Ontologi Pengetahuan Sains

Untuk hidup di zaman yang seba modern, canggih dan juga cepat ini, kita dituntut untuk mengenal, memahami dan mengaplikasikan pengetahuan sains. Mengapa kita harus mengenal, memahami dan mengaplikasikan pengetahuan sains ? apa keuntungannya bagi kita mengenal pengetahuan sains? (Wardah, 2008) Kita harus mempelajari pengetahuan sains, karena sains merupakan ilmu yang tidak pernah lepas dari kehidupan manusia sehari-hari. Fenomena-fenomena yang terjadi di sekitar kita merupakan salah satu dari bagian pengetahuan sains yang terkadang kita sebagai manusia belum mengenal dan mengetahuai lebih luas tentang fenomena alam tersebut. Contohnya adalah bagaimana manusia itu bisa berkembang dari bayi hingga tua ynag dijelaskan dalam Biologi, bagaimana air laut itu terasa asin ynag dijelaskan dalam pelajaran Kimia dan mengapa buah kelapa itu selalu jatuh ke bawah yang dijelaskan dalam ilmu Fisika. Semua itu merupakan bagian dari ilmu pengetahuan alam atau natural sience.

 

PEMBAHASAN

 

  1. DEFINISI PENGETAHUAN

Pengetahuan ialah semua yang diketahui. Dilihat dari segi motifnya, pengetahuan diperoleh melalui dua cara,  pertama, pengetahuan yang diperoleh begitu saja, tanpa niat, tanpa usaha, tampa keingintahuan dan tanpa disengaja. Kedua: Pengetahuan yang didasari motif ingin tahu, diperoleh lewat belajar. Rasa ingin tahu ada pada manusia sejak ia diciptakan dan rasa ingin tahu itu adalah takdir.

Pengetahuan manusia dibagi kepada :

  1. Pengetahuan Sains : Objeknya empiris, paradigmanya sains, menggunakan metode ilmiah dan kriterianya rasional-empiris.
  2. Pengetahuan Filsafat : Objeknya abstrak-rasional, paradigmanya rasional, menggunakan metode rasional dan kriterianya rasional.
  3. Pengetahuan Mistik : Objeknya abstrak supra-rasional, paradigmanya mistik, menggunakan metode latihan/percaya dan kriterianya rasa, iman, logis dan kadang empiris.

 

  1. DEFINISI SAINS

Ilmu pengetahuan alam atau sains merupakan terjemahan kata-kata inggris yaitu natural science artinya ilmu yang mempelajari tentang alam. Sehubungan dengan itu Darmojo, 1992 (Samatowa, 2006: 2) menyatakan bahwa Ilmu Pengetahuan Alam atau Sains adalah pengetahuan yang rasional dan obyektif tentang alam semesta dengan segala isinya. Selain itu Nash, 1993 (Samatowa, 2006: 2) menyatakan bahwa Sains itu adalah suatu cara atau metode untuk mengamati alam. Nash juga menjelaskan bahwa cara sains mengamati dunia bersifat analisis, lengkap, cermat serta menghubungkan antara satu fenomena dengan fenomena lain, sehingga keseluruhannya membentuk suatu prespektif yang baru tentang objek yang diamatinya. Jadi penekanan dalam pembelajaran Sains adalah pengembangan kreativitas anak dalam mengelola pemikirannya menghubungkan antara satu fenomena dengan fenomena lain yang ada dilingkungannya, sehingga memperoleh suatu gagasan (ide), pemahaman, serta pola baru dalam berfikir memahami suatu objek yang diamati.

 

James, 1997 (Samatowa, 2006: 1) mendefinisikan Sains sebagai suatu deretan konsep serta skema konseptual yang berhubungan satu sama lain dan yang tumbuh sebagai hasil eksperimentasi dan observasi, serta berguna untuk diamati dan dieksperimentasikan lebih lanjut. Kemudian Whitehead, 1999 (Samatowa, 2006: 1) menyatakan bahwa Sains dibentuk karena pertemuan dua orde pengalaman.

