Epistimologi Pengetahuan Sains

Filsafat didefinisikan sebagai “kebijaksanaan” . Kata filsafat atau philosophy, berasal dari bahasa Yunani yaitu Sophia yang berarti kebijaksanaan dan Philein yang berarti mencintai. Jadi, filsafat adalah semata-mata mencintai kebijaksanaan. Filsafat merupakan ilmu yang universal. Berfilsafat berarti mempertanyakan dasar dan asal usul dari segala-galanya, ataupun induk dari segala pengetahuan. Akan tetapi lama-kelamaan ilmu-ilmu khusus telah menemukan kekhasannya sendiri. Lama kelamaan mereka memisahkan diri dari filsafat dan mandiri. Filsafat juga pada bagian lain dapat dikatakan usaha dalam mencari jawaban atas pertanyaan-pertanyaan pokok yang di ajukan untuk memperoleh pengetahuan.

Ketika perhatian para filsuf kuno tentang filsafat ini lebih tercurah pada masalah filsafat tinggi, maka akhirnya kita bisa melihat arti filsafat menurut para filsuf kuno yang terbagi menjadi dua, yaitu :

1. Filsafat dalam arti yang umum

Yaitu berbagai ilmu pengetahuan yang rasional, yang berarti berbagai pengetahuan yang berasal dari manusia itu sendiri.

2. Filsafat dalam arti khusus

Yaitu yang berasal dari luar manusia, jenis pengetahuan ini dianggap ilmu yang berhubungan dengan ketuhanan (Ilahiyah) diistilahkan dengan wahyu. Golongan manusia yang berfilsafatkan materialisme tidak mempercayai adanya jenis pengetahuan ini. Al-Kindi menyebutkan pengetahuan jenis ini dasarnya adalah keyakinan (Sidi gazalba:1992:3).

Menilik sejarah peradaban keilmuan Islam, sains memang tak bisa dilepaskan dari filsafat. Dari masa ke masa, baik pemerintahan Bani Umayyah dan Abasiyah, tak ada beda antara sains dan filsafat. Bahkan dalam tradisi Islam, filsafat disebut sebagai induk dari ilmu aqliah. Pada tahun 700 dalam pemerintahan Dinasti Umayyah, terbangun observatorium astronomi di Damaskus. Begitu pula pada Dinasti Abasiyah, Khalifah Al-Mansyur diriwayatkan pernah mengumpulkan ilmuan, termasuk dokter-dokter dari Persia sampai India. Ini membuktikan, bahwa dalam Islam, sains dan filsafat tetap berdampingan. Dan hingga kini, hal itu tetap terjaga.

 

1.1  Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang pemikiran diatas maka, dapat dirumuskan suatu rumusan masalah sebagai berikut:
1. Apa yang dimaksud dengan sains?
2. Apa yang dimaksud ontologi pengetahuan sains?
3. Apa yang dimaksud dengan epistimologi pengetahuan sains?
4. Apa yang dimaksud dengan aksiologi pengetahuan sains?

5.Apa saja aliran filsafat dalam mengembangkan pengetahuan?

6. Apa saja logika dan deduksi didalam sains?

1.3 Tujuan Penulisan

Berdasarkan rumusan masalah diatas, maka tujuan penulisan makalah ini adalah sebagai berikut :

  1. Dapat mengetahui maksud dari sains.
  2. Dapat memahami maksud ontolologi pengetahuan sains.
  3. Dapat mengetahui maksud epistimologi pengetahuan sains.
  4. Dapat mengetahui maksud aksiologi pengetahuan sains.
  5. Dapat mengetahui aliran filsafat dalam mengembangkan pengetahuan.
  6. Dapat mengetahui logika dan deduksi didalam sains.

BAB II

PEMBAHASAN

 

2.1 Pengertian Sains

Sains adalah ilmu yang diperoleh melalui penggunaan akal dan kecendikiaan. Kata sains berasal dari bahasa latin ” scientia ” yang berarti pengetahuan. Berdasarkan webster new collegiate dictionary definisi sains adalah “pengetahuan yang diperoleh melalui pembelajaran dan pembuktian” atau “pengetahuan yang melingkupi suatu kebenaran umum dari hukum – hukum alam yang terjadi misalnya didapatkan dan dibuktikan melalui metode ilmiah. Sains dalam hal ini merujuk kepada sebuah sistem untuk mendapatkan pengetahuan yang dengan menggunakan pengamatan dan eksperimen untuk menggambarkan dan menjelaskan fenomena -fenomena yang terjadi di alam.

