Sejarah Perkembangan Ilmu pada Abad Pertengahan

Abad Pertengahan yaitu periode sejarah di Eropa sejak bersatunya kembali daerah bekas kekuasaan Kekaisaran Romawi Barat. Abad ini muncul setelah zaman Yunani Kuno kira-kira pada abad ke 5 sampai awal abad ke-17. Banyak pendapat mengatakan bahwa pada abad pertengahan ini disebut “abad gelap”, yaitu pemikiran filsafat pada abad pertengahan didominasi oleh agama, pemecahan segala macam persoalan sehari-hari selalu didasarkan atas aturan-aturan agama, dalam hal ini gereja yang diberikan wewenang khusus, sehingga corak pemikiran kefilsafatannya bersifat teosentris.

Ada dua sifat yang tidak sesuai dengan pemikiran para ahli pada zaman Yunani Kuno. Yang pertama adalah pemikiran kaum Yunani merupakan pemikiran orang kafir karena tida mengakui adanya wahyu. Yang kedua adalah filsafat Yunani mengatakan karena manusia itu ciptaan Tuhan maka kebijaksanaan manusia berarti pula kebijaksanaan yang datangnya dari Tuhan. Mungkin akal tidak dapat mencapai kebenaran sejati. Oleh karena itu, akal dapat dibantu oleh wahyu. Para ahli fikir filsafat pada abad pertengahan saat itu tidak memiliki banyak kebebasan untuk berfikir dan mengeluarkan gagasan seperti yang ada di zaman Yunani Kuno. Apabila para ahli tersebut memiliki pemikiran-pemikiran atau gagasan yang bertentangan dengan ajaran gereja, maka ahli fikir tersebut akan mendapatkan hukuman yang sangat berat.

Pihak gereja bahkan melarang diadakannya  penyelidikan berdasarkan rasio (nalar) pada agama. Kajian terhadap agama/teologi yang tidak berdasarkan larangan dapat melaksanakan penyelidikan terhadap agama dibawah aturan yang sudah ditentukan oleh gereja. Sebaliknya dengan orang yang akan melaksanakan penyelidikan tidak berdasarkan aturan gereja akan dianggap murtad.

Masa abad pertengahan ini juga dapat dikatakan sebagai masa yang penuh dengan upaya-upaya membawa manusia kedalam kehidupan atau sistem kepercayaan yang fanatik, dengan menerima ajaran gereja secara membabi buta yang sifatnya dipaksa.

Karena itu perkembangan ilmu pengatahuan menjadi terhambat. Secara garis besar, filsafat pada abad pertengahan dapat dibagi menjadi dua periode yaitu Periode scholastic islam (zaman skolastik timur) yang diwarnai situasi dalam komunitas Islam di Timur Tengah, abad 8 s/d 12 M dan Periode scholastic kristen yang diwarnai oleh perkembangan di Eropa (termasuk jazirah Spanyol).

 

 

A. Definisi / karakteristik pemikiran pada abad pertengahan

Filsafat sudah tidak asing lagi bagi orang-orang yang hidup didaratan Eropa. Sejak diperkenalkan pada zaman Yunani Kuno oleh kerajaan terbesar yaitu Romawi. Bahkan pada masa Yunani kuno banyak filsuf-filsuf yang lahir. Namun dibalik itu semua, banyak filsuf yang tidak setuju dengan keilmuan yang hanya berdasarkan akal pikiran manusia. Oleh karenanya lahirlah abad pertengahan (Middle Age) menjadi titik tolak peradaban manusia yang memahami dan mempercayai ilmu hati. Dengan pengaruh yang cukup besar dan signifikan dari agama Kristen/Katolik terhadap kekaisaran Romawi pada saat itu.