 

Hampir setengah abad yang lalu, Vessel (1965: 2) memberikan jawaban yang sangat singkat tetapi bermakna yakni “science is what scientists do”. Sains adalah apa yang dikerjakan para ahli Sains (saintis). Setiap penemuan setiap aspek dari lingkungan sekitar, yang menjadikan seseorang dapat mengukurnya sebaik mungkin, mengumpul dan menilai data dari hasil penelitiannya dengan hati-hati dan terbuka. Pada bagian lain, Vessel (1965: 3) mengemukakan bahwa “science is an intellectual search involving inquiri, rational trough, and generalization”. Hal itu mencakup tehnik Sains yang sering disebut sebagai proses Sains. Sedangkan hasilnya yang berupa fakta-fakta dan prinsip biasa disebut dengan produk Sains.

 

Pengertian lain yang juga sangat singkat tetapi bermakna adalah “science is an away of knowing” (Trowbridge & Baybee, 1990: 48) frase ini mengandung ide bahwa Sains adalah proses yang sedang berlangsung dengan fokus pada pengembangan dan pengorganisasian pengetahuan. Oleh sebab itu Sains juga dapat dipandang dari berbagai segi, 3 (tiga) diantaranya menurut Abruscato (1992: 6) adalah :

 

Science is the name we give to group of processes through which we can systematically gather information about the natural world. Science is also the knowledge gathered throughthe use of such as processes. Finally, science is characterized by those values and atituted prosessed by people who use scientific processes to gather knowledge.

 

Secara umum petikan di atas memberikan pengertian (1) Sains adalah sejumlah proses kegiatan mengumpulkan informasi secara sistematik tentang dunia sekitar, (2) Sains adalah pengetahuan yang diperoleh melalui proses kegiatan tertentu, dan (3) Sains dicirikan oleh nilai-nilai dan sikap para ilmuwan menggunakan proses ilmiah dalam memperoleh pengetahuan. Dengan kata lain, Sains adalah proses kegiatan yang dilakukan para saintis dalam memperoleh pengetahuan dan sikap terhadap proses kegiatan tersebut.

 

Sains didasarkan pula pada pendekatan empirik dengan asumsi bahwa alam raya ini dapat dipelajari, dipahami, dan dijelaskan dengan tidak semata-mata bergantung pada metode kasualitas tetapi melalui proses tertentu, misalnya observasi, eksperimen dan analisis rasional. Dalam hal ini juga digunakan sikap tertentu, misalnya berusaha berlaku seobyektif mungkin, dan jujur dalam mengumpulkan dan mengevaluasi data. Dengan menggunakan proses dan sikap ilmiah ini akan melahirkan penemuan-penemuan baru yang menjadi produk Sains. Jika Sains bukan hanya terdiri atas kumpulan pengetahuan atau berbagai macam fakta yang dapat dihafal, terdiri atas proses aktif menggunakan, pikiran dalam mempelajari gejala-gejala alam yang belum dapat diterangkan.

 

Harlen (1997) mengemukakan tiga karakteristik utama Sains yakni: Pertama, memandang bahwa setiap orang mempunyai kewenangan untuk menguji validitas (kesahihan) prinsip dan teori ilmiah. Meskipun kelihatan logis dan dapat dijelaskan secara hipotesis, teori dan prinsip hanya berguna jika sesuai dengan kenyataan yang ada. Kedua, memberi pengertian adanya hubungan antara fakta-fakta yang di observasi yang memungkinkan penyusunan prediksi sebelum sampai pada kesimpulan. Ketiga, memberi makna bahwa teori Sains bukanlah kebenaran yang akhir tetapi akan berubah atas dasar perangkat pendukung teori tersebut. Hal ini memberi penekanan pada kreativitas dan gagasan tentang perubahan yang telah lalu dan kemungkinan perubahan di masa depan, serta pengertian tentang perubahan itu sendiri.

 

Budi (1998) mengutip beberapa pendapat para ahli dan mengemukakan beberapa rincian hakikat Sains, diantaranya: (1) Sains adalah bangunan atau deretan konsep dan skema konseptual (conceptual scheme) yang Saling berhubungan sebagai hasil eksperimentasi dan observasi (Conant, dalam Kuslan dan Stone, 1978) , (2) Sains adalah bangunan pengetahuan yang diperoleh dengan menggunakan metode observasi (Vessel, 1975), (3) Sains adalah suatu sistem untuk memahami alam semesta melalui data yang dikumpulkan melalui observasi atau eksperimen yang dikontrol (Carin and Sund, 1989) dan (4) Sains adalah aktivitas pemecahan masalah oleh manusia yang termotivasi oleh keingintahuan akan alam di sekelilingnya dan keinginan untuk memahami, menguasai, dan mengelolanya demi memenuhi kebutuhan (Dawson, 1984).

