Dasar-Dasar Ilmu

Manusia pada dasarnya adalah mahluk paling sempurna yang memiliki kelebihan-kelebihan yang mungkin tidak dimiliki oleh mahluk lain di alam semesta ini. Manusia memiliki akal dan pemikiran yang berbeda dari mahluk lain dan manusia diciptakan di dunia ini tidak hanya untuk sekedar hidup melainkan diciptakan untuk berfikir. Karena dengan berfikir manusia akan menambah wawasan dan ilmu pengetahuan. Seperti yang kita tahu bahwa ilmu pengetahuan itu ada karena buah pikiran manusia.

Berbicara tentang pengetahuan tidaklah sederhana, pengetahuan yang didapatkan oleh manusia melalui beberapa hal, misalnya melalui pengalaman atau rasa ingin tahu. Berawal dari rasa ingin tahu tersebut manusia akan mulai berfikir untuk belajar mencari tahu hal yang belum ia ketahui tersebut. Disaat dia belajar untuk mencari tahu akhirnya dia akan mengetahui sesuatu yang baru yang sebelumnya belum ia ketahui. Seperti itulah ilmu pengetahuan. Dari sini kita bisa mengetahui bahwa pengetahuan adalah segala sesuatu yang telah diketahui.

Ilmu pengetahuan juga bisa kita dapatkan melalui pengalaman yang kita alami dalam kehidupan kita sehari-hari. Misalnya disaat kita naik motor dan tidak memakai helm kemudian kita jatuh dan kepala kita terbentur pasti akan terasa sakit dan dari situlah kita akan berfikir dan tahu bahwa sebaiknya jika kita naik motor memakai helm supaya tidak sakit ketika jatuh dan terbentur.

Seiring bertambahnya umur manusia akan semakin banyak pula ilmu pengetahuan yang mereka miliki karena dalam kehidupan mereka sehari-hari pasti akan mendapatkan pengetahuan-pengetahuan baru baik secara sengaja maupun tidak.

Kemajuan jaman serta kehidupan manusia di alam semesta ini tidak luput dari ilmu pengetahuan karena dengan ilmu pengetahuan mereka mampu menciptakan hal-hal yang baru. Semakin banyak ilmu pengetahuan yang mereka miliki akan semakin mudah pula mereka untuk menjalani hidupnya.

Sejauh ini perkembangan ilmu pengetahuan sangatlah pesat, namun disisi lain perkembangan tersebut juga membawa dampak negatif bagi manusia. Misalnya pengetahuan-pengetahuan tentang teknologi yang semakin canggih dan baru. Tanpa kita sadari kemajuan teknologi tersebut semakin membuat manusia tidak mandiri dan cenderung mengandalkan teknologi dalam kehidupan sehari-hari. Misalnya ibu rumah tangga yang dulu biasanya masak dengan menggunakan tumpu sekarang mayoritas menggunakan rice cooker, komunikasi jarak jauh yang dulu masih menggunakan surat sekarang sudah ada hand phone yang memudahkan kita berkomunikasi dimanapun kita berada dan masih banyak lagi perkembangan-perkembangan teknologi lainnya. Hal tersebut cenderung membuat manusia malas dan selalu menginginkan sesuatu secara mudah dan instan.

Perlu kita ketahui bahwa ilmu pengetahuan memiliki aturan-aturan yang harus diperhatikan dalam mengkajinya agar kita bisa menilai kebenaran dari ilmu pengetahuan tersebut. Pengetahuan yang didapatkan melalui hasil dari belajar dan bukti empiris disebut dengan pengetahuan sain. Pengetahuan sain ini harus berdasarkan pada logika yang rasional. Dalam pengetahuan sain bukti rasional dan empirisnya sangatlah penting.

Lain halnya dengan ilmu filsafat, kebenaran tentang pengetahuan ilmu filsafat hanya bisa dipertanggungjawabkan secara rasional dan kebenarannya tidak pernah bisa dibuktikan secara empiris.

