Ontologi Pengetahuan Filsafat

Pengetahuan adalah semua yang diketahui. Ada orang bertanya, mengapa jeruk selalu berbuah jeruk, tidak pernah berbuah bakso misalnya?. Untuk menjawab pertanyaan ini orang tidak dapat lagi mengadakan penelitian empiris karean objek yang hendak diketahui itu sebenarnya pada bibit atau pohon jeruk itu. Lalu, bagaimana cara mengetahuinya, bagaimana menjawab pertanyaan tadi? Dengan berpikir, dan hanya dengan berpikir. Kita menemukan jawaban jeruk selalu berbuah jeruk karena ada hukum yang mengatur. Hukum itu tidak kelihatan, tidak empiris, tetapi akal yakin benar bahwa hukum itu ada. Jeruk selalu berbuah jeruk karean ada hukum yang mengaturnya. Demikian yang disebut pengetahuan filsafat, kebenarannya hanya dipertanggungjawabkan secara logis (Tafsir, 1991: 6-7). Paradigma untuk pengetahuan filsafat disebut paradigma logis (logical paradigm) metodenya disebut metode rasional yang mengandalkan pemikiran akal. Cara kerja metode ini dapat dikatakan “mencari kebenaran tentang sesuatu dengan cara memikirkannya secara logis”. Jika suatu waktu ia dapat dibuktikan secara empiris, maka ia segera berubah menjadi ilmu.

Berdasarkan paparan Rudi Salam (2012) dalam makalahnya dengan judul “Hubungan Filsafat dengan Pendidikan”, Pengetahuan dimulai dari rasa ingin tahu dan kepastian dimulai dengan rasa ragu-ragu. Sedangkan filsafat dimulai dari kedua-duanya. Berfilsafat mendorong untuk mengetahui apa yang telah tahu dan apa yang belum diketahui. Filsafat membahas sesuatu dari segala aspeknya yang mendalam, maka dikatakan kebenaran filsafat adalah kebenaran menyeluruh yang sering dipertentangkan denga kebenaran ilmu yang sifatnya relatif. Karena kebenaran ilmu hanya ditinjau dari segi yang bisa diamati oleh manusia. Sesungguhnya isi alam yang dapat diamati hanya sebagian kecil saja, diibaratkan gunung es, hanya mampu dilihat yang diatas permukaan laut saja. Sementara filsafat mencoba menyelami sampai kedasar gunung es itu untuk mengetahui segala sesuatu yang ada melalui pikiran dan renungan yang kritis.

Adanya rasa ingin tahu dalam diri setiap individu akan menumbuhkan minat untuk melakukan pengamatan, penyelidikan, dan penelitian. Dengan adanya ketiga unsur tersebut maka pengetahuan yang mereka miliki akan terus tumbuh dan berkembang. Rasa ingin tahu juga cenderung akan menimbulkan kesadaran bagi setiap individu untuk mengajukan pertanyaan atau kritik yang relevan. Artinya pertanyaan atau kritik tersebut diajukan tidak untuk sekedar mengetahui wujud sesuatu, melainkan mengacu pada dasar dan esensi dari sesuatu tersebut.

Dalam pembahasan pengetahuan filsafat ada tiga segi yang dibahas yaitu Ontologi (apa yang menjadi objek suatu ilmu). Epistimologi (cara mendapatkan ilmu), dan Aksiologi (untuk apa ilmu tersebut).

PENGERTIAN FILSAFAT

Filsafat adalah sejenis pengetahuan manusia yang logis tentang objek-objek yang abstrak. Bisa saja objek penelitiannya konkret, tetapi yang ingin diketahui adalah bagian abstraknya (Tafsir, 1991:15). Berdasarka tulisan As’ad Afifi (2011) dalam makalahnya yang berjudul “Diktat Filsafat Umum”, secara etimologi kata filsafat atau falsafat berasal dari bahasa Yunani yang terdiri dari dua kata yaitu philos artinya cinta dan sophia artinya kebijaksanaan atau kearifan. Jadi secara harfiah filsafat berarti cinta pada kebijaksanaan. Sedangkan secara terminologi memang sangat beragam. Menurut Poedjawijatna filsafat adalah sejenis pengetahuan yang berusaha mencari sebab yang sedalam-dalamnya tentang segala sesuatu berdasarkan pikiran belaka. Sementara Hasbullah Bakry, mengatakan bahwa filsafat adalah sejenis pengetahuan yang menyelidiki segala sesuatu dengan mendalam mengenai ketuhanan, alam semesta dan manusia. Cicero (106-43 SM) yang mendefiniskan filsafat sebagai “ibu dari semua seni” (the mother of all the arts) ia juga mendefinisikan filsafat sebagai ars vitae (seni kehidupan). Selanjutnya menurut Imanuel Kant (1724-1804), Filsafat adalah ilmu pengetahuan yang menjadi pokok dan pangkal dari segala pengetahuan yang didalamnya tercakup empat persoalan yaitu:

a)             Apa yang dapat diketahui, jawabannya adalah metafisika;

b)             Apa yang seharusnya diketahui, jawabannya adalah etika;

c)             Sampai di mana harapan kita, jawabannya adalah agama;

d)            Apa itu manusia, jawabannya adalah antropologi.

Berbeda lagi dengan Aristoteles (384-322 SM) berpendapat bahwa filsafat adalah menyelidiki sebab dan asas segala benda. Dengan demikian filsafat bersifat ilmu umum sekali. Tugas penyelidikan tentang sebab telah dibagi sekarang oleh filsafat dengan ilmu.

Dari pemahaman dan pendapat para ahli diatas dapat disimpulkan bahwa filsafat merupakan pengetahuan, prinsip, upaya yang menjadi pangkal utaman dalam memberikan suatu penilaian terhadap suatu objek yang dikaji secara bijaksana sesuai dengan keyakinan, dan sebagai rasa ingin tahu tentang adanya kebenaran. filsafat disebut juga sebagai induk ilmu pengetahuan (mother of science) karena filsafat dapat menjadi pembuka dan sekaligus ilmu pamungkas keilmuan yang tidak dapat diselesaikan oleh ilmu. Mengapa demikian? Sebab filsafat dapat merangsang lahirnya sejumlah keingintahuan dari temuan filosofis melalui berbagai observasi dan eksperimen yang melahirkan berbagai pencabangan ilmu. Sesuai dengan pendapat Immanuel Kant (dalam Kunto Wibisono dkk., 1997) bahwa filsafat merupakan disiplin ilmu yang mampu menunjukkan batas-batas dan ruang lingkup pengetahuan manusia secara tepat. Oleh karena itu Francis Bacon (dalam The Liang Gie, 1999) menyebut filsafat sebagai ibu agung dari ilmu-ilmu (the great mother of the sciences).

           


 

ONTOLOGI PENGETAHUAN FILSAFAT

Secara etimologi ontologi berasal dari bahasa Yunani yaitu, On/Ontos “ada” dan Logos “ilmu”. Jadi, ontologi adalah ilmu tentang yang ada. Adapun dalam Kamus Filsafat Ontologi merupakan suatu studi tentang ciri esensial dari Yang Ada dalam dirinya sendiri. Sedangkah secara terminologi, ontologi adalah ilmu tentang hakekat yang ada sebagai yang ada (The theory of being qua being). Sementara itu, Mulyadi Kartanegara menyatakan bahwa ontologi adalah ilmu tentang wujud sebagai wujud, terkadang disebut sebagai ilmu metafisika. Metafisika disebut sebagai “induk semua ilmu” karena ia merupakan kunci untuk menelaah pertanyaan paling penting yang dihadapi oleh manusia dalam kehidupan, yakni berkenaan dengan hakikat wujud.

Ontologi filsafat membicarakan mengenai hakikat suatu objek apa yang ditelaah oleh ilmu berdasarkan logika. Dalam aspek ontologi diperlukan landasan-landasan dari sebuah pernyataan-pernyataan dalam sebuah ilmu. Ontologi adalah pembahasan tentang hakekat pengetahuan. Ontologi membahas pertanyaan-pertanyaan semacam ini; Objek apa yang ditelaah pengetahuan? Adakah objek tersebut? Bagaimana wujud hakikinya? Dapatkan objek tersebut diketahui oleh manusia, dan bagaimana caranya?. Menurut rumusan Loren Bagus, ontologi menjelaskan yang ada yang meliputi semua realitas dalam semua bentuknya. Pada intinya ontologi merupakan hakikat yang ada sebagai asumsi dasar bagi apa yang disebut kenyataan dan kebenaran.

