Sejarah Perkembangan Ilmu Pada Masa Yunani Kuno

Berbicara tentang awal lahirnya serta perkembangan ilmu pengetahuan sama halnya kita flashback pada masa Yunani Kuno. Masa Yunani Kuno yaitu masa di mana awal kebangkitan filsafat secara umum karena menjawab persoalan disekitarnya dengan rasio dan meninggalkan kepercayaan terhadap mitologi atau tahayul yang irasional. Filsafat yunani kuno merupakan periode yang sangat penting pada sejarah peradapan manusia karena pada waktu itu pola pemikiran manusia masi mengandalkan mitos untuk menjelaskan fenomena alam. Periode perkembangan fisafat yunani merupakan entri poin untuk memasuki peradaban baru umat manusia. Ilmu merupakan substansi yang sangat penting dan mendasar dalam kehidupan manusia. Pada era modern seperti sekarang ini ilmu pengetahuan berkembang pesat seiring dengan peradaban dan perkembangan jaman. Hal ini dapat ditandai dengan adanya perkembangan teknologi yang semakin berkembang cepat dan canggih. Manusia lahir dengan dibekali akal dan pikiran untuk mengembangkan pengetahuan-pengetahuan serta pengalaman yang dimilikinya yang dapat menciptakan ide-ide atau gagasan baru. Ilmu pengetahuan juga diciptakan untuk dapat membantu kehidupan manusia menjadi lebih mudah. Namun tak hanya itu saja, ilmu pengetahuan yang telah berkembang sedemikian pesat ini juga telah menimbulkan berbagai krisis kemanusiaan dalam kehidupan. Hal ini membuat mayoritas orang cenderung melakukan sejumah pemecahan masalah kemanusiaan yang bersifsat sektoral. Salah satu upaya untuk menyelesaikan masalah-masalah kemanusiaan yang semakin kompleks tersebut ialah dengan mempelajari perkembangan pemikiran filsafat.

Dalam sejarahnya filsafat yunani dianggap sebagai induk dari filsafat barat, karena dunia barat (Eropa Barat) dalam pemikirannya mengacu pada Yunani.Pada masa itu ada keterangan-keterangan tentang terjadinya alam semesta dan makhluk hidup di dalamnya, akan tetapi keterangan ini berdasarkan kepercayaan ataupun mitos mitos yang memang menjadi kepercayaan bangsa Yunani masa itu. Para ahli pun merasa kurang yakin dan puas sehingga melakukan penelitian penelitian untuk mencari kebenaran.

 

  1. Pemikiran Pada Masa Yunani Kuno

Ciri pemikiran pada abad ini adalah kosmosentris, yaitu mempertanyakan asal usul alam semesta dan jagad raya sebagai salah satu upaya untuk menemukan asal mula (arche) yang merupakan unsur awal terjadinya gejala. Ada beberapa tokoh filosof pada zaman ini menyatakan pendapatnya tentang arche, antara lain :

  • Thales (640- 550 SM)             :  arche berupa air
  • Anaximander (611-545 SM)  : arche berupa apeiron (sesuatu yang tidak terbatas)
  • Anaximenes (588-524 SM)     :  arche berupa udara
  • Phytagoras (580-500 SM)       : arche dapat diterangkan atas dasar bilangan-bilangan.

Orang Yunani awalnya sangat percaya pada dongeng-dongeng, mitos maupun tahayul, tetapi lama kelamaan mereka mampu keluar dari pengaruh mitologi dan mendapatkan dasar pengetahuan ilmiah. Karena manusia selalu berhadapan dengan alam yang begitu luas dan penuh misteri, timbul rasa ingin mengetahui rahasia alam itu, sehingga filosof alam berkembang pertama kali. Periode filsafat Yunani merupakan periode sangat penting karena terjadi perubahan pola fikir manusia dari mitosentris menjadi logosentris.Pola pikir mitosentris yaitu pola pikir masyarakat yang sangat mengandalkan mitos untuk menjelaskan fenomena alam. Pada masa Yunani Kuno berkembang pemikiran mengenai mencintai kebenaran atau pengetahuan yang merupakan awal proses manusia mau menggunakan daya pikirnya, sehingga dia mampu membedakan mana yang riil mana yang ilusi.

