Ilmu Sebagai Aktivitas Penelitian Dan Metode Ilmiah

Ilmu merupakan suatu kata yang tak lepas dari segala hal. “Impossible that we doing anything without science”.Jadi, merupakan hal yang sangat tidak mungkin, ketika kita melakukan sesuatu tanpa ada ilmu di dalamnya. Istilah ilmu mempunyai arti ganda dalam memaknainya. Dalam cakupannya yang pertama ilmu di pandang sebagai sebuah istilah umum untuk menyebut segenap pengetahuan ilmiah yang dipandang sebagai satu kebulatan. Hal ini di artikan bahwa ilmu mengacu pada ilmu seumumnya (science-in-general). Dari arti yang kedua, ilmu menunjuk pada masing-masing bidang pengetahuan ilmiah yang mempelajari sesuatu pokok soal tertentu. Dalam arti ini ilmu berarti sesuatu cabang ilmu khusus seperti misalnya antropologi, biologi, geografi, atau sosiologi.

Istilah Inggris “science” kadang-kadang diberi arti sebagai ilmu khusus yang lebih terbatas lagi, yakni sebagai pengetahuan sistematis mengenai dunia fisis atau material (systematic knowledge of the physical or material world). Dalam Wikipedia, Ilmu adalah seluruh usaha sadar untuk menyelidiki, menemukan dan meningkatkan pemahaman manusia dari berbagai segi kenyataan dalam alam manusia. Segi-segi ini dibatasi agar dihasilkan rumusan-rumusan yang pasti. Ilmu  memberikan kepastian dengan membatasi lingkup pandangannya, dan kepastian ilmu-ilmu diperoleh dari keterbatasannya. Sebagai contoh adalah Ilmu Alam yang hanya bisa menjadi pasti setelah lapangannya dibatasi kedalam hal yang bahani (materiil saja) atau ilmu psikologihanya bisa meramalkan perilaku manusia jika membatasi lingkup pandangannya ke dalam segi umum dari perilaku manusia yang kongkrit.

 

  1. MANUSIA DAN MASALAHNYA DALAM KEHIDUPAN

    Dalam Wikipedia manusia atau orang dapat diartikan berbeda-beda dari segi biologis, rohani, dan istilah kebudayaan, atau secara campuran. Secara biologis, manusia diklasifikasikan sebagai Homo sapiens (Bahasa Latin yang berarti ”manusia yang tahu”), sebuah spesies primata dari golongan mamalia yang dilengkapi otak berkemampuan tinggi. Dapat di simpulkan bahwa manusia diciptakan mempunyai akal dan pastinya akal tersebut digunakan manusia untuk berfikir. Dari proses berfikir tersebut akan timbul masalah di dalam kehidupan manusia tersebut. Pada umumnya, manusia dari bangun tidur sampai Ia tidur kembali sudah di hadapkan dengan berbagai masalah, dari masalah yang sederhana sampai pada masalah yang kompleks.

    Dalam realitasnya, tidak semua orang yang pernah mengenyam sekolah itu konsisten dengan ilmu pengetahuan yang sudah diperoleh. Bisa saja dengan memilih cara atau mengambil langkah yang menurutnya lebih baik sehingga menjadikan pola berpikir untuk memecahkan masalah yang dihadapi semakin bervariasi. Berpikir untuk bisa memecahkan masalah merupakan bagian dari hak otonom setiap manusia sehingga hal tersebut dapat menambah referensi dan keanekaragaman pola berpikir manusia dalam kehidupan di dunia ini. Dari beberapa pengalaman selama ini,(dalam http://lifestyle.kompasiana.com/urban/2011/03/20/mengenali-pola-pikir-manusia-348178.html) beberapa pola pikir manusia dapat dirangkum dan masing-masing dapat diketahui seperti di bawah ini:

  1. Pola Pikir Kharismatik

Suatu pola pikir di dalam memecahkan masalah yang dihadapi dengan menggunakan proses penyelesaian masalah didasarkan otoritas atau kewibawaan. Otoritas atau kewibawaan menjadi pokok penentu dalam pengambilan keputusan. Bagi orang yang memiliki kewibawaan tinggi, misalnya tokoh masyarakat formal atau non-formal (yang disegani) dianggap paling mampu untuk menyelesaikan setiap masalah sehingga sebagian besar orang akan tunduk pada keputusan yang diambil olehnya. Sering pula beberapa kalangan menyebutnya ini sebagai pola pikir kharismatik, dalam artian bahwa setiap masalah, apalagi masalah rumit dan berkait kebijakan menyangkut kepentingan masyarakat luas – maka apa yang dikatakan tokoh itu dianggapnya yang paling benar.

  1. Pola Pikir Tenasitas

Tenasitas dapat diartikan sebagai kebiasaan. Berpola pikir tenasitas merupakan cara berpikir manusia dalam memecahkan masalah selalu mendasarkan pada kebiasaan-kebiasaan, adat istiadat atau tradisi. Misalnya saja ditemui pada beberapa kalangan jika mendirikan bangunan, jembatan-jembatan dengan menggunakan sesaji, dilengkapi ubo rampe dan sebagainya. Hal ini dilakukan sebagai simbol kebudayaan di lingkungan setempat/terbatas.

Tentu saja pola pikir ini banyak diwarnai oleh kebiasaan-kebiasaan atau kultur yang sangat kuat dan sarat dengan simbol-simbol penuh makna tertentu yang telah dilakukan secara turun temurun. Dengan melakukan kebiasaan ini tentunya banyak makna yang terkandung dan dapat menambah keyakinan sehingga dalam melangsungkan rangkaian aktivitas kehidupan yang penuh dengan masalah – diharapkan dapat berlangsung aman dan lancar.

  1. Pola Pikir Perasaan

Diartikan bahwa manusia didalam memecahkan masalah berdasarkan pada perasaan semata-mata, sehingga cara pengambilan keputusan sangat dipengaruhi oleh subyek pelakunya. Perasaan-perasaan itu selalu muncul pada setiap masalah yang dihadapi. Misalnya, perasaan seseorang dalam proses mengambil keputusan atau menyelesaikan masalah mendominasi dan selalu berperan di dalam perilakunya. Atau dalam kata lain, perasaan di sini banyak turut ambil bagian. Perasaan pada tulisan ini dapat dibagi menjadi dua, yaitu perasaan dalam artian intuisi dan perasaan dalam artian emosi.

Pola pikir berdasarkan intuisi sesungguhnya banyak ditemui. Pola pikir ini tidak bisa buru-buru dikatakan negatif. Namun kalau disebutkan cenderung subyektif dalam proses pengambilan keputusan, jawabnya: mungkin iya. Tingkatan intuisi seseorang tidak selalu sama dalam memecahkan setiap masalah yang dihadapi, berdasarkan kata hati bisa saja diterima kebenarannya, walaupun masih perlu pengujian lebih lanjut. Karenanya keputusan yang diambil biasanya tergantung pada ketajaman intuisi pelakunya.

Pola pikir perasaan dalam artian emosi juga tak kalah pentingnya dicermati. Misalnya, dalam rapat, diskusi (termasuk di ruang publik virtual), seminar, pertemuan antarkelompok, organisasi politik, kampanye-kampanye partai dan sebagainya. Seringkali perasaan (emosi) lebih mengemuka dan bermunculan, biasanya ini terjadi karena “benturan atau persaingan kepentingan” yang tidak sehat, tidak saling toleransi atau tidak menerima pendapat maupun pemikiran orang lain.