Ilmu pengetahuan dari segi ontologi selalu mengkaji yang telah diketahui atau yang ingin diketahui. Dari fenomena yang terjadi disekitarnya manusia melakukan berbagai aktifitas untuk mengetahui apa sebenarnya dibalik sesuatu yang diraba oleh pancainderanya, sebab pada umumnya ilmu hanya mengkaji bagian yang bersifat empiris yang dapat diuji oleh pancaindera manusia.

Adapun dalam pemahaman ontologi dapat dikemukakan dengan pandangan pokok pikiran sebagai berikut:

  1. Menoisme

 

Paham ini menganggap bahwa hakikat yang asal dari seluruh kenyataan itu adalah satu, tidak mungkin dua. Haruslah satu hakikat saja sebagai sumber yang asal, baik berupa materi maupun rohani. Tidak mungkin ada hakikat yang masing-masing bebas dan berdiri sendiri. Salah satunya haruslah merupakan sumber yang pokok dan dominan dalam menentukan perkembangan lainnya. Istilah Menoisme oleh Thomas Davidson disebut sebagai Block Universe. Paham ini terbagi menjadi dua aliran yaitu:

a)             Materialisme yaitu aliran yang menganggap bahwa sumber yang berasal dari materi bukan rohani. Aliran ini disebut juga dengan naturalisme yang menyatakan zat mati merupakan kenyataan dan satu-satunya fakta.

b)             Idealisme yaitu sebagai lawan dari materialisme adalah aliran yang dinamakan spiritualisme yang berarti ruh.

  1. Dualisme

Aliran ini berpendapat bahwa benda terdiri dari dua macam akibat sebagai asal sumbernya, yaitu hakikat materi dan hakikat rohani, benda dan ruh, jasad dan spirit. Materi bukan muncul dari ruh, dan ruh bukan muncul dari benda. Kedua macam hakikat itu masing-masing bebas berdiri sendiri, sama-sama abadi. Hubungan keduannya menciptakan kehidupan dalam alam ini. Contoh yang paling jelas tentang adanya kerja sama kedua hakikat ini adalah dalam diri manusia.

  1. Pluralisme

Paham ini berpandangan bahwa segenap macam bentuk adalah kenyataan. Dalam Dictionary of Philosophy and Religion menyatakan bahwa pluralisme merupakan seluruh kenyataan alam yang tersusun oleh banyak unsur. Tokoh aliran ini pada masa Yunani Kuno adalah Anaxa Goros dan Empedocles yang mengatakan bahwa alam ini terdiri dari 4 unsur yaitu tanah, air, api, dan udara. Tokoh modern aliran ini adalah William James (1842-1910 M). Dalam bukunya yang berjudul The Meaning of Truth menyatakan tiada kebenaran yang mutlak, yang berlaku umum, bersifat tetap, berdiri sendiri, dan lepas dari akal yang mengenal. Sebab pengalaman kita berjalan terus dan segala yang kita anggap benar dalam perkembangan pengalaman itu senantiasa berubah, karena dalam prakteknya apa yang dianggap benar dapat dikoreksi oleh pengalaman berikutnya.

  1. Nihilisme

Nihilisme berasal dari bahasa Latin yang berarti nothing atau tidak ada. Sebuah doktrin yang tidak mengakui adanya pencipta sumber kehidupan alam ini. Istilah nihilisme diperkenalkan oleh Ivan Tuegeniev dalam novelnya Fathers and Children (1862). Tokoh aliran ini adalah Friedrich Nietzsche (18844-1900 M) dilahirkan di Rocken Prusia, dari keluarga pendeta, dalam pandangannya bahwa “Allah sudah mati” Allah kristiani dengan segala perintah dan larangannya sudah tidak merupakan rintangan lagi.

