Sejarah Perkembangan Ilmu pada Masa Modern

Jadi, perkembangan ilmu pengetahuan seperti sekarang ini tidak langsung secara mendadak, melainkan terjadi secara bertahap, evolutif. untuk memahami sejarah perkembangan ilmu mau tidak mau harus melalui pembagian atau klasifikasi secara periodik; karena setiap periode menampilkan ciri khas tertentu dalam perkembangan ilmu pengetahuan. Perkembangan pemikiran secara teoritis senantiasa mengacu kepada peradaban Yunani. Periodesasi perkembangan ilmu di sini dimulai dari peradaban Yunani dan diakhiri pada kontemporer.(Drs.Surajiyo ;hal 80)

 

  1. Pengertian ilmu pengetahuan

Menurut kamus besar Bahasa Indonesia (Depdikbud 1988) memiliki dua pengertian, yaitu :

  • Ilmu diartikan sebagai suatu pengetahuan tentang suatu bidang yang disusun secara bersistem menurut metode-metode tertentu, yang dapat digunakan untuk menerapkan gejala-gejala tertentu dibidang (pengetahuan) tersebut, seperti ilmu hukum, ilmu pendidikan, ilmu ekonomi dan sebagainya.
  • Ilmu diartikan sebagai pengetahuan atau kepandaian, tentang soal duniawi, akhirat, lahir, bathin, dan sebagainya, seperti ilmu akhirat, ilmu akhlak, ilmu bathin, ilmu sihir, dan sebagainya.
  1. Masa modern

Masa modern menjadi identitas di dalam filsafat modern. Masa setelah abad pertengahan adalah masa modern, sekalipun memang tidak jelas kapan berakhirnya abad pertengahan itu. Dapat dikatakan bahwa Abad Pertengahan itu berakhir pada abad 15 dan 16 atau pada akhir masa Renaissance.Zaman Renaisans adalah zaman kelahiran-kembali (Renaissance, bahasa Perancis) kebudayaan Yunani-Romawi di Eropa pada abad ke-15 dan ke-16 M. Di bidang Filsafat, terdapat aliran yang terus mempertahankan masa klasik. Aliran-aliran dari Kungfu dan mazhab Stoa menjadi aliran-aliran yang terus dipertahankan.

Satu hal yang yang menjadi perhatian pada masa Renaissance ini adalah ketika kita melihat perkembangan pemikirannya. Perkembangan pada masa ini menimbulkan sebuah masa yang amat berperan di dalam dunia filsafat.Inilah yang menjadi awal dari masa modern. Timbulnya ilmu pengetahuan yang modern, berdasarkan metode eksperimental dan matematis. Segala sesuatunya, khususnya di dalam bidang ilmu pengetahuan mengutamakan logika dan empirisme. Aristotelian menguasai seluruh abad pertengahan ini melalui hal-hal tersebut.

 

BAB II

PEMBAHASAN

 

Zaman modern ditandai dengan berbagai penemuan dalam bidang ilmiah. Perkembangan ilmu pengetahuan pada zaman modern sesungguhnya sudah dirintis sejak Zaman Renaissance. Seperti Rene Descartes, tokoh yang terkenal sebagai bapak filsafat modern. Rene Descartes juga seorang ahli ilmu pasti. Penemuannya dalam ilmu pasti adalah sistem koordinat .Selain itu pada zaman ini ada juga filsuf-filsuf lain misalnya: Isaac Newton, Caharles Darwin.

            Masa modern menjadi identitas didalan filsafat modern. Pada masa ini rasionalisme semakin kuat. Tidak gampang untuk menentukan mulai dari kapan abad pertengahan berhenti,yang menandai masa modern ini, yaitu berkembang pesat berbagai kehidupan manusia Barat khususnya dalam bidang kebudayaan, ilmu pengetahuan, dan ekonomi.

Filsafat modern memiliki beberapa aliran-aliran, diantaranya:

  1. IDEALISME
  2. MATERIALISME
  3. DUALISME
  4. EMPIRISME
  5. RASIONALISME
  6. FENOMENALISME
  7. INTUSIONALISME

 

2.1.            IDEALISME

  • Definisi

Idealisme adalah sebuah istilah yang digunakan pertama kali dalam dunia filsafat oleh Leibniz pada awal abad 18. ia menerapkan istilah ini pada pemikiran Plato, seraya memperlawankan dengan materialisme Epikuros. Istilah Idealisme adalah aliran filsafat yang memandang yang mental dan ideasional sebagai kunci ke hakikat realitas.Dari abad 17 sampai permulaan abad 20 istilah ini banyak dipakai dalam pengklarifikasian filsafat.

