Masalah Belajar dan Solusi

Sudah cukup lama rasa tidak keseimbangan antara perkembangan intelektual dan emosional remaja di sekolah menengah (SMP/SMA). Kemampuan intelektual mereka telah dilarang sejak awal melalui berbagai macam sarana dan prasarana yang telah di siapkan di rumah dan di sekolah.

Dari segi fisik, para remaja sekaramg juga dipeliraha cukup baik sehingga mempunyai ukuran tubuh yang sudah tampak dewasa, tetapi mempunyai emosi yang masih seperti yang masih anak kecil. Terhadap kondisi remaja yang demikian, banyak orang tua yang tidak berdaya berhadapan dengan masalah yang membesarkan dan mendewasakan anak-anak di dalam masyarakat yang berkembang begitu cepat, yang berbeda secara radikal dengan dunia di masa remaja mereka dulu.

Masalah remaja di sekolah remaja yang masih sekolah di SMP/SMA selalu mendapat banyak hambatan atau masalah yang biasanya muncul dalam bentuk perilaku.

  1. Perilaku bermasalah ( problem behavior )

Masalah perilaku yang dialami oleh banyak remaja di sekolah dapat dikatakan masih dalam kategori wajar jika tidak merugikan dirinya sendiri dan orang lain, dengan guru dan dengan masyarakat. Perilaku maludalam mengikuti berbagai kegiatan di sekolahmisalnya, termasuk kategori perilaku masalah yang menyebabkan seseorang remaja mengalami kekurangan pengalaman

  1. Perilaku menyimpang ( behavior disorder )

Perilaku menyimpang pada remaja merupakan perilaku yang kacau yang di sebabkan oleh seseorang remaja kelihatan gugup ( nerveouse ) dan perilakunya tidak terkontrol ( uncontrol ). Memang di akui bahwa semua remaja tidak mengalami behavior disorder. Seorang remaja mengalami hal ini tidak tenang unhappiness dan menyebabkan hilangnya konsentrasi terhadap remaja sekarang. Penyebab behavior disorder lebih banyak karena persoalan psikologis yang selalu menghantui jiwa remaja.

  1. Penyesuaian diri yang salah ( behavior maladjustment)

Perilaku yang tidak sesuai yang di laksanakan oleh remaja biasanya di dorong oleh keinginan mencari jalan pintas dalam menyelesaikan suatu tanpa ada definisikan secara cermat akibatnya perilaku menyontek, bolos, dan melanggar peraturan sekolah merupakan contoh penyesuaian diri yang salah pada jiwa remaja di sekolah menengah .

  1. Perilaku tidak dapat membedakan benar-salah ( conduct disorder )

Kecenderungan kepada remaja menyebabkan remaja tidak mampu membedakan antara yang salah dan yang benar. Wujud dari conduct disorder adalah munculnya perbedakan dan perilaku terhadap orangtua tidak bisa membedakan perilaku yang benar dan salah pada anak. Wajarnya, orangtua harus mampu memberikan hukuman ( punisment ) pada saat anak melakukan perilaku yang tidak memberikan pujian atau hadiah ( reward ) dan saat anak melakukan tindakan atau pujian terhadap orang lain. Seorang remaja di sekolah bisa dikategorikan dalam conduct disorder apabila ia memunculkan perilaku anti sosial baik secara verbal maupun non verbal seperti melawan aturan, tidak sopan terhadap guru, dan mempermainkan temannya.

  1. Attention Deficit Hyperactivity disorder

Anak yang mengalami defisiensi dalam memperhatikan dan tidak dapat menerima impuls-impul sehingga gerakan-gerakanya tidak dapat terkontrol dan menjadi hyperactif. Remaja di sekolah yang hyperactif biasanya mengalami kesulitan dalam memusatkan perhatian sehingga tidak dapat menyelesaikan tugas-tugasnya yang diberikan kepadanya atau tidak dapat berhasil dalam menyelesaikan tugasnya dengan maksimal. Selain itu anak hyperactif sangat mudah terpengaruh oleh stimulus yang datang dari luar serta mengalami kesulitan dalam bermain bersama teman sebayanya.

Peranan Lembaga Pendidikan untuk tidak segera mengadili atau menuduh remaja sebagai sumber segala masalah dalam kehidupan di masyarakat, barangkali baik kalau setiap lembaga pendidikan ( keluarga, sekolah, dan masyarakat ) mencoba mereflesikan peranan masing-masing.

