Pengertian, dan Objek Kajian Filsafat Ilmu

Dalam kehidupan sehari – hari kita mungkin sering mendengar kata filsafat. Lalu apakah kita sudah mengetahui pengertian dari filsafat tersebut? Banyak juga orang yang belum mengetahui makna sesungguhnya dari filsafat padahal filsafat adalah ilmu yang penting karena filsafat adalah induk dari segala ilmu pengetahuan. Selain itu banyak pula yang belum mengetahui ruang lingkup dari filsafat. Sesungguhnya ruang lingkup filsafat saling berhubungan dengan pengertian filsafat itu sendiri.

Maka dari itulah kami menyusun makalah ini untuk memberi penjelasan sedikit tentang Pengertian Filsafat serta Ruang Lingkup Filsafat. Selain itu, makalah ini juga ditujukan sebagai tugas mata kuliah Filsafat Umum.

 

Pengertian Filsafat

Kata filsafat berasal dari kata Yunani filosofia yang berasal dari kata filosofein yang berarti mencintai kebijaksanaan. Kata tesebut juga berasal dari kata Yunani philosophis yang berasal dari kata kerja philein yang berarti mencintai, atau philia yang bererti cinta dan Sophia yang berarti kearifan. Dari kata tersebut lahirlah kata Inggris Philosophy yang biasanya diterjemahkan sebagai “cinta kearifan“.

Arti kata tersebut diatas belum memperhatikan makna yang sebenarnya dari kata filsafat sebab pengertian “mencintai” belum memperhatikan keaktifan seorang filosof untuk memeperoleh kearifan dan kebijaksanaan itu. Menurut pengertian yang lazim berlaku di Timu (Tiongkok dan India), seseorang disebut filosof bila dia telah mendapatkan atau telah meraih kebijaksanaan. Sedangkan menurut pengertian lazim di Barat, kata “mencintai” tidak perlu mendapat kebijkasanaan karena itu yang disebut filosof atau “orang bijaksana” mempunyai pengertian yang berbeda dengan pengertisn di Timur. Dengan menyebut filsafat sebagai “cinta akan kebijaksanaan”, maka timbullah pertanyaan : apakah kebijaksanaan yang dikejar itu? Yang jelas kebijaksanaan itu ada sangkut pautnya dengan mengerti (know) dengan pengetahuan (knowledge). Akan tetapi tidak setiap “mengerti” itu kebijaksanaan atau bahkan filsafat. Yang pasti bahwa kebijaksanaan dan filsafat itu suatu bentuk tertentu, boleh dikatakan merupakan pengetahuan dalam bentuknya yang tertinggi.

Refleksi manusia terhadap realitas mungkin berawal dari ketakjuban atau keheranan, ketidakpuasan, keraguan atau kesangsian dan kesadaran akan keterbatasan (ketidakberdayaan). Hal – hal itu kemudian diteruskan menjadi sebuah pertanyaan, dan pertanyaan dicoba jawab secara sistematis, logis dan mendasar. Dari sinilah asal mula filsafat itu lahir.

Pengertian filsafat dapat dipandang dari dua segi: pertama, dilihat dari segi hasil pengetahuan. Kedua, filasafat dilihat dari segi aktifitas budi manusia. Dilihat dari segi pengetahuan, filasfat adalah jenis pengetahuan yang berusaha mencari hakikat dari segala sesuatu yang ada.

Jadi, kalau kita berbicara tentang filsafat mungkin berbicara tentang jenis pengetahuan yang disebut filsafat atau mungkin aktifitas budi manusia dalam mencari keterangan yang terdalam tentang segala sesuatu yang ada.

