Kekurangan Dan Kelebihan Teori Pemrosesan Informasi Dan Kinerja Otak

Teori pemrosesan informasi ini didasari oleh asumsi bahwa pembelajaran merupakan faktor yang sangat penting dalam perkembangan. Perkembangan merupakan hasil komulatif dari pembelajaran. Dalam pembelajaran terjadi proses informasi, untuk diolah sehingga menghasilkan bentuk hasil belajar. Dalam pemrosesan informasi terjadi adanya interaksi antara kondisi-kondisi internal dan kondisi eksternal individu. Kondisi internal yaitu keadaan dalam diri individu yang diperlukan untuk mencapai hasil belajar dan proses kognitif yang terjadi dalam individu. Sedangkan kondisi eksternal adalah rangsangan dari lingkungan yang mempengaruhi individu dalam proses pembelajaran.Tahapan proses pembelajaran meliputi delapan fase:

a. Motifasi

b. Pemahaman

c. Pemerolehan

d. Penyimpanan

e. Ingatan kembali

f. Generalisasi

g. Perlakuan

h. Umpan Teori Pemrosesan Informasi

Informasi adalah pengetahuan yang didapat dari pembelajaran, pengalaman atau instruksi. Dalam beberapa hal pengetahuan tentang situasi yang telah dikumpulkan atau diterima melalui proses komunikasi, pengumpulan intelejan dan didapatkan dari berita, juga disebut informasi. Informasi yang berupa koleksi data dan fakta dinamakan informasi statistik. Dalam bidang ilmu komputer, informasi adalah data yang disimpan, diproses atau ditransmisikan. Penelitian ini memokuskan pada definisi informasi sebagai pengetahuan yang didapatkan dari pembelejaran, pengalaman, dan instruksi.

Model pemrosesan informasi beranggapan bahwa anak-anak mempunyai kemampuan yang lebih terbatas dan berbeda dengan orang dewasa. Anak-anak tidak dapat menyerap banyak informasi, kurang sistematis dalam hal informasi apa yang diserap, tidak banyak mempunyai strategi untuk mengatasi masalah, tidak mempunyai banyak pengetahuan mengenai dunia yang diperlukan untuk memahami masalah, dan kurang mampu memonitor kerja proses kognitifnya.

Perkembangan anak yang optimal merupakan tujuan para psikolog perkembangan, maka sangat relevan jika individu-individu yang berkecimpung dibidang ini melakukan penelitian yang tujuanya bermuara pada meningkatkan kemampuan pemrosesan informasi.

Salah satu teori kognitif yang menjelaskan proses belajar pada diri seseorang yang berkenaan dengan tahap-tahap proses pengolahan informasi adalah teori pemrosesan informasi. Menurut teori ini proses belajar tidak berbeda halya dengan proses menerima,menyimpan dan mengungkapken kembali dengan informasi-informasi yang telah diterima sebelumnya. Genjala-gejala tentang belajar dapat dijelaskan jika proses belajar itu dianggap sebagai proses transformasi masukan menjadi keluaran. Jadi, proses belajar tersebut mirip dengan apa yang terjadi pada sebuah komputer.

Berbagai pemahaman tentang belajar telah benyak dikemukakan oleh para ahli dari berbagai aliran. Paparan ini mencoba menyajikan pemahaman tentang belajar dari sudut pandang teori pemrosesan informasi. Proses belajar menurut teori ini meliputi kegiatan menerima, menyimpan dan mengungkapkan kembali informasi-informasi yang telah diterima. Belajar tidaklah hanya apa yang anda lihat, yang penting bagaimana proses kognitif itu terjadi dalam diri pembelajar.

 

2.  Rumusan Masalah

Untuk mendapatkan makalah yang terarah diperlukan adanya rumusan masalah. Berdasarkan latar belakang di atas dapat kita rumuskan masalah yang ada sebagai berikut :

a. Bagaimana konsep dari teori pemrosesan informasi?

b. Bagaimana penerapan teori pemrosesan informasi di kelas?