 

  1. Tokoh-tokoh Pada Masa Yunani Kuno

 

  1. Phytagoras (580-500 SM)

      Phytagoras dikenal sebagai filsuf dan juga ahli ilmu ukur. Baginya tidak ada satupun dialam ini terlepas dari bilangan, semua realitas dapat diukur dengan bilangan (kuantitas). Karena itu dia berpendapat bahwa bilangan adalah unsur utama dari alam. Phytagoras pada masa itu sudah mengatakan bahwa bumi itu bundar dan tidak datar. Phytagoras pada masa itu juga menyusun suatu lembaga pendidikan dan himpunan yang beranggotakan murid-muridnya dan para sarjana yang dikenal sebagai Phytagoras Society. Hal ini mirip dengan masyarakat ilmiah seperti sekarang ini.

Phytagoras lebih dikenal dengan penemuannya tentang ilmu ukur dan aritmatik. Adapun beberapa temuan dari Phytagoras antara lain:

  1. Hukum atau dalil Phytagoras yaitu a2 + b2= c2, yang berlaku bagi setiap segitiga siku-siku dengan sisi a, sisi b, dan hypotenusa c, sedangkan jumlah sudut dari suatu segitiga siku-siku adalah 1800.
  2. Semacam teori tentang bilangan, antara lain pembagian antara bilangan genap dan bilangan ganjil, prime numbers (bilangan yang dapat dibagi dengan angka satu dan dengan bilangan itu sendiri) dan composite number, serta hubungan antara kuadrat natural numbers dengan jumlah ganjil.
  3. Pembentukan benda berdasarkan segitiga-segitiga, segi empat, segi lima dan sebagainya.
  4. Hubungan antara nada dengan panjang dawai.

Pythagoras memiliki peran sangat besar dalam pengembangan ilmu, Terutama ilmu pasti dan ilmu alam. Ilmu yang dikembangkan kemudian hari sampai hari ini sangat tergantung pada pendekatan matematika. Dalam filsafat ilmu, matematika merupakan sarana ilmiah yang terpenting dan akurat karena dengan pendekatan matematikalah ilmu dapat diukur dengan benar dan akurat.

  1. Aristoteles (384-322 SM)

      Puncak kejayaan filsafat Yunani terjadi pada masa Aristoteles. Aristoteles adalah murid Plato, seorang filosof yang berhasil menemukan pemecahan persoalan-persolan besar filsafat yang dipersatukan dalam satu sistem yaitu logika, matematika, fisika, dan metafisika. Ia meneruskan sekaligus menolak pandangan Plato. Ajaran Aristoteles paling tidak dapat diklasifikasi ke dalam tiga bidang, yaitu metafisika, logika, dan biologi.

  1. Metafisika

Pandangan Aristoteles tentang metafisika berbeda dengan pandangan Plato. Ia menolak pandangan Plato tentang ide-ide. Aristoteles lebih mendasarkan filsafatnya pada realitas itu sendiri. Kenyataan bagi Aristoteles adalah hal konkret. Ide umum, seperti manusia, pohon, dan lain-lain, seperti yang dikatakan Plato, tidak terdapat dalam kenyataan konkret (Bertens, 1989: 14). Aristoteles mengatakan bahwa hal terpenting dalam pengetahuan objektif adalah menemukan penjelasan tentang sebab dan asal mula atau prinsip pertama dari segala sesuatu (White, 1987: 31).

Aristoteles membahas metafisika, istilah metafisika itu sendiri baru diperkenalkan oleh Andronikus ketika mengelompokan ajaran-ajaran Aristoteles, sebagai filsafat pertama dan menganggapnya sebagai prinsip pertama yang mendasari tugas ilmiah. Aristoteles ingin mengetahui jika semua hal ada dapat dipertimbangkan, maka bukannya dalam berbagai segi kasus atau ilmiah, melainkan ada dalam pengertian umum. Konsep self evidence di dalam filsafat Aristoteles merupakan butir penting dalam pemahaman filsafat dan fungsi metafisik. Apabila pada ajaran Plato pemahaman atas Forms, maka dalam filsafat Aristoteles diarahkan pada kemampuan untuk menyusun batas-batas penelitian dan menyelidiki suatu titik penyelesaian. Self Evidence merupakan penjelasan atas materi tertentu yang tidak dicari pada sesuatu yang lain, tetapi dapat ditemukan hanya di dalam pemikiran itu sendiri. Pembuktian dicari pada sesuatu yang terkandung di dalam hal itu sendiri.

