Sejarah Perkembangan Ilmu Pada Masa Yunani Kuno

Perkembangan ilmu hingga seperti sekarang ini tidak berlangsung secara mendadak, melainkan melalui proses bertahap, dan evolutif. Karena itu, untuk memahami sejarah perkembangan ilmu harus melakukan pembagian atau klasifikasi secara periodik. Dalam setiap periode sejarah pekembangan ilmu menampilkan ciri khas tertentu. Perkembangan pemikiran secara teoritis senantiasa mengacu kepada peradaban Yunani. Periodisasi perkembangan ilmu dimulai dari peradaban Yunani dan diakhiri pada zaman kontemporer.

Seringkali masalah filsafat hanya dapat dipahami jika melihat kembali tentang perkembangan sejarahnya. Ahli-ahli besar seperti Aristoteles, Thales, Plato pun hanya dapat dimengerti dari aliran-aliran yang ada sebelum mereka. Aliran yang satu biasanya merupakan reaksi dari aliran lain. Filsafat dan Ilmu yang dikenal di dunia Barat Dewasa ini berasal dari zaman Yunani.

Pemahaman filsafat tidak dapat dilepaskan dari perjalanan panjang sejarah pemikiran manusia itu sendiri.Sebagiman pemikiran manusia pada awalnya masih diliputi dengan corak berpikir mitilogis yang diwarnai dengan pertimbangan-pertimbangan magis dan animistik terkait dengan corak kehidupannya sehari-hari. Dalam perkembangan selanjutnya manusia mulai berpikir lebih rasional dengan disertai argumentasi yang sistematis dan logis. Dari perkembangan pemikiran inilah muncul beberapa pemikiran filosofis pada masa Yunani kuno antara lain Parmanides, Xenophanes, Thales, Aristoteles, Herklitus dan Pythagoras. Dari sinilah sejarah filsafat mulai muncul.

2.1 SEJARAH SINGKAT YUNANI KUNO

Untuk mengetahui filsafat Yunani, perlu dijelaskan terlebih dahulu asal kata filsafat. Sekitar abad IX SM atau paling tidak tahun 700 SM di Yunani, Sophia diberi arti kebijaksanaan; sophiajuga berarti kecakapan. Kata philosophos mula-mula dikemukakan dan dipergunakan oleh Heraklitos (540-480 SM), sementara ada yang mengatakan bahwa kata tersebut mula-mula dipakai oleh Pythagoras (580-500 SM). Namun pendapat yang lebih tepat adalah pendapat yang mengatakan bahwa Heraklitos-lah yang menggunakan istilah tersebut.

Menurutnya,philosophos (ahli filsafat) harus mempunyai pengetahuan luas sebagai pengejawantahan daripada kecintaannya akan kebenaran dan mulai benar-benar jelas digunakan pada kaum sofis dan sokrates yang memberi arti philosophein sebagai penguasaan secara sistematis terhadap pengetahuan teoritis. Philosophia adalah hasil dari perbuatan yang disebut philosophein, sedangkan philosophos adalah orang yang melakukan philosophein. Dari kata Philosophia inilah akhirnya timbul kata-kata philosophie(Belanda, Jerman, Perancis), philosophy(Inggris), dan dalam bahasa Indonesia disebut filsafat atau falsafat.

Zaman ini berlangsung dari abad 6 M sampai dengan sekitar abad 6 M. Zaman ini

menggunakan sikap ‘’aninquiring attitude(suatu sikap yang senang menyelidiki sesuatu

secara kritis)’’, dan tidak menerima pengalaman yang didasarkan pada sikap ‘’receptve

attitude mind(sikap menerima segitu saja)’’. Sehingga pada zaman ini filsafat tumbuh

dengan subur. Yunani mencapai puncak kejayaannya atau zaman keemasannya (zaman

Hellenisme) di bawah pimpinan Iskandar Agung(356-323 SM) dari Macedonia, yang

merupakan salah seorang murid Aristoteles.