Ada beberapa definisi yang telah diberika oleh pemikir atau filossof:

  • Plato (427 SM – 348 SM) “filasafat adalah ilmu pengetahuan yang berminat mencapai kebenaran asli”.
  • Aristoteles (382 SM – 322 SM) “ filasfat adalah pengetahuan yang meliputi kebenaran yang terkandugn didalamnya ilmu – ilmu metafisika, logika, retorika, etika, ekonomi, politik dan estetika”.
  • Al Farabi (870 M – 950 M) “ filasfat adalah ilmu pengetahuan tentang alam bagaimana hakekatnya sebearnya”.
  • Descartes (1590 M – 1650 M) “filsafat adalah kumpulan segala pengetahuan di aman Tuhan, alam dan manusia menjadi pokok penyelidikan”.
  • Immanuel Kant (1724 M – 1804 M) “Filsafat adalah ilmu pengetahuan yang menjadi pokok dan pangkal dari segala pengetahuan yang menckup di dalamnya beberapa persoalan:
  1. Apakah yang dapat kita ketahui? (Jawabnya : Metafisika)
  2. Apakah yang harus kita kerjakan? (Jawabnya : Etika)
  3. Sampai dimanakah harapan kita? (Jawabnya : Agama)
  4. Apakah yang dimanakan manusia? (Jawabnya : Atropologi)
  • Harun Nasution : “Filasafat adalah berfikir menurut tata tertib (logika) dan bebas (tidak terikat tradisi,agama atau dogma) dan dengan sedalam–dalamnya sehingga sampai ke dasar – dasar (akar) persoalan”.
  • Al – Kindi : “Dikalangan kaum kalangan orang muslim orang yang pertama memberikan pengertian filasafat dan lapangnya adalah Al – Kindi, ia membagi filsafat menjadi 3 bagian:
  1. Thabiiyyat (ilmu fisika) sebagai sesuatu yang berbenda.
  2. Al–ilm al – rriyadli (matematika) terdiri dari ilmu hitung, teknik, astronomi dan musik ) berhubungan dengan tapi punya wujud sendiri.
  3. Al – ar – rububiyyah (ilmu ketuhanan)
  • Ibnu Sina : pembagian ilmu filfasat bagi Ibnu Sina pada pokoknya tidak berbeda dengan pembagian yang sebelumnya, filasafat teori dari filasafat praktis. Filsafat ketuhanan menurut Ibnu Sina adalah:

Ilmu tentang turunnya wahyu dan makhluk – makhluk rohani yang membawa wahyu itu, dengan demikian pula bagaimana cara wahyu itu disampaikan dari sesuatu yang bersifat rohani kepada sesuatu yang dapat dilihat dan didengar. Ilmu akhirat antar ilmu antara lain memperkenalkan kepada kita bahwa manusia ini tidak dihidupkan lagi badannya akan tetapi rohnya, maka roh yang abadi itu akan mengalami siksa dan kesenangan.

  • I.R Poedjaeijatna : “filsafat adalah ilmu yang mencari sebab yang sedalam – dalamnya bagi segala sesuatu yang ada dan yang mungkin ada”.
  • W.M Bakker SY: “ filsafat adalah refleksi rasional atas keseluruhan keadaan untuk mencapai hakekat dan memperoleh hikmah.
  • Hasbullah Bakry : “ ilmu filsafar adalah ilmu yang menyelidiki segala sesuatu dengan mendalam mengenai ketuhanan, alam semesta dan manusia sehingga dapat menghasilkan pengetahuan tentang bagaimana hakekatnya sejauh yang dapat dicapai manusia dan bagaimana sikap manusia seharusnya setelah mencapai pengetahuan itu”.

Dari definisi – definisi itu, maka dapat ditarik kesinpulan bahwa:

Deifinisi itu pada umumnya mengandung pengertian yang subjektif, yaitu papa yang kita artikan sendiri lepas dari pengertian orang lain, jadi masing – masing orang bisa mempunyai pengertian sendiri tentang filsafat.

 

Pengertian yang operasional, yaitu pengertian – pengertian tentang perbuatan – perbuatan yang dijalankan dengan berfilsafat. Sebab kalau kita berfilsafat mungkin ada masalah – masalah yang menarik seseorang tetapi tidak menarik (intres) pada orang lain. Masalah ini menyebabkan keragu – raguan, dan keraguan ini harus dijawab dengan studi yang khusus, studi ini disebut filsafat.

Pengertian objektif yaitu pengertian yang berlaku dan diterima oleh umum dimana saja san oleh siapa saja.