  1. Logika

Aristoteles menyusun buku tentang logika untuk menjelaskan cara menarik kesimpulan secara valid. Logika Aristoteles didasarkan pada susunan pikir. Pada dasarnya silogisme itu terdiri dari tiga pernyataan, yaitu premis mayor sebagai pernyataan pertama yang mengemukakan hal umum yang telah diakui kebenarannya, premis minor sebagai pernyataan kedua yang bersifat khusus dan lebih kecil lingkupnya daripada premis mayor, dan kesimpulan atau konklusi yang ditarik berdasarkan premis tersebut. Dengan demikian silogisme merupakan suatu bentuk jalan pemikiran yang bersifat deduktif yang kebenarannya bersifat pasti.

Dengan menyusun logika, Aristoteles telah memulai usaha yang sangat penting dalam ilmu pengetahuan, yaitu sebagai sarana berpikir yang dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya secara umum.

  1. Biologi

Aristoteles hanya dikenal sebagai filsuf, tetapi ia juga adalah seorang ilmuan kenamaan pada zamannya. Salah satu bidang ilmu yang banyak mendapat perhatiannya adalah biologi. Dalam embriologi, ia melakukan pengamatan (observasi) perkembangan telur ayam sampai terbentuknya kepala ayam. Ia juga melakukan pemeriksaan anatomi badan hewan, dan lain sebagainya. Aristoteles mementingkan aspek pengamatan sebagai suatu sarana untuk membuktikan kebenaran suatu hal, terutama dalam ilmu-ilmu empirik.

Aristoteles yang pertama kali membagi filsafat pada hal yang teoritis dan praktis. Yang teoritis mencangkup logika, metafisika, dan fisika, sedangkan yang praktis mencangkup etika, ekonomi, dan politik. Pembagian ilmu inilah yang menjadi pedoman juga bagi klasifikasi ilmu dikemudian hari. Aristoteles dianggap sebagai bapak ilmu karena dia mampu meletakkan dasar-dasar dan metode ilmiah secara sistematis.

Filsafat Yunani yang rasional itu boleh dikatakan berakhir setelah Aristoteles menuangkan pemikirannya. Akan tetapi sifat rasional itu masih digunakan selama berabad-abad sesudahnya sampai sebelum filsafat benar-benar memasuki dan tenggelam dalam Abad Pertengahan. Namun jelas, setelah periode ketiga filosof besar itu mutu fisafat semakin merosot. Kemunduran filsafat itu sejalan dengan kemunduran politik ketika itu, yaitu sejalan dengan terpecahnya kerajaan Macedonia menjadi pecahan-pecahan kecil setelah wafatnya Alexsander The Great. Tepatnya pada ujung zaman Helenisme, yaitu pada ujung sebelum masehi menjelang Neo Platonisme, filsafat benar-benar mengalami kemunduran.

 

  1. Socrates (470-399 SM)

      Socrates berpendapat bahwa ajaran dan kehidupan adalah satu dan tidak dapat dipisahkan antara yang satu dengan yang lainnya. Oleh karena itu, dasar dari segala penelitian dan pembahasan adalah pengujian diri sendiri. Bagi Socrates, pengetahuan yang sangat berharga adalah pengetahuan diri sendiri. Socrates tidak pernah meninggalkan tulisan, tetapi pemikirannya dikenal melalui dialog-dialog yang ditulis oleh muridnya Plato. Metode Socrates dikenal sebagai Maieutike Tekhne (ilmu kebidanan), yaitu suatu metode dialektika yang melahirkan kebenaran.

Socrates selalu mendatangi orang yang dia pandang memiliki otoritas keilmuan dengan bidangnya untuk berdiskusi tentang pengertian-pengertian tertentu. Socrates lebih mementingkan metode dialektika itu sendiri daripada hasil yang diperoleh. Jadi meskipun Socrates tidak meninggalkan teori-teori ilmu tertentu, tetapi ia meninggalkan sikap kritis melalui metode dialektika yang akan berkembang dalam dunia ilmu pengetahuan modern.

