Sarana Berpikir Ilmiah

Manusia merupakan makhluk yang berakal, akal inilah yang membedakan manusia dengan makhluk lainnya, seperti hewan dan tumbuhan bahkan jin dan malaikat sekalipun. Dengan akal yang dimilikinya, manusia mempunyai kemampuan untuk mencapai tujuan hidupnya dalam kehidupan sehari-hari. Manusia mampu membuat peralatan-peralatan yang dapat meringankan pekerjaan untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Kemampuan manusia membuat peralatan bukanlah hal yang dapat dilakukan dengan begitu saja, tetapi telah melalui proses pengalaman. Pengalaman-pengalaman yang telah dilalui menjadi dasar bagi pembentukan pengetahuan. Dengan pengetahuan yang telah dimiliki inilah manusia dapat membuat peralatan-peralatan tersebut.

Pengetahuan yang diperoleh melalui pengalaman untuk membuat alat menyebabkan manusia terus mengembangkan pengetahuannya, untuk mengembangkan pengetahuannya tersebut dibutuhkan juga alat. Dengan alat yang baik dimungkinkan manusia akan memperoleh pengetahuan baru melalui aktivitas berpikir yang benar.

Berpikir ilmiah dan kegiatan-kegiatan ilmiah lainnya yang lebih luas, bertujuan memperoleh pengetahuan yang benar atau pengetahuan ilmiah. Untuk mencapai tujuan tersebut, manusia jelas memerlukan sarana atau alat berpikir ilmiah. Sarana ini bersifat pasti, maka aktivitas keilmuan tidak akan maksimal tanpa sarana berpikir ilmiah tersebut.

B.     Pembahasan

1.      Pengertian sarana berpikir ilmiah

Surisumantri (2003:165), ”Sarana ilmiah pada dasarnya merupakan alat yang membantu kegiatan ilmiah dalam berbagai langkah yang harus ditempuh”. Sarana ilmiah merupakan suatu alat, dengan alat ini manusia melaksanakan kegiatan ilmiah. Pada saat manusia melakukan tahapan kegiatan ilmiah diperlukan alat berpikir yang sesuai dengan tahapan tersebut. Manusia mampu mengembangkan pengetahuannya karena manusia berpikir mengikuti kerangka berpikir ilmiah dan menggunakan alat-alat berpikir yang benar.

Salam (1997:139) berfikir ilmiah adalah suatu aktivitas untuk menemukan pengetahuan yang benar atau kebenaran dan mendapatkan ilmu. Berfikir ilmiah dapat membantu proses metode ilmiah untuk mendapatkan sebuah Ilmu atau teori.

2.      Tujuan sarana berpikir ilmiah

Suriasumantri (2003:167), untuk memungkinkan kita melakukan penelaahan ilmiah secara baik, sedangkan tujuan mempelajari ilmu dimaksudkan untuk mendapatkan pengetahuan yang memungkinkan kita untuk bisa memecahkan masalah kita sehari-hari.

 

Bedanya antara tujuan dari mempelajari sarana ilmiah dengan tujuan mempelajari ilmu adalah          : jika mempelajari sarana ilmiah bertujuan untuk kegiatan penelaahan ilmiah sedangkan mempelajari ilmu bertujuan untuk menyelesaikan permasalahan dalam kehidupan.

 

3.      Bahasa sebagai sarana berpikir ilmiah

Bahasa memiliki peranan yang sangat penting dalam kehidupan manusia, termasuk di dalamnya adalah kegiatan ilmiah. Kegiatan ilmiah sangat berkaitan erat dengan bahasa. Menggunakan bahasa yang baik dalam berpikir membantu untuk mengkomunikasikan jalan pikiran kepada orang lain. Cara untuk mengkomunikasikannya kepada orang lain adalah menggunakan sarana bahasa.

