Taksonomi Pembelajaran

Taksonomi pembelajaran adalah usaha pengelompokan yang disusun dan diurutkan berdasarkan ciri-ciri suatu bidang tertentu dan menjadi salah satu aspek yang harus dipertimbangkan dalam melaksanakan kegiatan pembelajaran. Sebab segala kegiatan pembelajaran intinya adalah pada tercapainya tujuan tersebut. Taksonomi tujuan pembelajaran diperlukan dengan pertimbangan sebagai berikut: 

  • Perlu adanya kejelasan terminology tujuan yang digunakan dalam tujuan pembelajaran karena tujuan pembelajaran berfungsi untuk memberikan arah kepada proses belajar dan menentukan perilaku yang dianggap sebagai bukti hasil belajar.
  • Sebagai alat yang akan membantu guru dalam mendeskripsikan dan menyusun tes, teknik penilaian dan evaluasi.

Keuntungan dari penuangan taksonomi pembelajaran adalah sebagai berikut:

  • Waktu untuk kegiatan belajar mengajar dapat dialokasikan dan dimanfaatkan secara tepat.
  • Pokok bahasan dapat dibuat seimbang sehingga tidak ada materi pelajaran yang dibahas terlalu mendalam atau terlalu sedikit dan sesuai.
  • Pendidik dapat menetapkan berapa banyak materi pelajaran yang dapat atau sebaiknya diberikan dalam setiap jam pelajaran.
  • Pendidik dapat menetapkan susunan dan rangkaian materi pelajaran secara tepat.
  • Pendidik dapat menetapkan dan mempersiapkan strategi belajar mengajar yang cocok dan menarik dengan mudah.
  • Pendidik dapat dengan mudah mempersiapkan berbagai keperluan peralatan maupun bahan dalam keperluan belajar.
  • Pendidik dapat dengan mudah mengukur keberhasilan siswa dalam belajar.

Sehingga seorang pendidik dituntut untuk mampu menyusun dan merumuskan tujuan pembelajaran secara jelas dan tegas. Karna rumusan dalam tujuan pembelajaran yang dilakukannya, akan berujung pada inefektivitas dan inefesiensi pembelajaran.

Konsep Dasar Taksonomi Pembelajaran

Melihat pada karya Hamzah B. Uno terdapat beberapa pengertian yang dikemukakan oleh para ahli, yaitu :

  • Robert F. Mager

Tujuan pembelajaran adalah perilaku yang hendak dicapai atau yang dapat dikerjakan oleh siswa pada kondisi dan tingkat kompetensi tertentu.

  • Kemp dan David E. Kapel

Tujuan pembelajaran adalah suatu pernyataan yang dinyatakan dalam perilaku atau penampilan yang diwujudkan dalam bentuk tulisan untuk menggambarkan hasil belajar yang diharapkan.

  • Henry Ellington

Tujuan pembelajaran adalah pernyataan yang diharapkan dapat tercapai sebagai hasil belajar.

  • Oemar Hamalik

Tujuan pembelajaran adalah suatu deskripsi tingkah laku yang diharapkan dicapai oleh siswa setelah berlangsung pembelajaran.

  • Menurut Standar Proses pada Permendiknas Nomor 41 Tahun 2007.

Tujuan pembelajaran menggambarkan proses dan hasil belajar yang diharapkan dicapai oleh peserta didik sesuai dengan kompetensi dasar. Ini berarti kemampuan yang dirumuskan dalam tujuan pembelajaran mencakup kemampuan yang akan dicapai siswa selama proses belajar dan hasil akhir belajar.

Meskipun pengertian dari para ahli berbeda-beda dalam memberikan rumusan tujuan pembelajaran, tetapi mempunyai maksud yang sama, yaitu:

  • Tujuan pembelajaran adalah tercapainya perubahan perilaku pada siswa setelah mengikuti kegiatan pembelajaran

 

  • Tujuan dirumuskan dalam bentuk pernyataan atau deskripsi yang spesifik.

Upaya merumuskan tujuan pembelajaran dapat memberikan manfaat tertentu, baik bagi pendidik maupun peserta didik. Manfaat dari tujuan pembelajaran, yaitu:

  • Memudahkan dalam mengkomunikasikan maksud kegiatan belajar mengajar kepada siswa, sehingga siswa dapat melakukan perbuatan belajarnya secara lebih mandiri.
  • Memudahkan guru memilih dan menyusun bahan ajar.
  • Membantu memudahkan guru menentukan kegiatan belajar dan media pembelajaran.
  • Memudahkan guru mengadakan penilaian.