 

Pada abad ke-0 M, perkembangan ilmu mulai mendapat hambatan. Hal ini disebabkan oleh lahirnya Kristen. Pada abad pertama sampai abad ke- 2 M mulai ada pembagian wilayah perkembangan ilmu. Wilayah pertama berpusat di Athena, yang difokuskan dibidang kemampuan intelektual. Sedangkan wilayah kedua berpusat di Alexandria, yang fukos pada bidang empiris.

 

Setelah Alexandria di kuasai oleh Roma yang tertarik dengan hal-hal abstrak, pada abad ke- 4dan ke- 5 M ilmu pengetahuan pegetahuan benar-benar beku. Hal ini di sebabkan oleh tiga pokok penting :

 

1). Penguasa Roma yang menekan kebebasan berfikir.

2). Ajaran Kristen tidak disangkal.

3). Kerjasama gereja dan penguasa sebagai otoritas kebenaran.

 

Walaupun begitu, pada abad ke-2 M sempat ada Galen (bidang kedokteran) dan tokoh

aljabar, Poppus dan Diopanthus yang berperan dalam perkembangan pengetahuan.

Masyarakat Yunani yang hidup pada abad ke-6 SM mempunyai sistem kepercayaan yang bersumber dari mitos ataupun cerita cerita kuno. Sehingga pemikiran secara logis tidak berlaku pada masa itu, yang berlaku hanya kebenaran yang bersumber dari mitos saja.

Setelah abad ke-6 SM muncul ahli ahli atau pemikir yang menentang adanya kepercayaan akan mitos-mitos. Mereka menuntut adanya pemecahan misteri mengenai sejarah perkembangan semesta ini dan jawabannya dapat diterima akal. Keadaan itu berkembang dan mulai beralih dari gaya pemikiran atau kepercayaan akan mitos-mitos atau mitologi. Dengan munculnya faham atau pemikiran para ahli tersebut, kemudian banyak bermunculan orang-orang yang mencoba untuk membuat konsep konsep yang berdasarkan akal pikiran yang rasional. Maka denag adanya keadaan tersebut munculah peristiwa ajaib The Greek Miracleyang artinya dapat dijadikan sebagai landasan peradaban dunia.

Periode yunani kuno ini lazim disebut periode filsafat alam. Karena dimasa itu lahir beberapa pemikir ilmu serta hasil pemikirannya yang menjadi acuan bangsa bangsa lain. dimana arah dan perhatian pemikirannya kepada apa yang diamati sekitarnya.mereka membuat pertanyaan-pertanyaan tentang gejala alam yang bersifat filsafati (berdasarkan akal pikir) dan tidak berdasarkan pada mitos.

Peradaban Yunani Kuno sangat berpengaruh pada bahasa, politik, sistem pendidikan, filsafat, ilmu, dan seni, mendorong Renaisans di Eropa Barat, dan bangkit kembali pada masa kebangkitan Neo-Klasik pada abad ke-18 dan ke-19 di Eropa dan Amerika.

 

2.2 KARAKTERISTIK PEMIKIRAN PADA MASA YUNANI KUNO

Zaman Yunani kuno dipandang sebagai zaman keemasan filsafat, karena pada masa ini orang memiliki kebebasan mengungkapkan ide-ide atau pendapatnya. Bangsa Yunani juga tidak dapat menerima pengalaman yang didasarkan pada sikap menerima begitu saja, melainkan menumbuhkan sikap yang senang menyelidiki sesuatu secara kritis.

Selanjutnya tumbuhlah sikap kritis yang menjadikan bangsa Yunani tampil sebagai ahli pikir yang terkenal dan sikap kritis inilah yang menjadikan cikal bakal tumbuhnya ilmu pengetahuan modern yaitu sikap an inquiring (suatu sikap yang senang menyelidiki sesuatu secara kritis)

Pada zaman Yunani Kuno, ciri pemikiran yang menonjol adalah kosmosentris, yang berarti mempertanyakan asal usul alam semesta dan jagad raya sebagai salah satu upaya untuk menemukan asal mula (arche) yang merupakan unsur awal terjadinya gejala-gejala. Secara umum karakteristik filsafat Yunani kuno adalah rasionalisme, yaitu suatu pemahaman tentang sebuah pengetahuan yang lebih mengutamakan akal atau logika.