 

  • Perkembangan

Aliran ini merupakan aliran yang sangat penting dalam perkembangan sejarah pikiran manusia. Mula-mula dalam filsafat Barat kita temui dalam bentuk ajaran yang murni dari Plato. yang menyatakan bahwa alam, cita-cita itu adalah yang merupakan kenyataan sebenarnya. Adapun alam nyata yang menempati ruang ini hanyalah berupa bayangan saja dari alam idea itu.

Aristoteles memberikan sifat kerohanian dengan ajarannya yang menggambarkan alam ide sebagai sesuatu tenaga (entelechie) yang berada dalam benda-benda dan menjalankan pengaruhnya dari benda itu. Sebenarnya dapat dikatakan sepanjang masa tidak pernah faham idealisme hilang sarna sekali.

Di masa abad pertengahan malahan satu-satunya pendapat yang disepakati oleh semua ahli pikir adalah dasar idealisme ini. Pada jaman Aufklarung ulama-ulama filsafat yang mengakui aliran serba dua seperti Descartes dan Spinoza yang mengenal dua pokok yang bersifat kerohanian dan kebendaan maupun keduanya mengakui bahwa unsur kerohanian lebih penting daripada kebendaan.

Selain itu, segenap kaum agama sekaligus dapat digolongkan kepada penganut Idealisme yang paling setia sepanjang masa, walaupun mereka tidak memiliki dalil-dalil filsafat yang mendalam. Puncak jaman Idealiasme pada masa abad ke-18 dan 19 ketika periode Idealisme. Jerman sedang besar sekali pengaruhnya di Eropah.

 

  • Tokoh-tokohnya

o   Plato (477 -347 Sb.M)

o   B. Spinoza (1632 -1677)

o   Liebniz (1685 -1753)

o   Berkeley (1685 -1753)

o   Immanuel Kant (1724 -1881)

o   J. Fichte (1762 -1814)

o   F. Schelling (1755 -1854)

o   G. Hegel (1770 -1831)

 

2.2.            MATERIALISME

  • Definisi

Materialisme adalah paham dalam filsafat yang menyatakan bahwa hal yang dapat dikatakan benar-benar ada adalah materi. Pada dasarnya semua hal terdiri atas materi dan semua fenomena adalah hasil interaksi material.Materi adalah satu-satunya substansi.Sebagai teori, materialisme termasuk paham ontologi monistik.Akan tetapi, materialisme berbeda dengan teori ontologis yang didasarkan pada dualisme atau pluralisme.Dalam memberikan penjelasan tunggal tentang realitas, materialisme berseberangan dengan idealisme.

  • Perkembangan

Pada abad pertama masehi faham Materialisme tidak mendapat tanggapan yang serius, bahkan pada abad pertengahan, orang menganggap asing terhadap faham Materialisme ini. Baru pada jaman Aufklarung (pencerahan), Materialisme mendapat tanggapan dan penganut yang penting di Eropah Barat.

Pada abad ke-19 pertengahan, aliran Materialisme tumbuh subur di Barat. Faktir yang menyebabkannya adalah bahwa orang merasa dengan faham Materialisme mempunyai harapan-harapan yang besar atas hasil-hasil ilmu pengetahuan alam. Selain itu, faham Materialisme ini praktis tidak memerlukan dali dalil yang muluk-muluk dan abstrak, juga teorinya jelas berpegang pada kenyataan kenyataan yang jelas dan mudah dimengerti.

Kemajuan aliran ini mendapat tantangan yang keras dan hebat dari kaum agama dimana-mana. Hal ini disebabkan bahwa faham Materialisme ini pada abad ke-19 tidak mengakui adanya Tuhan (atheis) yang sudah diyakini mengatur budi masyarakat. Pada masa ini, kritikpun muncul di kalangan ulama-ulama barat yang menentang Materialisme.

