Jenis Pengetahuan dan Ukuran Kebenarannya

Filsafat merupakan pengetahuan yang pada dasarnya di gunakan sebagai dasar atau landasan suatu sumber untuk mengukur sebuah kebenaran pengetahuan yang dimiliki oleh manusia. Hubungan antara filsafat dengan pengetahuan sangatlah erat kaitannya. Jika diibaratkan pada sebuah pohon, pastilah sebuah pohon itu tidak akan dapat berdiri dengan kokoh tanpa adanya sebuah akar yang kuat, sehingga akar tersebut dapat menopang pohon agar tetap dapat berdiri dengan kokoh. Dalam mempelajari filsafat terdapat tiga dasar keilmuan antara lain Epistimologi, Ontologi, dan Aksiologi. Ketiga aspek tersebut sangatlah penting kedudukannya dalam membahas tentang pengetahuan dan kebenaraanya.

Jika berbicara tentang pengetahuan, akan muncul berbagai macam definisi tentang pengetahuan yang akan di ungkapkan. Namun, pada dasarnya dari berbagai definisi pengetahuan yang telah dikemukakan oleh beberapa ahli dapat disimpulkan bahwa pengetahuan adalah proses dari usaha manusia untuk tahu, sehingga dengan pengetahuan manusia dapat memberi putusan yang benar dan pasti/ kebenaran dan kepastian untuk menjalani kehidupan dari setiap masing-masing individu. Pengetahuan berkembang dari rasa ingin tahu yang merupakan ciri khas manusia karena manusia adalah satu-satunya makhluk yang dapat mengembangkan pengetahuan secara sungguh-sungguh dibandingkan dengan makhluk ciptaan lainnya yang memiliki keterbatasan hidup (survival). Oleh sebab itu, kita juga harus mempertimbangkan ukuran kebenaran dari berbagai jenis pengetahuan tersebut, agar mendapatkan hasil yang akurat dan sesuai dengan fakta. Karena pada dasarnya manusia selalu mencari kebenaran dalam hidupnya.

 

  1. Definisi Pengetahuan

Secara etimologi pengetahuan berasal dari kata dalam bahasa Inggris yaitu knowledge. Dalam Encyclopedia of Philosophy menurut (Edwards, 1972: vol 3) dijelaskan bahwa “definisi pengetahuan adalah kepercayaan yang benar knowledge is justified true belief”.

Sedangkan secara terminology definisi pengetahuan dikemukakan dalam beberapa definisi. Menurut (Gazalba, 1992: 4) definisi pengetahuan adalah apa yang diketahui atau hasil pekerjaan tahu. Pekerjaan tahu tersebut adalah hasil dari kenal, sadar, insaf, mengerti, dan pandai. Pengetahuan itu adalah semua milik atau isi pikiran.

Dalam kamus filsafat dijelaskan bahwa pengetahuan (knowledge) adalah proses kehidupan yang diketahui manusia secara langsung dari kesadarannya sendiri. Dalam peristiwa ini yang mengetahui (subjek) memiliki yang diketahui (objek) di dalam dirinya sendiri sedemikian aktif sehingga yang mengetahui itu menyusun yang mengetahui itu menyusun yang diketahui pada dirinya sendiri dalam kesatuan aktif (Bagus, 1996: 803).

Selanjutnya, definisi pengetahuan menurut Ibid yaitu pengetahuan tepat jika diartikan sebagai pengalaman sadar. Karena sangat sulit melihat bagaimana persisnya suatu pribadi dapat sadar akan suatu eksisten tanpa kehadiran eksisten itu di dalam dirinya.

Dikemukakan oleh orang pragmatis terutama John Dewey bahwa tidak membedakan pengetahuan dengan kebenaran. Menurut (Salam, 1997: 28) jadi, pengetahuan itu harus benar, kalau tidak benar adalah kontradiksi.

Dari berbagai definisi pengetahuan yang telah dikemukakan oleh beberapa ahli dapat disimpulkan bahwa pengetahuan adalah proses dari usaha manusia untuk tahu, sehingga dengan pengetahuan manusia dapat memberi putusan yang benar dan pasti/ kebenaran dan kepastian untuk menjalani kehidupan dari setiap masing-masing individu.