Pada masa Yunani Kuno pemikiran para filosof masih di dominasi agama alam, yaitu pada masa Thales (640-545 SM), yang menyatakan bahwa esensi segala sesuatu adalah air, belum murni bersifat rasional. Argumen Thales masih dipengaruhi kepercayaan pada mitos Yunani. Demikian juga Phitagoras(572-500 SM) belum murni rasional. Ordonya yang mengharamkan makan biji kacang menunjukkan bahwa ia masih dipengaruhi mitos. Hal ini dapat disimpulkan bahwa mitos bangsa Yunani bukanlah agama yang berkualitas tinggi. Selain itu Sokrates meletakkan dasar bagi pendekatan deduktif. Pemikiran Sokrates dibukukan oleh Plato, muridnya. Hidup pada masa yang sama dengan mereka yang menamakan diri sebagai “sophis” (“yang bijaksana dan berapengetahuan”), Sokrates lebih berminat pada masalah manusia dan tempatnya dalam masyarakat, dan bukan pada kekuatan-kekuatan yang ada dibalik alam raya ini (para dewa-dewi mitologi Yunani). Pada masa Yunani Kuno berkembang pemikiran mengenai mencintai kebenaran/pengetahuan yang merupakan awal proses manusia mau menggunakan daya pikirnya, sehingga dia mampu membedakan mana yang riil mana yang ilusi.

Periode filsafat Yunani merupakan periode terpenting dalam sejarah peradaban manusia. Hal ini disebabkan karena pada saat itu terjadi perubahan pola pikir mitosentris yaitu pola pikir yang sangat mengandalkan mitos untuk menjelaskan fenomena alam. Pada saat itu, gempa bumi bukanlah suatu fenomena biasa melainkan suatu fenomena di mana Dewa Bumi yang sedang menggoyangkan kepalanya.

Orang Yunani awalnya sangat percaya pada dongeng-dongeng, mitos maupun takhyul, tetapi lama kelamaan mereka mampu keluar dari pengaruh mitologi dan mendapatkan dasar pengetahuan ilmiah. Karena manusia selalu berhadapan dengan alam yang begitu luas dan penuh misteri, timbul rasa ingin mengetahui rahasia alam itu, sehingga filosof alam berkembang pertama kali. Periode filsafat Yunani merupakan periode sangat penting karena terjadi perubahan pola fikir manusia dari mitosentris menjadi logosentris. Pola pikir mitosentris yaitu pola pikir masyarakat yang sangat mengandalkan mitos untuk menjelaskan fenomena alam. Zaman ini berlangsung dari abad 6 M sampai dengan sekitar abad 6 M.

2.3 TOKOH/ FILOSOF  BESERTA PEMIKIRANNYA YANG HIDUP PADA MASA YUNANI KUNO

  1. Thales (624-546 SM).

Thales lahir di Miletus pada tahun 625-546 SM. Ia diberi gelar sebagai Bapak Filsafat ,karena Ia adalah orang yang pertama berfilsafat. Gelar itu diberikan kepada Thales, karena ia mengajukan pertanyaan tentang “Apa sebenarnya bahan alam semesta ini?’ (Mayer,1950 : 18 ), padahal pertanyaan ini amatlah mendasar,dari pertanyaan ini saja ia dapat mengangkat namanya menjadi filosof pertama. Thales sebagai salah satu dari tujuh orang yang bijaksana (Seven Wise Men of Greece). Salah satu jasanya yang besar adalah meramal gerhana matahari pada tahun 585 SM.

