Dasar-Dasar Keilmuan

Manusia merupakan makhluk hidup dengan keistimewaan akal dan pikiran. Mereka memiliki rasa ingin tahu tentang hal-hal yang belum mereka ketahui. Dengan begitu, manusia akan terus menggunakan akal dan logikanya untuk mencari tahu sejumlah informasi dan kebenaran dari suatu persoalan. Belajar memahami hakikat keberadaan segala sesuatu merupakan awal berpikir filosofis. Misalnya, apabila tidak pernah mengalami perenungan mengenai hakikat diri, tentu kehidupan tidak akan bernilai. Dapat memahami ekstensi kehidupan merupakan aspek terpenting dari upaya untuk menghargai diri sendiri. Dengan cara yang demikian, kita dapat berlanjut memahami ekstensi kehidupan secara lebih luas.

Filsafat merupakan akar dari berbagai ilmu pengetahuan yang memelopori lahirnya cabang-cabang ilmu pengetahuan. Dengan kata lain, kelahiran ilmu tidak pernah lepas dari filsafat dan perkembangan ilmu akan semakin memperkuat keberadaan filsafat. Filsafat berhasil mengubah pola pikir yang mitosentris menjadi logosentris yakni pola pikir yang memusatkan sesuatu kepada mitos menjadi pola pikir yang lebih rasional dan logis. Sebagai contohnya, zaman dahulu masyarakat berpendapat bahwa gerhana bulan terjadi karena ada raksasa yang marah dan memakan bulan sehingga bulan tersebut menghilang dan menjadikan malam menjadi sangat gelap. Kemudian filsafat mengubah pola pikir yang demikian menjadi lebih rasional bahwa gerhana bulan terjadi karena matahari, bulan dan bumi berada pada posisi sejajar. Dalam hal ini, bisa dikatakan bahwa filsafat memiliki peran yang sangat penting dalam segi kehidupan maupun ilmu pengetahuan.

Sebagai landasan berpikir, filsafat bukanlah ilmu yang bersifat khayal, akan tetapi filsafat memiliki pemikiran yang bersifat skematis, konseptual, dan koheren. Dengan cabang ilmu diantaranya Ontologi, Epistimologi dan Aksiologi, filsafat dapat menjawab pertanyaan-pertanyaan mendasar mengenai realitas kehidupan, memberikan penyelesaian masalah, memberikan hakikat suatu kebenaran, serta membantu dalam mengambil sikap tertentu, mampu berpikir rasional, kritis, dan menjadikan pemikiran kita terbuka seiring perkembangan zaman. Itulah alasan mengapa filsafat dijadikan dasar ilmu dan landasan berpikir.

 

  1. Definisi Ilmu

Ilmu bisa dikatakan sebagai usaha sadar manusia untuk menyelidiki, mencari dan menemukan berbagai jenis kenyataan guna meningkatkan pemahaman manusia. Ilmu memberikan kepastian dengan membatasi lingkup pandangannya. Ada beberapa pengertian ilmu yang diutarakan para ahli diantaranya :

  1. Pengertian ilmu menurut DR. H. M. Gade

Ilmu adalah falsafah, yakni hasil pemikiran tentang batas-batas kemungkinan pengetahuan manusia.

 

  1. Pengertian ilmu menurut M. Izzuddin Taufiq

Ilmu adalah penelusuran data atau informasi melalui pengamatan, pengkajian dan ekperimen dengan tujuanmenetapkan hakikat, landasan dasar maupun asal usulnya.

  1. Pengertian ilmu menurut Dr. Maurice Bucaille

Ilmu merupakan kunci untuk mengungkapkan segala hal, baik dalam jangka waktu yang lama maupun sebentar.

  1. Pengertian ilmu menurut Francis Bacon

Ilmu adalah satu-satunya pengetahuan yang valid dan hanya fakta-fakta yang dapat menjadi objek pengetahuan.

  1. Pengertian ilmu menurut Poespoprodjo

Ilmu adalah proses perbaikan diri secara berkesinambungan yang meliputi perkembangan teori dan uji empiris.