 

3.  Tujuan Pembuatan Makalah

Pemakalah harus memiliki tujuan yang jelas. Pemakalah dalam hal ini memiliki tujuan mengetahui tentang konsep dasar dari teori pemrosesan informasi dan penerapan teori pemrosesan informasi di kelas.

 

4.  Manfaat

Makalah ini diharapkan dapat memberikan manfaat baik secara teoretis dan secara praktis.

a. Manfaat Teoretis

1) Hasil penelitian ini daharapkan dapat bermanfaat untuk dijadikan acuan jika akan diadakan penelitian lanjutan.

2) Hasil penelitian ini daharapkan bermanfaat bagi kalangan mahasiswa dan pembaca yaitu menambah wawasan, pengetahuan tentang teori pemrosesan informasi.

b. Manfaat Praktis

1) Bagi peneliti diperoleh manfaat dan penerapan dari teori pemrosesan informasi di kelas.

2) Penelitian ini juga diharapkan dapat memberikan sumbangan pemikiran tentang teori pemrosesan informasi.

3)Bagi masyarakat dapat dijadikan sebagai informasi dan pengetahuan tentang teori pemrosesan informasi.

 

KONSEP DASAR DAN DEFINISI KURIKULUM

A.  Konsep Dasar Teori pemrosesan Informasi

Pengetahuan yang diproses dan dimaknai dalam memori kerja disimpan pada memori panjang dalam bentuk skema-skema teratur secara tersusun. Tahapan pemahaman dalam pemrosesan informasi dalam memori kerja berfokus pada bagaimana pengatahuan baru yang dimodifikasi.

Urutan dari penerimaan informasi dalam diri manusia dijelaskan sebagai berikut: pertama, manusia menangkap informasi dari lingkungan melalui organ-organ sensorisnya yaitu: mata, telinga, hidung dan sebagainya. Beberapa informasi disaring pada tingkat sensoris, kemudian sisanya dimasukkan dalam ingatan jangka pendek. Ingatan jangka pendek mempnyai kapasitass pemeliharaan informasi yang terbatas sehingga kandungannya harus diproses secara sedemikian rupa (misalnya dengan pengulangan atau pelatihan), jika tidak akan lenyap dengan cepat.

Bila diproses, informasi dari ingatan jangka pendek dapat ditransfer dalam ingatan jangka panjang. Ingatan jangka panjang merukan hal penting dalam proses belajar. Karena ingatan jangka panjang merupakan tempat penyimpanan informasi yang faktual (disebut pengetahuan deklaratif) dan informasi bagaimana cara mengerjakan sesuatu.

Tingkat pemrosesan stimulus informasi diproses dalam berbagai tingkat kedalaman secara bersamaan bergantung kepada karakternya. Semakin dalam suatu informasi diolah, maka informasi tersebut akan semakin lama diingat. Sebagai contoh, informasi yang mempunyai imaji visual yang kuat atau banyak berasosiasi dengan pengetahuan ynag telah ada akan diproses secara lebih dalam. Demikian juga informasi yang sedang diamati akan lebih dalam diproses dari pada stimuli atau kejadian lain di luar pengamatan. Dengan kata lain, manusia akan lebih mengingat hal-hal yang mempunyai arti bagi dirinya atau hal-hal yamg menjadi perhatiannya karena hal-hal tersebut diproses secara lebih mendalam dari pada stimuli yang tidak mempunyai arti atau tidak menjadi perhatiannya.

Pengulangan memegang peranan penting dalam pendekatan model. Penyimpanan juga dianggap penting dalam pendekatan model tingkat pemrosesan. Namun hanya mengulang-ulang saja tidak cukup untuk mengingat. Untuk memperoleh tingkatan yang lebih dalam, aktivitas pengulangan haruslah bersifat elaboratif. Dalam hal ini, pengulangan harus merupakan sebuah proses pemberian makna dari informasi yang masuk.

B. Konsep Dasar Teori Pemrosesan Teori Kinerja Otak

Otak manusia anugerah luar biasa.Albert Einstein adalah orang yang mampu memaksimalkan fungsi otak kanan dan kiri dengan optimal.Sukses ilmuwan bukan saja hanya mengandalkan rasional, logika, dan kerja maksimal otak kiri mereka.Tapi otak kanan jua berandil banyak dalam besar dan suksesnya mereka.