Meskipun para ahli pikir iut berbeda pendapat tentang definisi filsafat, anmun bila piperhatikan terdapat titik – titik persamaannya, yaitu :

  • Bahwa filsafat adalah suatu bentuk “mengerti”
  • Semua mengakui bahwa filasafat termasuk “ilmu pengetahuan”

Ilmu pengetahuan yang manakah? Ilmu pengetahuan yang mengatasi lain – lain ilmu. Mengatasi dalam arti lebih mendalam, universal, lebih sesuai dengan kodrat manusia.

 

Filsafat Sebagai Ilmu

Dikataka filsafat sebagai ilmu karena didalam pengertisn filasaft mengandung empat pertanyaan ilmiah, bagaimana, mengapa, kemana, dan apakah.

Pertanyaan bagaimana menanyakan sifat – sifat yang dpaat ditangkap atau tmapak oleh indra. Jawaban atau pengetahuan yang diperolehnya bersifat deskriptif (penggambaran).

Pertanyaan mengapa menayakan tentang sebab (asal mula) suatu objek. Jawaban atau pengetahuan yang diperolehnya bersifat kausalitas (sebab akibat).

Pertanyaan kemana menanyakan apa yang terjadi di asa lampau, masa sekarang dan masa yang akan datang. Jawaban yang diperoleh ada tiga jenis pengetahuan ,yaitu : pertama, pengetahuan yang timbul dari hal – hal ayng selalu berulang – ulang (kebaisaan) yang nantinya pengetahuan terdebut dapat dijadikan sebagai pedoman. Ini dapat dijadikan dasar untuk mengetahui apa yang akan terjadi. Kedua, pengetahuan yang terkandung dalam adat istiadat/kebiasaan yang berlaku dalam masyarakat. Dalam hal ini tidak dipermasahkan apakah pedoman tersebut selalu dipakai atua tidak. Pedoma yang swlalu dipakai disebut hukum. Ketiga, pengetahuan yang timbul dari pedoman yang dipakai (hukum) sebagai suatu hal yang dijadikan pegangan. Tegasnya, pengetahuan yang diperoleh dari ajawaban kemana adalah pengetahuan yang bersifat normatif.

Pertanyaan apakah yang menanyakan tentang hakikat atau inti mutlak dari suatu hal. Hakikat ini sifatnya sangat dalam (radix) dan tidak lagi bersifat empiris sehingga hanya dapat dimengartu oleh a kal. Ajawaban atau pengetahuan yang diperolehnya ini kita dapat mengatahui hal – hal yang bersifat sangat umum, universal, abstrak.

Dengan demikian, kalau ilmu – ilmu yang lain (salain filsafat) bergerak dari tidak tahu ke tahu, sedang ilmu filsafat bergerak dari yang tidak tahu ke tahu selanjutnya ke hakikat.

Untuk mencari/memperoleh pengetahuan hakikat harusnya dilakukan dengan abstraksi, yaitu suatu perbuatan akal untuk menghilangkan keadaan, sifat – sifat yang secara kebetulan (sifat – sifat yang tidak harus ada), sehingga akhirnya tinggal keadaan/sifat yang harus ada (mutlak) yaitu substansia, maka pengetahuan hakikat dapat diperolehnya.

Filsafat Sebagai Cara Berpikir

Berpikir secara filsafat dapat diartikan sebagai berpikir yand sangat mendalam sampai hakikat atau berpikir secara global/menyeluruh atau berpikir yang dilihat sari berbagai sudut pandang pemikiran atau sudut pandang pengetahuan. Berpikir yang dwmikian ini sebagai upaya untuk dapat berpikir secara cepat dan benar serta dapat dipertanggungjawabkan. Hal ini harus memenuhi persyaratan sebagai berikut :

  1. Harus Sistematis

Pemikiran yang sistematis ini dapat diartikan untuk menyusun suatu pola pengetahuan yang rasional. Sistematis adalah masing – masing unsure saling berkaitan satu sama lain secara teratur dalam suatu keseluruhan. Sistematika pemikiran seorang filosof banyak dipegaruhi oleh keadaan dirinya, lingkungan,zamannya, pendidikan dan sistem pemikiran yang mempengaruhi.

