Sejarah Perkembangan Ilmu Pada Masa Yunani Kuno

Dalam istilah bahasa inggris philosophy yang berarti filsafat, dan juga berasal dari kata Yunani yaitu philosophia yang berarti cinta kearifan. Menurut pengertianya dari zaman Yunani Kuno berarti filsafat itu cinta kearifan. Perkembangan ilmu dari masa kemasa semakin hari semakin maju. Salah satunya adalah filsafat ilmu yang ikut berkembang. Zaman dahulu keilmuan sudah memiliki posisi, serta peranan yang penting dalam kehidupan manusia dan peradabanya. Keilmuan pun juga mempunyai sejarah yang panjang dan tidak instan dalam proses pembentukanya. Kelahiran dan perkembangan filsafat pada awal kemunculanya tidak dapat dipisahkan dengan perkembangan ilmu pengetahuan yang kemunculanya pada awal masa Yunani Kuno.

Dalam sejarahnya filsafat yunani dianggap sebagai induk dari filsafat barat, karena dunia barat (Eropa Barat) pemikiranya mengacu pada yunani. Dalam masa itu ada keterangan tentang terjadinya alam semesta dan makhluk hidup didalamnya, akan tetapi keterangan ini berdasarkan kepercayaan ataupun mitos-mitos yang memang menjadi kepercayaan bangsa yunani pada masa itu. Para ahli pun merasa kurang yakin dan puas, sehingga mereka melakukan penelitihan-penelitihan untuk mencari kebenaranya.

     Dijelaskan juga tokoh-tokoh yang hidup pada masa yunani kuno yang berjaya dengan hasil pemikiranya yaitu:

1. Thales

Thales lahir di Militus pada tahun (625-546 SM) dia diberi gelar sebagai bapak filsafat, karena dia adalah orang yang mula-mula berfilsafat. Gelar ini diberikan kepada Thales, karena dia mengajukan pertanyaan tentang “Apa sebenarnya bahan alam semesta ini?”(Mayer, 1950:18), padahal pertanyaan ini amatlah mendasar, dari pertanyaan ini saja dia bisa mengangkat namanya menjadi filosofi pertama. Thales adalah sebagai salah satu dari tujuh orang yang bijaksana (Seven Wise Men Of Greece). Salah satu jasanya yang besar adalah meramal gerhana matahari pada tahun (585 SM).

Hasil pemikiran Thales yang terkenal adalah berpendapat bahwa dasar pertama atau intisari alam ialah air. Thales mengembangkan filsafat alam, kosmologi yang mempertanyakan asal mula, sifat dasar, dan struktur komposisi dari alam semesta ini. Sebagai ilmuan pada masa itu dia mempelajari magnetisme dan listrik yang merupakan pokok soal fisika. Juga mengembangkan astronomi dan matematika dengan mengemukakan pendapat, bahwa bulan bersinar karena memantulkan cahaya matahari. Thales (624-545 SM) dari Melitas adalah filsuf pertama sebelum masa socrates. Menurut zat utama yang menjadi dasar segala materi adalah air. Pada masa ini dia menjadi filusuf yang mempertanyakan isi dasar alam.

Thales bisa terkenal karena menyumbangkan apa yang disebut dengan teorema thales yang berisi sebagai berikut:

a). Sebuah lingkaran terbagi menjadi dua sama besar oleh diameternya.

b). Sudut bagian dasar dari sebuah segitiga sama kaki adalah sama besar.

c). Jika ada dua garis lurus bersilang, maka besar kedua sudut yang saling berlawananan akan sama.

d). Sudut yang terdapat didalam setengah lingkaran adalah sudut siki-siku.

e). Sebuah segitiga terbentuk bila bagian dasarnya serta sudut-sudut yang  bersinggungan dengan bagian dasar tersebut telah ditentukan.

2. Pythagoras

Pythagoras (582 SM-498 SM), dia dilahirkan dipulau Samos, Lonia adalah seorang filusuf yang juga seorang ahli ukur namun terkenal dengan hasil penemuanya yaitu tentang ilmu ukur dan aritmatik. Beliau juga dikenal sebagai “Bapak Bilangan” dan salah satu peningalan pythagoras yang terkenal adalah “teorema pythgoras”. Selain itu dalam ilmu dan aritmatika dia berhasil menyumbang teori tentang bilangan, pembentukan benda, dan menemukan antara nada dengan panjang dawai.

