Gaya Belajar

Tipe belajar atau gaya belajar siswa yang berdasarkan sejumlah penelitian terbukti penting untuk diketahui guru. Woolever dan scott (1988), Dunn, Beaudry dan Klavas (1989) menemukan sebagai hasil penelitiannya betapa pentingnya bagi guru untuk memadukan gaya mengajarnya dengan gaya belajar siswa. Setiap siswa memiliki gaya belajarnya sendiri, diumpamakan seperti tanda tangan yang khas bagi dirinya sendiri (Marsh, 2005: 63). Dengan mengetahui gaya belajar setiap siswa, guru akan mampu mengorganisasikan kelas sedemikian rupa sebagai respon terhadap kebutuhan setiap individu siswanya. Minimal guru akan beruaha menerapkan berbagai metode pembelajaran untuk mengakomodasikan berbagai gaya belajar siswanya.

Dalam mencoba memadukan gaya belajar siswa dengan gaya mengajar guru, Morrison dan Ridley (Marsh, 2005: 63) menyarankan agar guru mempertimbangkan hal-hal sebagai berikut:

  • Bagaimanakah cara mengembangkan konsep pribadi (self concept) setiap siswa?
  • Bagaimanakah cara mengembangkan motivasi siswa?
  • Bagaimanakah caranya agar gaya mengajar guru sesuai dengan perbedaan individual setiap siswa dalam hal kebutuhan, minat, kemampuan, dan keterampilannya?
  • Bagaimanakah caranya agar gaya mengajar guru dapat mengembangkan gaya belajar individu siswa dan sesuai dengan laju pembelajaran?

Klasifikasi gaya belajar yang sederhana seperti yang diungkapkan oleh Pask dan Scott (Budiningsih, 2004:81 dan Karti, 2003:26), yaitu gaya belajar wholist dan serialist. Gaya belajar wholist atau holist adalah gaya belajar yang menekankan pemahaman terhadap seluruh materi pembelajaran atau seluruh masalah yang dihadapi dalam pembelajaran. Sedangkan gaya belajar serialist adalah gaya belajar yang lebih menekankan penguasaan materi pelajaran bagian demi bagian, masalah dianalisis berdasarkan komponen-komponennya. Macam gaya belajar yaitu:

  1. Gaya Belajar VAK

Modalitas belajar dimaknai sebagai gaya belajar yang khas setiap individu, istilah modalitas belajar dijumpai dalam Quantum Learning maupun Quantum Teaching yang ditulis oleh Bobbi De Porter dan Mike Hernacki (2003) yang bersumber dari gaya belajar VAK (visual, auditory, dan kinesthetic) yang semula dikembangkan oleh Rita Dunn dan Kenneth Dunn (1978).

Modalitas belajar ada tiga macam yang pokok, tetapi sering kali seorang anak memiliki gabungan beberapa modalitas belajar. Modalitas belajar yang pertama yaitu modalitas belajar visual, artinya seorang anak akan lebih cepat belajar dengan cara melihat, misalnya membaca buku, melihat fenomena alam dengan cara observasi, atau melihat pembelajaran yang disajikan melalui TV atau video kaset. Modalitas belajar yang kedua yaitu modalitas belajar audio. Seorang anak akan lebih mudah belajar dengan cara mendengarkan. Biasanya dilakukan dengan metode ceramah. Siswa dapat belajar malalui mendengarkan kaset atau radio pembelajaran. Modalitas belajar yang ketiga yaitu modalitas belajar kinestetik. Siswa belajar melalui gerakan-gerakan kaki atau tangan, melakukan eksperimen yang memerlukan aktifitas fisik dan sebagainya.

  1. The Myers-Briggs Type Indicator (MBTI)

Sebenarnya teori tentang tipe belajar sudah lama berkembang, tercatat dimulai sejak penelitian dalam psikologi kepribadian oleh Carl Gustav Jung (1875-1961) yang kemudian dikembangkan oleh Katherine Briggs dan saudaranya Isabel Briggs-Myers. Mereka menyusun suatu uji yang didasari oleh fungsi-fungsi kepribadian yang diungkap oleh Jung, tes ini sekarang dikenal dengan nama The Myers-Briggs Type Indicator (MBTI).

Dalam hal ini gaya belajar seseorang sesuai tipe kepribadiannya yang meliputi:

  • Ekstrovert atau ekstroversi (mencoba mengungkapkan ke luar, berfokus kepada dunia-luar diri seseorang).
  • Pengindra, sensor (praktis, berorientasi detil, befokus pada fakta dan prosedur).
  • Pemikir, thinker (skeptis, cenderung membuat keputusan berlandaskan logika dan aturan-aturan).
  • Pembuat pertimbangan, penilai, judger (menyusun dan mengikuti agenda, cenderung mengakhiri sesuatu walau data belum lengkap).