  1. Harus Konsepsional

Secara umum istilah konsepsional berkaitan dengan ide (gambar) atau gambaran yang melekat pada akal pikiran yang berada dalam intelektual. Gambaran tersebut mempunyai bentuk tangkapan sesuai dengan riilnya. Sehingga maksud dari “konsepsinal” tersebut sebagai upaya untuk menyusun suatu bagan yang terkonsepsi (jelas). Karena berpikir secara filsafat sebenarnya berpikir tentang hal dan prosesnya.

  1. Harus Koheren

Koheren atau runtut adalah unsur – unsurnya tidak boleh mengandung uraian – uraian yang bertentangan satusama lain. Koheren atau runtut di dalamnya memuat sesuatu kebenaran logis. Sebaliknya, apabila suatu uraian yang di dalamnya memuat kebenaran logis, uraian terebut dikatakan sebagai uraian yang tidak koheren.

  1. Harus Rsional

Maksud rasional adalah unsur – unsurnya berhubungan secara logis. Artinya, pemikiran filsafat harus diuraikan dalam bentuk yang logis, yaitu suatu bentuk kebenaran yang mempunyai kaidah/tata cara.tata cara berpikir.

  1. Harus Sinoptik

Sipnotik artinya pemikiran filsafat harus melihat hal – hal secara menyeluruh atau dalam kebersamaan secara integral.

  1. Harus Mengarah pada Pandangan Dunia

Maksudnya adalah [emikiran filsafat sebagai upaya untuk memahami semua realitas kehidupan dengan jalan menyusun suatu pandangan (hidup) dunia, termasuk di dalamnya menerangkan tentang dunia dan semua hal yang berada di dalamnya (dunia).

 

Filsafat Sebagai Pandangan Hidup

Diartikan sebagai pandangan hidup karena filsafat pada hakikatnya bersumber pada hakikat kodrat pribadi manusia (sebagai makhluk individu, makhluk sosial dan makhluk Tuhan). Hal ini berarti bahwa filsafat mendasarkan pada penjelmaan manusia secara total dan sentral sesuai dengan hakikat manusia sebagai makhluk monodualisme (manusia secara kodrat terdiri dari jiwa dan raga). Manusia secara total (menyeluruh) dan sentral di dalamnya memuat sekaligus sebagai sumber penjelmaan bermacam – macam filsafat sebagai berikut :

1)      Manusia dengan unsur raganya dapat melahirkan filsafat biologi.

2)      Manusia dengan unsur rasanya dapat melahirkan filsafat keindahan (estetika).

3)      Manusia dengan unsur monodualismenya (kesatuan jiwa dan raganya) dapat melahirkan filsafat antropologi.

4)      Manusia dengan kedudukannya sebagai makhluk Tuhan dapat melahirkan filsafat ketuhanan.

5)      Manusia dengan kedudukannya sebagai makhluk sosial dapat melahirkan filsafat sosial.

6)      Manusia sebagai makhluk yang berakal dapat melahirkan filsafat berpikir (logika).

7)      Manusia dengan unsur kehendaknya untuk berbuat baik dan buruk dapat melahirkan filsafat tingkah laku (etika).

8)      Manusia dengan unsur jiwanya dapat melahirkan filsafat psikologi.

9)      Manusia dengan segala aspek kehidupannya dapat melahirkan filsafat nilai (aksiologi)

10)  Manusia dengan dan sebagai warga negara dapat melahirkan filsafat negara.

11)  Manusia dengan unsur kepercayaannya terhadap supernatural dapat melahirkan filsafat agama.

Filsafat sebagai pandangan hidup (Weltsanschaung) merupakan suatu pandangan hidup yang dijadikan dasar setiap tindakan dan tingkah laku dalam kehidupan sehari – hari, juga dipergunakan untuk menyelesaikan persoalan – persoalan yang dihadapi dalam hidupnya. Pandangan hidupnya itu akan tercermin di dalam sikap hidup dan cara hidup. Sikap dan cara tersebut akan muncul apabila manusia mampu memikirkan dirinya sendiri secara total.

  1. Objek dan Ruang Lingkup Filsafat

Seperti ilmu pengetahuan lainnya, filsafat juga mempunyai objek kajian yang meliputi objek materi dan objek formal. Dalam kaitan ini, Louis O. Kattsoff menulis bahwa : “Lapangan kerja filsafat itu bukan main luasnya, yaitu meliputi segala pengetahuan manusia serta segala sesuatu apa saja yang ingin diketahui manusia”.