 

Jika dicermati ada dua aspek penting dari definisi-definisi tersebut yakni langkah-langkah yang ditempuh dalam memahami alam (proses Sains) dan pengetahuan yang dihasilkan berupa fakta, prinsip, konsep, dan teori (produk Sains). Kedua aspek tersebut harus didukung oleh sikap Sains (sikap ilmiah) berupa keyakinan akan nilai yang harus dipertahankan ketika mencari atau mengembangkan pengetahuan baru.

 

  1. DEFINISI PENGETAHUAN SAINS

Untuk mengetahui apa itu pengetahuan sains, bagaimanakah sains itu dapat diperoleh, bagaimanakah cara mengukur benar tidaknya sains, bagaimanakah hakikat dan struktur sains, apakah kegunaan sains, dan bagaimanakah sains menyelesaikan masalah, akan kita bahas menggunakan 3 metode atau 3 aspek pengetahuan sains yaitu menggunakan metode epistemologi, ontologi dan aksiologi.

 

 

3.1 EPISTEMOLOGI SAINS

Epistemologi sains membicarakan tentang objek pengetahuan sains, bagaimana pengetahuan sains itu diperoleh, bagaimanakah cara mengukur benar tidaknya sains itu. Perlu kita ketahui bahwa objek objek yang diteliti oleh sains adalah semua objek yang sifatnya empiris karena bukti-bukti yang harus ditemukan itu adalah bukti bukti yang empiris.

3.1.1 Objek Pengetahuan Sains

Objek pengetahuan sains (yaitu objek-objek yang diteliti sains) ialah semua objek yang empiris. Menurut Jujun. S dalam Ahmad Tafsir mengatakan bahwa objek kajian sains hanyalah objek yang berada dalam ruang lingkup pengalaman manusia (2010:27). Yang dimaksud pengalaman di sini ialah pengalaman indera. Bukti empiris ini di perlukan untuk menguji bukti rasional yang telah di rumuskan dalam hipotesis. Objek-objek yang dapat diteliti sains seperti alam, tumbuhan, hewan, dan manusia serta kejadian di sekitar alam, tumbuhan, hewan, dan manusia. Dari penelitian itulah muncul teori-teori sain

 

3.1.2 Bagaimanakah Sains Diperoleh

Sains dapat diperoleh dan didorong dari beberapa paham, diantaranya adalah :

  1. Paham Humanismemerupakan salah satu paham filsafat yang mengajarkan bahwa manusia dapat mengatur dirinya dan alam.
  2. Paham Rasionalismeialah paham filsafat yang mengatakan bahwa akal digunakan untuk mencari dan mengukur pengetahuan.
  3. Paham Empirismeialah paham filsafat yang mengajarkan bahwa yang benar ialah yang logis dan ada bukti empiris.
  4. Paham Positivisme  menyatakan bahwa kebenaran adalah logis ,ada bukti empirisnya, yang terukur. “terukur” inilah sumbangan penting positivisme. Metode ilmiah mengatakan , untuk memperoleh yang benar dilakukan langkah berikut : logico-hypothetico-verificatif. Maksudnya, mula-mula buktikan bahwa itu logis, kemudian lakukan pembuktian hipotesis itu secara empiris.

3.1.3 Bagaimanakah Cara Mengukur Benar Tidaknya Sains

Benar tidaknya sains dapat dilihat dari beberapa teori sebagai berikut :

  1. Korespondensi

Teori korespondensi menyatakan bahwa sebuah pernyataan dapat dikatakan benar apabila sesuai dengan fakta.

Contoh : ibu kota negara korea selatan adalah seoul

  1. Koherensi

Teori koherensi menyatakan bahwa sebuah pernyataan dapat dikatakan benar apabila konsisten dengan pernyataan sebelumnya yang dianggap benar.

Contoh : semua yang mati tidak akan hidup kembali,

  1. Pragmatik

Teori pragmatik menyatakan bahwa sebuah pernyataan dapat dikatakan benar apabila berguna dalam situasi praktis. Kebenaran pragmatik ini dapat menjadi titik pertemuan antara teori korespondensi dan teori koherensi. Jika ada dua teori keilmuwan yang sudah memenuhi kriteria dua teori diatas, maka yang diambil adalah teori yang lebih gampang dan mudah untuk dipraktekan.