  1. Anaximander (610-546 SM)

Anaximender adalah filosof yang nampaknya campuran antara ahli astrologi, geologi, matematika, fisika dan filosof seperti Thales.

 

 

  1. Anaximenes (585-528 SM)

Anaximenes adalah yang ketiga dari trio filosof yang dikenal dengan milesian. Ia diperkirakan berkibar sekitar 540 SM dan dia adalah murid dari Anaximander.

 

  1. Zeno

Zeno lahir pada tahun 490 SM. Zeno dikenal karena paradoknya, ia adalah murid dan pengikut Parmanides, Eleatik yang paling terkemuka.

 

  1. Parmanides (501-492 SM)

Parmanides mempunyai sebuah metode/sistem yang secara keseluruhan didasarkan pada deduksi logis, misalnya tidak seperti Heraclitus yang menggunakan metode intuisi. Dalam “The Way Of Truth”, Parmanides bertanya, “Apa standar kebenaran dan apa ukuran realitas?”. Bagaimana hal itu dapat dipahami?. Ia sendiri menjawab, “Ukurannya ialah logika yang konsisten. Parmanides mengakui adanya pengetahuan yang tidak tetap dan berubah-ubah serta pengetahuan mengenai yang tetap yaitu pengetahuan indera dan budi. Menurut Permanides pengetahuan budi itu sangat utama, karena ia beranggapan bahwa pengetahuan indera dianggapnya keliru belaka, tidak mampu mencapai kebenaran.

 

  1. Empedokles (484-424 SM)

Ia berpendapat bahwa materi terdiri atas empat unsur dasar yang ia sebut sebagai akar, yaitu air, tanah, udara, dan api. Selain itu, ia menambahkan satu unsur lagi yang ia sebut cinta (philia). Hal ini dilakukannya untuk menerangkan adanya keterikatan dari satu unsur ke unsur lainnya. Empedokles juga dikenal sebagai peletak dasar ilmu-ilmu fisika dan biologi pada abad 4 dan 3 SM.

 

  1. Democritus (460-370 SM)

      Democritus adalah orang  pertama yang memperkenalkan konsep atom maka dari itu Democritus dikenal sebagai bapak atom pertama. Democritus menjelaskan bahwa alam semesta tersusun atas atom-atom. Atom adalah materi terkecil yang tidak dapat dibagi-bagi lagi. Bentuk atom itu bermacam-macam, dan benda-benda itu terus bergerak tanpa ketentuan. Gerak itu menimbulkan benturan sehingga terjadi pusaran-pusaran seperti gerak pusaran air. Adapun pemikiran Democritus tentang atom ini mengandung sifat-sifat sebagai berikut:

  1. Konsep materialistic-monistik, artinya atom merupakan sekadar materi yang tidak didampingi apapun karena di sekelilingnya hampa. Materi merupakan satu-satunya yang ada dan berbentuk segala-galanya.
  1. Konsep dinamika perkembangan, artinya segala sesuatu selalu berada dalam keadaan bergerak, sehingga berlaku prinsip dinamika.
  2. Konsep yang bersifat murni alamiah, artinya pergerakan atom itu bersifat intristik, primer, tanpa sebab, dan tidak dipengaruhi oleh sesuatu di luar dirinya.
  3. Bersifat kebetulan, artinya pergerakan itu terjadi tanpa tujuan, sehingga benturan-benturan yang terjadi tidak beraturan, dan tidak mengandung tujuan-tujuan tertentu.

 

  1. Plato (427-347 SM)

      Plato bertitik tolak dari Polemik antara Parmenides dengan Heraklitos. Parmenides menganggap bahwa realitas itu berasal dari hal satu yang tetap dan tidak berubah, sedangkan Heraklitos tersebut bertitik tolak pada hal banyak yang selalu berubah. Plato memadukan kedua pandangan tersebut dan menyatakan bahwa selain hal-hal yang beraneka ragam dan yang dikuasai oleh gerak serta perubahan-perubahan itu, sebagaimana yang diyakini oleh Heraklitos, tentu ada yang tetap, yang tidak berubah, sebagaimana yang diyakini oleh Parmenides. Plato menunjukan bahwa yang berubah itu dikenal oleh pengamatan, sedangkan yang tidak berubah dikenal oleh akal. Plato berhasil menjembatani pertentangan yang ada antara Heraklitos dan Parmenides.