 

  1. Tipe Belajar Menurut Kolb

Tipe belajar David Kolb berlandaskan teori belajar pengalaman (experiental learning theory, ELT) seperti yang dinyatakan dalam bukunya berjudul Experiental Learning: Experience as the source of learning and development (1984). Model ELT mengikhtisarkan adanya dua pendekatan dalam memperoleh pengalaman atau informasi, yaitu pengalaman konkret dan konseptualisasi abstrak. Sedangkan dalam melakukan transformasi pengalaman, dapat merespon sebaik-baiknya sehingga mampu menjelaskan seberapa jauh pengetahuan yang diperoleh terkait dengan pengalaman, minat, dan kariernya di masa depan, ada dua oendekatan, yaitu pengamatan reflektif dan pengalaman aktif.

Menurut Kolb agar belajar menjadi efektif setiap pembelajar harus berusaha memadukan keempat pendekatan tersebut. Sehingga gaya belajar merupakan hasil dari kombinasi pendekatan yang disukai setiap orang, meliputi:

  • Converger, konseptualisasi abstrak dan pengalaman aktif. Agar efektif guru harus bertindak sebagai motivator.
  • Diverger, konseptualisasi abstrak dan pengamatan reflektif. Agar efektif guru harus bertindak sebagai pakar.
  • Assimilator, konseptualisasi abstrak dan pengamatan reflektif. Agar efektif guru harus bertindak sebagai pelatih.
  • Accommodator, penggunaan pengalaman konkret dan eksperimentasi aktif. Agar efektif guru harus memberi keleluasaan dan guru bersifat sebagai fasilisator.

 

  1. Tipe Belajar Menurut Model Honey and Mumford

Tipe ini mula-mula dimaksudkan untuk digunakan di pelatihan para manajer senior dalam dunia bisnis, tetapi kemudian berkembang dalam dunia pembelajaran. Penggagasnya adalah Peter Honey dan Alan Mumford (1970). Mereka melakukan dua adaptasi terhadap model pengalaman David Kolb. Mereka memberikan nama baru terhadap tahap-tahap siklus pengalaman dalam pembuatan keputusan atau pemecahan masalah yaitu memiliki pengalaman, mereviu pengalaman, berkesimpulan dari pengalaman, dan merencanakan langkah berikutnya. Selanjutnya menentukan tipe belajar terkait siklus pengalaman tersebut dan disebutnya sebagai tipe-tipe aktivis, reflektor, teoritis, dan pragmatis.

  1. Tipe Belajar Menurut Model Anthony Gregorc

Anthony F. Gregorc dan Kathleen A. Butler bekerja sama untuk menyusun suatu model yang menjelaskan bagaimana pikiran bekerja. Model ini dikembangkan berlandaskan persepsi eksisting atau evaluasi kita terhadap dunia dengan cara pendekatan yang masuk akal kita. Dalam model ini ada dua kualitas persepsi yaitu konkret dan abstrak, dan dua kecakapan dalam membuat susunan, yaitu acak (random) dan sekuensial/urut (sequential).

Persepsi konkret terkait penerimaan informasi melalui kelima panca indera, sedangkan persepsi abstrak terkait pemahaman gagasan dan tidak dapat dilihat. Dalam kaitannya, kecakapan sekuensial berkaitan dengan organisasi informasi secara linear, atau penalaran dan logis. Sedangkan kecakapan acak terkait dengan organisasi informasi dalam bentuk keping informasi tanpa aturan atau urutan spesifik. Sehingga pada akhirnya ada empat kombinasi tipe belajar yang dominan yaitu konkret sekuensial, abstrak acak, abstrak sekuensial, dan konkret acak.

  1. Model Sudbury tentang Pendidikan Demokratis

Model Sudbury dikembangkan di Sudbury Valley School seperti yang dilaporkan oleh D. Greenberg (1987). Mereka berargumen bahwa belajar adalah proses yang harus dilakukan siswa sendiri, dan bukan proses yang ditetapkan guru untuk dikerjakan oleh siswa. Model ini mengemukakan hasil pengalamannya, bahwa banyak cara untuk belajar tanpa harus ada intervensi guru. Misalnya dalam hal membaca, siswa belajar dari buku yang dibacakan. Intinya setiap siswa belajar dari mengajari dirinya sendiri dari berbagai sumber belajar yang ada di lingkungan. Dalam model sekolah demokratis ini iklim sekolah harus dibangun tanpa ada paksaan, tekanan, desakan, bujukan atau suapan. Sehingga setiap siswa dapat belajar sesuai dengan kevepatan dan gayanya sendiri, daripada mengikuti kurikulum yang wajib dan disusun kronologis.