  1. Agnosticisme

Paham ini mengingkari kesanggupan manusia untuk mengetahui hakikat benda, baik hakikat materi maupun hakikat rohani. Kata Agnoticisme berasal dari bahasa Grik Agnotos yaitu unknown . A berarti Not, dan Gno, berarti Know,artinya tidak mengetahui. Timbulnya aliran ini karena belum dapatnya orang mengenal dan mampu menerangkan secara konkret akan adanya kenyataan yang berdiri sendiri dan dapat kita kenal. Aliran ini menyangkal adanya kenyataan mutlak. Tokoh aliran ini antara lain Soren Kierkegaard, Hiedegger, Setra dan Jasper. Soren Kierkegaard yang mendapat julukan bapak filsafat. Jadi Agnosticisme adalah paham pengingkaran atau penyangkalan terhadap kemampuan manusia mengetahuai hakikat benda, baik materi maupun ruhani.

  1. Hakikat Pengetahuan Filsafat

Poedjawinata (Pembimbing ke Alam Filsafat, 1974: 11) menyatakan bahwa filsafat sebagai sejenis pengetahuan yang berusaha mencari sebab yang sedalam-dalamnya bagi segala sesuatu berdasarkan akal pikiran belaka. Sementara Hasbullah Bakry (Sistematik Filsafat,1971: 11) mengatakan bahwa filsafat sejenis pengetahuan yang menyelidiki segala sesuatu dengan mendalam mengenai ketuahanan, alam semesta dan manusia, sehingga dapat menghasilkan pengetahuan tentang bagaimana hakikatnya sejauh yang dapat dicapai akal manusia dan bagaimana sikakp manusia itu seharusnya setelah mencapai pengetahuan itu. Dari kedua definisi tersebut dapat disimpulkan bahwa filsafat itu pengetahuan yang diperoleh dari berpikir dan hasilnya berupa pemikiran yang logis tetapi tidak empiris.

           

EPISTIMOLOGI PENGETAHUAN FILSAFAT

 

Istilah epistimologi berasal dari bahasa Yunanni, yang terdiri dari dua kata, yaitu episteme berarti pengetahuan dan logos berarti pikiran, teori atau ilmu. Jadi epistimologi berarti pikiran atau teori tentang pengetahuan atau ilmu pengetahuan. Istilah lain yang biasa digunakan adalah teori pengetahuan (theory of knowledge) atau filsafat pengetahuan (philosophy of knowledge) (Susanto, 2011: 136).

Epistimologi merupakan pembahasan mengenai bagaimana kita mendapatkan pengetahuan, apakah sumber-sumber pengetahuan? apakah hakikat, jangkauan, dan ruang lingkup pengetahuan? apakah manusia dimungkinkan untuk mendapatkan pengetahuan? sampai tahap mana pengetahuan yang mungkin ditangkap manusia (William S. Sahakian dan Mabel Lewis Sahakian, 1965 dalam Suriasumantri, 2007: 119).

Menurut Surajiyo (2010: 26), epistimologi adalah bagia filsafat yang membicarakan tentang terjadinya pengetahuan, sumber pengetahuan, asal muasal pengetahuan, batas-batas sifat, metode, dan kesahihan pengetahuan. sementara Pidarta (2009: 77) mengatakan bahwa epistimologi adalah filsafat yang membahas tentang pengetahuan dan kebenaran. Dari berbagai pendapat diatas dapat disimpulkan bahwa epistimologi merupakan ilmu yang mempelajari cara mendapatkan pengetahuan yang benar.

 

 

Epistimilogi filsafat membicarakan tiga hal, yaitu objek filsafat, cara memperoleh pengetahuan filsafat dan ukuran kebenaran pengetahuan filsafat.

 

A.      Objek Filsafat

Tujuan berfilsafat ialah menemukan kebenaran yang sebenarnya, yang terdalam. Isi setiap cabang filsafat ditentukan oleh objek apa yang diteliti. Jika ia memikirkan pendidikan maka jadilah filsafat pendidikan. Jika yang dipikirkannya hukum maka tentulah hasilnya filsafat hukum dan seterusnya. Inilah objek filsafat. Objek penelitian filsafat lebih luas dari objek penelitian sains. Sains hanya meneliti objek yang ada, sedangkan filsafat meneliti objek yang ada dan mungkin ada. Perlu juga ditegaskan lagi bahwa sains meneliti objek-objek yang ada dan empiris; yang ada tetapi abstrak tidak dapat diteliti oleh sains. Sedangkan filsafat meneliti objek yang ada tetapi abstrak, adapun yang mungkin ada sudah jelas abstrak, itupun jika ada.