Hasil pemikiran Thales yang terkenal adalah berpendapat bahwa dasar pertama atau intisari alam ialah air. Sebagai ilmuwan pada masa itu ia mempelajari magnetisme dan listrik yang merupakan pokok soal fisika. Juga mengembangkan astronomi dan matematika dengan mengemukakan pendapat, bahwa bulan bersinar karena memantulkan cahaya matahari.

Selain itu, Ia mengatakan bahwa asal alam adalah air karena unsur terpenting bagi setiap makhluk hidup adalah air. Air dapat berubah menjadi gas seperti uap dan benda padat seperti es, dan bumi ini juga berada di atas air. Thales juga berpendapat tentang jiwa bahwa segala sesuatu di jagat raya memiliki jiwa. Jiwa tidak hanya terdapat di dalam benda hidup tetapi juga benda mati. Teori tentang materi yang berjiwa ini disebut hylezoisme. Argumentasi Thales didasarkan pada magnet yang dikatakan memiliki jiwa karena mampu menggerakkan besi

 

  1. Pythagoras (sekitar 500 SM)

Pythagoras (582 SM–496 SM) , ia dilahirkan di pulau Samos, sebuah pulau dekat  pantai Lonia, tetapi menghabiskan  sebagian besar hidupnya di Croton (sebelah selatan Italia). Beliau juga di kenal sebagai ‘’ Bapak Bilangan’’, dan salah satu peninggalan Pythagoras yang terkenal adalah ‘’Teorema Pythagoras‘’. Selain itu, dalam ilmu ukur dan aritmatika ia berhasil menyumbang teori tentang bilangan, pembentukan benda, dan menemukan antara nada dengan panjang dawai. Selain sebagai penggagas filsafat bilangan, Pythagoras juga dikenal baik sebagai penemu hukum geometri atau teorema yang berguna untuk menentukan panjang sisi miring dalam segitiga.

 

  1. Socrates(470 SM -399 SM)

Socrates  (470 SM -399 SM) adalah filsuf dari Athena. Dalam sejarah umat manusia, Socrates merupan contoh istemewa selaku filsuf yang jujur dan berani. Socrates menciptakan metode ilmu kebidanan yang dikenal dengan ‘’Maicutika Telenhe‘’, yaitu suatu metode dialektiva untuk  melahirkan kebenaran.

Menurut Plato dan Aristoteles, ia adalah orang pertama yang memperkenalkan cara berpikir induktif dan membuat definisi universal. Cara berpikir ini kemudian dikenal sebagai metode Sokrates. Ia juga orang pertama di dunia yang mengemukakan bahwa di dalam diri manusia terdapat jiwa/ rohani. Ia menyadari bahwa jiwa jauh lebih penting daripada tubuh fisik dan jiwa tidak akan mati. Karena penemuannya inilah, banyak orang menganggapnya sebagai Bapak Psikologi Rasional.

Ia juga menemukan bahwa Tuhan hanya satu dan memiliki kekuasaan terhadap segala sesuatu. Ia menemukan hal ini melalui pemikirannya sendiri, bukan dari Al-Qur’an dan Injil.

 

  1. Democritus (460-370 SM)

Democritus lahir di kota Abdera di pesisir Thrake di Yunani Utara. Democritus dikenal sebagai “Bapak Atom” karena jasanya yang telah memperkenalkan konsep atom. Akibat dari pemikirannya itu mengenai atom maka lahirlah lima sifat yang terkandung pemikiran beliau yaitu:

  1. Konsep materialistis-monistik yaitu atom merupakan sekedar materi yang tidak didampingi apapun karena disekelilingnya hampa.
  2. Konsep dinamika perkembangan yaitusegala sesuatu selalu berada dalam keadaan bergerak sehingga berlaku prinsip dinamika.
  3. Konsep murni alamiah yaitu pergerakan atom itu bersifat intrinsik, primer, tanpa sebab, dan tidak dipengaruh oleh sesuatu diluar dirinya.