 

  1. Jenis Pengetahuan

Ada beberapa jenis pengetahuan menurut (Salam, 1997: 28) yang mengemukakan bahwa pengetahuan yang dimiliki oleh manusia ada empat, yaitu:

  1. Pengetahuan Biasa (Common Sense)

Pada pengetahuan ini diartikan bahwa seseorang memiliki sesuatu dimana seorang tersebut dapat menerimanya secara baik. Dengan common sense, semua orang sampai pada keyakinan secara umum tentang sesuatu, dimana meraka akan berpendapat sama semuanya dari pengalaman sehari-hari yang diperolehnya. Contohnya air dapat dapat dipakai untuk menyiram bunga, makanan dapat memuaskan rasa lapar,dll.

  1. Pengetahuan Ilmu (Science)

Ilmu pada prinsipnya merupakan usaha untuk mengorganisasikan dan mensistematisasikan common sense, suatu pengetahuan yang berasal dari pengalaman dan pengamatan dalam kehidupan sehari-hari. Namun, dilanjutkan dengan suatu pemikiran secara cermat dan teliti dengan menggunakan berbagai metode, diperoleh melalui observasi, eksperimen, dan klasifikasi.

  1. Pengetahuan Filsafat

Pengetahuan yang diperoleh dari pemikiran yang bersifat kontemplatif dan spekulatif. Pengetahua Filsafat lebih menekan pada universalitas dan kajian kedalam tentang sesuatu. Misalnya, kalau ilmu hanya pada satu bidang pengetahuan yang sempit dan rigid, filsafat membahas hal yang lebih luas dan mendalam. Filsafat biasanya memberikan yang reflektif dan kritis, sehingga ilmu yang tadinya kaku dan cenderung tertutup menjadi longgar sekali.

  1. Pengetahuan Agama

Pengetahuan yang hanya diperoleh dari Tuhan lewat para utusan-Nya yang bersifat mutlak dan wajib diyakini oleh para pemeluk agama. Pengetahuan ini mengandung beberapa hal pokok, yaitu ajaran tentang cara berhubungan dengan Tuhan atau hubungan vertikal dan cara berhubungan dengan sesama manusia atau hubungan horizontal.

 

 

 

 

  1. Hakikat Pengetahuan

Pengetahuan pada dasarnya adalah keadaan mental (mental state) yang mengetahui sesuatu yaitu menyusun pendapat tentang suatu objek, dengan kata lain menyusun gambaran tentang fakta yang ada di luar akal. Seiring dengan perkembangan, Pengetahuan berkembang dari rasa ingin tahu yang merupakan ciri khas manusia karena manusia adalah satu-satunya makhluk yang dapat mengembangkan pengetahuan secara sungguh-sungguh dibandingkan dengan makhluk ciptaan lainnya yang memiliki keterbatasan hidup (survival). Hal ini dilakukan untuk mengatasi kebutuhan-kebutuhan kelangsungan hidup, karena pada dasarnya hakikat manusia dalam menjalani kehidupan tidak sekedar untuk mampertahankan kelangsungan hidupnya namun hakikat manusia dalam menjalani kehidupan tidak hanya monoton saja, melainkan juga memikirkan tentang hal-hal baru seperti manusia berusaha memberikan makna dalam kehidupan, manusia juga memanusiakan diri dan orang lain dalam hidunya untuk mencapai kesejahteraan hidup. Pada dasarnya ini semua dilakukan oleh manusia karena pada hakikatnya manusia dalam hidupnya mempunyai tujuan yang mulia dalam hidup yang lebih tinggi dari sekedar kelangsungan hidupnya. Sehingga manusia selalu berusaha mengembangkan pengetahuan yang meliputi apa itu pengetahuan dan bagaimana cara memperoleh pengetahuan untuk mendorongnya menjadi makhluk yang bersifat khas di muka bumi ini yang juga merupakan bagian dari kajian filsafat pengetahuan atau epistimologi. Ada dua teori untuk mengetahui hakikat pengetahuan, yaitu:

  1. Realisme

Pandangan ini mempunyai pandangan realistis terhadap alam. Berdasarkan pada teori (Kattsoft, 1996: 114) ajaran realisme percaya bahwa dengan sesuatu atau lain cara, ada hal-hal yang hanya terdapat di dalam dan tentang dirinya sendiri, serta yang hakikatnya tidak terpengaruh oleh seseorang. Contohnya, fakta menunjukkan bahwa suatu meja tetap berbentuk sebagaimana adanya, kendati tidak ada orang di dalam ruangan itu yang menagkapnya. Jadi meja itu tergantung kepada gagasan kita mengenainya, tetapi tergantung pada meja tersebut.

Berdasarkan penelitian oleh para penganut realisme mengakui bahwa seseorang bisa salah lihat terhadap benda-benda yang dilihatny atau seseorang itu ketika sedeng melihat terpengaruh oleh keadaan disekelilingnya. Namun, mereka paham ada benda yang dianggap mempunyai wujud tersendiri, ada benda yang tetap wujud ketika diamati. Menurut Prof. Dr. Rasjidi, penganut agama perlu sekali mempelajari realisme dengan berbagai alasan, antara lain :

  1. Dengan menjelaskan kesulitan-kesulitan yang terdapat dalam pikiran. Kesulitan pikiran tersebut adalah pendapat yang mengatakan bahwa tiap-tiap kejadian dapat diketahui hanya dari segi subjektif. Namun pernyataan itu tidak benar sebab adanya faktor subjektif bukan berarti menolak faktor objektif.
  2. Dengan jalan memberi pertimbangan-pertimbangan yang positif, menurut Rasjidi, umumnya orang beranggapan bahwa tiap-tiap benda mempunyai suatu sebab.
  3. Idealisme

Menurut (Rasjidi, 1994: 17) ajaran idealisme menegaskan bahwa untuk mendapatkan pengetahuan yang benar-benar sesuai dengan kenyataan adalah mustahil. Oleh karena itu, pengetahuan bagi seorang idealis hanya merupakan gambaran subjektif dan bukan gambaran objektif tentang realitas.Subjektif dipandang sebagai suatu yang mengetahui, yaitu dari orang yang membuat gambaran tersebut. Karena itu, pengetahuan menurut teori ini tidak menggambarkan hakikat kebenaran. Yang diberikan pengetahuan adalah hanyalah gambaran menurut pendapat atau penglihatan orang yang mengetahui (subjek).

Kedua teori antara realisme dan idealisme sebenarnya memiliki kelemahan-kelemahan tertentu. Realisme ekstrim bisa sampai monisme materialistik atau dualisme, karena seorang pengikutnya akan mengatakan barang tertentu dapat dikatakan bahwa jiwa adalah materi dan materi adalah jiwa atau bahkan dikatakan bahwa keduanya sepenuhnya sama. Namun, realisme tidak mementingkan subjek sebagai penilai, tetapi hanya memfokuskan pada objek yang dinilai.

Idealisme subjektif juga akan menimbulkan kebenaran yang relatif karena setiap individu berhak untuk menolak kebenaran yang datang dari luar dirinya. Akibatnya kebenaran yang bersifat universal tidak diakui. Lalu aturan-aturan agama dan kemasyarakatan hanya bisa benar untuk kelompok tertentu dan tidak berlaku bagi kelompok lain. Lagi pula, idealisme terlalu mengutamakan subjek sebagai penilai dengan merendahkan objek yang dinilai, karena subjek yang menilai adakalanya berada pada keadaan yang berubah-ubah, seperti sedang marah dan gembira.