 

3.2 ONTOLOGI SAINS

Ontologi sains merupakan sebuah ilmu yang mempelajari tentang hakikat sains, struktur sains dan karakteristik sains.Hakikat sains menjawab pertanyaan apa sains itu sebenarnya, struktur sains menjelaskan tentang cabang-cabang sains, dan karakteristik sains menjelaskan tentang karakter atau ciri dari sains menurut para ahli.

3.2.1 Hakikat sains

Hakikat sains ini terdapat dua pengetahuan yang harus kita ketahui yaitu pengetahuan rasional dan pengetahuan empiris.

Pengetahuan rasional merupakan sebuah pengetahuan dimana kita harus menguji atau meneliti kebenaran dengan akal. Kita meneliti suatu kejadian dan memberikan suatu kesimpulan sementara atau hipotesis. Hipotesis itu harus berdasarkan rasional, begitu juga dengan penelitian harus berdasarkan rasional dan penelitian itu juga harus berdasarkan sebab akibat.

Contoh : Ada 2 kampung, yaitu kampung A dan kampung B. Di kampung A banyak lahan tanah yang subur, sedangkan di kampung B lahan tanahnya tidak subur. Diambil kesimpulan bahwa kampung A lahan tanahnya lebih subur dari pada lahan tanah di kiampung B. Lalu dicari tahu tentang sebab akibatnya, Ternyata di kampung A, banyak penduduk yang memelihara hewan kambing, dan kotoran dari hewan kambing itu digunakan untuk memupuk lahan tanah mereka sehingga tanah di kampung A menjadi subur, sedangkan di kampung B banyak juga penduduk yang memelihara hewan kambing, akan tetapi kotoran dari hewan kambing tersebut dijual ke kota lain. Dalam hal ini, hipotesis/dugaan sementara adalah rasional untuk menjadikan tanah yang subur diperlukan pupuk alami yaitu kotoran dari hewan kambing, karena kotoran kambing banyak mengandung zat pupuk nya. Semakin banyak lahan tanbah diberi pupuk alami dari kotoran hewan kambing, semakin subur lahan pertanahan tersebut. Dan hipotesis ini rasional karena adanya hubungan pengaruh atau sebab akibat.

Pengetahuan empiris merupakan sebuah pengetahuan dengan menguji hipotesis dengan prosedur metode ilmiah. Hipotesis yang sudah dibahas diatas selanjutnya diajukan bukti yang empiris karena kita mengambil dari dua kampung yang berbeda yaitu kampung A dan kampung B. Dengan menggunakan metode ilmiah dapat kita ambil kesimpulan bahwa kotoran kambing sangat berguna untuk menggemburkan tanah, sehingga tanah akan menjadi subur dan secara otomatis tanaman – tanaman juga akan subur. Berbeda dengan lahan tanah yang tidak di beri pupuk alami dari kotoran kambing, tanah akan menjadi kurang subur. Inilah yang dinamakan pengetahuan empiris yaitu dengan menguji hipotesis atau dugaan sementara menggunakan metode ilmiah atau penelitian. Rumus baku metode ilmiah adalah logico-hypotetico-verificatif (bukti bahwa itu logis, tarik hipotesis dan ajukan bukti empiris).

Asumsi ini benar bila sebab akibat itu memiliki hubungan rasional. Ilmu atau sains berisi tentang teori, teori itu pada dasarnya menerangkan hubungan sebab akibat. Dan sains tidak memberikan nilai baik atau buruk, halal atau haram, sopan atau tidak sopan, indah atau tidak indah, sains hanya memberikan nilai benar atau salah.

3.2.2 Struktur sains

Dalam garis besar sains dibagi menjadi dua; yaitu sains kealaman dan sains sosial, yang menjelaskan struktur sains dalam bentuk nama-nama ilmu.
a. Sains Kealaman

  1. Astronomi
  2. Fisika : mekanika, bunyi, cahaya, dan optic, fisika, nuklir;
  3. Kimia : kimia organik, kimia teknik
  4. Ilmu bumi : paleontology, ekologi, geofisika, geokimia, mineralogy,
    geografi.
  5. Ilmu hayat : biofisika, botani, zoology.

b. Sains Sosial

  1. Sosiologi : sosiologi komunikasi, sosiologi politik, sosiologi
    pendidikan
  2. Antropologi : antropologi budaya, antropologi ekonomi,
  3. Psikologi : psikologi pendidikan, psikologi anak, psikologi abnormal
  4. Ekonomi : ekonomi makro, ekonomi lingkungan, ekonomi pedesaan
  5. Politik : politik dalam negeri, politik hukum, politik internasional.