Sejarah Taksonomi Pembelajaran

Taksonomi berasal dari bahasa Yunani “tassein” berarti untuk mengklasifikasi dan “nomos” yang berarti aturan. Taksonomi berarti klasifikasi berhirarkhi dari sesuatu atau prinsip yang mendasari klasifikasi. Semua hal yang hidup, benda diam, tempat, dan kejadian sampai pada kemampuan berpikir dapat diklasifikasikan menurut beberapa skema taksonomi.

Kegiatan pembelajaran dilakukan untuk mencapai tujuan tertentu, yaitu hasil belajar berupa perubahan tingkah-laku. Tanpa adanya tujuan pembelajaran yang jelas, pembelajaran akan menjadi tidak efektif dan menjadi tanpa arah.

Agar dapat menentukan tujuan pembelajaran yang diharapkan, pemahaman taksonomi tujuan atau hasil belajar menjadi sangat penting bagi seorang pendidik. Dengan pemahaman ini seorang pendidik dapat menentukan dengan lebih jelas dan tegas apa tujuan pembelajaran lebih bersifat kognitif, dan mengacu kepada tingkat intelektual tertentu, atau lebih bersifat afektif atau psikomotor.

Kemudian, untuk merumuskan tujuan pembelajaran harus memenuhi beberapa kaidah atau kriteria tertentu. Seorang guru profesional harus merumuskan tujuan pembelajaran dalam bentuk perilaku peserta didik yang dapat diukur. Yaitu menunjukkan apa yang dapat dilakukan oleh peserta didik tersebut sesudah mengikuti pelajaran. Selanjutnya, dua kriteria yang harus dipenuhi dalam memilih tujuan pembelajaran, yaitu:

  • Preferensi nilai, yaitu cara pandang dan keyakinan guru mengenai apa yang penting dan seharusnya diajarkan kepada siswa serta bagaimana cara membelajarkannya.

 

  • Analisis taksonomi perilaku, dengan menganalisis taksonomi perilaku ini, guru akan dapat menentukan bentuk dan jenis pembelajaran yang akan dikembangkan, apakah seorang pendidik hendak menitikberatkan pada pembelajaran kognitif, afektif ataukah psikomotor.

Berbicara tentang taksonomi perilaku peserta didik sebagai tujuan belajar, saat ini para ahli umumnya sepakat untuk menggunakan pemikiran dan sebagai tujuan pembelajaran, yang dikenal dengan taksonomi Bloom (Bloom’s Taxonomy). Menurut Bloom perilaku individu dapat diklasifikasikan ke dalam 3 ranah, yaitu:

  • Ranah Kognitif

Ranah yang berkaitan aspek-aspek intelektual atau penalaran, di dalamnya mencakup:

  • Pengetahuan (knowledge)
  • Pemahaman (comprehension)
  • Penerapan (application)
  • Penguraian (analysis)
  • Pemadukan (synthesis)
  • Penilaian (evaluation)

 

 

 

  • Ranah Afektif

Ranah yang berkaitan aspek-aspek emosional, seperti perasaan, minat, sikap, kepatuhan terhadap moral dan sebagainya.

Di dalamnya mencakup:

  • Penerimaan (receiving/attending)
  • Sambutan (responding)
  • Penilaian (valuing)
  • Pengorganisasian (organization)
  • Karakterisasi (characterization)

 

  • Ranah Psikomotor

Ranah yang berkaitan dengan aspek-aspek keterampilan yang melibatkan fungsi sistem syaraf dan otot (neuronmuscular system) dan fungsi psikis. Ranah ini mencakup:

  • Kesiapan (set)
  • Peniruan (imitation)
  • Membiasakan (habitual)
  • Menyesuaikan (adaptation)
  • Menciptakan (origination)

Taksonomi psikomotor ini merupakan kriteria yang dapat digunakan oleh seorang pendidik untuk mengevaluasi mutu dan efektivitas pembelajarannya.

A. KOGNITIF

Kognitif adalah kawasan yang membahas tujuan pembelajaran dengan proses mental yang berawal dari tingkat pengetahuan ketingkat yang lebih tinggi yakni evaluasi. Kawasan kognitif terdiri dari 6 tingkatan, yaitu:

  • Tingkat pengetahuan (knowledge)

Diartikan kemampuan seseorang dalam menghafal atau mengingat kembali atau mengulang kembali pengetahuan yang pernah diterimanya.