Selama ini kita beranggapan bahwa otak kiri adalah otak yang bersifat logika, dan otak kanan berkaitan erat dengan kreativitas.Hasil penelitian terakhir membuktikan bahwa pandangan ini salah.Otak kiri dapat menjadi otak yang kreatif.Hal ini dibukttikan dengan hasil karya Dr. Edward De bono yang mencetuskan Lateral Thinking (Berfikir Lateral) pada tahun 1970.

Pandangan umum lainnya yang ada di masyarakat kita, yaitu musisi atau seniman adalah orang yang dominan menggunakan otak kanannya, ternyata juga kurang tepat.Seniman atau pelukis dalam melakukan kegiatan melukis ternyata juga banyak melibatkan otak kiri mereka. Memang benar bahwa ide-ide kreatif mereka berasal dari otak kanan, tapi dalam memilih warna, melukis bentuk gambar yang simetris, mencampur warna, dan memilih bahan baku lainnya, ternyata mereka mengikuti suatu urutan logika di mana itu semua merupakan kegiatan otak kiri.

Hasil penelitian terakhir dengan menggunakan teknologi pemindai PET (positron emission tomography) menunjukkan bahwa bila seseorang merasa tertekan atau stres, maka yang akan lebih aktif adalah otak kanannya. Sedangkan bila seseorang merasa gembira dan optimis akan masa depan dan hidupnya, maka otak kiri akan lebih aktif.

Jika para siswa diajari cara efektif untuk memproses perasaan atau kejadian-kejadian yang negative, maka waktu belajarnya akan dapat dioptimalkan. Optimisme akan timbul bila kita menguasai cara penyelesaian masalah dan juga bila kita mengalami suatu rasa diterima dan dicintai. Oleh sebab itu, gunakan dan ajarkan teknik visualisasi dan penetapan tujuan (goal-setting), scenario penyelesaian masalah, studi kasus, dan mengerjakan latihan yang membutuhkn pemikiran logis,brain-storming, dan mind-mapping (pemetaan pikiran).

Jika dilihat dari sisi pendidikan, kebanyakan sistem pendidikan di dunia lebih menjurus kepada aliran pemikiran otak kiri.Para pelajar di seluruh dunia dilatih untuk membuat keputusan dan melakukan tindakan berdasarkan logika, rasional. Ringkasnya, corak pemikiran otak kiri imaginasi menyokong logik dan rasional, sedangkan dalam gaya pemikiran otak kanan, logik dan rasional akan menyokong imaginasi. Para pelajar tidak bebas berfikir dan tidak mampu dan tidak berani melahirkan ide-ide baru apalagi ide-ide yang amat bertentangan oleh individu-individu yang berfikiran konvensional.

Prestasi belajar di sekolah peserta didik sangat dipengaruhi oleh kemampuan umum yang diukur oleh IQ, IQ yang tinggi meramalkan sukses terhadap prestasi belajar.Namun IQ yang tinggi ternyata tidak menjamin sukses di masyarakat. Pada permulaan tahun sembilan puluhan berbagai penelitian menunjukkan bahwa diinspirasi oleh berbagai psikolog humanis seperti Maslow, Rollo May, Carl Rogers yang sangat memperhatikan segi-segi subyektif (perasaan) dalam perkembangan psikolog, eksplorasi tentang emosi telah menunjuk pada sumber-sumber emosi. Ternyata bahwa emosi selain mengandung perasaan yang dihayati seseorang, juga mengandung kemampuan mengetahui (menyadari) tentang perasaan yang dihayati dan kemampuan bertindak terhadap perasaan itu.Bahkan pada hakekatnya emosi itu adalah impuls untuk bertindak.

Goleman menyatakan bahwa selain rational mind, seorang memiliki emotional main yang masing-masing diukur oleh IQ dan EQ dan bersumber masing-masing dari head dan heart.Kedua kehidupan mental tersebut, meskipun berfungsi dengan cara-caranya sendiri, bekerja secara sinergis dan harmonis.