Adapun kritik yang dilontarkan adalah sebagai berikut :

  1. Materialisme menyatakan bahwa alam wujud ini terjadi dengan sendirinya dari khaos (kacau balau). Padahal kata Hegel. kacau balau yang mengatur bukan lagi kacau balau namanya.
  2. Materialisme menerangkan bahwa segala peristiwa diatur oleh hukum alam. padahal pada hakekatnya hukum alam ini adalah perbuatan rohani juga.
  3. Materialisme mendasarkan segala kejadian dunia dan kehidupan pada asal benda itu sendiri. padahal dalil itu menunjukkan adanya sumber dari luar alam itu sendiri yaitu Tuhan.
  4. Materialisme tidak sanggup menerangkan suatu kejadian rohani yang paling mendasar sekalipun.

 

  • Tokoh-tokohnya

o   Anaximenes ( 585 -528)

o   Anaximandros ( 610 -545 SM)

o   Thales ( 625 -545 SM)

o   Demokritos (kl.460 -545 SM)

o   Thomas Hobbes ( 1588 -1679)

o   Lamettrie (1709 -1715)

o   Feuerbach (1804 -1877)

o   H. Spencer (1820 -1903)

o   Karl Marx (1818 -1883)

 

2.3.            DUALISME

  • Definisi

Dualisme adalah konsep filsafat yang menyatakan ada dua substansi. Dalam pandangan tentang hubungan antara jiwa dan raga, dualisme mengklaim bahwa fenomena mental adalah entitas non-fisik.

Gagasan tentang dualisme jiwa dan raga berasal setidaknya sejak zaman Plato dan Aristoteles dan berhubungan dengan spekulasi tantang eksistensi jiwa yang terkait dengan kecerdasan dan kebijakan. Plato dan Aristoteles berpendapat, dengan alasan berbeda, bahwa “kecerdasan” seseorang (bagian dari budi atau jiwa) tidak bisa diidentifikasi atau dijelaskan dengan fisik.

  • Tokoh-tokohnya

o   Plato (427 -347 Sb.H)

o   Aristoteles (384 -322 Sb.H)

o   Descartes (1596 -1650)

o   Fechner (1802 -1887)

o   Arnold Gealinex

o   Leukippos

o   Anaxagoras

o   Hc. Daugall

o   A. Schopenhauer (1788 -1860)

 

2.4.            EMPIRISME

  • Definisi

Empirisme adalah suatu aliran dalam filsafat yang menyatakan bahwa semua pengetahuan berasal dari pengalaman manusia. Empirisme menolak anggapan bahwa manusia telah membawa fitrah pengetahuan dalam dirinya ketika dilahirkan. Empirisme lahir di Inggris dengan tiga eksponennya adalah David Hume, George Berkeley dan John Locke.

Empirisme secara etimologis berasal dari kata bahasa Inggris empiricism dan experience. Kata-kata ini berakar dari kata bahasa Yunani έμπειρία (empeiria) yang berarti pengalaman Sementara menurut A.R. Laceyberdasarkan akar katanya Empirisme adalah aliran dalam filsafat yangberpandangan bahwa pengetahuan secara keseluruhan atau parsial didasarkankepada pengalaman yang menggunakan indera.

Para penganut aliran empiris dalam berfilsafat bertolak belakang dengan para penganut aliran rasionalisme. Mereka menentang pendapat-pendapat para penganut rasionalisme yang didasarkan atas kepastian-kepastian yang bersifat apriori. Menurut pendapat penganut empirisme, metode ilmu pengetahuan itu bukanlah bersifat a priori tetapi posteriori, yaitu metode yang berdasarkan atas hal-hal yang datang, terjadinya atau adanya kemudian.

Bagi penganut empirisme sumber pengetahuan yang memadai itu adalah pengalaman. Yang dimaksud dengan pengalaman disini adalah pengalaman lahir yang menyangkut dunia dan pengalaman bathin yang menyangkut pribadi manusia. Sedangkan akal manusia hanya berfungsi dan bertugas untuk mengatur dan mengolah bahan-bahan atau data yang diperoleh melalui pengalaman.

Pada dasarnya Empirisme sangat bertentangan dengan Rasionalisme. Rasionalisme mengatakan bahwa pengenalan yang sejati berasal dari ratio, sehingga pengenalan inderawi merupakan suatu bentuk pengenalan yang kabur. sebaliknya Empirisme berpendapat bahwa pengetahuan berasal dari pengalaman sehingga pengenalan inderawi merupakan pengenalan yang paling jelas dan sempurna.