Pemikirannya yang lain ialah  realitas bukanlah satu, tetapi terdiri dari banyak unsur dan jumlahnya tak terhingga. Unsur-unsur tersebut merupakan bagian materi yang sangat tidak dapat dibagi-bagi lagi. Unsur tersebut dikatakan sebagai atom yang berasal dari satu dari yang lain karena ini tidak dijadikan dan tidak dapat dimusnahkan, tidak berubah dan tidak berkualitas.

 

 

 

  1. Aristoteles (384-322 SM)

Aristoteles lahir di Stagira, Chalcidice, Thracia, Yunani tahun 384 SM. Pada usia 17 tahun, Aristoteles menjadi murid Plato. Belakangan ia meningkat menjadi guru di Akademi Plato di Athena selama 20 tahun. Aristoteles meninggalkan akademi tersebut setelah Plato meninggal, dan menjadi guru bagi Alexander dari Makedonia,  Saat Alexander berkuasa di tahun 336 SM, ia kembali ke Athena. Dengan dukungan dan bantuan dari Alexander, ia kemudian mendirikan akademinya sendiri yang diberi nama Lyceum, yang dipimpinnya sampai tahun 323 SM.

Di bidang ilmu alam, ia merupakan orang pertama yang mengumpulkan dan mengklasifikasikan spesies-spesies biologi secara sistematis.  Karyanya ini menggambarkan kecenderungannya akan analisis kritis, dan pencarian terhadap hukum alam dan keseimbangan pada alam. Di bidang politik, Aristoteles percaya bahwa bentuk politik yang ideal adalah gabungan dari bentuk demokrasi dan monarki. Di bidang seni, Aristoteles memuat pandangannya tentang keindahan dalam buku Poetike. Aristoteles sangat menekankan empirisme untuk menekankan pengetahuan. Ia mengatakan bahwa pengetahuan dibangun atas dasar pengamatan dan penglihatan.

Tiga bidang ajaran Aristoteles yaitu sebagai berikut:

a)      Metafisika

Metafisika adalah studi tentang being as being (ada sebagai ada). Dimana yang dimaksud being ialah mencakup segala sesuatu, dan didalam ilmu pengetahuan mempelajari sesuatu hal yang memiliki karakteristik tertentu.

b)     Logika

Logika Aristoteles didasarkan atas syllogisme (susunan pikir) yang terdiri atas tiga pernyataan yaitu:

Premis mayor yaitu pernyataan pertama yang mengemukakan hal umum yang telah diakui kebenarannya,v

Premis minor yaitu pernyataan kedua yang bersifat khusus dan lebih kecil lingkupnya daripada premis mayor,v

Konklusi yaitu kesimpulan yang ditarik berdasarkan kedua premis tersebut yaitu premis mayor dan minor.v

 

 

 

c)      Biologi

Dalam bidang ini, Aristoteles melakukan observasi terhadap telur ayam sampai terbentuknya kepala ayam dan melakukan pemeriksaan anatomi badan hewan dimana yang menjadi prioritas ialah aspek observasi sebagai suatu sarana untuk membuktikan kebenaran sesuatu hal terutama dalam ilmu empiric.

 

  1. Plato   (427 SM- 347SM)

Plato lahir sekitar 427 SM dan meninggal sekitar 347 SM. Plato adalah seorang filsuf dan matematikawan Yunani, penulis Philosophical Dialogues dan pendiri dari Akademi Platonik di Athena, sekolah tingkat tinggi pertama di dunia barat.Ia adalah murid Socrates dan guru dari Aristoteles, filsuf yang pertamakali membangkitkan persoalan being(hal ada) dan mempertentangkan dengan becoming( hal menjadi). Dimana tujuannya ialah sebagai cara untuk mencari dasar kebenaran pengetahuan, dan disamping itu beliau juga disebut sebagai seorang eksponen rasionalisme dan eksponen idealisme. Pemikiran Plato pun banyak dipengaruhi oleh Socrates.