Proses pembelajaran sangat terkait dengan kerja otak kanan dan kiri. Cara yang sangat baik untuk menghormati keunikan otak dan perbedaan anak adalah dengan mempertimbangkan gaya pembelajaran. Ada banyak gaya pembelajaran yang tersedia sekarang ini. Masing-masing memiliki poin-poin yang kuat. Semuanya memiliki perbedaan dari hal proses input, filter kognitif, pemrosesan, dan gaya respon. Seluruh pemikiran tentang gaya pembelajaran menjadi tidak relevan ketika kita mempertimbangkan tentang seberapa banyak perbedaan yang berkembang dalam otak.

Setiap otak manusia berkembang secara unik.Bahkan otak dari orang kembar identik pun berbeda. Hal yang paling menakjubkan adalah bahwa kita semua secara virtual memiliki DNA yang sama dalam kurang lebih 99.5% bagian tubuh kita. Akan tetapi, angka 0.5% yang unik membuat kita menjadi berbeda.Salah satu sasaran dari lingkungan pembelajaran yang berbasis kemampuan otak adalah untuk mengenali fakta ini dan memperhitungkannya. Kita dapat melakukan ini dengan cara:

1.      Menghormati dan mendukung perbedaan yang ada diantara para pembelajar.

 

2.      Memperhatikan karakteristik gaya pembelajaran

Otak manusia tidak memiliki preferensi atau “gaya pembelajaran” tunggal.Kita jauh lebih kompleks daripada ini.Apa yang barangkali lebih instruktif daripada masalah mempertimbangkan model-model gaya pembelajaran individual adalah mempertimbangkan beberapa karakteristik umum dari semua model tersebut.

Empat kategori berikut ini mencakup pandangan realistik dan global terhadap gaya pembelajaran yang dapat digunakan pada rancangan pembalajaran apapun :

1.    Konteks

Keadaan yang melingkupi pembelajaran memberikan petunjuk-petunjuk yang penting tentang apa yang akan terjadi selama pembelajaran. Misalnya, bagaimana perasaan para pembelajar tentang lingkungan pembelajaran, kondisi sosial dan tingkat kesulitan kontennya?

 

2.    Input

Para pembelajar menuntut adanya sensori input untuk terjadinya pembelajaran apapun. Oleh karena kita mempunyai lima indra, maka input ini bisa berupa visual, audio, kenestetik, penciuman, dan perasa.

Pada suatu waktu seorang pembelajar mungkin lebih memilih input eksternal (yang berasal dari sumber dari luar) dan pada waktu berikutnya akan lebih memilih input internal (yang diciptakan dalam pikiran)

Robert Samples, pengarang buku Open Mind/Whole Mind(1987) mangatakan bahwa pengindraan tambahan kita yang meliputi vestibular(gerakan berulang), magnetik(orientasi feromagnetik), ionik(pengisian elektrostatik atmospheric), geogravimetrik(merasakan perbedaan massa)danproksimal(kedekatan fisik).

3.    Pemrosesan

Tahap dimana para pembelajar memanipulasi data yang dikumpulkan melalui indra, baik yang didapat dari lingkungan yang bersifat global maupun analitis,konkret maupun abstrak, serta multi-tugas maupun tugas-tunggal.

4.    Respons

Saat para pembelajar mulai memproses informasi, respon mereka secara intuitif didasarkan pada sejumlah faktor, seperti waktu, penilaian risiko, poin referensi internal atau eksternal, dan kekhasan personal

Selain memperhatikan empat kategori pembelajaran di atas, juga bisa dilihat dari variable-variabel konteks yaitu:

a)      Tergantung pada lingkungan

Pembelajaran disampaikan di dalam alam seperti kunjungan lapangan, eksperimen, dan situasi-situasi nyata.Pelajar seperti ini, mungkin merujuk pada “pintar di jalan”.Mereka suka menyerap lingkungannya dengan berinteraksi dengannya, beroksplorasi, menyentuh, dan mengobservasi.