Sains pada prinsipnya merupakan suatu usaha untuk mengorganisasikan dan mensistematisasikan common sense, suatu pengetahuan yang berasal dari pengalaman dan pengamatan dalam kehidupan sehari-hari dan dilanjutkan dengan suatu pemikiran secara cermat dan teliti dengan menggunakan berbagai metode yang biasa dilakukan dalam penelitian ilmiah (observasi, eksperimen, survey, studi kasus dan lain-lain. Istilah common sense sering dianalogikan dengan good sense, karena seseorang dapat menerima dengan baik. Jadi, kaitannya dengan sains, sains beranjak dari common sense, dari peristiwa sehari-hari yang dialami manusia namun terus dilanjutkan dengan suatu pemikiran yang logis dan teruji.

Sains merupakan suatu metode berpikir secara objektif. Tujuannya menggambarkan dan memberi makana pada dunia yang faktual. Sains adalah gambaran yang lengkap dan konsisten tentang berbagai fakta pengalaman dalam suatu hubungan yang mungkin paling sederhana (simple possible terms). Sains dalam hal ini merujuk kepada sebuah sistem untuk mendapatkan pengetahuan yang dengan menggunakan pengamatan dan eksperimen untuk menggambarkan dan menjelaskan fenomena – fenomena yang terjadi di alam.

Sains (pengetahuan) juga kumpulan pengetahuan tentang sesuatu kenyataan yang tersusun secara sistematis, dari usaha manusia yang dilakukan dengan penyelidikan, pengamalan dan percobaan-percobaan. Bahasa yang lebih sederhana, sains adalah cara ilmu pengetahuan yang didapatkan dengan menggunakan metode tertentu. Sains dengan definisi diatas seringkali disebut dengan sains murni, untuk membedakannya dengan sains terapan, yang merupakan aplikasi sains yang ditujukan untuk memenuhi kebutuhan manusia.

 

2.2  Ontologi Pengetahuan Sains

Ontologi adalah ilmu yang mempelajari hakikat dari objek yang kita kaji. Istilah ontologi berasal dari bahasa Yunani yaitu : ta onta berarti “yang berada”, dan logi berarti ilmu pengetahuan; ajaran. Dengan demikian ontologi adalah ilmu pengetahuan atau ajaran tentang yang berada. Tokoh yang membuat istilah ontologi populer adalah Christian Wlff (1679 – 1714). Obyek telaah ontologi adalah yang telah ada. Studi tentang yang ada, pada batasan studi filsafat pada umumnya dilakukan oleh filsafat metaphisika. Istilah ontologi banyak digunakan ketika kita membahas yang ada dalam konteks filsafat ilmu.

Objek kajian sains berupa benda-benda konkret. Benda konkret adalah benda-benda yang dapat ditangkap oleh alat-alat indra, dapat berupa benda padat, cair, atau gas. Jika benda-benda tersebut tidak dapat ditangkap oleh indra kita, maka digunakan alat bantu. Contohnya, pengamatan terhadap virus dilakukan dengan menggunakan mikroskop elektron dan bakteri dengan bantuan mikroskop cahaya.

2.3  Epistimologi Pengetahuan Sains

Epistimologi adalah ilmu yang mempelajari tentang cara bagaimana kita mempelajari suatu ilmu atau objek yang kita kaji. Istilah “epistimologi” didalam bahasa inggris dikenal dengan istilah “Theory of knowledge”. Epistimologi berasal dari asal kata “episteme” dan “logos”. Episteme berarti pengetahuan, dan logos berarti teori. Dalam rumusan yang lebih rinci disebutkan bahwa epistimologi merupakan salah satu cabang filsafat yang mengkaji secara mendalam dan radikal tentang asal mula pengetahuan, struktur, metode, dan validitas pengetahuan.