  1. Pengertian ilmu menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia

Ilmu adalah pengetahuan tentang suatu bidang yang disususn secara bersistem menurut metode tertentu yang dapat digunakan untuk menerangkan gejala tertentu di bidang pengetahuan tersebut.

Dari beberapa pendapat di atas, dapat disimpulkan bahwa ilmu merupakan sekumpulan pengetahuan yang sistematis diuji secara empiris dan disusun menggunakan metode tertentu dimana ilmu juga digunakan sebagai kunci untuk mengungkapkan segala hal. Dipandang dari sudut filsafat, ilmu terbentuk karena manusia berpikir lebih jauh mengenai pengetahuan yang dimilikinya.

 

  1. Syarat-Syarat Ilmu

Ilmu mensyaratkan adanya objek yang diteliti, baik baik dalam penelitian tentang alam (kosmologi), maupun ilmu yang memperlajari tentang manusia (biopsikososial). Lorens Bagus (1996) menjelaskan bahwa dalam teori skolastik terdapat perbedaan antara obyek material dan obyek formal. Obyek material merupakan obyek konkret yang di simak ilmu. Sedangkan obyek formal merupakan aspek khusus atau sudut pandang terhadap ilmu. Yang mencirikan setiap ilmu adalah obyek formalnya. Sementara obyek material yang sama dapat dikaji oleh banyak ilmu lain.

Ilmu juga mensyaratkan adanya sebuah metode tertentu, yang di dalamnya berisi pendekatan dan teknik tertentu. Metode tersebut dinamakan metode ilmiah. Moh. Nasir (1983:43) mengungkapkan bahwa metode ilmiah bisa dikatakan merupakan suatu pengejaran terhadap kebenaran yang diatur oleh pertimbangan-pertimbangan logis. Karena ideal dari ilmu adalah untuk memperoleh kebenaran informasi dari fakta-fakta.

 

  1. Ciri-Ciri Ilmu

Ismaun (2001) menerangkan ciri-ciri ilmu sebagai berikut :

a)    Obyektif, yakni ilmu berdasarkan hal-hal yang dapat diamati dan tidak berdasarkan pada emosional subyektif.

b)   Koheren, maksudnya pernyataan/susunan ilmu tidak kontradiksi dengan kenyataan.

c)    Reliable, produk dan cara-cara memperoleh ilmu dilakukan dengan alat ukur dengan tingkat rehabilitas tinggi.

d)   Valid, produk dan cara-cara memperoleh ilmu dilakukan dengan tingkat keabsahan (validitas) yang tinggi, baik internal maupun eksternal.

e)    Memiliki generalisasi yakni suatu kesimpulan dalam ilmu yang berlaku umum.

f)    Akurat, dalam penarikan kesimpulan memiliki keakuratan (akurasi) tinggi.

g)   Dapat melakukan prediksi atas kemungkinan-kemungkinan suatu hal.

 

  1. Dasar-Dasar Ilmu

Dalam konteks filsafat ilmu, ada tiga landasan pengembangan ilmu sebagai berikut.

  1. Ontologi

Ontologi mempelajari tentang hakikat. Dalam filsafat, hakikat mencakup segala sesuatu yang ada dan yang mungkin ada. Hakikat diartikan sebagai esensi dari suatu ilmu/pengetahuan. Hakikat bersifat riil (nyata) yakni tidak berubah dan tidak sementara. Ontologi membentuk pemahaman yang paling mendasar dimana filsafat tidak hanya berbicara mengenai wujud atau materi sebagaimana ilmu pengetahuan, melainkan berbicara tentang makna yang ada di dalamnya.

Kata ontologi berasal dari bahasa Yunani. On/Ontos = ada, dan Logos = ilmu. Jadi ontologi adalah ilmu yang memepelajari tentang segala sesuatu yang ada. Noeng Muhadjir dalam bukunya Filsafat Ilmu mengatakan bahwa ontologi membahas tentang segala sesuatu yang ada, yang tidak terikat oleh satu perwujudan tertentu. Ontologi menampilkan pemikiran yang universal. Lebih jelasnya ontologi tidak berdasar pada alam nyata, melainkan berdasar pada logika semata.