 

b)      Tidak Tergantung Lingkungan

Pembelajar gaya ini dapat menemukan makna dalam konteks-konteks “artifisial”. Mereka cukup mampu balajar dengan komputer, buku bacaan, video, tape dan buku-buku lainnya.

c)      Fleksibel dengan Lingkungan

Pembelajar gaya ini dapat belajar dengan baik dalam berbagai kondisi lingkungan. Variabel-variabelnya meliputi: pencahayaan, musik, temperatur, rancangan furnitur, pengaturan tempat duduk, tingkat kebisingan, tingkat struktur, dan orang.

d)     Lingkungan yang Terstruktur

Pembelajar gaya ini lebih memilih lingkungan yang lebih terstuktur. Mereka membutuhkan kepastian dan struktur yang lebih besar.Menekankan pada peraturan, kenyamanan dan otoritas.

e)      Independen

Pembelajar gaya ini lebih memilih belajar sendiri.

f)       Dependen

Pembelajar gaya ini lebih memilih membantu yang lain belajar dan bisa belajar sendiri dengan baik.

g)      Digerakkan oleh Hubungan

Pembelajar gaya ini merasa perlu menyukai penyampai pelajarannya. Siapa yang menyampaikan informasi lebih penting daripada apa yang disampaikan.

h)      Digerakkan oleh Muatan

Pembelajar gaya ini lebih memilih konten yang bernilai. Apa  yang disampaikan lebih penting daripada siapa yang menyampaikannya.

Selain karakteristik gaya pembelajaran tersebut di atas, masih banyak yang lainnya. Masing-masing memiliki poin-poin yang kuat.

 

 

3.      Lebih mengaktifkan otak

Inteligensia sebagian besar adalah kemampuan menyatukan potongan- potongan informasi yang acak untuk menginformasikan proses berfikir, menyelesaikan masalah, dan analisis. Ketika para pembelajar diberikan lebih banyak umpan balik yang konsisten dan yang berkualitas lebih baik, mereka akan lebih mampu menyatukan potongan- potongan teka-teki pembelajaran dan mengintegrasikan informasi tersebut ke dalam hubungan dan pola yang lebih baik.

Tips pengayaan bagi guru:

a.       Berikan salam pada pembelajar di depan pintu.

b.      Seringlah memberi komentar mengenai pembelajaran sebelumnya.

c.       Doronglah pengajaran oleh dan interaksi dengan teman.

d.      Berikanlah tinjauan ulang harian dan mengguan (dilakukan oleh diri sendiri, guru, atau teman).

e.       Buatlah agar para pembelajar berbicara dengan sendirinya melalui proses berpikir mereka (dengan keras).

f.       Buatlah agar tim menyimpan diagram kemajuan kelompok mereka dan pajanglah hasilnya.

g.      Doronglah para siswa untuk membuat jurnal pembelajaran.

h.      Berikan “ujian percobaan” yang tidak akan dimasukkan kedalam skala penilaian.

i.        Buatlah agar para siswa bekerja berpasangan untuk persiapan ujian pelajaran.

j.        Buatlah agar para siswa mengoreksi PR mereka, kuis, ujian dsb., milik mereka sendiri.

k.      Buatlah agar para siswa melakukan presentasi kelompok, yang mereka dapat langsung menerima umpan balik kelompok.

 

4.      Musik dan Pembelajaran

Music sebenarnya dapat memperbaiki jalur-jalur neural otak. Peneliti Frances rauscher, Ph. D., berpendapat (1997) bahwa pola-pola penyalaan neural pada dasarnya adalah sama pada apresiasi music dan berfikir abstrak. Para siswa yang mendengarkan musik klasik selama sepuluh menit (sonata Mozart dengan dua piano pada D Mayor) menunjukkan skor nilai ujian mereka dalam berfikir spasial dan abstrak.Meskipun pada otak hanya bersifat sementara (5-15 menit) hasilnya dapat digandakan dengan menambahkan reaktivasinya kapan saja.

Kebijaksanaan adalah sesuatu yang penting ketika kita menginterpretasikan dan mengaplikasikan hasil-hasil penelitian ini. Ada waktu yang tepat bagi musikdalam proses pembelajaran, sama seperti ada waktu yang tepat untuk tenang.