3.2.3 Karakteristik sains

Ada beberapa ahli menjelaskan tentang karakteristik dari sains diantaranya Randall dan Buchker mengemukakan beberapa ciri umum sains, antara lain :

  1. Hasil sains bersifat akumulatif dan merupakan milik bersama, artinya hasil sains yang lalu dapat digunakan untuk penyelidikan hal yang baru, dan tidak memonopoli. Setiap orang dapat memanfaatkan hasil penemuan orang lain.
  2. Hasil sains kebenarannya tidak mutlak dan bisa terjadi kekeliruan karena yang menyelidikinya adalah manusia.
  3. Sains bersifat objektif ,artinya prosedur kerja atau cara penggunaan metode sains tidak tergantung kepada siapa yang menggunakan, tidak tergantung pada pemahaman secara pribadi.

Selain itu ahli lain yaitu Ralph Ross dan Ernest Van den Haag mengemukakan ciri-ciri sains, yaitu :

  1. Bersifat rasional (hasil dari proses berpikir dengan menggunakan rasio atau akal).
  2. Bersifat empiris (pengalaman oleh panca indra).
  3. Bersifat umum (hasil sains bisa digunakan oleh semua orang tanpa terkecuali).
  4. Bersifat akumulatif (hasil sains dapat dipergunakan untuk dijadikan objek penelitian berikutnya).

 

3.3 AKSIOLOGI SAINS

Didalam aksiologi sains ini kita membahas tentang apakah kegunaan dari sains tersebut, dan bagaimanakah cara sains menyelesaikan masalah dan yang terakhir adalah mendiskusikan tentang netralitas sains.

3.3.1 Kegunaan pengeahuan sains

Ada tiga kegunaan sains, yaitu sebagai alat pembuat eksplanasi, sebagai alat peramal dan sebagai alat pengontrol.

  1. Teori sebagai Alat Eksplanasi

Menurut T. Jacob dalam Ahmad Tafsir mengatakan bahwa sains merupakan suatu system eksplanasi yang paling dapat di andalkan dibandingkan dengan system lainnya dalam memahami masa lampau, sekarang, serta merubah masa depan. Disisi lain eksplanasi merupakan perluasan pertanyaan faktual untuk mengetahui alasan dan jalannya sebuah peristiwa. Mengapa (why) dan bagaimana (how)merupakan pertanyaan analisis-kritis yang juga menuntut jawaban analisis-kritis yang bermuara pada penjelasan atau sintesis sejarah. Dalam kaitannya dengan deskripsi, eksplanasi dibangun atas deskripsi-deskripsi faktual karena eksplanasi tanpa deskripsi adalah fantasi.

Contoh dari teori ini adalah akhir tahun 2013 ini di Indonesia terjadi banyak pengangguran. Gejolak ini telah memberikan dampak yang cukup luas terhadap kehidupan di Indonesia. Gejalanya ialah banyak warga negara indonesia yang miskin dan sebagian dari mereka memilih menjadi TKI atau TKW ke luar negeri yang justru keselamatan mereka yang terancam. Cara menerangkan gejala ini ialah teori-teori ekonomi atau teori alam, dapat menerangkan (mengeksplanasikan) gejala ini. Teori alam atau sosial mengatakan karena banyaknya lahan pertanian yang rusak karena banyak bencana, teori ekonomi mengatakan banyak pabrik yang bangkrut. maka banyak sekali orang yang menganggur, maka angka kemiskinan di Indonesia meningkat

  1. Teori sebagai Alat Peramal

Ketika membuat eksplanasi, biasanya ilmuwan telah mengetahui faktor penyebab terjadinya gejala itu.Dengan mempertimbangkan factor penyebab itu, ilmuwan membuat ramalan. Dalam bahasa ilmuwan ramalan disebut prediksi, untuk membedakan dari ramalan dukun.