Unsur-unsur yang terdapat dalam bahasa menurut Bakhtiar (2004:177-179) adalah:

  1. Simbil-simbol
  2. Simbol-simbol vokal
  3. Simbol-simbol arbitrer
  4. Suatu sistem yang berstruktur dari simbol-simbol yang arbitrer
  5. Dipergunakan oleh pra anggota suatu kelompok sosial sebagai alat bergaul satu sama lain

Ketika manusia telah memperoleh suatu pengetahuan melalui kegiatan ilmiah yang dilakukan, maka harus mengkomunikasikan hasil yang telah diperoleh tersebut agar pengetahuannya dapat bermanfaat bagi kemakmuran umat manusia. Hal-hal yang harus dikomunikasikan tersebut meliputi jalan pemikiran untuk memperoleh pengetahuan dan pengetahuan itu sendiri. Pengkomunikasian tersebut dituangkan dalam sebuah karya ilmiah. Untuk dapat menyusun sebuah karya ilmiah, dituntut kemampuan untuk menguasai bahasa yang baik dan benar. Tanpa menguasai bahasa yang baik, tidak mungkin dapat menyusun sebuah karya ilmiah.

Bahasa merupakan sarana komunikasi maka segala sesuatu yang berkaitan dengan komunikasi tidak terlepas dari bahasa, seperti halnya berpikir sistematis dalam memperoleh ilmu. Tanpa kemampuan berbahasa, seseorang tidak akan dapat melakukan kegiatan ilmiah secara sistematis dan benar.

Bahasa juga memiliki kelemahan sebagai sarana berfikir ilmiah            : bahasa sangat lekat dengan emosi sedangkan dalam karya ilmiah bahasa dituntun untuk obyektif agar dapat dengan mudah diterima oleh orang lain,sangat sulit untuk mendefinisikan suatu obyek tertentu dengan detail, dan keberadaan beberapa kata yang memiliki makna yang sama atau sebaliknya.

 

4.      Logika sebagai sarana berpikir ilmiah

Menurut Bakhtiar (2009:212), ”Logika adalah sarana untuk berpikir sistematis, valid dan dapat dipertanggungjawabkan. Karena itu, berpikir logis adalah berpikir sesuai dengan atura-aturan berpikir, seperti setengah tidak boleh lebih besar daripada satu”.

Sebagai sarana berpikir ilmiah, logika mengarahkan manusia untuk berpikir dengan benar sesuai dengan kaidah-kaidah berpikir yang benar. Dengan logika manusia dapat berpikir dengan sistematis dan dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya. Jika ingin melakukan kegiatan berpikir dengan benar maka harus menggunakan kaidah-kaidah berpikir yang logis. Dengan logika dapat dibedakan antara proses berpikir yang benar dan proses berpikir yang salah.

 

5.      Matematika sebagai sarana berpikir ilmiah

Sarana matematika digunakan untuk mengatasi kelemahan –kelemahan bahasa sebagai alat komunikasi verbal.

Suriasumantri (2003:191), ”Matematika adalah bahasa yang berusaha untuk menghilangkan sifat kubur (pen: kabur), majemuk dan emosional dari bahasa verbal”.

Dengan matematika, sifat kabur, majemuk dan emosional dari bahasa dapat dihilangkan. Lambang yang digunakan dalam matematika lebih eksak dan jelas, lambang-lambang tersebut tidak bisa dicampuri oleh emosional seseorang, suatu lambang dalam matematika jelas hanya mengandung satu arti sehingga orang lain tidak dapat memberikan penafsiran selain dari maksud pemberi informasi. Misalnya, seseorang yang mengatakan: ”Saya punya satu orang adik perempuan”, orang lain dapat menerima bahwa orang itu mempunyai satu adik, tidak mungkin orang lain akan mempunyai penafsiran bahwa orang itu mempunyai dua atau tiga orang adik. Matematika juga dapat digunakan untuk mengembangkan konsep pengukuran dan dapat memungkinkan manusia untuk mengembangkan pengetahuannya berdasarkan teori-teori yang telah ada.