 

5.      Sekolah sebagai komunitas pembelajar

Bagi anda menciptakan sebuah lingkungan yang berbasis kemampuan otak bagi pembelajar Anda, berarti itu saatnya mencari dukungan dari komunitas yang lebih besar, sekolah. Dukungan dalam tingkat yang lebih luar akan membentuk fondasi bagi kesuksesan jangka panjang di tingkat yang lebih kecil; oleh sebab itu, carilah bantuan dari komunitas pembelajaran yang lebih besar untuk mencapai sasaran-sasaran berikut ini:

a.       Menghargai Nilai

Pastikan bahwa semua orang merasa bahwa mereka adalah anggota komunitas yang mempunyai kontribusi. Jika tidak, maka mereka akan cenderung terpancing untuk mengganggu system tersebut, dan atau merasa tidak layak atau depresi.

b.      Semua Orang Merasa Dipedulikan

Pastikan bahwa tak seorang pun yang merasa jatuh ke jurang. Semua orang harus menjadi bagian dari kelompok pertemanan, bagian dari komite, atau terlibat dalam suatu cara tertentu bersama dengan kru pendukung.

c.       Kebebasan Berekspresi

Pastikan bahwa setiap orang memiliki suara kreatif dalam komunitas.

Sama seperti organ tubuh lainnya, otak membutuhkan istirahat yang cukup untuk bisa beroperasi secara optimal. Itulah sebabnya pelajar yang menggunakan cara SKS (system kebut semalam) tidak akan bisa mencapai hasil pembelajarn yng maksimal. Mengapa demikian?Hal ini disebabkan kondisi otak yang sangat lelah.Untuk berfikir kita harus menggunakan otak neo cortex.Saat lelah dan tegang, otak yang aktif adalah otak reptile.Itulah sebabnya informasi yang telah dipaksakan untuk dipelajari pada malam sebelum ujian tidak dapat atau sulit sekali untuk diingat kembali saat mengerjakan ujian.

Pada waktu tidur, akan terjadi REM (Rapid Eye Movement).Pada saat inilah semua informasi yang telah dipelajari selama satu hari akan diatur di dalam otak dan memori kita. Informasi ini akan diambil dari memori jangka pendek dan dipindahkan ke memori jangka panjang. Rata-rata bayi atau anak kecil mempunyai waktu REM 45%-60% dari waktu tidur mereka.Sedangkan orng dewasa hanya sekitar 20% saja.

Otak kita tidak dapat dipaksa untuk melakukan focus dalam waktu yang lama. Untuk mudahnya kita dapat menggunakan patokan usia. Usia ini kita anggap menit dengan maksiml 30 menit. Idealnya waktu 30 menit ini dibagi menjadi 3 bagian. Gunakan waktu 5 menit untuk melakukan relaksasi dan menetapkan apa tujuan Anda belajar, serta hasil apa yang ingin dicapai. Setelah itu gunakan 20 menit untuk belajar. Sedangkan 5 menit yang tersisa untuk melakukan refleksi atas apa yang baru saja anda pelajari. Lantas bagaimana aplikasi dalam proses pembelajaran? Gunakan waktu 30 menit ini untuk menjelaskan dasar teori suatu materi pelajaran.Setelah 30 menit, gunakan waktu yang tersisa untuk melakukan diskusi atau mengerjakan soal latihan. Jadi, sisa waktu ini untuk menerapkan apa yang dipelajari ke dalam bentuk aplikasi nyata. Bila kita terpaksa harus belajar dalam waktu yang cukup lama, maka kita harus beristirahat selama 5 menit untuk setiap 30 menit belajar.Saat anda istirahat, anda harus benar-benar istirahat.Keluarlah dari ruang belajar, dengarkan music atau sekadar berjalan-jalan.Anda harus benar-benar melepaskan diri dari kegiatan belajar agar bisa mendapatkan penyegaran secara maksimal.

Dalam proses belajar tentu sngat sulit untuk membuat situasi di mana informasi yang kita pelajari sekan-akan sangat menetukan keselamatn hidup kita. Maka cara palin efektif adalah dengn menggunakan informasi tersebut untuk membangkitkan emosi. Diantaranya adalah dengan permainan, menciptakan kondisi belajar yang kondusif, menetpkan tujuan belajar, dan hadiah yang didapat bila tujuan itu tercapai, atau dengan alasan emosial mengapa informasi ini perlu dipelajari.