Orang-orang Romawi disibukkan dengan masalah keagamaan dan keyakinan tanpa memperdulikan segala macam masalah yang ada didunia maupun ilmu pengetahuan. Pada saat itu yang dapat tampil dan mempresentasikan ilmu pengetahuan hanya para teolog. Para ilmuwan pada masa ini hampir semua adalah para teolog, sehingga aktivitas ilmiah terkait dengan aktivitas keagamaan. Dengan kata lain, kegiatan ilmiah diarahkan untuk mendukung kebenaran agama. Semboyan yang berlaku bagi ilmu pada masa abad pertengahan adalah ancilla theologiae (abdi agama). Oleh karena itu sejak jatuhnya kerajaan Romawi Barat sampai kira-kira abad ke-10, di Eropa tidak ada kegiatan dalam bidang ilmu pengetahuan yang spektakuler yang dapat dikemukakan seperti zaman Yunani Kuno.

Menjelang berakhirnya abad tengah, ada beberapa kemajuan yang tampak dalam masyarakat berupa penemuan-penemuan baru. Seperti penggunaan bajak yang mempermudah kerja petani, kincir air sudah digunakan untuk menggiling jagung. Ada pula kemajuan dan pembaharuan dalam bidang perkapalan dan navigasi pelayaran pada abad ke-13. Perlengkapan kapal maju sangat pesat seperti terdapatnya alat-alat navigasi kapal yang lebih efektif dan lebih akurat. Kompas mulai digunakan orang di Eropa. Keterampilan orang-orang pada abad ini dalam membuat tekstil dan pengolahan kulit juga semakin maju apalagi setelah orang mengenal alat pemintal kapas.

Kemajuan lain yang penting pada masa akhir abad tengah adalah keterampilan dalam pembuatan kertas. Keterampilan ini berasal dari Cina dan dibawa oleh orang Islam ke Spanyol. Di samping itu orang juga telah mengenal percetakan dan pembuatan bahan peledak. Berbeda dengan keadaan di Eropa yang mengalami abad kegelapan, di dunia Islam pada masa yang sama justru mengalami masa keemasan ilmu pengetahuan dan teknologi.

 

B. Periode-periode zaman pada abad pertengahan

Secara garis besar sejarah filsafat abad pertengahan dibagi menjadi dua zaman atau periode, yakni periode pratistik dan periode skolastik.

  1. Zaman Patristik (100-700)

Patristik berasal dari kata Latin Patres yang berarti bapa-bapa greja, ialah ahli agama Kristen pada abad permulaan agama Kristen. Para pemimpin ini dipilih dari golongan atas atau golongan ahli pikir. Dari golongan ahli pikir inilah menimbulkan sikap yang beragam pemikirannya. Mereka ada yang menolak filsafat Yunani dan ada yang menerimanya. Bagi mereka yang menolak, alasannya karena beranggapan sudah mempunyai sumber kebenaran yaitu firman Tuhan, dan tidak dibenarkan apabila mencari sumber kebenaran yang lain seperti dari filsafat Yunani.Bagi mereka yang menerima sebagai alasannya beranggapan bahwa walaupun telah ada sumber kebenaran yaitu firman tuhan, tetapi tidak ada jeleknya menggunakan filsafat Yunani hanya diambil metodosnya saja (tata cara berpikir). Juga, walaupun filsafat Yunani sebagai kebenaran manusia, tetapi manusia juga sebagai ciptaan Tuhan. Jadi, memakai atau menerima filsafat Yunani  diperbolehkan selama dalam hal-hal tertentu yang tidak bertentangan dengan agama.

Masa Patristik dibagi atas Patristik Yunani (atau Patristik Timur) dan Patristik Latin (atau Patristik Barat). Bapak Gereja terpenting pada masa itu antara lain Tertullianus (160-222), Justinus, Clemens dari Alexandria (150-251), Origenes (185-254), Gregorius dari Nazianza (330-390), Basilus Agung (330-379), Gregorius dari Nyssa (335-394), Dionysius Areopagita, Johanes Damascenus, Ambrosius, Hyeronimus, dan Agustinus (354-430).Tertullianus, Justinus, Clemens dari Alexandria, dan Origenes adalah pemikir-pemikir pada masa awal patristik. Gregorius dari Nazianza, Basilus Agung, Gregorius dari Nyssa, Dionysius Areopagita,dan Johanes Damascenus adalah tokoh-tokoh pada masa patristik Yunani. Sedangkan Ambrosius, Hyeronimus, dan Agustinus adalah pemikir-pemikir yang menandai masa keemasan patristik Latin.