Dalam perkembangannya, ontologi terbagi menjadi beberapa cabang filsafat seperti Antropologi, Kosmologi, dan Teologi. Antropologi disebut juga sebagai filsafat manusia. Dalam hal ini antropologi membahas tentang apakah manusia itu sebenarnya, apa saja kemampuan-kemampuannya, dan apa yang mendorong tindakannya. Selanjutnya adalah Kosmologi. Kosmologi membahas tentang alam semesta. Kosmologi merupakan cabang filsafat yang dikhususkan untuk menerangkan bahwa alam itu ada namun ia tidak mutlak. Alam dapat terbentuk karena adanya zat yang luar biasa yang berasal dari Tuhan yang bisa saja lenyap sewaktu-waktu. Sedangkan Teologi merupakan cabang yang dikhususkan untuk membicarakan Tuhan sebagai kebenaran absolut /mutlak yang tidak terbantahkan.

Di dalam pemahaman ontologi, dapat diketemukan pandangan-pandangan pokok pemikiran sebagai berikut:

  1. Monoisme

Istilah monoisme disebut juga sebagai Block Universe oleh Thomas Davidson. Monoisme menganggap hakikat yang berasal dari seluruh kenyataan itu hanya ada satu, tidak mungkin ada dua atau lebih. Haruslah ada satu hakikat saja sebagai sumber asal baik berupa materi maupun rohani. Paham ini berspekulasi bahwa tidak ada hakikat yang masing-masing bebas dan berdiri sendiri. Haruslah salah satunya merupakan sumber yang pokok dan dominan menentukan perkembangan yang lainnya. Paham ini kemudian terbagi lagi menjadi dua aliran yakni Materialisme dan Idealisme.

  1. Materialisme

Aliran ini menganggap bahwa hakikat yang sebenarnya berasal dari materi bukan rohani. Menurutnya, bahwa zat mati merupakan satu-satunya fakta. Dan yang lain seperti jiwa/ruh bukanlah suatu kenyataan yang berdiri sendiri. Jiwa/ruh hanya sebagai akibat dari proses pergerakan kebenaran dengan melalui proses dan cara tertentu.

Paham ini dipelopori oleh bapak filsafat yaitu Thales (624-546). Ia berpendapat bahwa unsur asal adalah air karena air begitu penting bagi kehidupan.

  1. Idealisme

Idealisme diambil dari kata ‘Idea” yakni sesuatu yang hadir dari dalam jiwa. Paham ini bertentangan dengan aliran materialisme. Idealisme menekankan hakikat yang sesungguhnya bersumber pada spiritualisme. Aliran ini beranggapan bahwa hakikat kenyataan yang beraneka ragam itu berasal dari ruh atau sesuatu yang tidak berbentuk dan menempati ruang. Jasmani hanyalah suatu jenis pada penjelmaan rohani.

Dalam perkembangannya, aliran ini ditemui pada ajaran Plato (428-348 SM). Menurut Plato, tiap-tiap yang ada di alam pasti ada idenya, yakni konsep universal dari setiap sesuatu. Sebagai contoh, alam yang menempati ruang ini mulanya adalah bayangan dari ide-ide. Jadi idelah yang menjadi hakikat sesuatu yang kemudian menjadi dasar perwujudan sesuatu.

  1. Dualisme

Dualisme merupakan pandangan yang menjelaskan bahwa hakikat itu ada dua sebagai asal sumbernya yakni hakikat ruhani dan materi. Jika paham sebelumnya menjelaskan bahwa tidak ada hakikat yang bebas dan berdiri sendiri maka menurut aliran ini, ruh maupun materi keduanya merupakan hakikat. Masing-masing bebas dan berdiri sendiri yang kemudian menciptakan hubungan untuk kehidupan alam ini. Contoh yang paling jelas tentang adanya kerja sama kedua hakikat ini adalah dalam diri manusia.

Tokoh yang menganut paham ini adalah Decratesn (1569-1650 M) yang dianggap sebagai bapak filsafat modern. Ia menamakan kedua hakikat tersebut sebagai dunia kesadaran (ruhani) dan dunia ruang (kebendaan).