 

  1. Sumber Pengetahuan   

Pengetahuan yang telah diperoleh dengan menggunakan berbagai alat yang merupakan sumber pengetahuan tersebut. Ada beberapa pendapat tentang sumber pengetahuan antara lain :

  1. Empirisme

Berdasarkanaliran ini manusia memperoleh pengetahuan melalui pengalamannya. John Locke (1632-1704),Bapak empiris Britania mengemukakan teori tabula rasa (sejenis buku catatan kosong). Maksudnya adalah bahwa manusia itu pada mulanya kosong dari pengetahuan, lantas pengalamannya mengisi jiwa yang kosong itu, lantas ia memiliki pengetahuan. Mula-mula tangkapan indera yang masuk itu sederhana, lama-kelamaan menjadi kompleks, lalu tersusunlah pengetahuan yang berarti. Jadi, bagaimanapun kompleks pengetahuan manusia, selalu dapat dicari ujungnya pada pengalaman indera. Sesuatu yang tidak dapat diamati oleh indera bukanlah pengetahuan yang benar. Jadi pengalaman indera itulah sumber pengetahuan yang benar. Namun aliran ini memiliki banyak kelemahan misalnya seperti indera terbatas, indera menipu, objek yang menipu, dan berasal dari indera dan objek sekaligus.

Jika seseorang berpikirsecara empiris, maka akan menganggap akal sebagai sejenis tempat penampungan yang secara pasif menerima hasil penginderaan tersebut.Sehingga dalam empirisme sumber utama untuk memperoleh pengetahuan adalah data empiris yang diperoleh dari panca indera.

  1. Rasionalisme

Dalam aliran ini menyatakan bahwa akal adalah dasar kepastian pengetahuan. Pengetahuan yang benar dapat di ukur dengan akal. Manusia mampu memperoleh pengetahuan melalui kegiatan menangkap objek. Konsep tersebut mempunyai wujud dalam alam nyata dan bersifat universal, dengan prinsip ini yang dimaksud adalah abstraksi dari benda-benda konkret.

Para penganut rasionalsme yakin bahwa kebenaran dan kesesatan terletak dalam ide dan bukunya di dalam diri barang sesuatu. Jika kebenaran mengandung makna dan mempunyai ide yang sesuai atau dengan menunjuk pada kenyataan,kebenaran hanya dapat ada di dalam pikiran kita dan hanya dapat diperoleh dari akal budi saja (Kattsoft, 1996: 139).

  1. Intuisi

Menurut Henry Bergason intuisi adalah hasil dari evolusi pemahaman yang tertinggi. Kemampuan ini mirip dengan insting, tetapi berbeda dengan kesadaran dan dan kebebasannya. Pengembangan kemampuan ini atau intuisi memerlukan suatu usaha. Intuisi mengatasi sifat lahiriah pengetahuan simbolis, yang pada dasarnya bersifat analisis, menyeluruh, mutlak, dan tanpa dibantu oleh penggambaran secara simbolis. Oleh sebab itu, intuisi adalah sarana untuk mengetahui secara langsung dan seketika. Analitis atau pengetahuan yang diperoleh lewat pelukisan tidak menggantikan hasil pengenalan intuisi. Karena intuisi bersifat personal dan tidak bisa diramalkan,

  1. Wahyu

Wahyu adalah pengetahuan yang disampaikan oleh Allah SWT kepada manusia lewat perantara para nabi. Para nabi memperoleh pengetahuan dari Tuhan tanpa upya, Tuhan mensucikan jiwa para nabi dan diterangkan-Nya jiwanya untuk memperoleh kebenaran dengan jalan wahyu.

Berdasarkan teori ini kebenaran pengetahuan berasal dari Tuhan. Kepercayaan inilah yang membuat titik tolak dalam agama dan lewat pengkajian selanjutnya yang dapat meningkatkan atau menurunkan kepercayaan itu. Sedangkan ilmu pengetahuan berbanding terbalik, yaitu dimulai mengkaji dengan riset, pengalaman, dan percobaan untuk sampai pada kebenaran yang faktual.

 

  1. Ukuran Kebenaran

Berpikir adalah suatu kegiatan atau usaha untuk menghasilkan pengetahuan yang benar atau kriteria kebenaran. Apabila seseorang berpendapat benar, belum tentu benar bagi orang lain. Karena pada setiap jenis pengetahuan tidak sama kriteria kebenarannya, khususnya perbedaan antara sifat dan watak. Berdasarkan pengetahuan tentang alam metafisika tentunya tidak sama dengan pengetahuan tentang alam fisik. Pengetahuan alam fisik juga memiliki perbedaan ukuran kebenarannya bagi setiap jenis dan bidang pengetahuan.