  1. Pola Pikir Mencoba-coba

Dimaksudkan sebagai pola pikir manusia ketika menghadapi masalah dengan cara “coba-coba tapi tidak pasti” atau dalam bahasa sono-nya disebut trial and error. Dalampola pikir ini manusia selalu menyoba-nyoba tanpa adanya kepastian dalam menyelesaikan masalah. Ambil contoh yang paling gampang: Ketika si Badu mengalami kerusakan radio kesayangannya – ia pun tak ambil pusing untuk memeriksa apa penyebab kerusakan radio tersebut. Langsung saja ia memukul-mukul secara pelan (diketuk-ketuk) radionya dengan harapan “berbunyi” kembali. Contoh lain dapat dianalogikan begini: kalau kita melihat burung di dalam sangkar, ketika ia hendak keluar selalu tubruk sana – tubruk sini tak tentu arah di dalam sangkarnya, namun tak juga bisa lepas karena tidak mengetahui cara yang benar untuk membuka pintu sangkarnya.

Ditemui pula pola pikir manusia yang terbiasa “coba-coba tapi tidak ada kepastian” seperti yang telah digambarkan di atas. Alhasil, apa yang dilakukan dalam memecahkan masalah – cenderung berspekulasi (gambling), sering keliru atau pun kalau masalahnya dapat selesai karena faktor kebetulan saja. Blessing in disguise, kira-kiranya begitu.

  1. Pola Pikir Ilmiah

Proses berpikir manusia didasarkan pada cara yang rasional dalam mencari kebenaran atau pemecahan masalah. Penyelesaian masalah bersifat ilmiah. Pada proses berpikir ini biasa dilakukan pengamatan terhadap gejala peristiwa terlebih dahulu. Kemudian dirumuskan masalah yang akan dibahas. Berpikir ilmiah merupakan proses berpikir manusia untuk memperoleh kesimpulan, keputusan, atau kebenaran selalu menggunakan logika dan dilakukan secara sistematis, metodologis, bisa diuji dan dibuktikan kebenarannya oleh orang lain (universal). Sedangkan pelakunya disebut ilmuwan (scientist).

Ilmuwan biasanya bersikap independen, selalu terbuka, demokratis, semua pendapat dihargai. Apabila keputusan atau kesimpulan yang telah dilakukan ternyata salah – maka seorang ilmuwan mengakuinya. Kemudian tertantang untuk mencari cara pemecahan masalah melalui metode yang tepat/sesuai – sehingga diperoleh kesimpulan atau kebenaran (scientific truth). Pada prinsipnya, dalam pola pikir ilmiah dimulai perumusan masalah, pengajuan hipotesis atau asumsi, pengumpulan data, melakukan analisis data, kemudian menarik kesimpulan/konklusi guna mendapatkan kebenaran berupa hasil pemecahan masalah. Perlu ditambahkan bahwa proses berpikir ilmiah membutuhkan waktu relatif lama dan cermat, akan tetapi tingkat kebenarannya dapat dipertanggung jawabkan.

  1. METODE ILMIAH DALAM PENELITIAN

    Suatu penelitian harus dilakukan melalui tahapan-tahapan yang sistematis. Dalam (https://afidburhanuddin.wordpress.com/2013/09/23/ilmu-sebagai-aktivitas-penelitian-dan-metode-ilmiah-2/) ada beberapa tahapan-tahapan dalam metode ilmiah, yaitu sebagai beikut:

  1. Merumuskan Masalah

    Sebelum menetukan suatu penelitian, perlu dirumuskan permasalahan yang akan diteliti terlebih dahulu. Dalam merumuskan maslah dalam penelitian perlu diperhatikan hubungan antarvariabel.

  1. Mengumpulkan Keterangan

    Setelah masalah dapat dirumuskan, kita mulai mengumpulkan keterangan. Pengumpulan keterangan dapat dilakukan melalui pengamatan langsunng (observasi) atau secara kepustakaan (membaca buku-buku hasil penelitian sebelumnya). Kegiatan ini bertujuan untuk menemukan jawaban sementara terhadap masalah tersebut.

  1. Merumuskan Hipotesis

    Hipotesis adalah suatu dugaan sementara terhadap masalah sebelum dibuktikan. Dugaan sementara tersebut akan dibuktikan kebenarannya melalui percobaan (eksperimen) yang akan kita lakukan.