Dalam contoh pengangguran tadi, dengan mudah orang ahli meramal. Misalnya, ketika banyak bencana alam yang melanda di Indonesia para ahli meramal bahwa pasti lahan mereka tidak bisa digunakan untuk bekerja , maka diprekdisikan akan banyak pengangguran di Indonesia. Ramalan lain misalnya, banyak pengangguran akhirnya banyak kemiskinan di Indonesia.

  1. Teori sebagai Alat Pengontrol

Eksplanasi merupakan bahan untuk membuat prediksi dan control. Ilmuwan, selain mampu membuat prediksi berdasarkan eksplanasi gejala, juga dapat membuat control. Sebagai contoh agar tidak terjadi pengangguran maka diperlukan sebuah usaha atau membangun sebuah lahan pekerjaan untuk mereka, atau pemerintah harus menyediakan lapangan pekerjaan bagi warga yang menganggur, sehingga banyak warga masyarakat dapat bekerja dan juga dapat mengurangi angka kemiskinan di Indonesia. Kontrol merupakan tindakan yang di duga dapat mencegah terajadinya gejala yang tidak diharapkan.

 

3.3.2 Bagaimanakah cara sains menyelesaikan masalah

Sains menyelesaikan masalah dengan cara sebagai berikut :

  1. Mengidentifikasi masalah.
  2. Mencari teori tentang sebab-sebab masalah tersebut.
  3. Kembali membaca literature lagi.

 

PENUTUP

KESIMPULAN

  1. Pengetahuan sains berbeda dengan pengetahuan filsafat dan pengetahuan mistik. Pengetahuan sains berdasarkan dengan beberapa penelitian, tetapi pengetahuan filsafat berdasarkan logika, dan pengetahuan mistik berdasarkan kepercayaan.
  2. Pengetahuan sains bersifat rasional dan empiris.
  3. Sains diperoleh dari berbagai paham yaitu paham humanisme, rasionalisme, empirisme, dan positivisme.
  4. Untuk mencari benar tidaknya sains menggunakan 3 teori yaitu, teori korespondensi, koherensi dan pragmatik.
  5. Struktur sains secara garis besar dibagi menjadi dua yaitu sains kealaman dan sains sosial.
  6. Ada tiga kegunaan sains, yaitu sebagai alat pembuat eksplanasi, sebagai alat peramal dan sebagai alat pengontrol.
  7. Sains menyelesaikan masalah dengan cara mengidentifikasi masalah, mencari teori tentang sebab-sebab masalah tersebut. Dan kembali membaca literature lagi.

 

DAFTAR PUSTAKA

Usman Samatowa. 2006. “Bagaimana Membelajarkan IPA di Sekolah Dasar”.       Jakarta: Direktorat Pendidikan Nasional

Vessel, M.F. 1965. “Elementary School Science Teaching”. New Delhi: Pentice-Hall of India, Ltd.

Trowbridge, Leslie W, and Rodger W. Bybee. 1990. “Becoming a Secondary School Science Teacher”. Colombus: Merrill Publishing & Co.

Harlen, W. Jelly S. and J. Elstgeest. 1977. “Progress in Primary Science”. London: Routledge.

Budi, Kartika, F.Y. 1998. “Pembelajaran Fisika yang Humanistis, dalam Pendidikan Sains yang Humanistis”, ed. Oleh Sumaji. Yogyakarta Kanasius.

Carin, Arthur A. & Robert B. Sund. 1989.” Teaching Science Throught Discovery”. Colombus, Ohio: Merril Publishing Company.

 

 

_______

*) Penulis adalahmahasiswaSTKIP PGRIPacitan ProgramStudi Pendidikan BahasaInggris kelasB. Makalah disusungunamemenuhisebagian tugaskelompok padamata kuliah Filsafat Ilmu tahunakademik 2013/2014 dengan dosenpengampu AfidBurhanuddin, M.Pd.

 

Anggota kelompok:

Annisa Elly Pradani

Dedy Pratama

Efa Nuraini

Ika Nurwahyuningsih

Munif Alfaizin

Riko Hendriyono

Tri Yulianingsih

 

One thought on “Ontologi Pengetahuan Sains”

  1. Bagaimana menurut bapak terhadak anak-anak SD yang sudah di pegangi handpone oleh orang tuanya, apakah hal itu mempunyai dampak negatif ataukah justru lebih baik mengenal modern sejak dini?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s