Periode ini mengalami 2 tahap: pertama, permulaan agama kristen. Setelah mengalami berbagai kesukaran terutama mengenai filsafat Yunani, maka agama Kristen memantapkan diri keluar memperkuat gereja dan ke dalam menetapkan dogma- dogma. Kedua, filsafat Agustinus yang merupakan seorang ahli filsafat yang terkenal pada masa patristik. Agustinus melihat dogma- dogma sebagai suatu keseluruhan. Agustinus adalah seorang pujangga gereja dan filsuf besar. Setelah melewati kehidupan masa muda yang hedonistis, Agustinus kemudian memeluk agama Kristen dan menciptakan sebuah tradisi filsafat Kristen yang berpengaruh besar pada abad pertengahan.

Agustinus menentang aliran skeptisisme (aliran yang meragukan kebenaran). Menurut Agustinus skeptisisme itu sebetulnya merupakan bukti bahwa ada kebenaran. Menurut Agustinus, Allah menciptakan dunia ex nihilo (konsep yang kemudian juga diikuti oleh Thomas Aquinos). Artinya, dalam menciptakan dunia dan isinya, Allah tidak menggunakan bahan.

 

Filsafat patristik mengalami kemunduran sejak abad V hingga abad VIII. Di barat dan timur tokoh-tokoh dan pemikir-pemikir baru dengan corak pemikiran yang berbeda dengan masa patristik. Para pembela imam Kristen tersebut adalah Justinus Martir, Irenaeus, Klemens, Origenes, Gregorius, Nissa, Tertullianus, Diosios Arepagos, Au-relius Augustinus.

Skolastik 800-1500

Zaman Skolastik dimulai sejak abad ke-9. “Skolastik” (dari kata Latin “scholasticus”, “guru”), karena pada periode ini filsafat diajarkan dalam sekolah-sekolah, biara dan universitas-universitas menurut suatu kurikulum yang baku dan bersifat internasional. Tokoh-tokoh terpenting masa skolastik adalah Boethius (480-524), Johannes Scotus Eriugena (810-877), Anselmus dari Canterbury (1033-1109), Petrus Abelardus (1079-1142), Bonaventura (1221-1274), Singer dari Brabant (sekitar 1240-1281/4), Albertus Agung (sekitar 1205-1280), Thomas Aquinas (1225-1274), Johannes Duns Scotus (1266-1308), Gulielmus dari Ockham (1285-1349), dan Nicolaus Cusanus (1401-1464). Anselmus mengemukakan semboyan credo ut intelligam, yang artinya aku percaya agar aku mengerti. Kepercayaan digunakan untuk mencari pengertian, filsafat sebagai alat pikiran, teologi sebagai kepercayaan. Sumbangan terpenting Anselmus yaitu suatu ajaran ketuhanan yang bersifat filsafat. Dalam menjelaskan kedatangan dan kematian Kristus Anselmus menjelaskan bahwa kemuliaan Tuhan telah digelapkan oleh kejatuhan malaikat dan manusia. Hal ini merupakan penghinaan bagi Tuhan yang patut dikenai hukuman. Untuk menyelamatkan manusia, Tuhan menjelma menjadi anakNya agar hukuman dapat ditanggung. Dengan demikian keadilan, rahmat dan kasih Tuhan telah genap dan dipenuhi. Ada seorang ahli fikir bernama Abelardus yang bercorak nominalismei ditentang oleh gereja karena mengritik kuasa rohani gereja.Dalam ajaran mengenai etika, Abelardus beranggapan bahwa ukuran etika ialah hukum kesusilaan alam. Kebajikan alam menjadikan manusia tidak perlu memiliki dosa asal. Tiap orang dapat berdosa jika menyimpang dari jalan kebajikan alam. Akal manusia sebagai pengukur dan penilai iman.