Plato adalah guru dari Aristoteles. Karyanya yang paling terkenal ialah Republik (dalam bahasa Yunani Πολιτεία atau Politeia, “negeri”) yang di dalamnya berisi uraian garis besar pandangannya pada keadaan “ideal”.Dia juga menulis ‘Hukum’ dan banyak dialog di mana Socrates adalah peserta utama. Salah satu perumpamaan Plato yang termasyhur adalah perumpaan tentang orang di gua.

 

Plato berhasil mensintesakan antara pandangan Heraklitos dan Parmenides. Menurut

Heraklitos segala sesuatu berubah, sedangkan Parmenides mengatakan sebaliknya, yaitu

segala sesuatu itu diam. Untuk mendamaikan pandangan ini Plato berpendapat bahwa

pandangan Heraklitos benar, tetapi hanya berlaku bagi alam empiris saja. Sedangkan

pendapat Parmenides juga benar, tetapi hanya berlaku bagi idea-idea bersifat abadi dan idea

inilah menjdai dasar bagi pengenalan yang sejati.

 

Plato juga sangat memperhatikan ilmu pasti sebagai peninggalan Pythagoras. Sebab ada hubungan yang erat antara kepastian, matematis, dengan kesempurnaan idea. Keterikatan

Plato pada kesempurnaan idea dan kepastian matematik menjadikannya lebih memusatkan

penelitian kepada cara berpikir (aspek metodis) dari pada apa yang dapat ditangkap oleh

indera. Oleh karena itu, Plato dapat dikatakan seorang eksponen rasionalisme manakala ia

hendak menerangkan sesuatu, namun ia juga seorang eksponen idealisme manakala menerangkan bidang nilai (aksiologis).

 

2.4 PERADABAN YUNANI KUNO

 

Peradaban Yunani Kuno dimulai periode Yunani purba pada abad ke-8 hingga abad ke-6 SM. Kemudian berlanjut hingga penaklukan Romawi atas Korintia pada 146 SM. Puncak peradaban ini ada pada masa Yunani Klasik yang mulai berkembang pada abad ke-5 hingga abad ke-4 SM.Pada masa inilah para ilmuwan masa lalu mencurahkan perhatiannya terhadap berbagai kajian ilmu pengetahuan yang menjadi dasar-dasar pengembangan dan penemuan berbagai disiplin ilmu pengetahuan masa sekarang.

 

Periode Yunani Klasik berada dibawah pimpinan negara-kota Athena, ketika mereka telah berhasil menghalau serangan kekaisaran Persia. Kekuasaan Athena berakhir karena mereka ditaklukan bangsa Sparta saat perang Peloponesia pada 401 SM. Namun bukan berarti perkembangan dan kajian ilmu pengetahuan ikut berakhir pula.Beberapa penemuan penting justru terjadi pada periode ini.

 

2.5 HASIL PERADABAN BANGSA YUNANI KUNO

 

Peradaban Yunani Kuno mewariskan peradaban tinggi untuk dunia. Hasil dari peradaban itu bahkan sampai sekarang tetap dijadikan rujukan berbagai disiplin ilmu.

Hasil peradaban Yunani Kuno yang sangat penting bagi masyarakat dunia adalah karya

sastra.Ada satu karya sastra yang sangat terkenal yaitu kitab IIIiad dan Odissesia.Kedua

kitab tersebut ditulis oleh Homerus. Kitab tersebut berisi kejadian sejarah perang Troya.

Sampai saat ini, karya sastra kuno ini menjadi rujukan penting dalam perkembangan sastra

 

 

 

Dalam bidang ilmu pengetahuan dan filsafat ,peradaban Yunani Kuno terbilang paling

banyak memberikan kontribusi bagi dunia sekarang ini. Pada masa Yunani lahir filosof dan

pemikir terkenal. Dari pemikiran- pemikiran mereka, berkembang berbagai ilmu

pengetahuan.

