah, sebagai berikut:

  • Kelebihan teori behavioristik

Ä  Sangat cocok untuk memperoleh kemampuan yang membutuhkan praktek dan kebiasaan yang mengandung unsure seperti kecepatan, spontanitas, kelenturan, reflek, daya, dsb. Contoh: percakapan bahasa asing, mengetik, menari, berenang, dan olahraga. Konsep pembelajaran ini sangat cocok untuk melatiha anak-anak yang masih membutuhkan dominasi orang dewasa, suka mengulangi dan harus dibiasakan, suka meniru dan senang bentuk-bentuk penghargaan langsung seperti diberi hadiah atau pujian.

  • Kekurangan teori behavioristik

Ä  Penerapan teori yang salah dalam pembelajaran mengakibatkan terjadinya proses pembelajaran yang tidak menyenangkan bagi siswa yaitu guru sebagai pusat, otoriter komunikasi berlangsung satu arah, guru melatih dan menentukan apa yang harus dipelajari murid.

Ä  Menggunakan hukuman sebagai salah satu cara untuk mendisiplinkan siswa baik hukuman verbal maupun fisik seperti kata-kata kasar, ejekan, jeweran yang justru berakibat buruk pada psikologis dan perilaku siswa.

 

TEORI BELAJAR HUMANISTIK

Teori belajar ini berusaha memahami perilaku belajar melalui sudut pandang pelakunya bukan dari sudut pandang pengajarnya. Tujuan utama pendidik adalah membantu peserta didik untuk mengembangkan dirinya, yaitu membantu masing-masing individu dengan memotivasi dan memberikan pengalaman emosional dalam peristiwa pembelajaran untuk mengenal diri mereka sendiri sebagai manusia yang unik dan membantu dalam mewujudkan potensi yang ada dalam dirinya dengan kata lain teori humanistic adalah teori yang memanusiakan manusia. Dalam teori humanistic proses belajar harus berasal dan berakhir pada individu itu sendiri. Meskipun teori ini juga menekankan pentingnya isi dari proses belajar, nyatanya teori ini lebih banyak berbicara tentang pendidikan dan proses proses dalam bentuknya yang paling ideal. Yang berarti teori ini lebih tertarik dengan ide belajar dalam bentuknya dari pada belajar seperti apa adanya. Pada teori belajar humanistic, belajar dianggap berhasil apabila peserta didik memahami ligkungannya dan dirinya sendiri. Dalam proses belajar peserta didik harus berusaha agar lambat laun ia mampu mencapai aktualisasi diri, pemahaman diri dengan, serta realisasi diri secara optimal. Beberapa prinsip teori belajar humanistik yaitu:

  1. Manusia mempunyai sifat belajar alami.
  2. Belajar signifikan terjadi apabila materi pembelajaran dirasakan murid mempunyai relevansi dengan maksud tertentu.
  3. Belajar yang menyangkut perubahan di dalam persepsi mengenai dirinya.
  4. Tugas belajar yang mengancam diri lebih mudah dirasakan bila ancaman itu kecil.
  5. Bila ancaman itu rendah terdapat pengalaman siswa dalam memperoleh cara untuk memecahkan ancaman-ancaman yang timbul.
  6. Belajar yang bermakna diperoleh jika siswa melakukannya.
  7. Belajar lancar jika siswa dilibatkan dalam proses belajar.
  8. Belajar yang melibatkan siswa sepenuhnya dapat member hasil yang maksimal.
  9. Kepercayaan pada diri siswa ditumbuhkan dengan membiasakan siswa untuk selalu mawas diri.
  10. Belajar social adalah belajar mengenai proses belajar.

Beberapa pandangan dan pendapat ilmuan tentang teori belajar humanistik diantaranya ialah:

1. Carl Rogers

            Carl Rogers kurang menaruh perhatian kepada mekanisme proses belajar. Belajar dipandang sebagai fungsi keseluruhan pribadi. Mereka berpendapat bahwa belajar yang sebenarnya tidak dapat berlangsung bila tidak ada keterlibatan intelektual maupun emosional peserta didik. Oleh karena itu, menurut teori belajar humanisme bahwa motifasi belajar harus bersumber pada diri peserta didik.

Roger membedakan dua ciri belajar, yaitu: (1) belajar yang bermakna dan (2) belajar yang tidak bermakna. Belajar yang bermakna terjadi jika dalam proses pembelajaran melibatkan aspek pikiran dan perasaan peserta didik, dan belajar yang tidak bermakna terjadi jika dalam proses pembelajaran melibatkan aspek pikiran akan tetapi tidak melibatkan aspek perasaan peserta didik.