Apabila ditinjau secara umum orang akan merasa bahwa tujuan pengetahuan adalah untuk mencapai kebenaran, namun masih menemukan beberapa masalah. Masalah kebenaran ini memacu tumbuh dan berkembangnya epistimologi. Karena pada dasarnya teori epistimologi terhadap kebenaran akan membawa orang kepada sesuatu kesimpulan bahwa perlu dibedakan sesuai dengan adanya tiga jenis kebenaran, yaitu kebenaran epistimologis, kebenaran ontologi, dan kebenaran semantis. Kebenaran epistimologis yaitu kebenaran yang berhubungan dengan pengetahuan manusia. Selanjutnya, kebenaran dalam arti ontologis yaitu kebenaran sebagai sifat dasar yang melekat pada hakikat segala sesuatu yang ada atau diadakan. Sedangkan kebenaran dalam arti semantis adalah kebenaran yang terdapat serta melekat dalam tutur kata dan bahasa.

Namun, pada pembahasan ini akan dibahas mengenai kebenaran yang lainnya. Secara inheren akan masuk dalam kategori kebenaran epistimologis. Adapun beberapa teori yang menjelaskan kebenaran epistimologi adalah sebagai berikut:

 

  1. Teori Korespondensi

Menurut teori korespondensi, kebenaran atau keadaan benar itu apabila ada kesesuaian antara arti yang dimaksud dengan objek yang yang dituju. Pengetahuan itu dikatakan benar apabila di dalam kemanunggalan yang bersifat intrinsik, intensional, dan pasif atau aktif terdapat kesesuaian antara apa yang ada di dalam pengetahuan subjek dengan apa yang ada di dalam objek. Hal itu karena puncak dari kognitif manusia terdapat dalam budi atau pikiran manusia (intelectus), maka pengetahuan adalah benar bila apa yang terdapat di dalam budi pikiran subjek itu benar sesuai dengan apa yang ada di dalam objek (Hadi, 1997: 148). Suatu proposisi atau pengertian adalah benar apabila terdapat suatu fakta yang diselaraskannya, oleh sebab itu kebenaran juga dapat berarti yang bersesuaian dengan fakta, yang berselaras dengan realitas, dan yang serasi (correspondens) dengan situasi aktual.

Teori korespondensi ini pada umumnya dianut oleh para pengikut realisme. Di antara pelopor teori korespondensi ini adalah Plato, Aristoteles, Moore, Russel, Ramsey, dan Tarski (Mudhafir, 2001: 12-13). Teori ini dikembangkan oleh Bertrand Russell (1872-1970). Seseorang yang bernama K. Roders, seorang penganut realisme kritis Amerika, berpendapat bahwa: keadaan benar ini terletak dalam kesesuaian antara esensi atau arti yang kita berikan, dengan esensi yang terdapat di dalam objeknya (Kattsoff, 1992: 243-244). Dengan mempelajari teori korespondensi dapat kita tarik kesimpulan tentang kebenaran, yaitu sebagai berikut:

  1. Menurut teori ini, kebenaran adalah kesesuaian antara pernyataan tentang sesuatu dengan kenyataan sesuatu itu sendiri. Hal ini dapat dikemukakan dengan contoh bahwa Jakarta adalah Ibu Kota Negara Indonesia. Pernyataan tersebut benar karena sesuai dengan kenyataannya. Kebenarannya terletak pada hubungan antara pernyataan dengan kenyataan. Sebaliknya jika dikatakan bahwa Yogyakarta adalah Ibu Kota Negara Indonesia, maka pernyataan itu adalah salah karena tidak sesuai antara pernyataan dan kenyataannya.
  2. Dalam dunia Sains teori korespondensi ini sangat penting keberadaanya guna mencapai suatu kebenaran sehingga dapat diterima oleh seluruh orang. Sebagai gambarannya adalah seorang ilmuwan akan selalu berusaha meneliti kebenaran secara sungguh-sungguh, sehingga akan menghasilkan suatu kebenaran yang akurat dan nyata tidak hanya sebagai pandangan yang semu belaka. Penelitian sangat penting dalam teori korespondensi karena bertujuan untuk mengecek kebenaran suatu teori perlu dilakukan penelitian ulang. Sebagai contoh Paracetamol adalah obat penurun panas. Untuk membuktikan kebenaran pernyataan ini tidak hanya dengan meminum obat ini, melainkan juga harus meneliti ulang kebenaran unsur-unsur yang terkandung dalam obat tersebut. Dengan demikian, dapat ditarik kesimpulan bahwa suatu pernyataan tidak hanya diyakini sedemikian rupa, tetapi diragukan untuk diteliti.