Ada dua macam hipotesis dalam eksperimen, yaitu hipotesis alternatif dan hipotesis nol.

Hipotesis alternatif adalah dugaan yang menyatakan ada pengaruh. Hipotesis nol adalah hipotesis yang menyatakan tidak ada pengaruh.Dugaan sementara yang kita buat dapat diterima jika sesuai dengan hasil percobaan atau ditolak jika berbeda dengan hasil percobaan yang kita lakukan.

  1. Melakukan Eksperimen (Percobaan)

    Eksperimen dilakukan untuk menguji kebenaran hipotesis yang diajukan. Dalam melakukan eksperimen diperlukan tingkat ketelitian yang tinggi, misalnya penggunaan alat, dalam pengukuran, pemberian perlakuan (ulangan atau sampel), kontrol, dan pengendalian faktor-faktor lain. Ketelitian dalam eksperimen sangat mempengaruhi hasil penelitian.Eksperimen dapat dilakukan di laboratorium atau di alam sesuai dengan tujuan penelitian kita.

  1. Menganalisis Data

    Data hasil eksperimen kita analisis untuk menarik kesimpulan hasil eksperimen. Data umumnya dianalisis secara statistik.

  1. Menarik Kesimpulan Hasil Eksperimen

    Kesimpulan dibuat berdasarkan eksperimen yang dilakukan. Banyaknya kesimpulan disesuakan dengan banyaknya rumusan masalah yang sudah disusun dalam rumusan masalah.

Ilmu merupakan suatu aktivitas manusiawi yangberbuat atau melakukan sesuatu yang dilakukan oleh manusia. Ilmu merupakan sebuah proses rangkaian aktivitas sehingga. Rangkaian aktivitas tersebut dapat bersifat rasional, kognitif, dan teleologis.Aktivitas rasional berarti kegiatan yang menggunakan kemampuan pikiran untuk menalar yang berbeda atau berfikir lain dengan aktivitas yang berdasarkan perasaan atau naluri. Menurut Bernard Barber pemikiran rasional atau rasionalitas manusia merupakan sumber utama dari ilmu. Dikatakannya bahwa “the germ of science in human society lies in man’s aboriginal and unceasing attempt to understand and control the world in which he live by the use of rational thought and activity”. (benih ilmu dalam masyarakat manusia terletak di dalam usaha manusia yang tak henti-hentinya dan asli pembawaannya untuk memahami dan menguasai dunia tempat ia hidup dengan menggunakan pemikiran dan aktivitas rasional).

Sifat lain dari sebuah ilmu ialah kognitif, sifat ini berhubungan dengan hal mengetahui dan pengetahuan. Filsuf Polandia Ladislav Tondl menyatakan bahwa science terutama berarti conscious and organized cognitive activity (aktivitas kioginitf yang teratur dan sadar). Dijelaskannya lebih lanjut demikian :

“Tujuan-tujuan terpenting ilmu bertalian dengan apa yang telah dicirikan sebagai fungsi pengetahuan atau kognitif dari ilmu, dengan fungsi itu ilmu memusatkan perhatian terkuat pada pemahaman kaidah-kaidah yang tak diketahui sebelumnya dan baru atau pada penyempurnaan keadaan pengetahuan dewasa ini mengenai kaidah-kaidah demikian itu”. Jadi pada dasarnya ilmu adalah proses yang bersifat kognitif, bertalian dengan proses mengetahui dan pengetahuan. Proses kognitif adalah suatu rangkaian aktivitas seperti pengenalan, pencerapan, pengkonsepsian, dan penalaran yang dengannya manusia dapat mengetahui dan memperoleh pengetahuan akan suatu hal.