Sedangkan, A.C.Ewing mengatakan : “pertanyaan – pertanyaan pokok filsafat adalah Truth (kenenaran), Matter (materi), Mind (budi), the Rlation of Matter and Mind (hubungan materi dan budi), Space and Time (ruang dan waktu), Cause (sebab), Freedom (kemerdekaan), Monism versus Pluralism (monisme melawan pluralisme) dan God (Tuhan).

Sementara M.J. Langeveld menyatakan : “Bahwa hakikat filsafat itu berpangkal pada pemikiran keseluruhan segala sesuatu (sarwa) yang ada secara radikal dan menuru sistem.”

Objek Materi dan Objek Formal ilsafat :

Objek Materi Filsafat, yaitu hal atau bahan yang didelidiki (hal yang dijadikan sasaran penyelidikan). Atau segala sesuatu yang ada. “ada” di sini mempunyai tiga pengertian, yaitu ada dalam kenyataan, pikiran dan kemungkinan.

Pengertian lain adalah segala sesuatu yang menjadi masalah filsafat, segala ssuatu yang dimasalahkan oleh atau dalam filsafat, terdapat tiga persoalan pokok :

  1. Hkikat Tuhan
  2. Hakikat Alam
  3. Hakikat Manusia

Objek Formal Filsafat yaitu sudut pandang (point of view), dari mana hal atau bahan tersebut dipandang. Objek Formal filsafat adalah menyeluruh secara umum. Menyeluruh di sini berarti bahwa filsafat dalam memandangnya dapat mencapai hakikat (mendalam), atau tidak ada satupun yang ebrada di luar jangkauan pembahasan filsafat.

Objek formalnya adalah metode untuk memahami objek materil tersebut, seperti pendekatan induktif dan deduktif. Pengertian lain menyebutkan bahwa Objek Formal Filsafat adalah usaha mencari keterangan secara radikal (sedalam – dalam sampai ke akar – akarnya) tentang objek materi filsafat.

Menurut Ir. Poedjawijatna, objek materi filsafat adalah ada dan mungkin ada. Objek materi tersebut sama dengan objek materi dari ilmu seluruhnya. Objek material filsafat adalah segala yang ada, baik mencakup ada yang tampak dan ada yang tidak tampak. Yang tampak adalh empriris sedangkan yang tidak tampak adalah alam metafisika. Sebagian filosof membagi objek material filsafat menjadi tiga bagian, yaitu yang ada dalam alam empiris, yang ada dalam alam pikiran dan yang ada dalam kemungkinan. Yang menentukan perbedaan ilmu yang satu dengan yang lainnya adalah objek formalnya, sehingga kalau ilmu membatasi diri dan berdasarkan pengalaman, sedangkan filsafat tidak membatasi diri, filsafat hendak mencari keterangan yang sedalam – dalamnya, inilah objek formal filsafat.

 

Dalam perspektif ini dapat diuraikan bahwa ilmu filsafat pada prinsipnya memiliki 2 objek substansif dan 2 objek instrumentatif, yaitu :

  1. Objek Substantif yang terdiri dari 2 hal

a)      Kenyataan

Fakta (kenyataan) yaitu empiri yang dapat dihayati oleh manusia. Dalam memahami fakta ini ada beberapa aliran filsafat yang memberikan pengertian yang berbeda – beda, diantaranya yaitu positivme (hanya mengakui pengayatan yang empirik dan sensual. Sesuatu sebagai fakta apabila ada korespondensi antara sensual satu dengan yang lainnya. Data empiriksensual tersebut harus objektif tidak boleh masuk subjektifitas peneliti. Fakta itu yang faktual ada phenomenologi. Fakta buka sekedar data empirik sensual tetapi data yang sudah dimaknai sehingga ada subjektifitas peneliti tetapi, subjektifitas peneliti disini tidak berarti sesuai selera peneliti.subjektif dalam arti tetap selektif sejak dari pengumpulan data, analisis data sampai kesimpulan.data selektifnya disa berupa ide moral dan lain-lain.orang yang mengamati terkait langsung pada konsep-konsep yang dimiliki.