Sains menggunakan cara berpikir logis yaitu denganmenggunakan logika yang kontinuitas dalam berpikir. Dalam penerapannya, sains menggunakan langkah-langkah sistematis, artinya, dalam proses pemecahan masalah, sains menggunakan langkah-langkah yang teratur (sistematis) sesuai dengan aturan-aturan yang sudah dibakukan. Langkah-langkah sistematis tersebut berlaku untuk setiap bidang kajian sains dengan hasil yang sama jika dilakukan pada situasi yang sama. Selain itu, dalam memecahkan masalah dilakukan berdasarkan pengalaman-pengalaman yang dapat dirasakan oleh semua orang (pengalaman nyata).

Sebenarnya ada empat cara menemukan pengetahuan yaitu metode kegigihan, metode kewibawaan, metode apriori, dan metode sains. Metode kegigihan banyak digunakan dalam lingkungan masyarakat yang masih sangat erat hubungannya dengan lingkungan alam tempatnya hidup. Sebagai contoh dapat diambil kasus petani di Jawa yang sejak dahulu kala secara turun temurun diajari bahwa pemanen padi harus dilakukan dengan menggunakan ani-ani. Kalau ada pihak yang menganjurkan agar sewaktu memanen ia menyabit saja padinya, maka hal itu akan dianggapnya sebagai suatu perintah yang tidak benar danperlu disanggah.

Pengetahuan bahwa padi harus dituai dengan menggunakan ani-ani dan bukan disabit ditemukan petani melalui metode kegigihan. Petani itu dengan gigih mempertahankannya sebagai kebenaran karena cara itulah yang diajarkan orangtuanya kepadanya. Orangtuanyapun mendapatkan pelajaran yang sama dari kakek dan neneknya dan demikianlah seterusnya kebiasaan itu dapat ditelusuri telah diajarkan sebagai warisan dari satu angkatan ke angkatan lainnya. Apabila ada yang bermaksud melanggar kebiasaan umum ini maka dikatakan pula bahwa pekerjaan yang melanggar kebiasaan itu akan memancing amarah Dewi Sri, dewi kesuburan yang menjamin hasil padi sawah yang baik.

Metode kewibawaan adakalanya perlu diterapkan. Apalagi kalau di masyarakat terlalu banyak pendapat tidak beralasan yang simpang siur. Kearifan yang munculdari wibawa seseorang kemudian diharapkan menjadi petunjuk pengamat untuk menyelesaikan suatu masalah.

Metode yang ketiga adalah metode apriori. Metode apriori atau yang sering disebut metode ontuisi adalah metode yang memandang sesuatu hal yang dianggap benar karena tampaknya jelas benar. Dari pengetahuan apriori ini kemudian dikembalikan lebih lanjut pengetahuan lain. Yang menjadi pertanyaan pada cara ini adalah apa yang dimaksudkan “jelas benar”, karena setiap orang boleh saja mempunyai citra yang berlainan mengenai apa yang dimaksudkan “jelas benar” itu. Sebagai contoh dapat diambilpendapat bahwa bumi ini datar. Atas dasar hal ini orang kemudian menganggap bahwa laut itu ada batasnya. Barang siapa yang memberanikan diri berlayar terus menerus ke arah yang tetap, maka pada suatu ketika ia akan terlempar dari tepi laut itu ke suatu jurang yang tidak jelas bagaimana bentuknya.

Tantangan seperti itulah yang dihadapi oleh Columbus dari awak kapalnya sewaktu ia berlayar ke arah barat dari Spanyol untuk mendapatkan jalan baru ke Maluku. Akhirnya, berkat keengganannya mempercayai pengetahuan apriori, Columbus dunia baru yang kemudian bernama benua Amerika. Walaupun penemuannya itu tidak sengaja, karena ia bukan sampai di Maluku tetapi tersesat di benua Amerika.

Cara menemukan pengetahuan baru yang keempat dikenal sebagai metode sains. Metode ini secara khas menonjol di atas ketiga metode lainnya, karena dalam menemukannya mengembangkan pengetahuan, disepanjang proses penemuan pengetahuan itu, metode ini selalu menilai dan memperbaiki pengetahuan yang diperoleh itu secara terus menerus melalui berbagai macam batu uji. Oleh karena itu metode sains dikenal sebagai suatu cara menemukan pengetahuan yang obyektif. Karena pengetahuan yang ditemukan itu harus obyektif, maka pada dasarnya semua persyaratan yang dimintakan lain, apabila semua persyaratan yang dimintakan telah dipenuhi, siapapun yang melakukannya, ia akan mendapatkan akibat yang sama. Itulah sebabnya mengapa dikatakan bahwa inti sains adalah perumuman.