 

Beberapa pemikir yang terkenal dari Yunani, diantaranya adalah Socrates,

Plato, dan Aristoteles. Hingga saat ini, buah dari pemikiran-pemikiran mereka masih dikaji

oleh barbagai kalangan. Sekalipun sebenarnya dalam perjalanannya para tokoh ilmu

pengetahuan Yunani Kuno tersebut bersinggungan dengan tokoh-tokoh dari bangsa lain yang

telah lebih dahulu meletakkan dasar-dasar kajian ilmu pengetahuan. Namun merekalah yang

mengembangkan menjadi kajian yang bisa dipertanggungjawbkan secara ilmiah.

Peradaban Yunani kuno masih terus dikenang sampai sekarang. Karya dan pemikiran dari

peradaban Yunani membawa pengaruh besar bagikemajuan peradaban manusia. Bahkan, ada

yang menyebutkan bahwa peradaban Yunani merupakan awal dari peradaban manusia di

 

 

2.6 PERKEMBANGAN ILMU KOMUNIKASI DI ZAMAN YUNANI KUNO

 

Komunikasi adalah konteks arti yang berlaku sekarang ini memeng belum dikenel saat itu. Istilahnya yang berlaku pada zaman tersebut adalah “Retorika”. Disebutkan bahwa pada zaman kebudayaan mesir kuno telah ada tokoh-tokoh retorika seperti Kagemi dan Ptah-

Hotep. Namun demikian tradisi retorika sebagai upaya yang sistematis dan terorganisasi baru

dilakukan di zaman Yunani kuno dengan perintisnya Aristoteles (Golden, 1978).

Lebih lanjut Aristoteles menyatakan bahwa retorika mencangkup 3 unsur yakni:

  • Ethos (kredibilitas sumber)
  • Pathos (hal yang menyangkut emosi/perasaan), dan
  • Logos (hal yang menyangkut fakta).

 

Pokok-pokok pikiran Aristoteles dikembangkan oleh Cicero dan Quintilian mereka

menyusun aturan retorika yang menyangkut 5 unsur:

 

  • Inventio (urutan argumentasi)
  • Dispesitio (pengaturan ide)
  • Eloqutio (gaya bahasa)
  • Memoria (ingatan), serta
  • Pronunciatio (cara penyampaian pesan).

 

Perkembangan komunikasi sebagai ilmu selalu dikaitkan dengan aktifitas retorika

yang terjadi di zaman Yunani kuno, sehingga menimbulkan pemahaman bagi pemikirpemikir

barat bahwa perkembangan komunikasi pada zaman itu mengalami masa kegelapan

(dark ages) karena tidak berkembang di zaman Romawi kuno. Dan baru mulai dicatat

perkembangannya pada masa ditemukannya mesin cetak oleh Guttenberg (1457). Sehingga

masalah yang muncul adalah, rentang waktu antara perkembangan ilmu komunikasi yang

awalnya dikenal retorika pada masa Yunani kuno, sampai pada pencatatan sejarah

komunikasi pada masa pemikiran tokoh-tokoh pada abad 19. Sehingga sejarah

perkembangan ilmu komunikasi itu sendiri terputus kira-kira 1400 tahun. Padahal menurut

catatan lain, sebenarnya aktifitas retorika yang dilakukan pada zaman Yunani kuno juga

dilanjutkan perkembangan aktifitasnya pada zaman pertengahan (masa persebaran agama).

 

Sehingga menimbulkan asumsi bahwa perkembangan komunikasi itu menjadi sebuah ilmu tidak pernah terputus, artinya tidak ada mata rantai sejarah yang hilang pada perkembangan komunikasi. Makalah ini ingin mengangkat zaman persebaran agama yang berlangsung antara rentang waktu tersebut (zaman pertengahan) menjadi bagian dari perkembangan ilmu komunikasi. Sehingga zaman pertengahan menjadi jembatan alur perkembangan komunikasi dari zaman yunani kuno ke zaman renaissance, modern, dan kontemporer.