Hal yang tetap, yang tidak berubah, dan yang kekal itu oleh Plato disebut ide (Harun Hadiwijono, 1988: 39-40; Bertens, 1989: 14). Plato merupakan murid dari Scorates dan pada waktu ini disebut Zaman keemasan filsafat Yunani karena pada zaman ini kajian-kajian yang muncul adalah perpaduan antara filsafat alam dan fisafat tentang manusia.

Pemikiran metafisika Plato terarah pada pembahasan mengenai being (hal ada) dan becoming (menjadi). Plato adalah filsuf yang pertama kali membangkitkan persoalan being dan mempertentangkannya dengan becoming. Plato menemukan  bahwa becoming, yakni dunia yang berubah, tidak memadai sebagai objek pengetahuan karena bagi Plato setiap bentuk pengetahuan bersesuaian dengan suatu jenis objek. Plato memikirkan pengetahuan asli (genuine knowledge), yaitu suatu jenis pengetahuan yang tidak berubah sehingga objeknya harus sesuatu yang tidak dapat berubah. Plato yakin bahwa pengetahuan yang asli itu harus diarahkan pada being. Being bagi Plato dibentuk oleh dunia yang merupakan pola-pola dari segala sesuatu yang dapat diinderawi, sedangkan ide-ide itu secara kodrati bersifat kekal dan abadi.

Alasan Plato membedakan being dan becoming adalah sebagai cara untuk mencari dasar kebenaran pengetahuan. Tiap pemahaman akan sesuatu melibatkan proses latihan pendidikan yang panjang bagi ketajaman mental, yang hanya dapat dicapai melalui disiplin. Bidang form merupakan kualitas universal dari hal-hal yang dapat diindrawi.

Tujuan utama filsafat menurut Plato adalah penyelidikan pada entitas, seperti apa yang dimaksudkan dengan keadilan, kecantikan, cinta, hasrat, kesamaan, dan kesatuan (White, 1987: 14). Plato yang mengangkat problem the one dan the many melihat bahwa kedua hal ini, kesatuan dan keanekaragaman, terpisah menjadi dua dunia, yakni dunia ide dan dunia bayangan. Dunia real dengan kejamakan atau keaneka ragaman hanya merupakan dunia bayangan, sedangkan yang benar-benar ada dan menjamin kesatuan adalah dunia ide. Dunia ide tersusun secara hirarkhis di bawah pimpinan ide utama,  yaitu ide kebaikan (Bakker, 1992: 33).

Plato juga memperhatikan ilmu pasti sebagai peninggalan Phytagoras sebab ada hubungan yang erat antara kepastian matematis dengan kesempurnaan ide. Keterikatan Plato pada kesempurnaan ide dan kepastian matematika membuatnya lebih memusatkan pikiran pada cara berpikir (aspek metodis) daripada yang dapat dialami atau yang dapat ditangkap oleh indera. Oleh karena itu, Plato dikatakan sebagai seorang eksponen rasionalisme manakala ia hendak menerangkan sesuatu. Akan tetapi ia juga seorang eksponen idealisme ketika menerangkan bidang nilai (aksiologis).

 

 

  1. Thales (624-548 SM)

Thales adalah filosof alam pertama yang mengkaji tentang asal usul alam. Thales digelari Bapak Filsafat karena dia adalah orang yang mula-mula berfilsafat dan mempertanyakan “apa sebenarnya asal usul alam semesta itu?”. Pertanyaan ini dijawab oleh Thales dengan pendekatan rasional bukan dengan pendekatan mitos atau kepercayaan. Menurut Thales asal alam semesta itu adalah air, karena tidak ada kehidupan tanpa air. Air merupakan unsur penting bagi setiap makhluk hidup, air dapat berubah menjadi benda gas, seperti uap dan benda padat  seperti es, dan bumi ini juga berada diatas air. Ada tiga alasan munculnya persoalan tentang alam semesta ini diantaranya adalah sebagai berikut:

  1. Thales mempersoalkan alam semesta maka persoalan tersebut merupakan suatu pertanyaan yang terus menerus dipersoalkan, dan dipandang sebagai persoalan abadi (perennial problem), yang disebut pula sebagai pertanyaan yang signifikan (a significant question).
  1. Pertanyaan yang diajukan Thales menimbulkan suatu konsep pertanyaan baru, yaitu “suatu hal yang tidak begitu saja ada, melainkan terjadi dari sesuatu”. Bertitik dari hal tersebut, muncul suatu konsep tentang perkembangan, suatu evolusi atau genesis.
  2. Pertanyaan demikian hanya dapat timbul dalam pemikiran kalangan tertentu, bukan masyarakat awan, melainkan masyarakat intelektual yang lebih maju.