 

 

  1. Pluralisme

Paham ini memiliki pandangan bahwa segala macam bentuk perubahan adalah kenyataan. Dalam Dictionaryof Philosophy and Religion pluralisme diartikan sebagai paham yang menyatakan bahwa kenyataan alam ini tersusun oleh ‘banyak unsur, melebihi satu atau dua entitas. Tokoh modern dalam aliran ini adalah William James (1842-1910 M). Dalam bukunya The Meaning of Truth, ia mengemukakan bahwa tiada kebenaran yang mutlak, yang berlaku umum, yang bersifat tetap, yang berdiri sendiri, lepas dari akal. Sebab pengalaman akan terus berjalan dan segala hal yang dianggap sebagai kebenaran akan senantiasa berubah karena apa yang dianggap benar diwaktu sekarang akan dikoreksi oleh pengalaman berikutnya. Aliran ini beranggapan dunia bukanlah suatu universum melainkan suatu multiversum yakni dunia yang memiliki banyak hal yang beraneka ragam.

  1. Nihilisme

Kata nihilisme berasal dari Bahasa Latin yang berarti nothing atau tidak ada. Paham ini memberikan tiga proposisi tentang realitas. Pertama, tidak ada sesuatu yang eksis. Maksudnya, aliran ini memiliki pandangan bahwa realitas sebenarnya tidak ada. Kedua, bila sesuatu itu ada, ia tidak dapat diketahui. Paham ini berpendapat penginderaan hanyalah sumber ilusi. Akal juga tidak mampu meyakinkan bahkan meneliti apa bahan dari alam semesta ini karena adanya dilema subyektif. Ketiga, sekalipun realita dapat diketahui, kita tidak dapat memberitahukan kepada orang lain.

  1. Agnostisisme

Kata agnostisisme berasal dari bahasa Grik Agnostos yang berarti unknown. A berarti not, Gno berarti know. Paham ini menentang kesanggupan manusia untuk mengetahuai hakikat benda. Baik hakikat materi maupun hakikat ruhani.

Aliran ini muncul dikarenakan manusia yang belum dapat mengenal dan mampu menjelaskan secara konkret akan adanya kenyataan. Aliran ini dengan tegas menyangkal adanya suatu kenyataan mutlak yang bersifat trancendent. Aliran ini mirip dengan skeptisisme yang berpendapat bahwa manusia diragukan kemampuannya mengetahui hakikat.

Dalam pengkajian mengenai ontologi, muncul metode yang mengenalkan tiga tingkatan abstraksi ontologi, yaitu abstraksi fisik, abstraksi bentuk dan abstraksi metaphisik. Abstraksi fisik menampilkan keseluruhan sifat khas suatu objek,sedangkan abstraksi bentuk mendeskripsikan sifat umum yang menjadi ciri segala sesuatu yang sejenis. Abstraksi metaphisik mengetengahkan prinsip umum yang menjadi dasar dari semua realitas. Abstraksi yang dijangkau ontologi adalah abstraksi metaphisik.Di dalam ontologi keilmuan, juga terdapat aspek-aspek ontologi antara lain:

  1. Metodis (menggunakan cara ilmiah).
  2. Sistematis (saling berkaitan satu sama lain secara teratur).
  3. Koheren (unsur‐unsurnya tidak boleh mengandung uraian yang  bertentangan).
  4. Rasional (berdasar pada kaidah berpikir yang benar/logis).
  5. Komprehensif (melihat objek tidak hanya dari sudut pandang tapi multidimensional/holistik (keseluruhan)).
  6. Radikal (diuraikan sampai akar persoalannya).
  7. Universal (muatan kebenarannya sampai tingkat umum yang berlaku dimana saja) .
  8. Epistimologi

Epistimologi atau teori pengetahuan adalah cabang filsafat yang membahas tentang hakikat dan lingkup pengetahuan, pandangan-pandangan, dan dasar-dasar serta pertanggungjawaban atas pernyataan mengenai pengetahuan yang dimiliki. Dengan kata lain, epistimologi filsafat memfokuskan pembicaraan pada tiga hal yakni objek filsafat (sesuatu yang difikirkan), cara memperoleh pengetahuan filsafat, dan ukuran kebenaran (pengetahuan filsafat).