Itulah sebabnya banyak murid yang terkesan bosan dan sama sekali tidak berminat dengan apa yang dijarkan guru mereka di kelas. Mengapa demikian?Ini karena metode penyampaian informasi itu tidak dpat membangkitkan emosi-emosi yang positif. Dan karena prioritas mempelajari informasi baru sekedar untuk menambah pengetahuan, maka otak sama sekali tidak tertarik.

 

ANALISIS KURIKULUM

1. ANALISIS KELEBIHAN DAN KELEMAHAN TEORI PEMROSESAN INFORMASI

A.  Analisis Kelebihan

Dengan manggunakan teori pemprosesan informasi akan membantu meningkatkan keaktifan siswa untuk berfikir dalam kegiatan pembelajaran. Siswa akan berusaha mengaitkan suatu kejadian atau proses pembelajaran yang menarik dengan materi yang disampaikan, karena dalam teori pemprosesan informasi guru atau pendidik di tuntut untuk kreatif dalam memberikan pengajaran terhadap peserta didik. Yang dimaksud guru kreatif tersebut adalah guru mampu menyajikan materi pembelajaran dengan menggunakan alat bantu dan metode penyampaian yang dapat menarik siswa sehingga, siswa akan mudah mengingat dan memahami materi yang di sampaikan.

B.  Analisis Kelemahan

Jika seorang guru tidak nbisa menyampaikan meteri pembelajaran dengan metode dan alat bantu yang dapat menarik siswa, maka proses pembelajaran akan terasa membosankan. Sehingga tidak akan menarik perhatian siswa yang mengakibatkan tidak tercapainya tujuan pembelajaran. Selain itu apabila menghadapi siswa atau peserta didik yang benar-benar tidak mampu diajak untuk aktif berfikir maka akan terjadi ketidak singkronan antara pendidik dan peserta didik sehingga tujuan pembelajaran tidak akan tercapai.

 

2. ANALISIS KEKURANGAN DAN KELEBIHAN TEORI KINERJA OTAK

  1. Kelebihan Neuroscience:
  2. Teori ini mendukung siswa mencapai apa yang diinginkansesuai pada kemampuan kerja otaknya
  3. Guru sebagai penggubah keberhasilan siswa
  4. Keadaan lingkungan sekitar kondusif

 

  1. Kelemahan Neuroscience:
  2. Sebagian besar pendidikan di Indonesia lebih menekankan pada aspek kognitif atau intelektualnya saja dan yang berkembang hanya otak belahan kiri
  3. Siswa pemikirannya konvensional (fikiran yang berasaskan pendapat-pendapat lama yang telah kukuh dan diterima ramai sebelum ini)
  4. Guru kurang membantu siswa (appabila guru kurang memahami teori belajar yang berbeda pada masing-masing siswa) menemukan keinginan belajar, dan kurang mendukung siswa mencapai apa yang mereka inginkan
  5. Keadaan lingkungan kurang kondusif (minimnya fasilitas dan pengetahuan lingkungan masyarakat/orang tua tentang teori belajar neuroscience)

 

PENUTUP

Teori pemprosesan informasi menyatakan bahwa hanya sedikit informasi yang dapat diolah dalam memori kerja setiap saat. Terlalu banyak elemen bisa sangat membebani memori kerja sehingga menurunkan keefektifan pengolahan informasi. Jika penerima diharuskan membagi perhatian mereka diantara, dan mengintegrasikan secara mental dua atau lebih sumber-sumber informasi yang berkaitan misalnya, teks dan diagram, proses ini mungkin menempatkan suatu ketegangan yang tidak perlu pada memori kerja yang terbatas dan menghambat pemerolehan informasi.

 

DAFTAR PUSTAKA

http://edukasi.kompasiana.com/2010/10/17/teori-otak-dan-implikasinya-dalam-pembelajaran/

W. Gunawan, Adi. Born to be a Genius. (2005). Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama

Jensen, Erick. Brain Based Theory. (2008). Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama

 

________________

Disusun Oleh:

Endahhari Tri Utami

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s