 

2.7 PERKEMBANGAN ILMU POLITIK

 

Ilmu politik adalah salah satu ilmu tertua dari berbagai cabang ilmu yang ada. Sejak orang mulai hidup bersama, masalah tentang pengaturan dan pengawasan dimulai. Sejak itu para pemikir politik mulai membahas masalah-masalah yang menyangkut batasan penerapan

kekuasaan, hubungan antara yang memerintah serta yang diperintah, serta sistem apa yang

paling baik menjamin adanya pemenuhan kebutuhan tentang tentang pengaturan dan

 

Ilmu politik diawali dengan baik pada masa Yunani Kuno, membuat peningkatan pada masa Romawi, tidak terlalu berkembang di Zaman Pertengahan, sedikit berkembang pada Zaman Renaissance dan Penerangan, membuat beberapa perkembangan substansial pada abad 19, dan kemudian berkembang sangat pesat pada abad 20 karena ilmu politik mendapatkan karakteristik.

 

Ilmu politik sebagai pemikiran mengenai Negara sudah dimulai pada tahun 450 S.M. seperti dalam karya Herodotus, Plato, Aristoteles, dan lainnya.

 

Disamping ketiga disiplin ilmu yang disebutkan diatas sebenarnya pada masa yunani kuno Aristoteles telah membagi filsafat pada hal yang teoritis (logika, metafisika, dan fisika) dan praktis (etika, ekonomi, dan politik). Pembagian ilmu inilah yang lantas menjadi pedoman bagi klasifikasi disiplin ilmu di kemudian hari.

 

Pemikiran- pemikiran yang muncul di Yunani kuno ini merupakan ide-ide briliant yang menjadi dasar dari kehidupan masyarakat modern di hampir seluruh belahan dunia dan

sampai kini konsep-konsep tersebut masih dipakai oleh para ahli modern sebagai dasar

berfikir dan rujukan ketika muncul permasalahan-permasalahan sosial dan politik.Hal ini

menunjukkan perkembangan ide yang sangat cepat serta sistematis diantara para filsuf jenius

masa lalu. Sehingga buah pemikiran mereka memberi dampak yang sangat besar dan luas.

Perkembangan paling klimaks pada masa Yunani kuno adalah adanya negara-kota atau

polis di Yunani. Kehidupan politik selama periode Yunani kuno adalah negara-kota. Terdapat

ratusan negara kota di Yunani dengan ukuran, bentuk pemerintahan dan tingkat peradaban

yang berbeda. Kota tersebut talah memiliki sistempmerintahan sendiri yang otonom dan

mengelola sistem keamanannya.

BAB III

PENUTUP

 

3.1 KESIMPULAN

Kelahiran pemikiran tentang Filsafat diawali pada abad ke-6 sebelum Masehi, yang diawali oleh runtuhnya keyakinan tentang mitos-mitos dan dongeng-dongeng yang selama ini menjadi dasar dari konsep pemikiran bangsa Yunani Kuno. Dalam sejarah filsafat biasanya filsafat yunani dimajukan sebagai pangkal sejarah filsafat barat, karena dunia barat dalam alam pikirannya berpangkal kepada pemikiran yunani.

Orang Yunani yang awalnya sangat percaya pada dongeng-dongeng, mitos maupun takhayul, tetapi lama kelamaan mereka mampu keluar dari pengaruh mitologi dan mendapatkan dasar pengetahuan ilmiah. Karena pada perkembangannya bermunculan tokoh tokoh filsafat yang mencoba untuk melakukan pembuktain-pembuktian tentang gejala alam berdasarkan logika bukan berdasar pada mitos tertentu.

3.2 SARAN

Dengan penulisan makalah ini semoga dapat dijadikan salah satu referensi dalam pembelajaran tentang Peradaban Yunani Kuno dan dapat dijadikan penambah wawasan pengetahuan bagi yang membaca.

 

____________

Oleh:

Duwi Rahayu_PBI-B

STKIP PGRI Pacitan

 

 

 

 

 

 

Iklan

2 thoughts on “Sejarah Perkembangan Ilmu Pada Masa Yunani Kuno”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s