b)      Kebenaran

Positivisme, benar substantif yang menjadi identik dengan benar sesuai dengan empiri sensual. Kebenaran positivistik didasarkan pada ditemukan frekwensi tinggi atau fariansi yang besar. Bagi positivisme sesuatu itu benar apabila ada korespondwnsi antara fakta yang satu dengan fakta yang phenominology. Kebenaran dibuktikan berdasarkan pada oenemuan yang esensial yang dipilih dari non esensial atau esksemplar dan sesuai dengan skema tertentu. Secara dikenal 2 teori kebenaran, yaitu kebenaran korespondensi dan teori kebenaran koherensi. Bagi phenominology fenomena baru dapat dinyatakan benar setelah diuji kebenarannya dengan yang dipercaya. Realisme methafisik ia mengakui kebenaran bila yang faktual itu koheren dengan kebenaran objektif universal. Realisme sesuatu yang benar apabila didukung teori dan ada faktanya. Realisme baru menutut adanya konstruk teori (yang disusun deduktif probabilisti) dan adanya empiri terkonstruk pula. Islam sesuatu itu benar apabila yang empirik faktual yang koheren dengan kebenaran transeden berupa wahyu. Pregamatisme mengakui kebenaran apabila faktual berfungsi. Rumusan substantif tentang kebenaran ada beberapa teori, menurut Michael Williams ada 5 teori kebenaran yaitu:

– Kebenaran Preposisi yaitu teori kebenaran yang didasarkan pada kebenaran preposisinya baik preposisi formal maupun preposisi materialnya.

– Kebenaran Koherensi atau Konsistensi yaitu teori kebenaran yang mendasarkan suatu kebenaran pada adanya kesesuaian suau pernyataan denag pernyataan-pernyataan yang lainnya yang sudah lebih dahulu diketahui, diterima dan diakui kebenarannya.

– Kebenaran Performatif yaitu teori kenbenran yang mengakui bahwa sesuati itu dianggap benar apabila dapat diaktualisasikan dalam tindakan.-Kebenaran Praqmatik yaitu toeri kebenaran yang mengakui bahwa sesuatu itu benar apabila mempunyai kegunaan praktif. Dengan kata lain sesuatu itu dianggap benar apabila mendatangkan manfaat dan salah apabila tidak mendatangkan manfaat.

  1. Obyek Instrumentatif yang terdiri dari dua hal:

a. Konfirmasi

 

Fungsi ilmu adalah untuk menjelaskan, memprediksi proses dan produk yang akan datang atau memberikan pemaknaan. Pemaknaan tersebut dapat ditampilkan sebagai konfirmasi absolut denga menggunakan landasan : asumsi, postulat atau axioma yang sudah dipastikan benar. Pemaknaan juga dapat ditampilkan sebagai konfirmasi probabilistik dengsn mengggunakan metode induktif, deduktif, reflektif.

Pemaknaan juga dapat ditmpilkan sebagai konfirmasi probabilistik dengan menggunakan metode induktif, deduktif, reflektif. Dalam ontologi dikenal pembuktian apriori dan aposteriori. Untuk memastikan kebenaran penjelasan atau kebenaran perdiksi para ahli mendasarkan pada dua aspek : (1) Aspek Kuantitatif (2) Aspek Kualitatif. Dalam hal konfirmasi.sampai saat ini dikenal ada tiga teori konfirmasi, yaitu:

  • Decision Theory: menerapkan kepastian berdasar keputusan apakah hubungan antara hipotesis dengan evidensi memang memiliki manfaat aktual.
  • Estimation Thory: menetapkan kepastian dengan memberi peluang benar atau salah dengan menggunakan konsep probabilitas.
  • Reliability Analysis: menetapkan kepastian dengan mencermati stabilitas evidensi (yang mungkin berubah-ubah karena kondisi atau karena hal lain) terhadap hepotesis.