 

  1. Teori Koherensi Tentang Kebenaran

Menurut teori ini kebenaran tidak dibentuk atas hubungan antara putusan (judgement) dengan sesuatu yang lain, yaitu fakta atau realitas, tetapi atas hubungan antara putusan-putusan itu sendiri. dengan kata lain, kebenaran ditegakkan atas hubungan antara putusan yang baru itu dengan putusan-putusan lainnya yang telah kita ketahui dan diakui kebenarannya.

Jadi menurut teori ini, putusan yang satu dengan yang lain saling berhubungan dan saling menerangkan satu sama lain. Karenanya lahirlah rumusan: kebenaran adalah saling hubungan yang sistematis (Truth is a systematic coherence); kebenaran adalah konsistensi dan kecocokan (Truth is consistency). Oleh karena itu, Karl Popper menegaskan bahwa apabila teori itu bertentangan dengan data yang baru, secara otomatis teori utama gugur atau batal. Sebaliknya kalau data tersebut cocok dengan teori lama, teori itu menjadi semakin kuat.

Selain itu, di antara bentuk pengetahuan yang penyusunannya dan pembuktiannya didasarkan pada teori koherensi adalah ilmu Matematika dan turunannya. Matematika disusun pada beberapa dasar pernyataan yang dianggap benar, yaitu aksioma sehingga dapat disusun menjadi suatu teorema. Contoh 1 + 1 = 2 adalah benar, karena sesuai dengan kebenaran yang sudah disepakati bersama, terutama oleh komunitas matematika. Berdasarkan teori konsistensi ini dapat disimpulkan sebagai berikut:

  1. Kebenaran menurut teori ini adalah kesesuaian antara suatu pernyataan dengan pernyataan-pernyataan lainnya yang sudah lebih dahulu kita ketahui, terima, dan akui sebagai benar.
  2. Teori ini sepertinya dapat dinamakan sebagai teori penyaksian (justifikasi) tentang kebenaran, karena menurut teori ini satu putusan dianggap benar apabila mendapat penyaksian-penyaksian (justifikasi,pembenaran) oleh putusan-putusan lainnya yang terdahulu dan sering diketahui, diterima, dan diakui kebenarannya. Jadi, ukuran kebenaran pada teori koherensi ini adalah konsistensi dan presisi.

 

  1. Teori Pragmatis Tentang Kebenaran

Menurut teori pragmatisme, suatu kebenaran dan suatu pernyataan diukur dengan kriteria apakah pernyataan tersebut bersifat fungsional dalam kehidupan manusia. Teori hipotesa atau ide dianggap benar apabila mampu membawa akibat yang memuaskan dalam praktik dan memilki nilai praktis. Kebenaran terbukti oleh kegunaannya, oleh hasilnya, dan oleh akibat praktisnya. Jadi kebenaran ialah apa saja yang berlaku.

Menurut William James, ide-ide benar ialah ide-ide yang dapat kita serasikan, kita umumkan berlakunya, kita kuatkan dan kita periksa. Sebaliknya ide yang salah adalah ide yang tidak demikian. Oleh karena itu, tidak ada kebenaran mutlak, yang ada adalah kebenaran-kebenaran, yaitu apa yang benar dalam pengalaman-pengalaman khusus. Nilai tergantung pada akibatnya dan pada kerjanya, artinya pada keberhasilan perbuatan yang disiapkan oleh pertimbangan itu (Hadiwijno, 1981: 131). Berdasarkan teori tersebut, timbul masalah yang dikemukakan oleh penganutnya, antara lain:

  1. Sesuatu itu benar apabila memuaskan keinginan dan tujuan manusia.
  2. Sesuatu itu benar apabila dapat diuji benar dengan eksperimen.
  3. Sesuatu itu benar apabila ia mendorong atau membantu perjuangan biologis untuk tetap ada.