Dalam pengetahuan ilmu filsafat terdapat dimensi-dimensi kajian ilmu, yaitu dimensi ontologi, epistimologi dan aksiologi yang memberikan pemahaman tentang suatu kebenaran serta proses yang ditempuh dalam pencarian kebenaran tersebut dan sejauh mana kebenaran kebenaran itu bisa dikatakan bermanfaat bagi kehidupan manusia.

 

 

PEMBAHASAN

 

  1. Ontologi

Berbicara tentang ontologi, ontologi adalah hakikat atau asal mula. Ontologi dalam filsafat membicarakan tentang hakikat filsafat atau asal mula filsafat dalam artian apa sih filsafat itu sebenarnya dan teori-teori apa saja yang terkandung didalamnya.

Hakikat pengetahuan filsafat, begitu banyak ilmuan yang mendefinisikan hakikat dari filsafat. Pendapat merekapun berbeda-beda dan berikut definisi-definisi dari filsafat menurut para ahli:

 

  1. Poedjawijatna (Pembimbing ke Alam Filsafat, 1974: 11) mendefinisikan filsafat sebagai sejenis pengetahuan yang berusaha mencari sebab yang sedalam-dalamnya bagi segala sesuatu berdasarkan akal pikiran belaka.
  2. Hasbullah Bakry (Semantik Filsafat, 1971: 11) mengatakan bahwa filsafat sejenis pengetahuan yang menyelidiki segala sesuatu dengan mendalam mengenai ketuhanan, alam semesta dan manusia, sehingga dapat menghasilkan pengetahuan tentang bagaimana hakikatnya sejauh yang dapat dicapai akal manusia dan bagaimana sikap manusia itu seharusnya setelah mencapai pengetahuan itu.

 

Dari definisi Poedjawijatna dan Hasbullah Bakry diatas dapat diambil kesimpulan bahwa filsafat adalah pengetahuan yang diperoleh dari berfikir manusia dari sesuatu yang mereka pelajari.

 

Berdasarkan buku Amsal Bakhtiar (Filsafat Ilmu, 2010: 219) menerangkan bahwa kata ontologi berasal dari perkataan Yunani: On = being dan Logos = logic. Jadi Ontologi adalah The theory of being qua being (teori tentang keberadaan sebagai keberadaan). Louis O.Kattsoff dalam Elements of Filosophy mengatakan, Ontologi itu mencari ultimate reality dan menceritakan bahwa diantara contoh pemikiran ontologi adalah pemikiran Thales, yang berpendapat bahwa airlah yang menjadi ultimate subtance yang mengeluarkan semua benda jadi asal semua benda hanya satu saja yaitu air.

Noeng Muhadjir dalam bukunya Filsafat Ilmu mengatakan, ontologi membahas tentang semua yang ada, yang terikat oleh satu perwujudan tertentu. Ontologi membahas tentang yang ada yang universal, menampilkan pemikiran semesta universal.

Di dalam ontologi ada dua macam kenyataan yaitu kenyataan berupa materi (kebenaran) dan kenyataan yang berupa rohani (kejiwaan). Ontologi adalah kenyataan yang sebenarnya. Pengertian ontologi memang sangat luas sekali dan mencakupi banyak sekali filsafat, misalnya logika, metafisika, estetika, etika, dll.

Terdapat pandangan-pandangan pokok dalam pemahaman ontologi, yaitu:

  1. Monoisme

Monoisme adalah paham yang menganggap bahwa hakikat itu hanyalah satu yang menjadi sumber baik materi ataupun rohani.

Monoisme terbagi menjadi dua aliran:

1)      Materialisme

Materialisme adalah aliran yang menganggap bahwa sumber yang asal itu adalah materi atau natural.

2)      Idealisme

Idealisme juga disebut sebagai spiritualisme yang berarti ruh. Jadi paham ini bertolak belakang dengan materialisme.

  1. Dualisme

Dualisme adalah paham yang menganggap bahwa hakikat itu ada dua. Paham ini berpendapat bahwa benda terdiri dari dua macam hakikat yaitu benda dan ruh.

  1. Pluralisme

Paham yang memiliki pandangan bahwa semua bentuk merupakan kenyataan.

  1. Nihilisme

Nihilisme adalah paham yang tidak mempercayai akan realitas.