3. Anaximender (610-546 SM)

Anaximender adalah filosof yang nampaknya campuran antara ahli astrologi, geologi, matematika, fisika, dan filosof seperti Thales. Anaximender berpendapat bahwa benda pembentuk dunia yang asli adalah apairon, suatu subtasi yang tidak memiliki batas atau definisi. Dia menjelaskan apeiron sebagai sesuatu yang mengelilingi segala sesuatu secara tak terbatas dan juga sebagai suatu makhluk dimana langit dan dunia yang didalamnya berwujud bumi, udara, api, dan air, bagaimanapun juga digerakan oleh subtasi yang tak terbatas. Anaximander percaya bahwa bentuk bumi bulat silinder, kedalamanya sepertiga dari lebarnya, sehingga bumi seperti drum menurutnya. Dia juga berpendapat bahwa makhluk yang pertama hidup dilahirkan dalam kelembaban yang melekat pada kulit kayu yang berduri dan kemungkinan mengalami kehidupan organik.

4. Heraclitus (544-484 SM)

Heraclitus menyatakan “you can not step twice into the same river for the fresh waters are ever flowing upon you” (engkau tidak dapat terjun kesungai yang sama dua kali, karena air sungai itu mengalir). (Warner. 1961: 26). Menurut Heraclitus alam semesta ini selalu dalam keadaan berubah, menjadi panas begitupun sebaliknya.

5. Parmanides (501-492 SM)

Parmanides mempunyai sebuah metode atau sistem yang secara keseluruhan didasarkan pada deduksi logis, misalnya tidak seperti Herclitus yang menggunakan metode intuisi. Dalam “The Way Of Turth”, parmanides bertanya: apa standar kebenaran dan apa ukuran realitas? Bagaimana hal itu dapat dipahami? Dia sendiri menjawab: ukuranya ialah logika dan konsisten. Parmanides mengakui adanya pengetahuan yang tidak tetap dan berubah-ubah serta pengetahuan mengenai yang tetap yaitu pengetahuan indra dan budi. Menurut Parmanides pengetahuan budi itu sangat utama, karena dia berangapan bahwa pengetahuan indra diangapanya keliru belaka, tidak mampu mencapai kebenaran.

6. Zero

Zero berpendapat bahwa realitas adalah satu, tidak berubah dan tidak bergerak, dan realitas dipahami benar oleh nalar bukan indra. Ia berusaha menunjukan bahwa gerak hanya khayal belaka. Penalaran yang paling terkenal dalam hal ini menyatakan bahwa, Achilles tak akan pernah mengejak kura-kura semula.

7. Socrates

Socrates menggunakan metode yang bersifat praktis. Metode yang digunakan socrates disebut Dialektika dari kata kerja Yunani “dialegethai” yaitu melalui percakapan-percakapan yang menganalisis pendapat-pendapat tentang salah dan tidak salah, adil dan tidak adil, berani dan pengecut, dll.

8. Aristoteles

Aristoteles berfikir akan perubahan yang radikal. Menurut Aristoteles realitas tertinggi adalah yang kita lihat dengan indra mata. Aristoteles tidak menyangkal bahwa manusia memiliki akal yang sifatnya bawaan, dan bukan sekedar akal yang masuk dalam kesadaranya oleh pendengaranya, dan penglihatanya. Namun justru akal itulah yang merupakan ciri khas yang dapat membedakan manusia dengan makhluk-makhluk yang lain.

SEJARAH PERKEMBANAGAN ILMU PADA MASA YUNANI

     Pada zaman Yunani Kuno merupakan awal kebangkitan filsafat secara umum, karena menjawab persoalan-persoalan disekitarnya dan meningalkan kepercayaan terhadap metologi atau tahayul yang irrasional. Secara historis kelahiran dan perkembangan pemikiran Yunani Kuno (sistem berfikir) tidak dapat dilepaskan dari keberadaan, kelahiran, dan perkembangan filsafat. Dalam hal ini ada tiga tradisi besar mangenai sejarah filsafat yaitu:

1. Sejarah filsafat India (sekitar 2000 SM – dewasa ini)

2. Sejarah filsafat Cina (sekitar 600 SM – dewasa ini)

3. Sejarah filsafat Barat (sekitar 600 SM – dewasa ini)

Bangsa Yunani mulai mempergunakan akal ketika mempertanyakan mitos yang mulai berkembang dimasyarakat sekitar abad VI SM. Perkembangan pemikiran ini menandai bahwa suatu usaha pemikiran manusia untuk mempergunakan akal dalam memahami segala sesuatu secara mendalam tentang realitas atau alam yang ada. Filsafat Yunani muncul dari pengaruh mitologi, mistisisme, matematika, persepsi yang kental sehingga segalanya nyaris tidak jelas dan seakan mengacaukan pandangan dunia.

Pemahaman filsafat tidak dapat dilepaskan dari perjalanan panjang sejarah pemikiran manusia itu sendiri. Bagaimanapun pemikiran manusia pada awalnya masih diliputi pada corak berfikir mitilogis yang diwarnai dengan pertimbangan-pertimbangan magis dan animistik terkait dengan corak kehidupanya sehari-hari. Selanjutnya manusia dapat berfikir yang rasional dengan disertai argumentasi yang sistematis dan logis.