Ilmu selain merupakan sebuah proses yang bersifat rasional dan kognitif, juga bercorak teologis, yakni mengarah pada tujuan tertentu karena para ilmuwan dalam melakukan aktivitas ilmiah mempunyai tujuan-tujuan yang ingin dicapai. Ilmu melayani sesuatu tujuan tertentu yang diinginkan oleh setiap ilmuwan.Dengan demikian, ilmu adalah aktivitas manusiawi yang bertujuan. Tujuan ilmu itu dapat bermacam-macam sesuai dengan apa yang diharapkan oleh masing-masing ilmuwan.Rangkaian aktivitas pemikiran yang rasional dan kognitif untuk menghasilkan pengetahuan, mencapai kebenaran, memperoleh pemahaman, memberikan penjelasan, dan melakukan peramalan, pengendalian, atau penerapan itu dilaksanakan oleh seseorang yang digolongkan sebagai ilmuwan.Setiap ilmuwan sejati bertugas melakukan penelitian dan mengembangkan ilmu.Hal ini ditegaskan dalam The International Encyclopedia of Higher Education yang mendefinisikan ilmuwan sebagai seseorang yang melakukan penelitian ilmiah dan penelitian ilmiah diartikan sebagai penelitian yang dilaksanakan untuk memajukan pengetahuan.

  1. METODE ILMIAH DAN PERANNYA TERHADAP TEORI KEILMUAN

    Penelitian sebagai suatu rangkaian aktivitas mengandung prosedur tertentu, yakni serangkaian cara dan langkah tertib yang mewujudkan pola tetap. Rangkaian cara dan langkah ini dalam dunia keilmuan disebut metode. Untuk menegaskan bidang keilmuan itu seringkali dipakai istilah metode ilmiah (scientific method).

Metode ilmiah merupakan prosedur yang mencakup berbagai tindakan pikiran, pola kerja, tata langkah, dan cara teknis untuk memperoleh pengetahuan baru atau memperkembangkan pengetahuan yang ada. Prosedur yang merupakan metode ilmiah meliputi pengamatan, percobaan, analisis, deskripsi, penggolongan, pengukuran, perbandingan, dan survai.

Oleh karena ilmu merupakan suatu aktivitas kognitif yang harus mematuhi berbagai kaidah pemikiran yang logis, maka metode ilmiah juga berkaitan sangat erat dengan lllogika. Dengan demkikian, prosedur-prosedur yang tergolong metode logis termasuk pula dalam ruang lingkup metode ilmiah. Ini misalnya ialah deduksi, abstraksi, penalaran analogis, analisis logis.Selanjutnya, metode ilmiah meliputi suatu rangkaian langkah yang tertib. Dalam kepustakaan metodologi ilmu tidak ada kesatuan pendapat mengenai jumlah, bentuk, dan urutan langkah yang pasti.Sheldon J. Lachman mengurai metode ilmiah menjadi 6 langkah yang berikut :

  1. Perumusan pangkal-pangkal duga yang khusus atau pernyataan-pernyataan yang khusus untuk penyelidikan.
  2. Perancangan penyelidikan itu.
  3. Pengumpulan data.
  4. Penggolongan data.
  5. Pengembangan generalisasi-generalisasi.
  6. Pemeriksaan kebenaran terhadap hasil-hasil, yaitu terhadap data dan generalisasi-genralisasi.

George Abell merumuskan metode ilmiah sebagai suatu prosedur khusus dalam ilmu yang mencakup 3 langkah berikut :

  1. Pengamatan gejala-gejala atau hasil-hasil dari percobaan-percobaan.
  2. Perumusan pangkal-pangkal duga yang melukiskan gejala-gejala ini, dan yang bersesuaian dengan kumpulan pengetahuan yang ada.
  3. Pengujian pangkal-pangkal duga ini dengan mencatat apakah mereka secara memadai meramalkan dan melukiskan gejala-gejala baru atau hasil-hasil dari percobaan-percobaan yang baru.