2.4 Aksiologi Pengetahuan Sains    

Aksiologi adalah ilmu yang mempelajari tentang nilai guna atau manfaat dari ilmu atau objek yang kita kaji. Aksiologi adalah cabang filsafat yang mempelajari tentang nilai secara umum. Sebagai landasan ilmu, aksiologi mempertanyakan untuk apa pengetahuan berupa ilmu itu dipergunakan? Bagaimana kaitan antara cara penggunaan tersebut dengan kaidah-kaidah moral? Bagaimana penentuan objek yang ditelaah berdasarkan pilihan-pilihan moral? Bagaimana kaitan antara teknik, prosedural yang merupakan operasionalisasi metode ilmiah dengan norma-norma moral atau profesional? (Jujun S.Suriasumantri, 1985, hlm. 34-35)

Hasil atau produk sains bersifat objektif, artinya, temuan tersebut tidak dipengaruhi oleh subjektivitas pelaku eksperimen atau atas hasil pemesanan dari pihak lain yang sifatnya memihak. Sains hanya memihak kepada kebenaran yang bersifat ilmiah.Hukum-hukum yang dihasilkan sains bersifat universal, maksudnya, dilakukan di mana saja, oleh siapa saja, serta kapan saja yang pada dasarnya akan mendapatkan hasil yang sama.

2.6  Aliran Filsafat dalam Mengembangkan Pengetahuan

Ada dua aliran yang digunakan seseorang dalam menemukan pengetahuan. Diantaranya adalah :

a. Aliran akal atau rasionalisme

Aliran filsafat yang mengembangkan pengetahuan dengan bersumber pada nalar yang dikendalikan akal ini dikenal sebagai mazhab rasionalisme. Para rasional pertama yang dikenal dalam sejarah mungkin sekali adalah Pythagoras (kira-kira 540 S.M.) dan Plato (427-347 S.M.) yamg sangat terpengaruh ole ajaran-ajaran Phytagoras.

Dalam zaman keemasan kebudayaan Islam dikenal para rasionalis seperti Al-Kindi (806-873 S.M.) (Amien, 1983; Madjid; 1984). Pada pertengahan kurun waktu berkembangnya mazhab ini dapat disebut Descartes (1596-1650 M) sebagai salah seorang tokohnya sedangkan Immanuel Kant (1724-1804) mungkin dapat dianggap sebagai salah satu tokoh rasionalisme yang terakhir. Semua penalaran yang dilakukan oleh mazhab rasionalisme bersandar pada apa yang dikenal dengan nama deduksi. Yang dimaksud dengan deduksi adalah suatu pembuktian dengan menggunakan logika. Kesimpulan mengenai suatu hal diperoleh dengan menurunkannya dari pernyataan-pernyataan lain yang disebut premis (alasan) yang mendasri argumen (bahan perbedaan pendapat).

b. Aliran Pengalaman atau Empirisme

Sejak zaman Yunani Kuno selain para pemikir yang mengagungkan nalar dan oleh karena itu termasuk kedalam mazha rasionalisme, sudah ada juga pemikir yang mempercayai inderanya, dan oleh karena itu mencoba mengumpulkan pengetahuan yang benar atas dasar pengalaman. Mereka ini termasuk mazhab empirisme (Yunani en-di dalam; peira- suatu percobaan; suatu cara menemukan pengetahuan berdasrkan pengamatan dan percobaan).

Salah seorang diantaranya adalah Demokritus (460-370 SM) yang peranannya sangat penting dalam perkembangan teori atom didalam alam semesta ini. Dalam abad-abad pertengahan empirisme diikuti diantaranya oleh Roger Bacon, Peter Aureoli, dan William dari Occam. Kalau para rasionalis menggunakan deduksi untuk mengembangkan pengetahuannya, maka kaum empiris berpaku pada cara mengembangkan pengamatannya dari pengalaman itu menjadi pengetahuan yang cakupannya lebih luas dan bersifat umum. Penalaran seperti ini disebut induksi.