Perkembangan ilmu hingga seperti yang sekarang ini tidak berlangsung secara mendadak, melainkan melalui proses bertahap dan evolutif. Kerena untuk memahami sejarah perkembangan ilmu dan harus melakukan pembagian atau klasifikasi secara periodik. Dalam setiap periode sejarah perkembangan ilmu manampilkan ciri khas tertentu. Perkembangan pemikiran secara teoritis senantiasa bisa mengacu terhadap perkembangan Yunani. Periodisasi perkembangan ilmu dimulai dari peradapan Yunani dan diakhiri zaman konteporer.

Peradapan Yunani kuno sangatlah berpengaruh pada bahasa, politik, sistem pendidikan, filsafat ilmu, dan seni bisa mendorong renaisans di Eropa Barat dan bangkit kembali pada masa kebangkitan Neo-Klasik pada abad ke-18 dan ke-19 di Eropa dan Amerika.

SEJARAH SINGKAT FILSAFAT YUNANI

Masyarakat Yunani yang hidup pada abad ke6 SM mempunyai kepercayaan yang bersumber dari mitos ataupun cerita-cerita kuno, sehingga pemikiran secara logis tidak berlaku pada masa itu, yang berlaku hanya kebenaran yang bersumber dari mitos saja. Setelah abad ke 6 SM muncul para ahli dan pemikir menentang adanya kepercayaan terhadap mitos-mitos. Mereka menuntut adanya pemecahan misteri mengenai sejarah perkembangan, semesta ini dan jawabanya dapat diterima oleh akal. Keadaan ini berkembang dan mulai beralih dari gaya pemikiran atau mitos-mitos. Dengan pemunculan faham atau pemikiran para ahli tersebut maka banyak orang-orang yang bermunculan yang mencoba membuat konsep-konsep yang berdasarkan akal pikiran yang rasional. Dengan keadaan tersebut munculah peristiwa ajaib The Greek miracle yang artinya dapat dijadikan landasan perdapan landasan dunia.

Periode yunani kuno ini lazim disebut periode filsafat alam, karena pada masa ini lahir beberapa pemikir ilmu serta hasil pemikiranya yang sudah disebutkan diatas tadi menjadi acuan bangsa- bangsa lain. Dimana arah dan perhatian pemikiranya kepada apa yang diamati disekitarnya. Mereka membuat pertanyaan-pertanyaan tentang gejala alam yang bersifat filsafati (berdasarkan akal pikir), dan tidak berdasarkan akan mitos.

PENUTUP

Keahlian pemikiran tentang filsafat diawali pada abad ke-6 sebelum Masehi yang diawali tentang runtuhnya mitos-mitos dan dongeng-dongeng yang selama ini menjadi dasar dari konsep pemikiran bangsa Yunani Kuno. Orang Yunani yang hidup pada ke 6 SM mempunyai kepercayaan bahwa segala hal bersumber dari mitos-mitos dan dongeng-dongeng. Dalam sejarah filsafat biasanya filsafat Yunani dimajukan sebagai pangkal sejarah filsafat barat, karena dunia barat dalam pikiranya berpangkal pada pemikiran Yunani.

Orang Yunani awalnya sangat percaya pada dongeng-dongeng, mitos, maupun tahayul, tetapi lama kelamaan mereka mampu keluar dari pengaruh metologi dan mendapatkan dasar pengetahuan ilmiah. Pada perkembanganya telah banyak bermunculan tokoh-tokoh filasafat yang mencoba untuk melakukan pembuktian-pembuktian tentang gejala alam yang berdasarkan logika bukan berdasarkan mitos-mitos, legenda-legenda, maupun tahayul.

DAFTAR PUSTAKA

Poedjawijatna, Prof.I.R Pembimbing ke Arah Alam Filsafat, Jakarta: Rineka Cipta, 1997,

Tim penyusun MKD IAIN Sunan Ampel Surabaya. Pengantar Filsafat, Surabaya IAIN SA Press.2011

Collinson, Diane. Lima Puluh Filosof Dunia yang Menggerakan Jakarta: PT Rajagravindo Persada, 2001,

Delfgaauw Bernard. Sejarah Ringkas Filsafat Barat Yogyakarta: PT Tiara Wacana Yogya, 1992,

___________

*)         EKO AGUS HARI ANTO, Penulis adalah mahasiswa STKIP PGRI Pacitan Program Studi Pendidikan Bahasa Inggris kelas A. Makalah ini disusun guna memenuhi sebagian tugas individu pada mata kuliah Filsafat Ilmu tahun akademik 2014/2015     dengan dosen pengampu, Afid Burhanudin, M.Pd.

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s