  1. Agnostisisme

Paham ini tidak ingin mengetahui hakikat benda baik materi maupun rohani.

 

 

 

 

  1. Epistimologi

Secara garis besar epistimologi mencakup tiga hal, yaitu objek

filsafat, cara memperoleh pengetahuan filsafat dan ukuran kebenarannya.

Epistimologi meliputi ialah cabang filsafat yang yang berurusan dengan hakikat dan ilmu pengetahuan, pengandaian-pengandaian, dan dasar-dasarnya serta pertanggungjawaban atas pernyataan mengenai pengetahuan yang dimiliki.

Dengan epistimologi kita akan belajar mengenai cara bagaimana kita memperoleh suatu pengetahuan serta bagaimana mengetahui ukuran kebenaran dari pengetahuan tersebut.

Dalam epistimologi terdapat tiga bagian penting, yaitu:

  1. Objek Filsafat

Untuk memperoleh suatu kebenaran dalam filsafat tentu tidaklah mudah. Kita harus mencari objek yang tepat karena setiap cabang dari filsafat ditentukan oleh objek apa yang diteliti atau dipikirkan. Jika dalam filsafat meneliti sebuah objek manusia maka hasilnya adalah filsafat manusia. Objek dalam filsafat sangat luas sekali yaitu mencakup semua yang ada dan mungkin ada sekaligus abstrak.

  1. Cara Memperoleh Pengetahuan Filsafat

Manusia akan memperoleh pengetahuan filsafat dengan berfikir secara mendalam tantang sesuatu yang abstrak. Disini yang dimaksud secara mendalam adalah hendak mengetahui sedalam-dalamnya terhadap suatu objek dalam filsafat.

  1. Ukuran Kebenaran Pengetahuan Filsafat

Pengetahuan filsafat merupakan pengetahuan yang logis namun

tidak empiris. Kebenaran pengetahuan filsafat dilihat dari logis tidaknya pengetahuan tersebut. Tidak perlu ada bukti empiris dalam berfilsafat untuk membuktikan suatu kebenaran karena pada dasarnya filsafat meneliti objek yang ada tetapi abstrak.

 

  1. Aksiologi

Aksiologi adalah nilai, guna atau manfaat. Jadi disini kita akan membahas tentang manfaat apa saja yang kita dapatkan dalam mempelajari ilmu filsafat.

Dalam aksiologi terdapat dua hal penting yang perlu kita ketahui, yang pertama adalah kegunaan pengetahuan filsafat dan yang kedua cara filsafat menyelesaikan masalah.

 

  1. Kegunaan Pengetahuan Filsafat

Ada berbagai cara untuk mengetahui kegunaan filsafat, yaitu dengan memulainya dengan melihat filsafat sebagai tiga hal, yaitu:

1)      Filsafat sebagai kumpulan teori filsafat

Maksudnya kita harus melihat filsafat sebagai kumpulan-kumpulan dari berbagai macam teori yang ada.

 

 

2)      Filsafat sebagai metode pemecahan masalah

Kita harus melihat bahwa filsafat adalah sebagai metode dalam memecahkan masalah karea filsafat merupakan induk dari semua ilmu pengetahuan dan sesuatu yang tidak bisa diselesaikan oleh ilmu pengetahuan mampu diselesaikan oleh filsafat.

3)      Filsafat sebagai pandangan hidup

Karena pada hakikatnya filsafat bersumber pada kebenaran yang hakiki atau kebenaran yang nyata. Filsafat sebagai pandangan hidup sama halnya dengan agama yang mempengaruhi sikap dan perilaku penganutnya.

a)      Kegunaan Filsafat bagi Akidah

Akidah adalah ajaran islam yang mengatur keyakinan kepada tuhan serta merupakan fondasi ajaran islam secara keseluruhan. Kegunaan filsafat dalam memperkuat akidah adalah filsafat merupakan akal logis yang dapat berguna untuk memperkuat keimanan. Misalnya kita percaya bahwa tuhan itu ada padahal ia tidak terlihat, kemudian kita berfikir tentang alam semesta ini siapa yang menciptakannya? Dari situ kita berfikir sesuatu tercipta karena ada yang menciptakan dan yang menciptakan alam semesta ini adalah Allah SWT dan ini merupakan pemikiran yang logis. Dari situlah kita tahu bahwa filsafat dapat berguna untuk memperkuat keimanan.