Metode ilmiah lain dikemukakan oleh J. Eigelberner yang mencakup 5 langkah sebagai berikut :

  1. Analisis masalah untuk menetapkan apa yang dicari, dan penyusunan pangkal-pangkal duga yang dapat dipakai untuk memberi bentuk dan arah pada telaah penelitian.
  2. Pengumpulan fakta-fakta yang bersangkurtan.
  3. Penggolongan dan pengaturan data agar supaya menemukan kesamaan-kesamaan,uruttan-urutan, dan hubungan-hubungan yang ada.
  4. Perumusan kesimpulan-kesimpulan dengan memakai proses-proses penyimpulan yang logis dan penalaran.
  5. Pengujian dan pemeriksaan kebenaran kesimpulan-kesimpulan itu.
    Walaupun pendapat para ahli mengenai metode ilmiah dirumuskan secara berbeda-beda, ada 4 – 5 langkah yang merupakan pola umum yang senantiasa dilaksanakan dalam penelitian. Langkah-langkah baku itu ialah penentuan masalah, perumusan hipotesis atau pangkal duga bila dianggap perlu, pengumpulan data, penurunan kesimpulan, dan pengujian atau verifikasi hasil.

Tata langkah tersebut di muka melibatkan berbagai konsep dalam metode ilmiah. Konsep adalah ide umum yang mewakili sesuatu himpunan hal yang biasanya dibedakan dari pencerapan atau persepsi mengenai suatu hal khusus satu per satu. Konsep merupakan alat yang penting untuk pemikiran utama dalam penelitian ilmiah.
Pengertian metode tidak pula sama dengan tehnik. Metode ilmiah adalah berbagai prosedur yang mewujudkan pola-pola dan tata langkah dalam pelaksanaan sesuatu penelitian ilmiah. Pola dan tata langkah prosedural itu dilaksanakan dengan cara-cara operasional dan tehnis yang lebih terinci. Cara-cara itulah yang mewujudkan tehnik. Jadi, tehnik adalah sesuatu cara operasional tehnis yang seringkali bercorak rutin, mekanis, atau spesialistis untuk memperoleh dan menangani data dalam penelitian.
Dari hal-hal tersebut dapat disimpulkan bahwa, kegiatan penelaahan atau proses penelitian yang merupakan ilmu itu mengandung prosedur, yakni serangkaian cara dan langkah tertentu yang mewujudkan pola tetap. Rangkaian cara dan langkah ini dalam istilah dunia keilmuan dikenal sebagai metode atau sering disebut metode ilmiah. Metode merupakan ciri penentu yang kedua dan dengan demikian ilmu dapat pula dibahas, dipahami, dan dijelaskan sebagai metode.

  1. Kesimpulan

Dalam kehidupan nyata, manusia di hadapkan oleh berbagai masalah dan memang harus mereka selesaikan dengan pemikiran mereka sendiri. Dalam memecahkan masalah tersebut manusia harus memperhatikan urut-urutan sera pola pikir yang ia gunakan. Begitupun dalam melakukan sebuah penelitian, metode merupakan hal yang sangatlah penting untuk mengungkap suatu kebenaran atau hasil penelitian yang akurat. Urutan dari metode tersebut adalah dengan merumuskan masalah, mengumpulkan keterangan, merumuskan hipotesis, melakukan eksperimen(Percobaan), menganalisis data, dan yang terkahir menarik kesimpulan hasil eksperimen. Jadi kesimpulannya, metode ilmiah sangat berhubungan dengan teori keilmuan. Mengapa? Karena dengan metode ilmiah kita dapat mengungkap sebuah kebenaran yang real dan akurat dari sebuah ilmu.

 

 

____________

*) Penulis adalah mahasiswa STKIP PGRI Pacitan Program Studi Pendidikan Bahasa Inggris kelas A. Makalah disusun guna memenuhi sebagian tugas kelompok pada mata kuliah Filsafat Ilmu tahun akademik 2013/2014 dengan dosen pengampu Afid Burhanuddin, M.Pd. Anggota kelompok:

  1. Amelia Kusumawati
  2. Cici Aryanti
  3. Eka Mulyani
  4. Heni Eliana
  5. Muhamad Arifin
  6. Selvia Alvionita Rizqi Amelia
  7. Widya Raharjo
Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s