 

  • Tokoh-tokohnya

o   Francis Bacon (1210 -1292)

o   Thomas Hobbes ( 1588 -1679)

o   John Locke ( 1632 -1704)

o   George Berkeley ( 1665 -1753)

o   David Hume ( 1711 -1776)

o   Roger Bacon ( 1214 -1294)

 

2.5.            RASIONALISME

  • Definisi

Rasionalisme adalah merupakan faham atau aliran atau ajaran yang berdasarkan ratio, ide-ide yang masuk akal.Selain itu, tidak ada sumber kebenaran yang hakiki.

Zaman Rasionalisme berlangsung dari pertengahan abad ke XVII sampai akhir abad ke XVIII. Pada zaman ini hal yang khas bagi ilmu pengetahuan adalah penggunaan yang eksklusif daya akal budi (ratio) untuk menemukan kebenaran.

Rasionalisme adalah paham filsafat yang mengatakan bahwa akal (resen) adalh alat terpenting dalam memperoleh pengatahun dan mengetes pengatahuan. Jika empiresme mengatakan bahwa pengatahuan diperoleh dengan alam mengalami objek empiris, maka rasionalisme mengejarkan bahwa pengatahuan di peroleh dengan cara berfikir alat dalam berfikir itu ialah kaidah-kaidah logis atau kaidah-kaidah logika.

Usaha manusia untuk memberi kemandirian kepada akal sebagaimana yang telah dirintis oleh para pemikir renaisans, masih berlanjut terus sampai abad ke-17. Abad ke-17 adalah era dimulainya pemikiran-pemikiran kefilsafatan dalam artian yang sebenarnya. Semakin lama manusia semakin menaruh kepercayaan yang besar terhadap kemampuan akal, bahkan diyakini bahwa dengan kemampuan akal segala macam persoalan dapat dijelaskan, semua permasalahan dapat dipahami dan dipecahkan termasuk seluruh masalah kemanusiaan.

Keyakinan yang berlebihan terhadap kemampuan akal telah berimplikasi kepada perang terhadap mereka yang malas mempergunakan akalnya, terhadap kepercayaan yang bersifat dogmatis seperti yang terjadi pada abad pertengahan, terhadap norma-norma yang bersifat tradisi dan terhadap apa saja yang tidak masuk akal termasuk keyakinan-keyakinan dan serta semua anggapan yang tidak rasional.

Dengan kekuasaan akal tersebut, orang berharap akan lahir suatu dunia baru yang lebih sempurna, dipimpin dan dikendalikan oleh akal sehat manusia. Kepercayaan terhadap akal ini sangat jelas terlihat dalam bidang filsafat, yaitu dalam bentuk suatu keinginan untuk menyusun secara a priori suatu sistem keputusan akal yang luas dan tingkat tinggi. Corak berpikir yang sangat mendewakan kemampuan akal dalam filsafat dikenal dengan nama aliran rasionalisme.

  • Tokoh-tokohnya

o   Rene Descartes (1596 -1650)

o   Nicholas Malerbranche (1638 -1775)

o   B. De Spinoza (1632 -1677 M)

o   G.W.Leibniz (1946-1716)

o   Christian Wolff (1679 -1754)

o   Blaise Pascal (1623 -1662 M)

 

2.6.            FENOMENALISME

  • Definisi

Secara harfiah Fenomenalisme adalah aliran atau faham yang menganggap bahwa Fenomenalisme (gejala) adalah sumber pengetahuan dan kebenaran. Seorang Fenomenalisme suka melihat gejala. Dia berbeda dengan seorang ahli ilmu positif yang mengumpulkan data, mencari korelasi dan fungsi, serta membuat hukum-hukum dan teori. Fenomenalisme bergerak di bidang yang pasti. Hal yang menampakkan dirinya dilukiskan tanpa meninggalkan bidang evidensi yang langsung. Fenomenalisme adalah suatu metode pemikiran, “a way of looking at things”.

Gejala adalah aktivitas, misalnya gejala gedung putih adalah gejala akomodasi, konvergensi, dan fiksasi dari mata orang yang melihat gedung itu, di tambah aktivitas lain yang perlu supaya gejala itu muncul. Fenomenalisme adalah tambahan pada pendapat Brentano bahwa subjek dan objek menjadi satu secara dialektis. Tidak mungkin ada hal yang melihat. Inti dari Fenomenalisme adalah tesis dari “intensionalisme” yaitu hal yang disebut konstitusi.