b)      Kegunaan Filsafat bagi Hukum

Hukum yang dimaksud disini adalah hukum islami yang dinamakan fikih. Hukum tersebut mencakup tiga unsur yaitu: perintah untuk beribadah, larangan untuk melakukan perbuatan buruk, petunjuk beribadah. Tujuan utama hukum tersebut untuk menciptakan kebaikan hidup manusia. Kegunaan filsafat untuk hukum tersebut adalah fungsi filsafat sebagai metodologi, maksudnya sebagai metode dalam menghadapi dan menyelesaikan masalah dan ini sangat berguna untuk pengembangan hukum tersebut.

c)      Kegunaan Filsafat bagi Bahasa

Bahasa adalah sebagai media untuk berkomunikasi serta mengekspresikan perasaan dan fikiran. Kegunaan filsafat bagi bahasa disini dilihat dari peran filsafat sebagai logika karena tanpa logika kekeliruan dalam bahasa tidak mungkin dapat diperbaiki.

 

  1. Cara Filsafat Menyelesaikan Masalah

Peran filsafat salah satunya adalah sebagai methodology yang berarti senagai metode dalam menghadapi dan menyelesaikan masalah. Dalam kehidupan sehari-hari tentunya kita akan menemukan berbagai masalah. Masalah adalah kehidupan adalah suatu kesulitan yang harus kita selesaikan. Ada berbagai cara pula dalam menyelesaikan masalah tersebut mulai dari cara yang sederhana sampai cara yang sulit.

Begitu juga dengan filsafat, filsafat memiliki cara tersendiri dalam menyelesaikan sebuah masalah. Penyelesaian dalam filsafat bersifat mendalam (ingin mencari asal masalah) dan universal (secara menyeluruh dan luas). Misalnya dalam suatu problem rusaknya moral remaja indonesia pada saat ini. dari problem tersebut filsafat akan mencari terlebih dahulu asal-usul masalahnya. Asal-usul masalah yang paling asal kemudian baru diselesaikan. Seperti itulah cara filsafat dalam menyelesaikan sebuah masalah.

 

KESIMPULAN

  1. Dalam belajar filsafat kita perlu mengetahui bahwa filsafat bersifat rasional dan abstrak. Mempelajari tentang segala sesuatu yang ada dan kebenarannya tidak selalu dibuktikan dengan empiris.
  2. Dalam filsafat terdapat tiga dasad-dasar keilmuan, pertama ontologi, yang membicarakan tentang hakikat filsafat, kedua epistimologi yang membicarakan tentang objek kajian filsafat, cara memperoleh ilmu pengetahuan dan ukuran kebenarannya, ketiga aksiologi yang membicarakan tentang kegunaan filsafat dan cara filsafat dalam menyelesaikan suatu masalah.
  3. Ontologi, Epistimologi serta Aksiologi masing-masing saling etrikat dan saling melengkapi dalam ilmu filsafat. Karena ketiga elemen tersebut sangat berperan penting dalam berkembangnya sebuah ilmu pengetahuan. Mulai dari hakikat pengetahuan tersebut, cara memperolehnya serta kebenaran akan ilmu pengetahuan tersebut.

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

 

Poedjawijatna, Pembimbing ke Alam Filsafat, Djakarta: PT Pengembangan, 1974.

Hasbullah Bakry, Semantik Filsafat,1971.

Bakhtiar Asmal, Filsafat Ilmu, Jakarta: Rajawali Pers, 2010.

Kattsoff Louis, Elements of Filosophy.

Muhadjir Noeng, Filsafat Ilmu.

Tafsir Ahmad, Filsafat Ilmu, Bandung: PT REMAJA ROSDAKARYA, 2010.

 

______________

Oleh:

Nindi Nur Rohmah

STKIP PGRI Pacitan

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s