Jadi, ujian kebenaran bagi para penganut pragmatis yaitu kegunaan (utility) dapat dikerjakan, akibat pengaruh yang memuaskan. Menurut pendekatan ini tidak ada sebutan kebenaran yang tetap atau kebenaran yang mutlak.

 

  1. Agama sebagai Teori Kebenaran

Kebenaran adalah hal paling utama yang dicari oleh para manusia di bumi ini untuk memperoleh kepastian dan kebenaran yang mutlak. Manusia merupakan subject sebagai makhluk pencari kebenaran. Salah satu cara yang paling tepat untuk menemukan suatu kebenaran adalah melalui agama. Jika ketiga teori kebenarannya yang sebelumnya lebih mengedepankan akal, budi, rasio, dan reason manusia, namun dalam agama yang lebih dikedepankan adalah wahyu yang bersumber dari Tuhan. Karena agama dan karakteristiknya sendiri memberikan jawaban atas segala persoalan asasi yang dipertanyakan manusia, baik tentang alam, manusia, maupun tentang Tuhan.

Dalam proses mencapai ilmu pengetahuan yang benar dengan berpikir setelah melakukan penyelidikan, pengalaman, dan percobaan sebagai trial and eror. Sedangkan manusia mencari dan menentukan kebenaran sesuatu dalam agama dengan mempertanyakan atau mencari jawaban tentang berbagai masalah asasi dari atau kepada Kitab Suci.

Sehingga, menurut Amsal Bakhtiar suatu hal itu dianggap benar apabila sesuai dengan ajaran agama atau wahyu sebagai penentu kebenaran mutlak. Oleh sebab itu, reaksi yang sangat wajar ketika Imam Al-Ghazali mersa tidak puas dengan penemuan-penemuan akalnya dalam mencari suatu kebenaran. Akhirnya sampai pada kebenaran yang kemudian dalam tasawuf setelah mengalami proses yang amat panjang dan sulit. Tasawuflah yang menghilangkan keragu-raguan tentang segala sesuatu. Kebenaran menurut agama inilah yang dianggap oleh kaum sufi sebagai kebenaran mutlak, yaitu kebenaran yang sudah tidak dapat diganggu gugat lagi. Namun Al-Ghazali tetap merasa kesulitan menentukan kriteria kebenaran. Akhirnya kebenaran yang di dapatnya.

Berdasarkan teori dan ilustrasi di atas, dapat ditarik kesimpulan bahwa agama itu sangat penting kedudukannya dalam mencari ukuran kebenaran yang tepat dan akurat. Karena agama itu dianggap benar karena pengaruhnya memberikan dampak yang positif atas kehidupan yang dijalani oleh manusia, berkat kepercayaan orang akan Tuhan, maka kehidupan masyarakat berlaku secara tertib, aman, damai, dan jiwanya akan lebih tenang dalam menjalankan kehidupan.

 

  1. Kesimpulan

Dari berbagai definisi pengetahuan yang telah dikemukakan oleh beberapa ahli dapat disimpulkan bahwa pengetahuan adalah proses dari usaha manusia untuk tahu, sehingga dengan pengetahuan manusia dapat memberi putusan yang benar dan pasti/ kebenaran dan kepastian untuk menjalani kehidupan dari setiap masing-masing individu. Ada empat jenis pengetahuan yang dimiliki manusia, yaitu antara lain Pengetahuan Biasa (Common Sense), Pengetahuan Ilmu (Science), Pengetahuan Filsafat, Pengetahuan Agama, Pengetahuan Biasa (Common Sense) dan Pengetahuan Agama.