  1. Model HBDI (Herrmann Brain Dominance Instrument)

Model ini dikembangkan oleh N. Herrmann dalam publikasinya The Creative Brain (1990).dalam metode ini ada empat kuadran dalam otak, tipe belajar diskemakan sebagai berikut:

  • Kuadran A (otak kiri, serebral) tipe belajarnya kombinasi dari logis, analitis, kuantitatif, faktual dan kritis.
  • Kuadran B 9otak kiri, limbik) tipe belajarnya kombinasi dari sekuensial, terorganisasi, terencana, terinci, dan terstruktur.
  • Kuadran C (otak kanan, limbik) tipe belajarnya kombinasi dari emosional, antarpribadi, sensori, kinestetik, dan simbolik.
  • Kuadran D (otak kanan, serebral) tipe belajarnya kombinasi visual, holistik, dan inovatif.

Perlu diketahui bahwa bagian serebral (cerebral cortex) pada otak adalah bagian atas otak dan berfungsi untuk penalaran, bahasa, pemikiran intelektual, serta pengelolaan kecerdasan yang lebih tinggi. Sedangkan bagian limbik (mamalia) pada otak adalah bagian tengah otak yang berfungsi untuk pengendalian perasaan dan emosi, memori, seksualitas, dan sistem kekebalan.

  1. Gaya Belajar Felder-Silverman

Dikembangkan oleh R.M. Felder seorang profesor teknik kimia dengan rekannya L.K. Silverman pada tahun 1988 lewat publikasinya Learning Styles ang Teaching Styles in Engineering Education. Model belajar ini sebagai berikut:

  • Pembelajar indrawi, sensing learner (konkret, praktis, berorientasi fakta dan prosedur) atau pembelajar intuitif (konseptual, inovatif, berorientasi kepada makna dan teori).
  • Pembelajar visual (menyukai representasi visual dalam penyajian misalnya gambar, diagram, diagram alir), atau pembelajar verbal (menyukai penjelasan tertulis dan ceramah).
  • Pembelajar induktif (menyukai presentasi yang diproses dari hal-hal khusus ke umum), atau pembelajar deduktif (menyukai presentasi yang diproses dari hal-hal umum ke khusus).
  • Pembelajar aktif (belajar dengan mencoba atau melakukan sesuatu, bekerja sama dengan yang lain) atau pembelajar reflektif (belajar dengan memikirkan sesuatu dalam-dalam, bekerja sendiri).
  • Pembelajar sekuensial (linear, beraturan, belajar dalam langkah-langkah kecil yang inkremental/bertahp) atau pembelajar global (holistik, pemikir sistem, belajar dalam lompatan-lompatan besar).

 

  1. Model Tipe Belajar Lainnya

Saat ini banyak situs online interaktif yang menyediakan jasa untuk menentukan tipe belajar seseorang sehingga dapat memperoleh manfaat karena pemahaman terhadap tipe belajarnya sendiri. Salah satunya adalah seperti yang dikembangkan oleh Learning-styles-online.com. Tipe belajarnya berdasarkan adanya memletic style setiap individu yang mengkoordinasikan berbagai gaya belajar yang dikembangkan berlandaskan brain-based learning (pembelajaran berbasis otak) dan implementasi belajar yang dipercepat (accelerated learning). Macam gaya belajarnya yaitu:

  • Tipe visual (spasial) menyukai penggunaan gambar-gambar, pencitraan dan pemahaman spasial.
  • Tipe aural (auditori-musikal) menyukai musik dan bunyi-bunyian.
  • Tipe verbal (linguistik) menyukai penggunaan kata-kata dalam ucapan maupun tulisan.
  • Tipe fisik (kinestetik) menyukai olah tubuh, tangan dan sentuhan indera.
  • Tipe logis (matematikal) menyukai penggunaan logika, penalaran dan sistem-sistem.
  • Tipe sosial (antarpersonal) menyukai belajar dalam kelompok atau dengan orang lain.
  • Tipe soliter (interpersonal) menyukai belajar sendiri, menerapkan self-study.

 

Daftar Pustaka

Suyono & Hariyanto. (2012). Belajar dan Pembelajaran. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.

 

____________

Disusun Oleh

Enti Devi Taniar

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s