 

  1. Cara Memperoleh Pengetahuan Filsafat

Berfilsafat ialah berpikir. Berpikir itu tentu menggunakan akal. Yang menjadi persoalan, apa sebenarnya akal itu. John Locke (Sidi Gazalba, Sistematika Filsafat, II, 1973; 111) mempersoalkan hal ini. Ia melihat pada zamannya akal telah digunakan secara terlalu bebas, telah digunakan sampai diluar batas kemampuan akal. Hasilnya ialah kekacauan pemikiran pada masa itu. Bagaimana manusia memperoleh pengetahuan filsafat? Dengan berpikir secara mendalam, tentang sesuatu yang abstrak. Mungkin juga objek pemikirannya sesuatu yang konkret, tetapi yang hendak diketahuinya ialah bagian “dibelakang” objek konkret itu. Pada uraian diatas kita mengetahui akal itu diperdebatkan oleh ahli akal dan orang-orang yang secara intensif menggunakan akalnya. Kerja akal yaitu berpikir mendalam, menghasilkan filsafat. Jika kita ingin mengetahui sesuatu yang tidak empirik, apa yang kita gunakan? Ya akal itu. Apapun kelemahan akal sekalipun akal sangat diragukan hakikat kebenarannya, namun akal telah menghasilkan apa yang disebut filsafat.

 

  1. Ukuran Kebenaran Pengetahuan Filsafat

Pengetahuan filsafat ialah pengetahuan yang logis dan tidak empiris. Pernyataan ini menjelaskan bahwa ukuran kebenaran filsafat ialah logis tidaknya pengetahuan itu. Kebenaran teori filsafat ditentukan oleh logis tidaknya teori itu. Ukuran logis tidaknya tersebut akan terlihat pada argumen yang menghasilkan kesimpulan teori itu. Fungsi argumen dalam filsafat sangatlah penting sama dengan fungsi data pada pengetahuan sains. Bobot teori filsafat justru terletak pada kekuatan argumen.

 

Pengetahuan yang di peroleh manusia melalui akal, indera dan lain-lain mempunyai metode tersendiri dalalm teori pengetahuan, diantaranya adalah

 

 

 

  1. Metode Induktif

Induksi yaitu suatu metode yang menyimpulkan pernyataan-pernyataan hasil observasi disimpulkan dalam suatu pernyataan yang lebih umum. Dalam induksi, setelah diperoleh pengetahuan maka akan dipergunakan hal-hal lain seperti ilmu mengajarkan kita bahwa kalau logam dipanasi ia mengembang, bertolak dari teori ini kita akan tahu bahwa logam lain yang kalau dipanasi juga akan mengembang.

 

  1. Metode Deduktif

Deduksi ialah suatu metode yang menyimpulkan bahwa data-data empirik diolah lebih lanjut dalam suatu sistem pernyataan yang runtut. Hal-hal yang harus ada dalam metode ini ialah adanya perbandingan logis antara kesimpulan-kesimpulan itu sendiri dengan tujuan apakah teori tersebut mempunyai sifat empiris atau ilmiah.

 

  1. Metode Positivisme

Metode ini dikeluarkan oleh August Comte (1798-1857). Metode ini berpangkal dari apa yang telah diketahui, yang faktual, yang positif. Ia mengesampingkan segala uraian atau persoalan diluar yang ada sebagai fakta. Oleh karena itu ia menolak metafisika. Apa yang diketahui secara positive, adalah segala yang tampak dan segala gejala. Dengan demikian metode ini dalam bidang filsafat dan ilmu pengetahuan dibatasi kepada bidang gejala-gejala saja.

 

4.       Metode Kontemplatif

Metode ini mengatakan adanya keterbatasan indera dan akal manusia untuk memperoleh pengetahuan sehingga objek yang dihasilkan pun akan berbeda-beda. Harusnya dikembangkan suatu kemampuan akal yang disebut intuisi

.

  1. Metode Dialektis

Dalam filsafat dialektika mula-mula berarti metode tanya jawab untuk mencapai kejernihan filsafat. Dalam kehidupan sehari-hari dialektika berarti kecakapan untuk melakukan perdebatan. Dalam teori pengetahuan ini merupakan bentuk pemikiran yang tidak tersusun dari satu pikiran tetapi pemikiran itu seperti dalam percakapan.