Pada hakikatnya, Idealisme subjektif akan menimbulkan kebenaran yang relatif karena setiap individu berhak untuk menolak kebenaran yang datang dari luar dirinya. Akibatnya kebenaran yang bersifat universal tidak diakui. Lalu aturan-aturan agama dan kemasyarakatan hanya bisa benar untuk kelompok tertentu dan tidak berlaku bagi kelompok lain. Lagi pula, idealisme terlalu mengutamakan subjek sebagai penilai dengan merendahkan objek yang dinilai, karena subjek yang menilai adakalanya berada pada keadaan yang berubah-ubah, seperti sedang marah dan gembira.

Ada beberapa pendapat tentang sumber pengetahuan yang telah kita peroleh antara lain Empirisme, Rasionalisme, Intuisi, dan Wahyu. Dengan sumber pengetahuan ini akan mengkaji dengan riset, pengalaman, dan percobaan untuk sampai pada kebenaran yang faktual.

Ditinjau secara umum orang akan merasa bahwa tujuan pengetahuan adalah untuk mencapai kebenaran, namun masih menemukan beberapa masalah. Masalah kebenaran ini memacu tumbuh dan berkembangnya epistimologi. Karena pada dasarnya teori epistimologi terhadap kebenaran akan membawa orang kepada sesuatu kesimpulan bahwa perlu dibedakan sesuai dengan adanya tiga jenis kebenaran, yaitu kebenaran epistimologis, kebenaran ontologi, dan kebenaran semantis. Kebenaran epistimologis yaitu kebenaran yang berhubungan dengan pengetahuan manusia. Selanjutnya,kebenaran dalam arti ontologis yaitu kebenaran sebagai sifat dasar yang melekat pada hakikat segala sesuatu yang ada atau diadakan. Sedangkan kebenaran dalam arti semantis adalah kebenaran yang terdapat serta melekat dalam tutur kata dan bahasa.

Kebenaran yang lainnya secara inheren akan masuk dalam kategori kebenaran epistimologis. Adapun beberapa teori yang menjelaskan kebenaran epistimologi adalah sebagai berikut:

  1. Teori Korespondensi
  2. Teori Koherensi Tentang Kebenaran
  3. Teori Pragmatis Tentang Kebenaran
  4. Agama sebagai Teori Kebenaran

 

  1. Daftar Pustaka

 

Edwars, Paul. 1972. The Encyclopedia of Philosophy. New York: Macmillan  Publishing.

Gazalba, Sidi. 1992. Sistematika Filsafat. Jakarta: Bulan Bintang.

Bagus, Lore. 1996. Kamus Filsafat. Jakarta: Gramedia.

Salam, Burhanuddin. 1997. Logika Materiil. Jakarta: Rineka Cipta.

Suriasumantri, Jujun S. Ilmu dalam Perspektif. Jakarta: PT. Gramedia.

Kattsoff, Louis O. 1996. Pengantar Filsafat. Yogyakarta: Tiara Wicana.

Rasjidi, M. (ed). 1994. Filsafat Agama. Jakarta: Bulan Bintang.

Harun, Hadiwijono. 1981. Sari Sejarah Filsafat Barat 2. Yogyakarta: Kanisius.

Gazalba Sidi. 1967. Islam Integrasi Ilmu dan Kebudayaan. Jakarta: Tintamas.

Suriasumantri, Jujun S.1998. Filsafat Ilmu Sebuah Pengantar Populer. Jakarta: Pustaka Sinar Harapan.

Kattsoff, Louis O. 1992. Unsur-unsur Filsafat. Yogyakarta: Tiara Wacana.

Hadi Hardono. 1997. Epistimologi, Filsafat Pengetahuan. Yogyakarta: Kanisius.

 

 

 

_______________

*) Risti Maya Sarosy, penulis adalah mahasiswa STKIP PGRI Pacitan Program Studi Pendidikan Bahasa Inggris kelas A. Makalah disusun guna memenuhi sebagian tugas individu pada mata kuliah Filsafat Ilmu tahun akademik 2013/2014 dengan dosen pengampu Afid Burhanuddin, M.Pd.

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s