 

  1. Kesimpulan

 

Yunani Kuno adalah masa dimana awal perkembangan lahirnya filsafat. Jenis pengetahuan indera dan mistik masih sangat mendominasi pemikiran orang-orang pada masa ini. Menurut sejarahnya, dasar dari kelahiran dan perkembangan ilmu sebagaimana yang kita kenal sekarang adalah Filsafat Barat, karena dunia barat (Eropa Barat) dalam pemikirannya mengacu pada Yunani. Bangsa Yunani mulai mempergunakan akal ketika mempertanyakan mitos yang berkembang di masyarakat sekitar abad ke-6 SM. Zaman ini menggunakan sikap an inquiring attitude (suatu sikap yang senang menyelidiki sesuatu secara kritis), dan tidak menerima pengalaman yang didasarkan pada sikap receptive attitude (sikap menerima segitu saja). Ciri pemikiran pada abad ini adalah kosmosentris, yaitu mempertanyakan asal usul alam semesta dan jagad raya sebagai salah satu upaya untuk menemukan asal mula (arche) yang merupakan unsur awal terjadinya gejala Setiap periode memiliki ciri khas serta perjalanan hidupnya sendiri terhadap perkembangan ilmu di eranya.begitu juga di zaman Yunani kuno. Banyak orang yang menyebut bahwa zaman yunani kuno adalah zaman keemasan yang melahirkan berbagai dasar disiplin ilmu. Ilmu merupakan substansi yang sangat penting dan mendasar dalam kehidupan manusia. Semua ini tidak terlepas dari rasa ingin tahu dan sikap kritis yang dimiliki oleh pemikir-pemikir atau filsuf Yunani kuno.

Sikap kritis inilah yang menjadikan bangsa Yunani tampil sebagai ahli pikir-ahli pikir terkenal sepanjang masa. Sebut saja Thales, Pytagoras, Socrates, Democritus, Plato, Aristoteles, dan masih banyak lagi filsuf Yunani kuno yang buah pemikirannya memberikan dampak yang luar biasa bagi kita yang hidup di masa ini.

 

  1. Daftar Pustaka

Burhanudin, A. (2013, September). Dipetik April Rabu, 2014, dari Ilmu Pengetahuan Masa Yunani Kuno.

Zahrul Al Mubarraq. 2013. “Sejarah Perkembangan Ilmu Pada Masa Yunani”. Dalam http://mubaraqunsyiah.blogspot.com/2013/12/sejarah-dan-perkembangan-ilmu-pada-masa-yunani.html

Mubaraqunsyiah. (2013, Desember Selasa). Dipetik April Rabu, 2014, dari Sejarah Dan Perkembangan Ilmu Pada Masa Yunani Kuno.

Sophia Scientia. 2013. “Kronologis Historis Sejarah dan Perkembangan Ilmu Pengetahuan”. Dalam http://sophiascientia.wordpress.com/kronologis-historis-sejarah-dan-perkembangan-ilmu-pengetahuan/.

Rudi. (2013, Mei Sabtu). Dipetik April Rabu, 2014, dari Makalah Sejarah Perkembangan Ilmu Pada Masa Yunani Kuno.

Sainsmafia. (2013, Oktober). Dipetik April 2014, dari Perkembangan Ilmu Pengetahuan Pada Zaman Pra Yunani Kuno, Yunani Kuno, Paternalistik Dan Abad Pertengahan.

___________

*) Agung Purwanto Suryanulloh, penulis adalah mahasiswa STKIP PGRI Pacitan Program Studi Pendidikan Bahasa Inggris kelas A. Makalah disusun guna memenuhi sebagian tugas individu pada mata kuliah Filsafat Ilmu tahun akademik 2013/2014 dengan dosen pengampu Afid Burhanuddin, M.Pd.

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s