Istilah epistimologi berasal dari kata “epistime” dan “logos”. Episteme berarti pengetahuan dan logos berarti teori. Dalam bahasa inggris epistimologi dimaknai sebagai “theory of knowlage”. Jelasnya, epistemologi mengkaji tata cara, teknik, prosedur mendapatkan ilmu dan keilmuanserta indikator apapun yang menunjukkan suatu kebenaran ilmiah.

  • Cara memperoleh pengetahuan:

Pada awalnya, manusia percaya bahwa dengan kekuatan pengenalannya ia dapat mencapai realitas sebagaimana adanya. Namun pada abad ke-5 SM muncul keraguan terhadap kemampuan manusia mengetahui realitas. Mereka adalah kaun shopis. Mereka bertanya seberapa jauh pengetahuan manusia mengenai kodrat benar-benar merupakan kenyataan obyektif dan apakah manusia mempunyai pengetahuan mengenai kodrat sebagaimana adanya. Sikap skeptis inilah yang mengawali munculnya epistimologi. Descartes menyimpulkan bahwa persoalan dasar dalam filsafat bukan bagaimana kita tahu, melainkan mengapa kita dapat membuat kekeliruan. Sehingga salah satu cara untu menentukan sesuatu yang pasti dan tidak dapat diragukan adalah dengan melihat seberapa jauh hal itu dapat diragukan.

Seorang filsuf harus memikirkan serta mempertanggungjawabkan cara mereka memperoleh pengetahuan. Berfilsafat ialah berpikir. Objeknya merupakan sebuah pemikiran dan hasilnya pun pasti berupa pemikiran. Berpikir tentulah menggunakan akal. Sempat terjadi perdebatan diantara para filsuf tentang apa itu akal. Namun Locke memberikan titik tengah di ambang runtuhnya filsafat. Locke menerangkan bahwa akal itu ada namun manusia tidak bisa melihatnya. Ia bekerja berdasarkan suatu cara yang tidak dimengerti oleh manusia. Aturan kerjanya disebut logika. Logika digunakan untuk berfikir secara mendalam yang kemudian dari berpikir dapat dihasilkan filsafat. Kapan pengetahuan seseorang dikatakan mendalam? Dikatakan mendalam ketika ia sudah berhenti sampai pada tanda tanya. Dia tidak dapat maju lagi, di situlah orang berhenti, dan ia telah mengetahui sesuatu itu secara mendalam. Pengetahuan yang diperoleh melalui akal, indera memiliki metode tersendiri dalam memperoleh pengetahuan, di antaranya:

  1. Metode Induktif

Induksi merupakan suatu metode yang menyimpulkan pernyataan-pernyataan hasil observasi yang kemudian disimpulkan dalam suatu pernyataan yang lebih umum. Suatu inferensi bisa disebut induktif apabila bertolak dari pernyataan-pernyataan tunggal, misalnya seperti gambaran hasil pengamatan dan penelitian orang sampai pada pernyataan-pernyataan universal. Induksi memeberikan pengetahuan yang disebut juga dengan pengetahuan sintetik.

  1. Metode Deduktif

Deduksi adalah suatu metode yang menyimpulkan bahwa data-data empirik diolah lebih lanjut dalam suatu sistem pernyataan yang runtut. Beberapa hal yang harus ada dalam metode deduktif yakni adanya perbandingan logis antara kesimpulan-kesimpulan itu sendiri.

  1. Metode Positivisme

Metode ini pertama kali diperkenalkan oleh August Comte (1798-1857). Metode positivisme berpacu pada apa yang telah diketahui berupa suatu fakta yang posiif. Metode ini hanya melihat apa yang tampak dan segala gejala. Dengan begitu, ilmu pengetahuan filsafat dibatasi pada gejala saja

  1. Metode Kontemplatif

Metode ini mengajarkan adanya keterbatasan indera dan akal manusia untuk memperoleh dan mencapai ilmu pengetahuan. objek yang dihasilkan dikembangakan oleh suatu kemampuan akal yang disebut dengan intuisi. Namun pengetahuan yang diperoleh melalui intuisi hanya bersifat individual dan tidak dapat dikomersilkan. Contohnya adalah pengetahuan yang disinergikan datangnya dari sang Pencipta merupakan pengetahuan yang paling benar.