Periode Skolastik dibagi menjadi 3 periode yaitu:

  1. Periode Skolastik awal (800-120)

Ditandai oleh pembentukan metode yang lahir karena hubungan yang rapat antara agama dan filsafat. Pada periode ini, diupayakan misalnya, pembuktian adanya Tuhan berdasarkan rasio murni, jadi tanpa berdasarkan Kitab Suci (Anselmus dan Canterbury). Selanjutnya, logika Aristoteles diterapkan pada semua bidang pengkajian ilmu pengetahuan dan “metode skolastik” dengan pro-contra mulai berkembang (Petrus Abaelardus pada abad ke-11 atau ke-12). Problem yang hangat didiskusikan pada masa ini adalah masalah  universalia dengan konfrontasi antara “Realisme” dan “Nominalisme” sebagai latar belakang problematisnya. Selain itu, dalam abad ke-12, ada pemikiran teoretis mengenai filsafat alam, sejarah dan bahasa, pengalaman mistik atas kebenaran religious pun mendapat tempat.

Masa ini merupakan kebangkitan dari pemikiran para ahli akibat dari kungkungan gerejawan yang telah membatasi berfilsafat, karena berfilsafat sangat membahayakan bagi agama Kristen. Dalam periode ini yang ditonjolkan adalah hubungan antar agama dan filsafat karena keduanya tidak dapat dipisahkan. Akan tetapi dalam masa ini filsafat masih bertumpu pada alam fikiran dan karya-karya Kristiani.

 

  1. Periode Skolastik keemasan

Periode puncak perkembangan skolastik dipengaruhi oleh Aristoteles akibat kedatangan ahli filsafat Arab dan yahudi. Filsafat Aristoteles memberikan warna dominan pada alam pemikiran Abad Pertengahan. Aristoteles diakui sebagai Sang Filsuf, gaya pemikiran Yunani semakin diterima, keluasan cakrawala berpikir semakin ditantang lewat perselisihan dengan filsafat Arab dan Yahudi. Universitas-universitas pertama didirikan di Bologna (1158), Paris (1170), Oxford (1200), dan masih banyak lagi universitas yang mengikutinya. Pada abad ke-13, dihasilkan suatu sintesis besar dari khazanah pemikiran kristiani dan filsafat Yunani. Tokoh-tokohnya adalah Yohanes Fidanza (1221-1257), Albertus Magnus (1206-1280), dan Thomas Aquinas (1225-1274). Hasil sintesis besar ini dinamakan summa (keseluruhan).

 

  1. Periode Skolastik Akhir (abad ke-14-15)

Periode skolastik akhir terjadi kira-kira abad ke 14-15 ditandai dengan pemikiran Islam yang berkembang kearah nominalisme yaitu aliran yang berpendapat bahwa universalisme tidak memberi petunjuk tentang aspek yang sama dan yang umum mengenai adanya sesuatu hal. Kepercayaan orang pada kemampuan rasio memberi jawaban atas masalah-masalah iman mulai berkurang. Ada semacam keyakinan bahwa iman dan pengetahuan tidak dapat disatukan. Rasio tidak dapat mempertanggungjawabkan ajaran Gereja, hanya iman yang dapat menerimanya. Salah seorang yang berfikir kritis pada periode ini adalah Wiliam dari Ockham (1285-1349). Anggota ordo Fransiskan ini mempertajam dan menghangatkan kembali persoalan mengenai nominalisme yang pernah didiskusikan. Selanjutnya, pada akhir periode ini, muncul seorang pemikir dari daerah yang sekarang masuk wilayah Jerman, Nicolaus Cusanus (1401-1464). Ia menampilkan “pengetahuan mengenai ketidaktahuan” ala Sokrates dalam pemikiran kritisnya:”Aku tahu bahwa segala sesuatu yang dapat ku ketahui bukanlah Tuhan”. Pemikir yang memiliki minat besar pada kebudayaan Yunani-Romawi Kuno ini adalah orang yang mengatur kita memasuki zaman baru, yakni zaman Modern.