 

AKSIOLOGI PENGETAHUAN FILSAFAT

Menurut bahasa Yunani, aksiologi berasal dari perkataan axios yang berarti nilai dan logos berarti teori. Jadi aksiologi adalah teori tentang nilai. Menurut Suriasumantri (1987 : 234) aksiologi adalah teori nilai yang berkaitan dengan kegunaan dari pengetahuan yang diperoleh. Menurut kamus Bahasa Indonesia (1995 : 19) aksiologi adalah kegunaan ilmu pengetahuan bagi kehidupan manusia, kajian tentang nilai-nilai khususnya etika.

A.      Kegunaan Filsafat

Untuk mengetahui kegunaan filsafat, kita dapat memulainya dengan melihat filsafat sebagai tiga hal, pertama filsafat sebagai kumpulan teori filsafat, kedua filsafat sebagai metode pemecahan masalah, ketiga filsafat sebagai pandangan hidup. Filsafat sebagai teori filsafat perlu dipelajari oleh orang yang akan menjadi pengajar dalam bidang filsafat. Filsafat sebagai methodology, yaitu cara yang memecahkan masalah yang di hadapi. Disini filsafat digunakan sebagai satu cara atau model pemecahan masalah secara mendalam dan universal. Filsafat sebagai pandangan hidup sama dengan agama, yang mempengaruhi sikap dan tindakan penganutnya.

  1. Cara Filsafat menyelesaikan masalah

Kegunaan filsafat sebagai methodologi maksudnya sebagai metode dalam menghadapi dan menyelesaikan masalah bahkan sebagai metode dalam memandang dunia. Dalam hidup kita, kita menghadapi banyak masalah. Masalah artinya kesulitan kehidupan akan dijalani lebih enak bila masalah itu terselesaikan. Ada banyak cara dalam menyelesaikan masalah mulai dari yang amat sederhana sampai rumit.

 

KESIMPULAN

Dari pemahaman diatas dapat disimpulkan bahwa filsafat merupakan pengetahuan, prinsip, upaya yang menjadi pangkal utaman dalam memberikan suatu penilaian terhadap suatu objek yang dikaji secara bijaksana sesuai dengan keyakinan, dan sebagai rasa ingin tahu tentang adanya kebenaran. filsafat disebut juga sebagai induk ilmu pengetahuan (mother of science) karena filsafat dapat menjadi pembuka dan sekaligus ilmu pamungkas keilmuan yang tidak dapat diselesaikan oleh ilmu.

Filsafat membahas ontologi, epistimologi dan aksiologi filsafat. Ontologi membicarakan hakikat, objek, dan struktur filsafat. Epistimologi membahas cara memperoleh dan ukuran kebenaran pengetahuan filsafat. Aksiologi mendiskusikan masalah yang dihadapi.

DAFTAR PUSTAKA

 

Afifi, A. (2011, November 02). Filsafat Umum. Dipetik April 19, 2014, dari http://makalah-asfida.blogspot.com/2011/11/filsafat-umum.html

Bakhtiar, A. (2010). Filsafat Ilmu. Jakarta: PT Rajagrafindo Persada.

Suriasumantri, Jujun S. 2007. Filsafat Ilmu Sebuah Pengantar Populer. Jakarta: Pustaka Sinar Harapan.

Tafsir, Ahmad. (1991). Ilmu Pendidikan dalam Perspektif Islam. Bandung: PT Remaja Rosdakarya

Tafsir, A. (2010). Filsafat Ilmu ‘Mengurai Ontologi, Epistimologi, dan Aksiologi Pengetahuan. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.

 

 

_______________

*) Penulis adalah mahasiswa STKIP PGRI Pacitan Program Studi Pendidikan Bahasa Inggris kelas A. Makalah disusun guna memenuhi sebagian

tugas kelompok pada mata kuliah Filsafat Ilmu tahun akademik 2012/2013 dengan dosen pengampu Afid Burhanuddin, M.Pd.

Anggota Kelompok:

1. Ani Haryati Kusuma

2. Eko Fajar Cahyono

3. Nova Dwi Jayanti

4. Slamet Zuliantoro

5. Yeni Kartika Sari

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s