  1. Metode Dialektis

Metode dialektika mula-mula berarti metode tanya jawab untuk mencapai kemurnian filsafat. Metode ini diterapkan oleh Socrates. Sedangkan Plato juga berpendapat bahwa metode dialektis merupakan diskusi logika. Sehingga metode ini bisa diartikan sebagai tahap logika yang mengajarkan kaidah-kaidah dan metode-metode penuturan, serta analisis sistematik tentang ide-ide untuk mencapai apa yang terkandung di dalamnya.Dalam kehidupan bermasyarakat, dialektika merupakan bentuk pemikiran berupa percakapan yang dilakukan oleh dua orang atau lebih.

 

 

  1. Aksiologi

Aksiologi berasal dari kata axios yakni bahasa Yunani yang berarti nilai, dan logos yang berarti teori. Aksiologi bisa diartikan sebagai filsafat nilai. Filsafat nilai merupakan kajian yang mengedepankan jawaban atas pertanyaan, untuk apa pengetahuan dicari, mengapa harus mengamalkan pengetahuan, serta apa manfaatnya bagi kehidupan. Jadi dapat disimpulkan bahwa aksiologi merupakan cabang filsafat yang mempelajari nilai atau manfaat dari ilmu pengetahuan secara umum bagi kehidupan manusia. Kita mempertanyakan dimensi manfaat dari penggunaan ilmu pengetahuan itu bagi manusia dan tatanan sosial kita. Yang dengan kata lain, ilmu pengetahuan harus berguna bagi kehidupam dan kebaikan alam semesta.

Menurut Bramel, aksiologi terbagi dalam tiga bagian. Pertama, moral conduct (tindakan moral) yang melahirkan disiplin khusus yakni etika. Kedua, esthetic expression (ekspresi keindahan). Bidang tersebut melahirlan keindahan/estetika. Ketiga, adalah sisio-political life yaitu kehidupak sosio-politik yang melahirkan filsafat sosio politik.

Sedangkan dalam Encyclopedia of Philosophy dijelaskan bahwa aksiologi disamakan dengan Value and Valuation.ada tiga bentuk Value and Valuation sebagai berikut:

  1. Nilai digunakan sebagai kata benda abstrak.

Dalam pengertian sempitnya nilai berarti sebuah pernyataan yang diberikan kepada suatu benda misalkan saja menarik, baik, dan bagus. Sedangkan dalam pengertian luas, nilai merupakan kata benda asli untuk seluruh macam kritik atau predikat pro dan kontra. Nilai berbeda dengan fakta. Teori nilai atau aksiologi adalah bagian dari etika.

  1. Nilai sebagai kata benda konkret.

Maksudnya adalah nilai seringkali dipakai untuk merujuk kepada sesuatu yang bernilai, seperti nilainya nilai dia, dan sistem nilai dia.

  1. Nilai sebagai kata kerja dari ekspresi menilai, memberi nilai, dan dinilai.

Ini mengacu pada pembahasan etika dan estetika. Etika menilai perbuatan manusia, sehingga objek-objek formal dari etika adalah norma-norma kesusilaan manusia, tingkah laku manusia dari segi baik maupun tidak baik dalam kondisi normatif.

Nilai bisa berlaku subjektif dan objektif. Nilai akan menjadi subjektif apabila subjek sangat berperan dalam segala hal. Kesadaran manusia menjadi tolok ukur segalanya, atau eksistensinya, maknanya, dan validitasnya tergantung pada reaksi subjek yang melakukan penilaian. Sebaliknya, nilai akan menjadi objektif apabila ia tidak bergantung pada subjek atau kesadaran yang menilai.

 

 

  • Kegunaan pengetahuan filsafat

Untuk mengetahui kegunaan filsafat, kita dapat memulainya dengan melihat filsfat dalam tiga hal yakni filsafat sebagai kumpulan teori, filsafat sebagai metode pemecahan masalah, dan filsafat sebagai pandangan hidup atau philosophy of life.