Menurut Intensionalisme (Brentano) manusia menampakkan dirinya sebagai hal yang transenden, sintesa dari objek dan subjek. Manusia sebagai entre au monde (mengada pada alam) menjadi satu dengan alam itu. Manusia mengkonstitusi alamnya. Untuk melihat sesuatu hal, saya harus mengkonversikan mata, mengakomodasikan lensa, dan mengfiksasikan hal yang mau dilihat. Anak yang baru lahir belum bisa melakukan sesuatu hal, sehingga benda dibawa ke mulutnya.

  • Tokoh-tokohnya

o   Edmund Husserl (1859 -1938)

o   Max Scheler (1874 -1928)

o   Hartman (1882 -1950)

o   Martin Heidegger (1889 -1976)

o   Maurice Merleau-Ponty (1908 -1961)

o   Jean Paul Sartre (1905 -1980)

o   Soren Kierkegaard (1813 -1855)

 

2.7.            INTUSIONALISME

  • Definisi

Intusionalisme adalah suatu aliran atau faham yang menganggap bahwa intuisi (naluri/perasaan) adalah sumber pengetahuan dan kebenaran.

Intuisi termasuk salah satu kegiatan berfikir yang tidak didasarkan pada penalaran.

Jadi Intuisi adalah non-analitik dan tidak didasarkan atau suatu pola berfikir tertentu dan sering bercampur aduk dengan perasaan.

  • Tokoh-tokohnya

o   Plotinos (205 -270)

o   Henri Bergson (1859 -1994)

 

 

BAB III

PENUTUP

 

3.1.            KESIMPULAN

Dari seliruh pemaparan diatas dapat ditarik kesimpulan bahwa perkembangan ilmu pengetahuan itu terjadi dengan cara bertahap. masa modern ialah identitas dari filsafat modern yang tentunya juga memiliki peranan yang sangat penting dalam konsep pemikiran pada masa modern. Filsafat modern lahir melalui proses panjang yang berkesinambungan, dimulai dengan munculnya abad Renaissance. Waktu munculnya filsafat modern adalah abad ke-17 hingga awal abad ke-20 di Eropa Barat dan Amerika Utara. Filsafat Modern ini pun dimulai sejak munculnya rasionalisme lewat pemikiran Descartes, seorang filsuf terkemuka pada zaman Modern.

Pada masa modern ini muncul beberapa aliran beserta tokoh-tokohnya yaitu IDEALISME dengan tokohnya (Plato, B. Spinoza, Liebniz, Berkeley, Immanuel, Kant, J. Fichte, F. Schelling, G. Hegel), MATERIALISME dengan tokohnya (Anaximandros, Thales, Demokritos, Thomas Hobbes, Lamettrie, Feuerbach, H. Spencer, Karl Marx), DUALISME dengan tokohnya (Plato, Aristoteles, Descartes, Fechner, Arnold Gealinex, Leukippos, Anaxagoras, Hc. Daugall, A. Schopenhauer), EMPIRISME dengan tokohnya (Francis Bacon, Thomas Hobbes, John Locke, George Berkeley, David Hume, Roger Bacon) RASIONALISME dengan tokohnya (Rene Descartes, Nicholas Malerbranche, B. De Spinoza, G.W.Leibniz, Christian Wolff, Blaise Pascal) FENOMENALISME dengan tokohnya (Edmund Husserl, Max Scheler, Hartman, Martin Heidegger, Maurice Merleau-Ponty, Jean Paul Sartre, Soren Kierkegaar) INTUSIONALISME dengan tokohnya (Platinos, Henri Bergson)

Pada dasarnya konsep pemikiran pada masa modern ini didasarkan oleh dua hal tersebut yaitu pembuktian secara filsafatis/rasional dan juga empiris/nyata, yang tak hanya terpaut pada keagamaan sebagai segala sumber pemikiran. Mereka cenderung lebih berpikir kritis dan nyata dalam perkembangannya.

Setelah ditemukannya konsep pemikiran yang demikian muncullah beberapa filosof yang memiliki pemikiran sendiri tentang proses kehidupan seperti Charles Darwin, Paul Natorp dll. Dan perkembangan ilmu pengetahuan ini pun tak hanya akan berhenti disini tetapi akan terus berkembang sejalan dengan arus perkembangan jaman.

 

 

3.2.            DAFTAR PUSTAKA

 

 

____________

Disusun Oleh:

Jhanuar Pratama

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s