Menurut Roger, peranan guru dalam kegiatan belajar siswa menurut pandangan teori humanisme adalah sebagai fasilitator yang berperan aktif dalam: (1) membantu menciptakan iklim kelas yang kondusif agar siswa bersikap positif terhadap belajar, (2) membantu siswa untuk memperjelas tujuan belajarnya dan memberikan kebebasan kepada siswa untuk belajar, (3) membantu siswa untuk memanfaatkan dorongan dan cita-cita mereka sebagai kekuatan pendorong belajar, (4) menyediakan berbagai sumber belajar kepada siswa, dan (5) menerima pertanyaan dan pendapat, serta perasaan dari berbagai siswa sebagaimana adanya.

2.     Menurut Arthur Combs, belajar terjadi bila mempunyai arti bagi individu. Guru tidak bisa memaksakan materi yang tidak disukai atau tidak relevan dengan kehidupan mereka. Anak tidak bisa matematika atau sejarah bukan karena bodoh tetapi karena mereka enggan dan terpaksa dan merasa sebenarnya tidak ada alasan penting mereka harus mempelajarinya. Perilaku buruk itu sebenarnya tak lain hanyalah dari ketidakmampuan seseorang untuk melakukan sesuatu yang tidak akan memberikan kepuasan baginya. Untuk itu guru harus memahami perilaku siswa dengan mencoba memahami dunia persepsi siswa tersebut sehingga apabila ingin merubah perilakunya, guru harus berusaha merubah keyakinan atau pandangan siswa yang ada.

Perilaku internal membedakan seseorang dari yang lain. Combs berpendapat bahwa banyak guru membuat kesalahan dengan berasumsi bahwa siswa mau belajar apabila materi pelajarannya disusun dan disajikan sebagaimana mestinya. Padahal arti tidaklah menyatu pada materi pelajaran itu. Sehingga yang penting ialah bagaimana membawa si siswa untuk memperoleh arti bagi pribadinya dari materi pelajaran tersebut dan menghubungkannya dengan kehidupannya.

Combs memberikan lukisan persepsi diri dalam dunia seseorang seperti dua lingkaran (besar dan kecil) yang bertitik pusat pada satu.. Lingkaran kecil (1) adalah gambaran dari persepsi diri dan lingkungan besar (2) adalah persepsi dunia. Makin jauh peristiwa-peristiwa itu dari persepsi diri makin berkurang pengaruhnya terhadap perilakunya. Jadi, hal-hal yang mempunyai sedikit hubungan dengan diri, makin mudah hal itu terlupakan.

Kelebihan dan kekurangan dari teori humanistik ialah, sebagai berikut:

  • Kelebihan teori humanistic

Ä  Sangat cocok untuk diterapkan dalam materi pembelajaran yang bersifat pembentukan pribadi, hati nurani, perubahan sikap, analisis terhadap fenomena social. Indicator dari keberhasilannya adalah siswa merasa senang, bersemangat, berinisiatif dalam belajar dan terjadi perubahan pola pikitb atas kemauannya sendiri.

  • Kekurangan

Ä  Jika penerapan teori ini tidak terkontrol, murid akan mempunyai sikap egois yang tinggi. Melakukan apa yang mereka inginkan tanpa batas, siswa tidak mengetahui bahwa dirinya memiliki kepribadian yang unik. Karena dalam teori ini guru adalah fasilitator maka kurang cocok diterapkan pada siswa yang pola pikirnya kurang aktif atau pasif. Karena bagi siswa yang kurang aktif dia akan takut atau malu untuk bertanya pada agurunya sehingga dia akan tertinggal oleh teman-temannya yang aktif dalam kegiatan pembelajaran, padahal dalam teori ini guru akan memberikan respon bila murid yang diajar juga aktif dalam menanggapi respon yang diberikan oleh guru. Karena siswa berperan sebagai pelaku utama (student center) maka keberhasilan proses pembelajaran lebih banyak ditentukan oleh siswa itu sendiri, peran guru dalam proses pembentukan dan pendewasaan kepribadian siswa menjadi berkurang.

 

PENUTUP

Teori belajar dan pembelajaran merupakan hal yang penting untuk diperhatikan oleh guru, karena dari teori tersebut guru dapat mengatasi masalah belajar mengajar, diantaranya teori behavioristik yaitu teoribelajar yang lebih mementingkan adanya stimulus dan respon dalam proses belajarnya karena siswa dianggap belum memiliki kemampuan dan pengetahuan sehingga guru harus menjelaskan semua materi dan teori humanistik merupakan teori yang menyatakan bahwa peserta didik secara individual memiliki kemampuan sehingga guru hanya berperan sebagai fasilitator agar kemampuan siswa terarah. Guru juga harus bisa menganalisis kekurangan dan kelebihan teori belajar dan pembelajaran, karena setiap teori mempunyai kekurangan dan kelebihan.

______________

*) Latif Roby Ningsih, penulis adalah mahasiswa STKIP PGRI Pacitan Program Studi Pendidikan Bahasa Inggris kelas B. Makalah ini disusun guna memenuhi sebagian tugas individu pada mata kuliah Belajar dan Pembelajaran tahun akademik 2013/2014 dengan dosen pengampu Afid Burhanuddin, M.Pd.

 

 

 

 

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s