 

C. Tokoh-tokoh pada masa abad pertengahan

  1. Platinus (204-207)

Plotinus lahir tahun 204 di Mesir. Pada tahun 232 ia pergi ke Alexandria untuk belajar filsafat pada seorang guru bernama Animonius Saccas selama 11 tahun. Pada umur 40 tahun ia pergi ke Roma. Di sana dia menjadi pemikir terkenal. Dia meninggal tahun 270 di Minturnae, Campania, Italia. Porphyry, murid plotinus mengumpulkan tulisanya yang berjumlah 54 karangan. Karangan itu dikelompokkan menjadi 6 set, tiap set ada 9 karangan, masing- masing set disebut ennead.Platinus  dapat disebut  musuh naturalisme  ia membedakan dengan tegas  tubuh dan jiwa, jiwa tidak dapat  diterjemahkan kedalam ukuran-ukuran badaniah, fakta alam harus dipahami sesuai dengan tendensi spiritualnya.

 

  1. Augustinus (354-430)

Augustinus lahir di Tagaste, Aljazair, Afrika Utara, 13 November 354 M. Ayahnya adalah seorang dewan kota yang kurang taat beragama hingga menjelang akhir hayatnya. Augustinus dididik dan dibesarkan secara Kristen kendatipun karena adat istiadat yang berlaku pada masa itu, ia tidak dibaptiskan ketika masih bayi. Augustinus menganggap filsafat sebagai suatu aktivitas, yang meliputi teknik-teknik penalaran, dan juga suatu pendekatan menuju kebijaksanaan dan kebenaran-kebenaran penalaran, dan juga suatu pendekatan menuju kebijaksanaan dan kebenaran-kebenaran tertinggi tentang kehidupan. Dengan mengikuti Augustinus, yang mempertahankan bahwa tidak mungkin ciptaan-ciptaan sama kekal (co-eternal) dengan pencipta. Aliran Augustinus menolak kemungkinan penciptaan dari kekekalan (creatio ab qetermo). Augustinus mempertahankan bahwa kesatuan jiwa dengan Allah adalah terutama melalui kehendak Adapun sifat-sfat pokok dari ajaran filsafatmenurut Augustinus adalah sebagai berikut :

a)      Mengakui manusia dengan kepercayaan dan agama tidak boleh dipisahkan. Tanpa kepercayaan dari agama, manusia akan sesak, dan tanpa akal, orang tak akan memperoleh pengertian yang jelas tentang kepercayaan dan agama itu.

b)      Kehendak manusia berpangkal diatas akal dan cinta kasih sayang mempunyai arti kesucian diatas ilmu pengetahuan. Juga berlaku terhadap Tuhan, sedang Tuhan terutama berarti cinta kasih sayang.

c)      Roh/jiwa agak bebas terhadap raga dan jiwa mengenal dirinya secara langsung dan intuistif, yang terdiri atas kebendaan dan bentuk

d)     Spiritualisme yang antropologis (jiwa itu tak lain dari manusia itu sendiri) berjalan berdampingan dengan spiritualisme yang bersifat teori mengenal.

e)      Kebendaan itu pada hakikatnya cahaya. Bahwa jiwa menghendaki tubuh dan tubuh menghendaki jiwa merupakan pandangan yang dualistis.

Filsafat Kristen  yang banyak mendominasi  abad pertengahan  banyak berhutang  pada pola-pola  pemikiran Yunani dan Romawi.Augustinus  dianggap  telah meletakan  dasar-dasar  pemikiran  abad pertengahan, mengadaptasikan  platonisme kedalam  ide-ide Kristen, memberikan formulasi sistematis tentang filsafat Kristen. Filsafat Augustinus merupakan sumber atau asal-usul reformasi yang dilakukan  oleh Protestan.

 

__________

Disusun Oleh:

Dea Daerien Nadza

2 thoughts on “Sejarah Perkembangan Ilmu pada Abad Pertengahan”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s