  • Contoh: Siswa dapat menggambarkan satu buah segitiga sembarang.

 

  • Pemahaman (comprehension)

Diartikan kemampuan seseorang dalam mengartikan, menafsirkan, menerjemahkan, atau menyatakan sesuatu dengan caranya sendiri tentang pengetahuan yang pernah diterimanya.

  • Contoh: Siswa dapat menjelaskan kata-katanya sendiri tentang perbedaan bangun geometri yang berdimensi dua dan berdimensi tiga.

 

  • Tingkat penerapan (application)

Diartikan kemampuan seseorang dalam menggunakan pengetahuan dalam memecahkan berbagai masalah yang timbul di kehidupan sehari-hari.

  • Contoh: Siswa dapat menghitung panjang sisi miring dari suatu segitiga siku-siku jika diketahui sisi lainnya.

 

  • Tingkat analisis (analysis)

Diartikan kemampuan menjabarkan atau menguraikan suatu konsep menjadi bagian-bagian yang lebih rinci, memilah-milih, merinci, mengaitkan hasil rinciannya.

  • Contoh: Mahasiswa dapat menentukan hubungan berbagai variabel penelitian dalam mata kuliah Metodologi Penelitian.

 

  • Tingkat sintetis (synthetis)

Diartikan kemampuan menyatukan bagian-bagian secara terintegrasi menjadi suatu bentuk tertentu yang semula belum ada.

  • Contoh: Mahasiswa dapat menyusun rencana atau usulan penelitian dalam bidang yang diminati pada mata kuliah Metodologi Penelitian.

 

  • Tingkat evaluasi (evaluation)

Diartikan kemampuan membuat penilaian judgment tentang nilai untuk maksud tertentu.

  • Contoh: Mahasiswa dapat memperbaiki program-program computer yang secara fisik tampak kurang baik dan kurang efisien pada mata kuliah Algoritma dan pemrograman.

B. AFEKTIF

Afektif adalah satu kawasan yang berkaitan dengan sikap, nilai-nilai interest, apresiasi atau penghargaan dan penyesuaian perasaan sosial. Tingkatan afektif ini ada 5, yaitu:

  • Kemauan menerima

Berarti keinginan untuk memperhatikan suatu gejala atau rancangan tertentu seperti keinginan membaca buku, mendengar music, atau bergaul dengan orang yang mempunyai ras berbeda.

 

  • Kemauan menanggapi

Berarti kegiatan yang menunjuk pada partisipasi aktif kegiatan tertentu seperti menyelesaikan tugas terstruktur, menaati peraturan, mengikuti diskusi kelas, menyelesaikan tugas dilaboratorium atau menolong orang lain.

 

  • Berkeyakinan

Berarti kemauan menerima sistem nilai tertentu pada individu seperti menunjukkan kepercayaan terhadap sesuatu, apresiasi atau penghargaan terhadap sesuatu, sikap ilmiah atau kesungguhan untuk melakukan suatu kehidupan sosial.

 

  • Penerapan karya

Berarti penerimaan terhadap berbagai sistem nilai yang berbeda-beda berdasarkan pada suatu sistem nilai yang lebih tinggi, seperti menyadari pentingnya keselarasan antara hak dan tanggung jawab, bertanggung jawab terhadap hal yang telah dilakukan, memahami dan menerima kelebihan dan kekurangan diri sendiri.

 

  • Ketekunan dan ketelitian

Berarti individu yang sudah memiliki sistem nilai selalu menyelaraskan perilakunya sesuai dengan sistem nilai yang dipegangnya, seperti bersikap objektif terhadap segala hal.

C. PSIKOMOTOR

Psikomotor berkaitan dengan keterampilan yang bersikap manual atau motorik. Tingkatan psikomotor ini meliputi:

  • Persepsi

Berkenaan dengan penggunaan indra dalam melakukan kegiatan.

  • Contoh: mengenal kerusakan mesin dari suaranya yang sumbang.

 

  • Kesiapan melakukan suatu kegiatan

Berkenaan dengan melakukan sesuatu kegiatan atau set termasuk di dalamnya metal set atau kesiapan mental, physical set (kesiapan fisik) atau (emotional set) kesiapan emosi perasaan untuk melakukan suatu tindakan.