2.5 Logika dan Deduksi di Dalam Sains

a. Logika Formal

Untuk menemukan pengetahuan kita harus dapat mengambil kumpulan dari berbagai pernyataan berupa fakta pendapat. Logika formal adalah bidang ilmu yang membahas tentang pernyataan-pernyataan atau posisi dalam hubungan nya dengan penalaran secara deduksi (Britannica, 1982). Bidang ilmu tertua yang menerapkan deduksi berdasarkan logika formal mungkin sekali ialah matematika. Salah satu yang dapat dipakai sebagai contoh adalah geometri Euklidus.

b. Kalkulus Pernyataan

Didalam setiap bidang ilmu pengetahuan selalu ada bagian yang membahas perjanjian-perjanjian dasar yang berlaku. Karena didalam logika kita membahas tentang pernyataan-pernyataan, haruslah ada suatu aturan yang disusun mengenai bagaiman cara menggabungkan beberapa pernyataan menjadi suatu pernyataan majemuk. Bagian logika formal yang membahas hal ini ialah Kalkulus pernyataan.

 

c. Pernyataan yang benar atau salah

Didalam logika formal suatu pernyataan hanya mungkin benar atau salah dan tidak mungkin benar dan salah secara serempak. Kalau suatu pernyataan benar, dikatakanlah bahwa nilai kebenaran pernyataan itu sama dengan 1, sedangkan kalau salah, nilai kebenarannya sama dengan 0.

 

d. Deduksi pada Geometri Euklidus

Dari kenyataan-kenyataan empirik yang ditemukan orang Mesir, Yunani, dan Mesopotamia Kuno, Euklidus mengadakan penyederhaan permasalahan dan membuat beberapa pernyataan yang dianggapnya sudah tidak perlu diperdebatkan lagi kebenarannya. Pernyataan yang berlaku umum dinamakan aksioma, sedangkan yang khas berlaku hanya untuk geometrinya dinamakan postulat.

BAB III

PENUTUP

3.1 Kesimpulan

Sains adalah “pengetahuan yang diperoleh melalui pembelajaran dan pembuktian” atau “pengetahuan yang melingkupi suatu kebenaran umum dari hukum – hukum alam yang terjadi misalnya didapatkan dan dibuktikan melalui metode ilmiah. Sains dalam hal ini merujuk kepada sebuah sistem untuk mendapatkan pengetahuan yang dengan menggunakan pengamatan dan eksperimen untuk menggambarkan dan menjelaskan fenomena -fenomena yang terjadi di alam. Objek kajian sains berupa benda-benda konkret.

Sains menggunakan cara berpikir logis yaitu denganmenggunakan logika yang kontinuitas dalam berpikir. Dalam penerapannya, sains menggunakan langkah-langkah sistematis, artinya, dalam proses pemecahan masalah, sains menggunakan langkah-langkah yang teratur (sistematis) sesuai dengan aturan-aturan yang sudah dibakukan. Hasil atau produk sains bersifat objektif, artinya, temuan tersebut tidak dipengaruhi oleh subjektivitas pelaku eksperimen atau atas hasil pemesanan dari pihak lain yang sifatnya memihak.

 

3.2 Saran

              Makalah ini dibuat oleh penulis dengan segala kemampuan dan keterbatasan.Maka dari itu, penulis menyadari bahwa masih banyak kekurangan-kekurangan sehingga untuk mencapai kesempurnaan itu diharapkan agar pembaca dapat memberi kritik dan saran yang membangun.

DAFTAR PUSTAKA

 

Drs. Sudarsono, S. M. (2008). Ilmu Filsafat (Suatu Pengantar). Jakarta: PT Rineka Cipta.

Muhadjir, P. D. (2001). Filsafat Ilmu (Positivisme, Post Positivisme, dan Post Modernisme). Yogyakarta: PT Rake Sarasin.

Nasoetion, A. H. (1992). Pengantar ke Filsafat Sains. Jakarta: PT Pustaka Litera AntarNusa.

Surajiyo, D. (2010). Filsafat Ilmu dan Perkembangannya di Indonesia. Jakarta: PT Bumi Aksara.

 

_______

Disusun Oleh:

  • Agung Purwanto
  • Arin Fitriawati
  • Dina Indirani
  • Ers Indri Triasmami
  • Maulana Harun Najib
  • Risti Maya Sarosi
  • Sri Astuti
  • Zurrohmah

Pendidikan Bahasa Inggris

STKIP PGRI Pacitan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s