Apa ada jalan keluar buat kita

Siswa-siswi SMP/SMA adalah merupakan siswa-siswi yang berada dalam golongan usia remaja, usia mencari identitas dan eksitensi diri dalam kehidupan di lingkungan masyarakat. Dalam proses     pencarian identitas diri itu, peran aktif dari ketiga lembaga pendidikan banyak membantu melancarkan pencapaian kepribadian yang dewasa bagi para remaja. Ada beberapa hal kunci yang bisa dilakukan oleh lembaga-lembaga pendidikan.

Pertama, memberikan kesempatan untuk mengadakan dialog untuk menyiapkan jalan bagi tindakan bersama.

Sikap mau berdialog diantara orangtua, pendidik di sekolah, dan masyarakat dengan remaja pada umumnya adalah kesempatan yang di inginkan para remaja. Dalam hati sanubari para remaja tersimpan kebutuhan nasihat, pengalaman, dan kekuatan atau dorongan dari orangtua. Tetapi kerinduan itu sering terjadi kepada orangtua remaja tersebut dalam keluarganya, di sekolahataupun dalam lingkungan masyarakat tersebut. Menyadari kekurangan ini, lembaga-lembaga pendidikan perlu membuka kesempatan untuk mengadakan dialog dengan para remaja lainnya, kaum muda dan anak-anak , entah dalam lingkungan keluarga, sekolah maupun masyarakat, kedua saling menjalin hubungan yang tulus.

Dewasa ini jumlah orantua yang bertindak otoriter terhadap anak-anak mereka sudah jauh berkurang. Namun muncul kecenderungan yang sebaliknya, yaitu sikap memanjakan anak secara berlebihan . banyak orang tua yang tidak berani mengatakan tidak terhadap anak-anak mereka supaya tidak dicap sebagai orangtua yang tidak mempercayai anak-anaknya, untuk tidak di anggap sebagai orangtua kolot, konservatif dan ketinggalan zaman.

Ketiga, memberikan pendampingan, perhatian dan cinta sejati.

Ada begitu banyak orangtua yang mengira bahwa mereka telah mencintai anak-anaknya. Sayang sekali bahwa egonisme mereka sendiri menghalang-halangi kemampuan mereka untuk mencintai anak-anaknya dengan sempurna. “ saya telah memberikan segala-galanya”, itulah keluhan seorang ibu yang merasa kecewa terhadapap anaknya yang melakukan tindakan ugal-ugalan di lingkungan sekolah maupun di lingkungan masyarakat, anak saya yang tidak tahu terima kasih.

Yang perlu di fahami warga setiap individu memerlukan rasa aman dan merasakan dirinya di cintai. Sejak lahir itu kebutuhan pokok yang pertama-tama dirasakan manusia adalah kebutuhan “ kasih sayang” yang dalam masa perkembangan selanjutnya di usia remaja, kasih sayang, rasa aman, dan perasaan dicintai sangat dibutuhkan oleh para remaja. Dan usaha-usaha dan perlakuan yang memberikan perhatian, cinta tulus, dan sikap mau berdialog dengan teman yang lainnya. Maka remaja akan mendapatkan rasa aman, serta memiliki keberanian untuk membuka dalam mengungkapkan pendapatnya.

Lewat kondisi hidup dalam keluarga , lingkungan sekolah, ataupun lingkungan masyarakat seperti diatas itulah para remaja akan merasa terdampingi dan mengalami perkembangan kepribadian yang optimal dan tidak terkungkung dalam perasaan dan tekanan-tekanan batin yang mencekam. Dengan begitu gaya hidup yang mereka tampilkan benar-benar merupakan proses untuk menemukan identitas diri mereka sendiri yang sebenarnya.

Memahami diri

Materi ini bertujuan untuk menjawab pertanyaan, maka sangat di butuhkan adanya refleksi yang mendalam, kontemplasi diri yang total, dan definisi yang objektif. Saya hanyalah pesiarah yang mencari kesempurnaan hidup kesiarah saya masih jauh dari kata sempurna dan saya mencari ridhonya. Mungkin pesiarah itu akan berakhir pada saat saya melupakan diri saya sendiri. Dan aku adalah diri aku sendiri dan bernafas aku berfikir dan merasa aku mencintai samudera yang penuh dengan rahasia yang nanti aku jelajahi. Dan kita adalah makhluk hidup yang unik yang merenungkan asal-usul kita dan berikhtiar merencanakan masa depan.

 

_________

Disusun Oleh

NAMA: RITA SUGIARTI

NIM: 1388203026

PRODI: PBI/I/II/A

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s