 

6.      Statistika sebagai sarana berpikir ilmiah

Suriasumantri (2003:225),Statistika merupakan sarana berpikir yang diperlukan untuk memproses pengetahuan secara ilmiah. Sebagai bagian dari perangkat metode ilmiah maka statistika membantu kita untuk melakukan generalisasi dan menyimpulkan karakteristik suatu kejadian secara lebih pasti dan bukan terjadai secara kebetulan.

 

Statistika sebagai sarana berpikir ilmiah tidak memberikan kepastian namun memberi tingkat peluang bahwa untuk premis-premis tertentu dapat ditarik suatu kesimpulan, dan kesimpulannya mungkin benar mungkin juga salah. Langkah yang ditempuh dalam logika induktif menggunakan statistika adalah:

a.    Observasi dan eksperimen,

b.    Memunculkan hipotesis ilmiah,

c.    Verifikasi dan pengukuran, dan

d.   Sebuah teori dan hukum ilmiah. (Sumarna, 2008:146)

Untuk mengetahui keadaan suatu obyek, seseorang tidak harus melakukan pengukuran satu persatu terhadap semua obyek yang sama, tetapi cukup dengan melakukan pengukuran terhadap sebagian obyek yang dijadikan sampel. Walaupun pengukuran terhadap sampel tidak akan seteliti jika pengukuran dilakukan terhadap populasinya, namun hasil dari pengukuran sampel dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya.

Setelah melakukan observasi dan eksperimen kemudian merumuskan suatu hipotesis untuk dilakukan verifikasi dan uji coba terhadap data dan keadaan yang sebenarnya di lapangan. Berdasarkan pengkajian-pengkajian terhadap data dan keadaan di lapangan tersebut dapat dirumuskan suatu kesimpulan yang nantinya menjadi sebuah teori atau hukum ilmiah. Artinya, kesimpulan yang ditarik bukanlah sesuatu yang kebetulan terjadi, tetapi telah melalui tahap-tahap berpikir tertentu dengan melibatkan data dan fakta yang terjadi di lapangan.

 

C.    Kesimpulan

Sarana berfikir ilmiah merupakan salah satu pokok pembahasan dalam filsafat ilmu. Sarana berpikir ilmiah merupakan alat untuk membantu kegiatan ilmiah dalam berbagai langkah yang akan ditempuh agar memperoleh pengetahuan dengan benar.

Sarana berpikir ilmiah berfungsi hanyalah sebagai alat bantu bagi manusia untuk berpikir ilmiah agar memperoleh ilmu. Ada beberapa sarana berfikir ilmiah yaitu bahasa,matematika,statistika dll untuk berfikir dengan cermat dan baik.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

Bakhtiar, Amsal. 2009. Filsafat Ilmu. Jakarta: PT. RajaGrafindo Persada.

 

Sumarna, Cecep. 2008. Filsafat Ilmu. Bandung: Mulia Press.

 

Suriasumantri, Jujun S. 2003. Filsafat Ilmu Sebuah Pengantar Populer. Jakarta: Pustaka Sinar Harapan.

 

Tim Dosen Filsafat Ilmu UGM. 2010. Filsafat Ilmu Sebagai Dasar Pengembangan Ilmu Pengetahuan. Yogyakarta: Liberty.

 

Susanto, A. 2011. Filsafat Ilmu. Jakarta: PT. Bumi Aksara.

 

 

_______________

*)Annisa Elly Pradani, penulis adalah mahasiswa STKIP PGRI Pacitan Pogram Studi Pendidikan Bahasa Inggris kelas B. Makalah disusun guna memenuhi sebagian tugas individu pada mata kuliah Filsafat Ilmu tahun akademik 2013/2014 dengan dosen pengampu Afid Burhanuddin, M.Pd.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s