 

  • Mekanisme

Berkenaan dengan penampilan respon yang sudah dipelajari dan menjadi kebiasan sehingga gerakan yang ditampilkan menunjukkan kepada suatu kemahiran.

  • Contoh: menulis halus, menari, menata laboratorium dan menata kelas.

 

  • Respon terbimbing

Berkenaan dengan meniru (imitasi) atau mengikuti, mengulangi perbuatan yang diperintahkan atau ditunjukkan oleh orang lain, melakukan kegiatan coba-coba (trial and error).

 

  • Kemahiran

Berkenaan dengan penampilan gerakan motorik dengan ketrampilan penuh. Kemahiran yang dipertunjukkan biasanya cepat, dengan hasil yang baik namun menggunakan sedikit tenaga.

  • Contoh: tampilan menyetir kendaran bermotor.

 

 

 

  • Adaptasi

Berkenaan dengan ketrampilan yang sudah berkembang pada diri individu sehingga yang bersangkutan mampu memodifikasi pada pola gerakan sesuai dengan situasi dan kondisi tertentu.

  • Contoh: orang yang bermain tenis, pola-pola gerakan disesuaikan dengan kebutuhan mematahkan permainan lawan

.

  • Organisasi

Berkenaan dengan penciptaan pola gerakan baru untuk disesuaikan dengan situasi atau masalah tertentu, biasanya hal ini dapat dilakukan oleh orang yang sudah mempunyai ketrampilan tinggi, seperti menciptakan model pakaian, menciptakan tarian, komposisi music.

PENUTUP

Taksonomi pada dasarnya merupakan usaha pengelompokan yang disusun dan diurut berdasarkan ciri-ciri suatu bidang tertentu. Sebagai contoh, taksonomi dalam bidang ilmu fisika menghasilkan pengelompokan benda kedalam benda cair, benda padat, dan gas. Taksonomi tujuan pembelajaran adalah pengelompokan tujuan pembelajaran dalam kawasan kognitif, afektif dan psikomotorik.

Sehingga sebagai seorang pendidik perlu memahami berbagai taksonomi tujuan untuk memperoleh wawasan yang lebih luas tentang tujuan pembelajaran, dan dapat memilih mana yang sesuai dengan mata pelajaran yang diasuh dan kegiatan pembelajaran yang dirancangnya. Agar tercapainya hasil yang baik dalam setiap materi pelajaran yang ingin di capai.

DAFTAR PUSTAKA

1)      Buku yang ditulis oleh satu orang

Hamalik, Oemar, 2009, Dasar-dasar Pengembangan Kurikulum, Bandung: PT Remaja Rosdakarya cetakan ketiga, hal 138-139.

2)      Buku yang ditulis oleh satu orang

Uno, Hamzah, 2008, Perencanaan Pembelajaran, Jakarta: PT Bumi Aksara.

3)      Artikeldi internet

http://materibidan.blogspot.com/2010/05/taksonomi-dan-tujuan-pembelajaran.html

4)      Artikeldi internet,tetapi materi cetaknyaditerbitkandalam jurnal

Sudrajat, Ahmad, 2009, Tujuan Pembelajaran Sebagai Komponen Penting, http://www.athmosudrajatfileswordpress-com/2009/09/tujuan-pembelajaran-sgb-komponen-komponen-penting-dlm-pembelajaran1-doc

5)      Artikeljurnal,seorangpengarang

Syafei, H Buyung Ahmad, 2007, Kompeten dan Kompetensi,

 

6)      Makalah/artikel,yang tidakditerbitkan

Widodo, Ari. 2005. Taksonomi Tujuan Pembelajaran. Jurusan Pendidikan Biologi FPMIPA. Universitas Pendidikan Indonesia.

 

7)      Artikeljurnal,seorangpengarang

Suparman, Atwi, 2001, Desain Instruksional, Jakarta:PAU-PPAI, Universitas Terbuka, hal.78-92.

 

 

 

____________

*) Rival Yanuar Rahma,penulisadalahmahasiswaSTKIPPGRIPacitanProgramStudiPendidikanBahasaInggriskelasB.Makalahdisusunguna memenuhi sebagian tugas individu pada mata kuliah Belajar Pembelajarantahun akademik 2013/2014 dengan dosen pengampu Afid Burhanuddin, M.Pd.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s