 

  1. Logika inferensi

Study logika adalah study tentang tipe-tipe tata pikir. Pada mulanya liogika dibangun oleh Aristoteles (384-322 SM) dengan menegetengahkan tiga prinsip atau hukum pemikiran, yaitu: Prinsipium Identitatis (Qanun Dzatiyah), Principium Countradictionis (Qanun Ghairiyah) dan Principium Exclutii Tertii (Qanun Imtina’). Logoka ini sering juga disebut dengan logika inferensi karena konstribusi utama logika Aristoteles tersebut adalah untuk membuat dan menguji inferensi. Dalam perkembangan selanjutnya Logika Aristoteles juga sering disebut dengan logika tradisional. Dalam hubungan ini Harold H. Titus menerapkan ilmu pengetahuan mengisi filsafat dengan sejumlah besar materi aktual dan deskriptif yang sangat perlu dalam pembinaan suatu filsafat. Banyak ilmuan yang juga filusuf. Para filosof terlatih dalam metode ilmiah dan sering pula menyntut minat khusus dalam beberapa disiplin ilmu.

 

 

  1. Ruang Lingkup Filsafat

Pada dasarnya, setiap ilmu memiliki dua macam objek, yaitu objek material dan objek foramal. Objek material adalah sesuatu yang dijadikan sasaran penyelidikan, seperti tubuh manusia yang menjurus pada ilmu kedokteran.

 

 

 

 

 

BAB

3

PENUTUP

Kesimpulan

Kata filsafat berasal dari kata Yunani filosofia, yang berasal dari kata kerja filosofein yang berarti mencintai kebijaksanaan. Kata tersebut juga berasal dari kata Yunani philosophis yang berasal dari kata kerja philein yang berarti mencintai, atau philia yang berarti cinta, dan sophia yang berarti kearifan. Dari kata tersebut lahirlah kata Inggris Philosophy yang biasanya diterjemahkan sebagai “cinta kearifan”.

Ada beberapa definisi yang telah diberikan oleh pemikir atau filosof :

  • Plato (427 SM – 348 SM) “Filsafat adalah ilmu pengetahuan yang berminat mencapai kebenaran yang asli.”
  • Aristoteles (382 SM – 322 SM) “Filsafat adalah ilmu pengetahuan yang meliputi kebenaran yang terkandung di dalamnya ilmu – ilmu metafisika, logika, retorika, etika, ekonomi, politik dan estetika.”
  • Al Farabi (870 M – 950 M) “Filsafat ialah ilmu pengetahuan tentang alam maujud bagaimana hakekatnya yang sebenarnya.”
  • Descartes (1590 M – 1650 M) “Filsafat adalah kumpulan segala pengetahuan di mana Tuhan, alam dan manusia menjadi pokok penyelidikan.”
  • Immanuel Kant (1724 M – 1804 M) Filsafat adalah ilmu pengetahuan yang menjadi pokok dan pangkal dari segala pengetahuan, yang tercakup di dalamnya beberapa persoalan:
  1. Apakah yang dapat kita ketahui? (Jawabnya : Metafisika)
  2. Apakah yang harus kita kerjakan? (Jawabnya : Etika)
  3. Sampai dimanakah harapan kita? (Jawabnya : Agama)
  4. Apakah yang dinamakan manusia? (jawabnya : Antropologi)
  • Harun Nasution : “Filsafat adalah berfikir menurut tata tertib (logika) dan bebas (tidak terikat tradisi, agama atau dogma) dan dengan sedalam – dalamnya sehingga sampai ke dasar – dasar (akar) persoalan.”

 

Seperti ilmu pengetahuan lainnya, filsafat juga mempunyai objek kajian yang meliputi objek materi dan objek formal.

  1. Objek Materi Filsafat, yaitu hal atau bahan yang diselidiki (hal yang dijadikan sasaran penyelidikan).
  2. Objek Formal Filsafat, yaitu sudut pandang (point of view), dari mana hal atau bahan tersebut dipandang.

 

DAFTAR PUSTAKA

Achmadi, Asmoro. “Filsafat Umum”. Jakarta: Rajawali Press. 2010

Tim Penyusun MKD. “Pengantar Filsafat”. Surabaya : IAIN Sunan Ampel Press. 2012

Suhar. “Filsafat Umum”. Jakarta : GP Press. 2010

 

_____________

Disusun Oleh:

NAMA: ATIK FAJARWATI

NIM: 12.88203.011/PBI A

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s