Ada berbagai macam teori dalam filsafat. Pada prinsipnya, teori filsafat sangatlah penting karena dunia dibentuk dari teori-teori tersebut. Sebagai contoh sederhana, ketika anda tidak suka dengan Marxisme, maka anda perlu mengetahui teori Komunisme. Jika anda tidak suka dengan ajaran Syi’ah, maka anda hendak mengetahui filsafat Mulla Shadra. Pada intinya, ketika ingin membentuk dunia besar ataupun dunia kecil, kita tidak dapat lepas dari teori-teori filsafat. Teori filsafat juga diperlukan bagi seorang guru/dosen di bidang filsafat

Kegunaan filsafat yang paling mendominasi adalah filsafat sebagai methodology yakni sebagai cara atau pemecahan dari permasalahan yang dihadapi. Disini, filsafat digunakan sebagai suatu cara atau metode pemecahan masalah secara universal, mendalam dan spekulatif. Dengan kata lain, filsafat menelaah masalah secara mendalam dengan mencari sebab terakhir dari sudut pandang yang seluas-luasnya.

  1. Kesimpulan

Ilmu merupakan sekumpulan pengetahuan yang sistematis diuji secara empiris dan disusun menggunakan metode tertentu dimana ilmu juga digunakan sebagai kunci untuk mengungkapkan segala hal. Dipandang dari sudut filsafat, ilmu terbentuk karena manusia berpikir lebih jauh mengenai pengetahuan yang dimilikinya. Ilmu pengetahuan mengubah kehidupan manusia. Tidak dapat dipungkiri bahwa ilmu pengetahuan mempermudah segala aspek kebutuhan manusia. Betapa berharganya ilmu pengetahuan, sehingga di dalam agama islam pun juga ada dalih yang mewajibkan manusia untuk menggali ilmu pengetahuan.

Kedudukan filsafat adalah sebagai akar dari ilmu pengetahuan yang melahirkan cabang-cabang ilmu pengetahuan. Kelahiran ilmu tidak akan pernah lepas dari filsafat, dan perkembangan ilmu pengetahuan memperjelas eksistensi filsafat. Melalui tiga dasar-dasar keilmuan, filsafat dijadikan pedoman bagi kehidupan manusia (philosophy of life). Tiga dasar-dasar ilmu tersebut tidak lain adalah Ontologi, Epistimologi, dan Aksiologi. Ontologi mengajarkan tentang hakikat pengetahuan, epistimologi membicarakan tentang cara dan aksiologi merenungkan kembali apa manfaat dari ilmu pengetahuan. Dengan begitu, segala pengetahuan yang diperoleh tidak sebatas pada “mengetahui” saja namun dapat diketahui manfaatnya bagi kehidupan alam semesta dan kehidupan manusia.

 

 

 

  1. DAFTAR PUSTAKA

http://kamusbahaindonesia. ”Definisi Ilmu”.

http://xb4mz.wordpress. 2011. “Definisi dan Karakteristik Ilmu”. 27 April.

http://akhmadsudrajat.wordpress. 2008. “Hakikat Ilmu. 7 Juli.

http://anii88.blogspot.com. 2011. “Ontologi dalam Filsafat Ilmu”. November.

http://historia-rockgill.blogspot. 2011. “Definisi Aksiologi dan Ontologi”.Desember.

Saebani, Beni Ahmad. 2009. Filsafat Ilmu Komtemplasi Filosofis Tentang Seluk Beluk Sumber dan Tujuan Ilmu Pengetahuan. Bandung: Pustaka Setia.

Fios, Frederikus. 2013. Filsafat Ilmu dan Logika. Jakarta:Penerbit Salemba Humanika.

Tafsir, Ahmad. 2010. Filsafat Ilmu Mengurai Ontologi, Epistimologi, dan Aksiologi Pengetahuan. Jakarta: PT Remaja Rosdakarya.

Backhtiar, Amal. 2010. Filsafat Ilmu. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada.

Afidburhanuddin.wordpress.com. “Dasar-dasar Ilmu”.

 

__________

*) Dina Indriani, penulis adalah mahasiswa STKIP PGRI Pacitan Program Studi Pendidikan Bahasa Inggris kelas A. Makalah disusun guna memenuhi sebagian tugas individu pada mata kuliah Filsafat Ilmu tahun akademik 2013/2014 dengan dosen pengampu Afid Burhanuddin, M.Pd.

 

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s